Seorang pria mati dengan penyesalan karena gagal menegakkan kebenaran.
Ia terlahir kembali sebagai pengacara magang yang diremehkan...dan mendapatkan Sistem Keadilan Absolut kemampuan untuk melihat kebohongan, mengungkap fakta tersembunyi, dan menentukan putusan paling adil.
Dari kasus kecil hingga konspirasi besar, ia mulai mengguncang dunia hukum yang korup.
Namun satu hal segera ia sadari...
Keadilan sejati tidak selalu sama dengan hukum.
Dan kali ini...dia yang akan menentukan mana yang benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Wajah Laras dan Tania pucat pasi. Mereka sama sekali tidak menyangka ada orang yang merekam momen memalukan itu secara utuh.
Di video terlihat sangat jelas, saat Bimo dengan tegas menyatakan bahwa dia pasti akan membawa masalah ini ke meja hijau, Laras justru menyeringai arogan dan berkata dengan nada menantang:
"Silakan! Sepupu gue pengacara lho! Gue tunggu di pengadilan ya! Jangan cuma omong doang!"
Bahkan petugas keamanan dan pihak manajemen MRT pun tidak menunjukkan rasa bersalah sedikitpun. Mereka justru menasihati Bimo:
"Yah mas, masa sama cewek-cewek begitu keras. Sabar ya, selesaiin baik-baik aja, jangan diperpanjang masalahnya. Kasihan mereka kan cewek."
Seluruh kejadian yang sangat tidak adil itu terekam sempurna di HP saksi mata.
Begitu video selesai diputar, kolom komentar live streaming langsung meledak ribuan pesan per detik!
[APAAN TUH?! ITU DIMINTA MAAF ATAU NANTANG BERANTEM?!]
[GILA BANGET SIKAPNYA! TERUS BERANI-BERANINYA SURUH NUNTUT KE PENGADILAN!]
[MEREKA HARUS DIHUKUM BERAT! JANGAN DIAMIN AJA! INI FITNAH TERBUKTI!]
[KEREN PAK ARGA! BISA NEMU BUKTI VIDEO SEJELAS INI! LUAR BIASA!]
[GOKIL! BUKAN KAYA PENGACARA MAGANG SAMA SEKALI!]
[HUKUM ADIL TELAH TIBA! GAS TERUS PAK!]
Arga berdiri tegak, suaranya menggelegar memenuhi ruangan, penuh wibawa dan emosi yang terkontrol.
"Bolehkah saya bertanya pada Yang Mulia Hakim dan semua orang yang hadir di sini? Apakah ini sikap meminta maaf yang wajar dan patut dicontoh? Klien saya hanya ingin keadilan dan permintaan maaf yang tulus, tapi balasannya adalah ejekan, hinaan, dan tantangan!"
"Kalau model minta maaf begini dibilang sah dan masalah selesai, berarti mulai sekarang orang bisa sembarangan nuduh orang lain memotret tidak senonoh di jalanan, lalu setelah salah tinggal minta maaf sambil ngeyel dan marah-marah, dan masalah dianggap selesai begitu saja? Apakah itu keadilan yang kalian inginkan?!"
Pertanyaan retoris Arga membuat seluruh ruangan hening sesaat. Kata-katanya menusuk tepat ke hati nurani.
Laras dan Tania panik setengah mati, mata mereka saling pandang penuh ketakutan dan kegelisahan. Mereka tidak menyangka ada bukti sejelas ini. Tapi Pengacara Rina Wijaya di samping mereka tetap tenang, dia tersenyum tipis dan memberi kode mata agar mereka tetap tenang dan jangan panik.
Rina memang kaget Arga bisa menemukan video itu, tapi dia tidak merasa kalah. Dia punya cara untuk memutarbalikkan fakta!
"Apa tanggapan Pengacara Pembela?" tanya Hakim Santoso dengan wajah serius.
Rina Wijaya berdiri dengan santai, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Yang Mulia, saya sudah menonton videonya. Memang benar sikap klien saya saat itu mungkin agak kurang sopan dan terbawa emosi karena panik, tapi kan tidak sampai melakukan kekerasan berat atau melukai secara fisik kan?"
"Adapun soal ditendang, kalau memang Bimo terluka parah, pendarahan, atau harus dirawat, silakan tunjukkan surat keterangan rumah sakit dan hasil rontgen! Kalau tidak ada bukti medis, berarti kan cuma main-main doang, gak ada kerugian materiil yang nyata. Kami tidak takut membayar biaya pengobatan kalau memang ada lukanya!"
