"Dulu aku adalah debu di bawah kakimu, kini aku adalah badai yang akan menghancurkan istanamu!"
Arka Nirwana hanyalah menantu "sampah" yang dihina dan dipaksa mencuci sepatu keluarga Adiningrat. Kehilangan anak, dikhianati istri, dan dianggap gila adalah makanan sehari-harinya. Namun, mereka tidak tahu bahwa selama empat tahun, Arka sedang melakukan tirakat suci untuk membuka Segel Nusantara.
Saat guntur menyambar dan Jenderal tertinggi bersujud di kakinya, dunia sadar bahwa Sang Satria Piningit telah bangkit. Masa perbudakan telah usai, kini saatnya Arka menjemput kembali miliknya dan meratakan siapa pun yang menghalanginya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: REZIM AIR DAN GEJOLAK NADI SAMUDERA
Tubuh Arka melayang di udara, membelah gravitasi pesisir selatan yang berat.
Di bawahnya, mulut pusaran air raksasa menganga lebar seperti laring monster laut yang haus akan tumbal. WREEEEEEEEEEEE—BOOOOMMMM! (Suara mesin bor The Sovereign yang memekakkan telinga).
Suara deru mesin bor The Sovereign memekakkan telinga, menciptakan getaran frekuensi tinggi yang sanggup merontokkan susunan molekul benda padat.
Madam V tersenyum dingin. Kipasnya menari. WUTSH! WUTSH! Ratusan tombak air mengejar Arka.
PLUNG!
"Bunuh diri yang sangat puitis, Arka," gumam Madam V. "Kau pikir dengan melompat ke inti Nadi, kau bisa menyatu dengan buminya? Tubuh satu persenmu itu akan hancur menjadi bubur sebelum sempat menyentuh dasar samudera."
PLUNG!
Tubuh Arka menghantam permukaan air tepat di pusat pusaran. Namun, ada yang aneh. Tidak ada suara benturan keras. Seolah-olah air laut itu mendadak melunak, menyambut kedatangan sang ksatria yang sedang pulang ke pelukan alam.
Begitu masuk ke dalam air, pandangan Arka menjadi biru gelap. Tekanan hidrostatis di kedalaman teluk ini tidak masuk akal.
DUB... DUB... (Suara detak jantung Arka yang tertekan). Belenggu di punggungnya mencekik. KRETEK... “Jangan lawan... Ikuti arusnya,” suara pria tua misterius itu kembali bergema di kepala Arka.
Arka memejamkan mata. Ia membiarkan tubuhnya diputar-putar oleh arus bawah laut yang ganas. Ia tidak mencoba berenang melawan arus.
Ia justru melepaskan semua kontrol fisiknya. SHHHHH... Ia membiarkan air laut masuk ke dalam pori-pori kulitnya, membiarkan energi garam dan mineral murni dari Samudera Hindia membasuh meridiannya yang tersumbat.
Di atas sana, mata bor raksasa itu hanya berjarak beberapa meter dari kepalanya. Bor itu dilapisi dengan berlian sintetis dan energi frekuensi radio untuk menghancurkan perlindungan ghaib Nadi Samudera.
ZIIIIINGG!
Suara bor itu menciptakan gelombang kejut di dalam air. Darah mulai keluar dari telinga Arka. Jika ia tetap diam, kepalanya akan hancur berkeping-keping.
Tiba-tiba, tangan Arka bergerak secara naluriah. Ia merogoh kerang kecil yang masih ia genggam erat. WUUUUUNGGG! Kerang itu kini berpendar cahaya keemasan yang sangat terang.
ZAP! Begitu cahaya itu menyala, seluruh air di sekitar Arka mendadak berhenti bergerak. SHUUT. Sebuah kubah vakum kecil terbentuk di sekelilingnya.
Arka membuka matanya. Di depannya, di dasar teluk yang paling dalam, ia melihat sebuah retakan besar di kerak bumi.
Dari retakan itu, memancar cahaya putih murni yang begitu agung, inilah Nadi Samudera, titik saraf bumi yang menghubungkan energi inti planet dengan samudra luas.
"Waktunya..." bisik Arka, meskipun suaranya tidak terdengar di bawah air.
Arka meletakkan telapak tangannya di atas retakan tersebut. DUMMMMMM!
Di permukaan, Madam V mendadak merasakan getaran yang sangat kuat di platform apungnya. Indikator di layar monitor satelitnya mendadak berubah menjadi merah darah.
DRRRRRRRRR!
"Lapor, Madam! Tekanan energi di bawah sana melonjak sepuluh ribu persen! Mesin bor kita tidak bisa menahan beban baliknya!" teriak salah satu teknisi The Sovereign dengan wajah pucat.
