NovelToon NovelToon
Kontrak Sandiwara Sang Pewaris Tunggal

Kontrak Sandiwara Sang Pewaris Tunggal

Status: sedang berlangsung
Popularitas:136
Nilai: 5
Nama Author: Ruang_Magenta

Menikahi pria paling berkuasa di kota ini adalah mimpi buruk bagi semua orang, tapi bagi Nara, ini adalah tambang emas untuk novelnya."

​Nara adalah seorang penulis berbakat yang sedang terjebak dalam krisis kreatif. Demi mendapatkan riset nyata untuk novel terbarunya, ia nekat masuk ke dalam kehidupan Aris, sang pewaris tunggal kerajaan bisnis yang dikenal dingin dan tak tersentuh.

​Sebuah tawaran pernikahan kontrak selama satu tahun menjadi pintu masuk yang sempurna bagi Nara. Di mata dunia, Nara adalah istri yang patuh dan penuh cinta. Namun di balik pintu kamar, Nara diam-diam mencatat setiap detail perilaku Aris—mulai dari cara pria itu menatapnya dengan tajam hingga sisi rapuh yang tak pernah diperlihatkan kepada siapa pun—lalu menerbitkannya sebagai bab baru di aplikasi novel yang viral.

​Keadaan menjadi rumit ketika novel fiksi Nara meledak di pasaran dan para pembaca mulai menyadari kemiripan karakter utamanya dengan sang CEO legendaris. Di sisi lain, Aris mulai merasa ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akar yang Berbicara

Perjalanan dari Jakarta menuju Bogor pagi ini terasa lebih panjang dari biasanya. Padahal, aspal yang kami lalui sama, pohon-pohon yang berjajar di pinggir jalan tol pun tidak berubah. Namun, beban di dalam mobil ini berkali-kali lipat lebih berat. Bimo menyetir dengan pandangan lurus ke depan, sesekali meremas kemudi dengan buku jari yang memutih. Di pangkuanku, map perak berisi rahasia Adrian dan Hendra terasa seperti benda purbakala yang siap meledak jika salah penanganan.

Kami tidak banyak bicara. Ada jenis keheningan yang bukan berarti kosong, melainkan penuh dengan pikiran yang saling berkejaran. Aku tahu Bimo sedang menyusun kata-kata untuk meminta maaf atas dosa yang bukan miliknya, sementara aku sedang menyusun hati untuk menerima bahwa pria yang selama ini menjadi pusat semestaku—Ayah Hendra—telah menyimpan rahasia sebesar ini selama tiga puluh tahun.

Begitu kami sampai di rumah aman yang asri itu, Ayah Hendra sedang menyiram tanaman anggrek di teras. Wajahnya tampak tenang, khas pria yang sudah merasa telah menuntaskan semua tugas di dunia. Namun, saat dia melihat mobil kami masuk ke halaman dan melihat raut wajahku saat turun, tangannya yang memegang penyiram bunga sedikit gemetar. Air tumpah ke sepatunya, tapi dia tidak peduli.

"Kalian sudah tahu," suaranya lirih, bahkan sebelum kami mengucapkan salam.

Kami duduk di ruang tamu yang beraroma kayu jati dan teh melati. Ayah Hendra duduk di kursi goyangnya, sementara aku dan Bimo duduk di sofa depan beliau. Aku meletakkan map perak itu di meja kayu di antara kami.

"Widya yang memberikannya?" tanya Ayah Hendra. Beliau menghela napas panjang, sebuah napas yang terdengar seperti melepaskan beban yang diseret selama puluhan tahun. "Aku sudah menduga wanita itu akan bicara suatu saat nanti. Dia satu-satunya orang di lingkaran Ratih yang masih punya sedikit hati nurani."

"Kenapa, Yah?" suaraku serak. "Kenapa Ayah nggak pernah bilang kalau Nara bukan putri kandung Ayah? Kenapa Ayah biarkan Nara percaya kalau kita punya darah yang sama?"