Rina sangat licik. Dia tahu Bimo cuma kesakitan sesaat dan tidak pergi ke dokter, jadi dia berani menantang soal itu.
"Dan lagi," lanjut Rina dengan suara yang mulai meninggi, "Hanya karena sikap minta maaf kurang enak didengar, apakah itu alasan bagi Bimo untuk menyerang mereka habis-habisan di dunia maya? Justru karena video yang diunggah Bimo, ratusan ribu netizen menyerang klien saya! Hidup mereka hancur, prestasi sekolah menurun, mental mereka terganggu, dan akhirnya depresi berat!"
"Saya akui sikap mereka tadi kurang baik, dan sekarang mereka bersedia minta maaf dengan tulus. TAPI... Tindakan Bimo menyebarkan video pribadi orang lain dan memancing kebencian itu juga melanggar hukum! Kami tetap pada tuntutan awal!"
"Kami menuntut Bimo membayar ganti rugi tekanan mental dan biaya pengobatan sebesar 360 Juta Rupiah, serta meminta maaf secara terbuka kepada klien saya!"
Mata Laras langsung berbinar-binar mendengar itu. 'Sepupu gue emang hebat! Licik banget idenya!'
Bimo sendiri sampai bengong dan ternganga. 'Loh? Kok gue yang disuruh bayar? Gue kan cuma mau klarifikasi doang kok?'
Netizen pun mulai pesimis dan kecewa.
[Hadeh... Emang gini terus nasibnya. Bimo bikin video klarifikasi, malah jadi senjata makan tuan.]
[Iya lah, kan dia yang upload duluan. Jadi dikira saling serang dan saling bully.]
[Kesel banget sih! Kenapa yang salah gak dihukum berat? Kenapa yang benar malah disuruh bayar duit?]
[Akhirnya pasti Bimo yang kalah atau seri, harus keluar duit juga akhirnya.]
[Putus asa deh... Udah difitnah, dihina, disakiti, sekarang harus bayar lagi. Gak adil!]
Di sebuah firma hukum ternama, Pengacara Senior Atta Hasibuan tertawa sinis sambil menatap layar.
"Gimana? Udah kubilang kan? Anak muda itu cuma bisa heboh doang. Sekarang situasinya balik lagi. Meskipun ada video bukti, karena tadi dia berani nuduh hakim dan pengacara lain, secara tidak langsung posisinya jadi lemah. Hakim pasti gak akan memihak dia sepenuhnya."
"Akhirnya ya gitu deh... Ceweknya minta maaf seadanya, tapi Bimo tetep harus keluar duit buat ganti rugi 'tekanan mental' mereka. Paling banter jumlahnya dikit doang, tapi tetep aja bayar."
Namun Pak Yusril, sang direktur, tetap tenang menyeruput teh hijau hangatnya.
"Sabar... Jangan buru-buru menyimpulkan. Lihat dulu matanya. Anak itu belum selesai bicara. Selama dia belum duduk, berarti dia masih punya kartu AS di lengan bajunya."
Tepat saat suasana tampak buntu dan semua orang mengira Bimo akan kalah...
Arga angkat bicara lagi. Wajahnya tenang, tapi matanya memancarkan aura mematikan.
"Hakim Ketua, PIHAK KAMI PUNYA BUKTI BARU!"
Seluruh ruangan menoleh serentak ke arahnya.
"Bukti apa lagi yang akan Anda ajukan?" tanya Hakim Santoso.
"Sebelum menyerahkan bukti utama, tolong petugas putar dulu video klarifikasi yang diunggah oleh klien saya, Bimo, di akun TokTok-nya. Yang pertama dan yang kedua."
Layar besar di ruang sidang kembali menyala. Muncul video Bimo yang menceritakan kejadian apa adanya. Suaranya sedih, kecewa, tapi sangat sopan. Dia tidak memaki, tidak menghina, tidak menyebarkan aib, dia hanya menceritakan fakta yang dia alami dan meminta dukungan agar mendapatkan keadilan.
"Cukup, stop di situ," kata Arga tegas.
"Bolehkah saya bertanya pada Yang Mulia dan pada Pengacara Lawan... Di video ini, di mana bagian Bimo melakukan cyberbullying? Di mana dia memaki-maki? Di mana dia melebih-lebihkan cerita? Dia cuma menceritakan fakta yang dia alami untuk membela hak-haknya sendiri!"
"Jadi saya tanya lagi dengan jelas... SIAPA YANG DIBULLY OLEH BIMO?!"
semangat author/Determined/
tapi kali ini, saya akan lawan💪
semoga endingnya nggak mengecewakan🤭