"Tahan! Jangan matikan mesinnya! Kita harus ambil inti energinya sekarang!" perintah Madam V, wajah cantiknya kini tampak mengerikan karena ambisi.
Namun, alam punya rencana lain.
BOOM!
Sebuah ledakan energi air meletus dari bawah teluk. DUAAARRRR!" Platform bor raksasa seharga triliunan rupiah itu terangkat ke udara seolah-olah hanya selembar kertas, lalu hancur berkeping-keping menjadi rongsokan besi.
Ombak raksasa setinggi dua puluh meter menyapu seluruh kamp penelitian di pesisir. BYUUUURRRRRRRR!
Madam V terlempar dari menara pengawasnya. DAP! Ia berhasil mendarat di atas air dengan bantuan manipulasi udaranya, namun napasnya tersengal.
Matanya menatap tajam ke arah pusat pusaran air yang kini justru menjadi tenang secara mendadak. Di tengah ketenangan itu, sesosok pria berjalan keluar dari permukaan air. SREK... SREK...
Langkahnya stabil, seolah-olah dia sedang berjalan di atas lantai semen ruko bukunya. Itu adalah Arka Nirwana. Penampilannya tidak banyak berubah, namun ada sesuatu yang berbeda.
Kaos oblong putihnya kini bersih total, seolah semua noda debu dan oli telah dibilas oleh sucinya air laut. Matanya tidak lagi sayu.
ZING! Di dalam pupil matanya, tampak pendar cokelat keemasan yang berputar-putar seperti galaksi kecil.
Segel Bumi: Terbuka 10%.
Arka merasakan aliran tenaga yang luar biasa di kaki dan tangannya. Belenggu di punggungnya memang masih ada, namun satu dari tujuh rantai hitam itu kini telah retak di beberapa bagian. KRAK!
Kapasitas fisiknya kini setara dengan seribu pria terlatih.
"Mustahil..." Madam V bergumam, tangannya gemetar memegang kipas sutranya yang kini robek. "Bagaimana mungkin tubuh manusia biasa bisa menyerap energi Nadi secara langsung tanpa alat bantu?!"
Arka tidak menjawab. Ia hanya melangkah maju menuju daratan. Setiap kali kakinya menyentuh air, tercipta riak energi yang membuat seluruh ombak di teluk itu merunduk rendah, seolah-olah memberi hormat pada sang penguasa baru.
"Kau menghancurkan proyek bernilai miliaran dolar, Arka!" Madam V menjerit murka. Ia menutup kipasnya, lalu menghentakkannya ke arah langit. "Hancurlah di bawah badai ini!"
GELARAAKKKK!
Seketika, awan hitam di atas mereka meledak. Ratusan petir menyambar ke arah Arka secara bersamaan. CRAAAASH! DHUAAARRR!
Hujan turun begitu deras hingga jarak pandang hanya tersisa satu meter. Ini adalah serangan pamungkas Madam V, menguras seluruh energi hidupnya untuk memanggil amarah langit.
Arka berhenti berjalan. Ia mendongak menatap kilatan petir yang menyambar ke arahnya. Ia tidak menghindar. Ia hanya mengangkat tangan kirinya ke udara.
DHUAAARRR!
Petir-petir itu menghantam telapak tangan Arka. Namun, alih-alih membakarnya, petir-petir itu justru terserap masuk ke dalam tubuh Arka, disalurkan langsung ke tanah melalui kakinya. WUUUTSH...
Teknik Grounding Sempurna yang hanya bisa dilakukan jika seseorang memiliki sinkronisasi 10% dengan energi Bumi.
"Terima kasih untuk energinya, Madam," ucap Arka dingin. ZLAP! Arka menghilang dalam sekejap mata.
Madam V terbelalak. Ia belum sempat bereaksi ketika ia merasakan sebuah sentuhan lembut di pundaknya. TAP. Arka sudah berdiri tepat di belakangnya.
"Kau terlalu berisik," bisik Arka.
Arka hanya menyentil bagian belakang kepala Madam V.
TAK! BOOOM!
Sentilan itu tidak keras, namun mengandung massa energi bumi yang sangat padat. BRAKKK! Madam V terpental melintasi permukaan air, menabrak tebing karang hingga tebing itu retak, dan pingsan seketika.
FIIIIUUUU... (Suara angin laut yang reda).
Suasana teluk kembali hening. Badai mereda secepat kedatangannya. Arka berdiri sendirian di pantai yang berantakan dengan puing-puing mesin.
Ia mengambil ranselnya yang tadi ia tinggalkan di tebing, tas itu entah bagaimana tetap kering sempurna.
Arka merogoh kerang kecil itu lagi. Kerang itu kini sudah retak dan hancur menjadi debu, tugasnya sebagai penuntun sudah selesai.