Ayah Hendra menatapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Karena bagiku, darah itu tidak sepenting cinta, Nara. Adrian adalah sahabat terbaikku. Dia lebih dari sekadar rekan jurnalis; dia adalah saudara. Saat dia dibunuh di depan mataku karena memegang dokumen skandal penggelapan tanah Wijaya, kata-kata terakhirnya adalah namamu. 'Selamatkan Nara, jaga dia.'"

Ayah menarik napas, mencoba menenangkan suaranya yang mulai bergetar. "Saat itu, ibumu sudah meninggal karena komplikasi persalinan seminggu sebelumnya. Kamu tidak punya siapa-siapa. Kalau aku menyerahkanmu ke dinas sosial, keluarga Wijaya akan dengan mudah melacakmu dan melenyapkanmu untuk memutus jejak Adrian. Jadi, aku mengambil keputusan paling nekat dalam hidupku. Aku memalsukan akta kelahiranmu. Aku membawamu lari ke panti asuhan tempat aku bekerja sebagai relawan, dan aku bersumpah akan menjadi ayahmu sampai napas terakhirku."

Bimo menundukkan kepala sedalam-dalamnya. "Dan kakek saya... dia yang memerintahkan pembunuhan Adrian?"

Ayah Hendra menatap Bimo dengan sorot mata yang sulit diartikan—ada sisa kemarahan, tapi lebih banyak rasa iba. "Kakekmu memberikan lampu hijau, Bimo. Tapi yang merencanakan eksekusinya adalah ayahmu, Andra, di bawah tekanan ibumu, Ratih. Mereka tidak ingin skandal itu menghancurkan peluncuran perdana saham perusahaan saat itu. Adrian adalah ancaman yang harus 'dihapus'."

Keheningan kembali menyergap. Informasi ini seperti palu yang menghantam fondasi kami. Bimo tampak hancur. Ayah yang dia ingat sebagai sosok yang "lemah dan idealis" ternyata pernah terlibat dalam sesuatu yang sekejam ini, meskipun di bawah tekanan.

"Bimo," Ayah Hendra bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati Bimo. Beliau meletakkan tangan di bahu suamiku itu. "Jangan biarkan dosa orang tuamu menghitamkan jiwamu. Alasan aku tidak keberatan kamu menikahi Nara, meskipun aku tahu siapa kamu, adalah karena aku melihat Adrian di dalam dirimu. Kamu punya keberanian yang sama untuk menghancurkan apa yang salah, meskipun itu berarti menghancurkan duniamu sendiri."

Sore harinya, Ayah Hendra mengajak kami ke sebuah bukit kecil di belakang rumah. Di sana, di bawah pohon beringin tua yang rindang, ada sebuah gundukan tanah tanpa nisan yang megah. Hanya ada sebuah batu alam besar yang tertanam di sana.

"Di sinilah aku menguburkan sisa-sisa peninggalan Adrian. Bukan jasadnya—karena jasadnya tidak pernah ditemukan setelah kejadian di pelabuhan itu—tapi di bawah batu ini ada kamera, catatan-catatan asli, dan baju bayi yang seharusnya kamu pakai saat pulang dari rumah sakit dulu," cerita Ayah Hendra.

Aku berlutut di depan batu itu. Tanganku menyentuh permukaannya yang kasar dan dingin. Untuk pertama kalinya, aku merasa terhubung dengan pria bernama Adrian ini. Aku tidak mengenalnya, aku tidak punya ingatan tentangnya, tapi aku bisa merasakan pengorbanannya yang mengalir dalam semangatku untuk menulis dan mencari kebenaran.

"Hai, Ayah Adrian," bisikku pelan. "Nara di sini. Nara sudah besar, dan Nara... Nara sudah menemukan kebenaran yang Ayah perjuangkan."

