Aku sudah mati sekali di hari kiamat.
Sekarang aku kembali—3 hari sebelum semuanya dimulai.
Aku tahu siapa yang akan mati.
Aku tahu monster apa yang akan muncul.
Aku tahu dunia ini tidak bisa diselamatkan.
Jadi kali ini…
aku akan mengubah semuanya.
Atau menghancurkannya dengan caraku sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DRR_LOVE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia setelah kehilangan Reina
Satu tahun berlalu sejak Reina mengorbankan hidupnya untuk dunia. Namun dunia tidak benar-benar pulih.
Tim Reina memutuskan untuk terus mengembara dan mencari kota-kota yang hancur. Kota yang memiliki tanda peninggalan dunia lama, reruntuhan kuno.
Hujan turun pelan di atas dunia yang perlahan membusuk lagi. Satu tahun sejak hilangnya Reina.
Tidak ada makam. Tidak ada jasad. Tidak ada kepastian.
Hanya kehampaan yang tertinggal di antara mereka. Namun dunia tidak peduli pada kehilangan siapa pun.
Monster tetap muncul. Manusia tetap mati.
Dan langit mulai retak kembali sedikit demi sedikit.
Di tengah reruntuhan stasiun bawah tanah tua—
DUUUUMM!!
Prisma menghantam palunya ke kepala monster raksasa hingga lantai beton pecah. Monster itu meraung keras sebelum akhirnya tumbang.
“Area aman!” teriak Dandi.
Beberapa manusia yang bersembunyi di belakang puing langsung berlari keluar dengan wajah ketakutan.
Andri masih berdiri di atas kendaraan hancur sambil mengarahkan pistolnya ke lorong gelap.
DOR!
Satu monster kecil yang mencoba menyelinap langsung jatuh. Namun wajah Andri tidak berubah sedikit pun. Dingin. Lelah. Kosong.
Santo berjalan keluar dari bayangan sambil membersihkan darah hitam di pedangnya. “Sudah selesai.”
Tidak ada sorakan kemenangan. Tidak ada rasa lega. Mereka hanya diam memandangi mayat monster.
Karena semua sadar, dulu Reina selalu berdiri paling depan di situ.
Seorang anak kecil yang tadi diselamatkan perlahan mendekati Prisma. “Kak…”
Prisma menoleh pelan.
“Apakah monster akan terus datang?”
Prisma terdiam beberapa detik sebelum menjawab. “…Ya.”
Anak itu menunduk ketakutan.
Namun Prisma lalu menepuk kepalanya perlahan. “Tapi kami akan menghentikan mereka.”
Meski jauh di dalam dirinya, bahkan Prisma sendiri tidak yakin.
Malam harinya. Mereka beristirahat di sebuah gedung tua yang setengah runtuh. Api kecil menyala di tengah ruangan.
Dandi sedang membagi makanan kaleng.
Andri duduk sendirian sambil membongkar bagian dalam peluru-pelurunya.
Sementara Santo berdiri di dekat jendela memandang langit malam.
Prisma akhirnya bicara pelan. “Besok kita menuju utara.”
Andri tidak mengangkat kepala. “Karena sinyal gerbang kedua?”
“Ya.”
Dandi langsung menegang. “Bukannya itu terlalu cepat?”
Santo menjawab tanpa menoleh. “Kalau kita terlambat, kota berikutnya akan hancur.”
Keheningan kembali memenuhi ruangan. Lalu Prisma membuka sebuah kain lusuh dari dalam tasnya.
Di dalamnya ada potongan kecil pita merah milik Reina. Benda itu berhasil ia ambil sebelum ledakan terakhir dulu.
Tatapan Prisma melembut sesaat. “Kita belum selesai.”
Andri akhirnya berhenti bekerja. Tatapannya mengarah ke pita itu. “Kalau dia masih hidup…”
Suasana langsung berubah sunyi.
Dandi menatap Andri. “Kau mulai percaya?”
Andri terdiam cukup lama sebelum menjawab pelan. “…Aku tidak tahu.”
“Tapi data dunia lama yang kutemukan tidak masuk akal.”
Prisma langsung mengangkat kepala. “Maksudmu?”
Andri melempar sebuah perangkat kecil ke tengah ruangan. Layar hologram biru langsung muncul. Di sana terlihat simbol merah yang sama seperti milik Reina.
Lalu tulisan kuno mulai muncul perlahan:
“Subjek Pembawa Tanda tidak dapat mati.”
“Selama inti dewa masih ada… kebangkitan akan terus terjadi.”
Jantung Prisma langsung berdetak keras.
Dandi berdiri spontan. “Jadi Reina—”
Belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya.
Santo tiba-tiba memegang pedangnya. Tatapannya tajam ke luar gedung. “Diam.”