"Terima kasih, Kek," gumam Arka ke arah laut lepas.
Ia berbalik, hendak mencari jalan keluar dari wilayah itu sebelum bala bantuan The Sovereign datang. Namun, langkah Arka terhenti ketika ia melihat seseorang duduk di atas sisa-sisa kontainer bor yang hancur.
Pria itu mengenakan setelan jas hitam yang sangat rapi, sepatu pantofel yang berkilat, dan memegang sebuah payung hitam meskipun hujan sudah berhenti.
Wajahnya tenang, berusia sekitar lima puluh tahunan, dengan bekas luka kecil di dagunya.
Aura dari pria ini berbeda. Dia bukan preman, bukan agen profesional, dan bukan eksekutif seperti Madam V. Dia memiliki aura yang sangat mirip dengan Arka, aura seorang penguasa yang tersembunyi.
"Penampilan yang sangat mengesankan, Arka Nirwana," ucap pria itu sambil melipat payungnya. "Sudah lama aku tidak melihat seseorang bisa melakukan Earth Synchronization sampai sepuluh persen hanya dalam waktu satu malam."
Arka waspada. Ia merasakan sirkulasi darahnya mendidih. "Siapa kau? Dan kenapa kau tidak membantu temanmu itu?" Arka menunjuk ke arah Madam V yang tergeletak di karang.
Pria itu tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat elegan. "Madam V? Dia hanya eksperimen yang gagal. The Sovereign memiliki banyak orang seperti dia. Tapi kau... kau adalah variabel yang unik."
Pria itu turun dari kontainer, berjalan mendekati Arka. Anehnya, meskipun dia berjalan di atas pasir pantai yang basah, sepatunya sama sekali tidak kotor.
"Namaku adalah Tuan Aksara," ucapnya memperkenalkan diri. "Aku adalah pustakawan dari Perpustakaan Bayangan. Dan aku datang ke sini bukan untuk bertarung denganmu. Aku datang untuk memberikan tawaran pekerjaan."
Arka mengerutkan kening. "Pekerjaan? Aku sudah punya toko buku."
"Aku tahu. Tapi toko bukumu di Batu sedang dalam bahaya besar sekarang," Aksara mengeluarkan sebuah tablet digital dari saku jasnya dan menunjukkannya pada Arka.
Mata Arka membelalak. Di layar tablet itu, tampak rekaman live dari Jalan Sudirman, Batu. Ruko Pustaka Senyap dikelilingi oleh belasan pria berpakaian hitam yang tidak dikenal.
Namun, yang membuat jantung Arka seolah berhenti adalah sosok yang berdiri di depan pintu ruko.
GLUK... GLUK... (Suara bensin tumpah).
Pria itu memegang sebuah botol bensin dan pemantik api. Wajahnya adalah wajah pria yang sangat dikenal Arka, pria yang seharusnya sudah mati lima tahun lalu di medan perang perbatasan.
"Rendra Adiningrat... masih hidup?" bisik Arka. Suaranya gemetar. DUB-DAG! DUB-DAG!
"Namanya Rendra Adiningrat yang asli, bukan bayangan yang kau temui kemarin," ucap Tuan Aksara. "Dia telah kembali dari 'kematian' dengan kekuatan yang diberikan oleh Black Order."
"Dan dia memiliki dendam pribadi padamu karena kau telah mencuri Siska darinya." Arka mengepalkan tangannya. Tanah di bawah kakinya mulai bergetar. "Apa maumu, Aksara?!"
"Ikutlah denganku ke Jakarta malam ini. Ada sebuah artefak di bawah Monumen Nasional yang harus kau amankan sebelum kelompok Rendra menemukannya."
"Sebagai imbalannya, aku akan memastikan seluruh pasukan Wironegoro bergerak melindungi rukomu di Batu dalam waktu sepuluh detik dari sekarang."
Arka menatap ke arah laut, lalu ke arah layar tablet yang menunjukkan rukonya dalam bahaya. Ini adalah dilema terbesar bagi seorang ksatria yang sedang menyamar.
Pulang ke Batu berarti membongkar semua rahasianya dan mempertaruhkan nyawa Dafa dalam perang terbuka, atau ikut dengan orang asing ini ke jantung ibukota demi misi yang lebih besar.
Tiba-tiba, suara ledakan terdengar dari tablet tersebut. BLAARRRR! Pintu ruko Pustaka Senyap didobrak paksa.
"Waktumu tidak banyak, Arka," ucap Aksara dengan nada mendesak. "Pilih sekarang: Selamatkan masa lalumu, atau selamatkan masa depan bangsamu?"
***
Dukung perjalanan Arka Nirwana dengan Like & Komen. Update setiap hari. Terima kasih.