Bimo berlutut di sampingku. Dia tidak bicara, tapi dia meletakkan tangannya di atas tanganku yang menyentuh batu itu. Di hadapan "makam" ini, kami membuat janji bisu. Bahwa sejarah kelam ini berhenti di sini. Bahwa tidak akan ada lagi nyawa yang dikorbankan demi angka-angka di bursa saham.

Malam harinya, sebelum kami kembali ke Jakarta, aku duduk berdua dengan Ayah Hendra di teras. Bimo sedang berada di kamar, mungkin butuh waktu sendiri untuk memproses semua kenyataan tentang orang tuanya.

"Ayah," panggilku. "Apapun yang tertulis di akta kelahiran itu, atau siapapun yang memberikan benih kehidupanku, Ayah tetap satu-satunya Ayah bagi Nara. Ayah yang mengobati luka jatuhku, Ayah yang membelikanku buku tulis pertama, dan Ayah yang menjagaku dari monster."

Ayah Hendra tersenyum, kerutan di wajahnya tampak begitu indah di bawah cahaya lampu teras. "Terima kasih, Nara. Itu adalah hal terindah yang pernah Ayah dengar. Ayah sempat takut kamu akan membenci Ayah karena kebohongan ini."

"Nara nggak bisa membenci orang yang sudah memberikan seluruh hidupnya untuk Nara," kataku sambil memeluknya erat.

Namun, di tengah momen haru itu, ponselku bergetar. Sebuah email masuk. Dari alamat yang tidak kukenal, tapi subjeknya membuat jantungku berhenti berdetak: "Aethelred Bukan Hanya Soal Uang".

Aku membukanya dengan ragu. Isinya singkat, tapi mengerikan.

Nara Wijaya (atau haruskah kupanggil Nara Adrian?), Bram mungkin sudah tertangkap, tapi dia bukan pemegang kunci terakhir. Ada file digital yang tertanam dalam sistem inti Wijaya Group yang akan aktif secara otomatis jika Bram tidak masuk ke server dalam 48 jam. File itu berisi bukti keterlibatan Hendra dalam 'pemalsuan identitas' dan 'penculikan anak'. Jika ini bocor, pahlawanmu akan berakhir di penjara di masa tuanya. Temui aku di kantor lama Adrian di Jalan Veteran besok jam 9 pagi. Sendiri.

Aku terengah. Monster itu belum mati. Mereka masih punya satu kartu terakhir untuk menghancurkan satu-satunya hal yang paling berharga bagiku: keselamatan Ayah Hendra.

Aku menoleh ke arah kamar, di mana Bimo berada. Aku tidak bisa memberitahunya. Bimo sudah terlalu hancur hari ini. Dia tidak akan sanggup jika tahu bahwa keluarganya masih mencoba menjerat kami. Dan aku? Aku adalah seorang penulis. Aku tahu cara menghadapi antagonis.

Aku menghapus email itu setelah menyalin alamatnya. Aku menatap Ayah Hendra yang sedang menatap bintang dengan tenang. Aku bersumpah, tidak akan ada satu orang pun yang bisa menyentuh ketenangannya ini. Bahkan jika aku harus masuk ke lubang singa sekali lagi.

Besok pagi akan menjadi bab yang menentukan. Apakah aku akan tetap menjadi Nara yang dilindungi, ataukah aku akan menjadi Nara yang benar-benar memegang pena dan menuliskan akhir dari para penjahat ini dengan tanganku sendiri?

Aku masuk ke dalam kamar, melihat Bimo yang sudah tertidur karena kelelahan emosional. Aku berbaring di sampingnya, memandangi wajahnya yang tenang.

"Maafkan aku, Bim. Kali ini, biarkan aku yang menjagamu," bisikku pelan sebelum memejamkan mata, bersiap menghadapi badai yang akan datang saat matahari terbit nanti.

Tinta hidupku besok mungkin akan berwarna hitam pekat, tapi aku tidak peduli. Selama aku bisa menjaga cahaya di rumah ini tetap menyala, aku siap menjadi bagian dari kegelapan itu sebentar saja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!