Semua langsung bersiaga. Angin malam mendadak berhenti. Lalu... dari luar gedung terdengar suara langkah kaki pelan.
Tat.
Tat.
Tat.
Bukan monster. Terlalu teratur.
Prisma menggenggam palunya. “Siapa di sana?!”
Keheningan sesaat.
Kemudian sebuah suara wanita terdengar dari luar kegelapan.
“Pembawa Tanda…”
“Kami datang menjemput warisan sang dewi.”
Api kecil di tengah ruangan bergoyang pelan.
Suasana langsung berubah tegang.
Prisma berdiri paling depan sambil mengangkat palunya. Dandi memutar tombaknya perlahan, sementara Andri sudah mengarahkan pistol ke arah pintu masuk gedung.
Santo tetap diam. Namun bayangan di bawah kakinya mulai bergerak seperti makhluk hidup.
Tat…
Tat…
Tat…
Langkah kaki itu semakin dekat. Lalu dari kegelapan lorong runtuh, muncul seorang wanita berjubah putih panjang.
Rambutnya perak pucat.
Kulitnya terlalu bersih untuk dunia seperti ini.
Dan di dahinya… terdapat simbol merah yang sangat mirip dengan milik Reina.
Mata Andri langsung menyipit. “…Pengikut gerbang?”
Wanita itu tidak menjawab. Tatapannya justru mengarah ke pita merah di tangan Prisma.
Kemudian ia tersenyum tipis.
“Jadi benar.”
“Pewaris sang dewi sudah bangkit.”
Prisma menggenggam pita itu lebih erat. “Kau bicara tentang Reina?”
Wanita itu perlahan melangkah masuk. Aneh. Tidak ada monster di sekitarnya. Bahkan udara terasa menyingkir untuk memberinya jalan.
“Namanya sudah berubah berkali-kali selama ribuan tahun.”
“Namun jiwa itu tetap sama.”
Dandi langsung berdiri di depan Prisma. “Kau siapa sebenarnya?”
Wanita itu meletakkan tangan di dadanya pelan. “Aku Lyra.” “Pendeta terakhir dari Ordo Gerbang.”
Begitu nama itu disebut, Santo langsung memegang pedangnya lebih erat.
“Andaikan aku tahu pengikut ordo itu masih hidup…” Lyra menoleh perlahan ke arah Santo.
Tatapannya berubah sedikit tajam. “Dan andaikan aku tahu keturunan Penjaga Bayangan masih tersisa.”
Ruangan langsung sunyi. Prisma dan yang lain menoleh ke Santo. Namun Santo tidak menjawab.
Andri segera memotong sebelum suasana makin aneh. “Langsung ke intinya.”bTatapan dinginnya mengarah ke Lyra. “Apa tujuanmu datang?”
Lyra kembali melihat ke arah mereka satu per satu. Lalu berkata pelan: “Gerbang kedua akan segera terbuka.” “Dan tanpa Pembawa Tanda… kalian semua akan mati.”
Dandi mengepalkan tangannya.b“Kalau kau tahu sesuatu, jelaskan!”
Lyra terdiam sesaat.bKemudian ia mengangkat tangannya.bCAHAYA MERAH muncul di udara membentuk gambaran kota besar yang tertutup salju. Namun di tengah kota itu, terdapat retakan merah raksasa di langit.
Monster-monster beterbangan keluar darinya seperti hujan hitam. Dan di bawah retakan itu sesuatu raksasa sedang bergerak.
Makhluk sebesar gunung. Tubuhnya tertutup es hitam dan rantai.
Prisma langsung membeku. “…Apa itu?”
Lyra menjawab dengan suara pelan namun berat. “Penjaga Gerbang Kedua.” “Salah satu dari enam bencana dunia.”
Andri menatap hologram itu serius. “Berapa lama sebelum gerbangnya terbuka?”
Lyra perlahan menatap langit malam di luar gedung. “Kurang dari dua minggu.”
Keheningan kembali turun. Dua minggu. Mereka bahkan hampir tidak selamat dari gerbang pertama.
Dandi menunduk pelan. “…Kita tidak akan menang.”
Namun Prisma tiba-tiba berdiri. Tatapannya keras. “Kita tetap pergi.”
Andri langsung menoleh. “Prisma.”
“Kita pernah kalah sebelumnya.”
Prisma menggenggam palunya kuat-kuat. “Tapi Reina tetap maju.”
Suasana langsung hening. Untuk pertama kalinya sejak hilangnya Reina api semangat kecil mulai muncul lagi di mata mereka.
Santo perlahan menoleh ke luar jendela. Ke arah langit retak merah yang semakin membesar.
Dan jauh… sangat jauh… di suatu tempat di balik dunia seseorang perlahan membuka mata merahnya kembali.