NovelToon NovelToon
Penyihir Gila Dari Jurang Hantu

Penyihir Gila Dari Jurang Hantu

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Isekai / Balas Dendam
Popularitas:737
Nilai: 5
Nama Author: AbdulRizqi60

Cakrawala Dirga Samudra adalah seorang Pangeran kerjaan Nirlata yang dibuang kedalam jurang saat umurnya baru menginjak 6 tahun. namun bukannya mati, di dalam sana ia justru bertemu sosok misterius yang membuat dirinnya menjadi penyihir gila. 7 tahun berlalu ia kembali dengan kekuatan baru untuk menuntut balas, merebut takhta yang seharusnya menjadi miliknya, dan mengungkap rahasia di balik tembok istana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AbdulRizqi60, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berdiri Paling Akhir

Samudra hanya bisa terbaring lemah diatas tanah, tubuhnya benar benar terasa sangat sakit semua seolah tulang tulang tubuhnya retak dan patah.

Secara tertatih Samudra berusaha bangkit namun gagal, ia kembali berlutut dengan satu tangan menyentuh tanah menopang tubuhnya.

"Didetik-detik terakhir seperti ini kau masih ingin berjuang bocah? Sebenarnya apa yang membuat dirimu senekad ini? Bukankah sudah terlihat jelas bagaimana perbedaan kekuatan kita?" Tanya Eyang Urug dengan senyuman tipis penuh penghinaan.

"Aku berikanmu satu kesempatan lagi, Bersujudlah padaku sekarang jika kau melakukannya aku akan menyembuhkan luka-lukamu tidak hanya itu kau akan aku berikan kekuatan baru... asalkan kau mau bersujud dan menjadi anak buahku."

Samudra menyeringai sambil melepaskan penutup mata kirinya, "cuih.." ia meludah kesamping, "bukankah aku sudah mengatakan lebih baik aku mati dari pada harus menjadi pionmu. Lebih baik hidup satu hari sebagai singa dari pada harus hidup seribu tahun namun menjadi kambing.." ujar Samudra sambil memegangi dadanya yang terasa berdenyut sakit.

"Aku kagum dengan tekadmu bocah, namun kau harus menyadari posisimu sendiri..." Eyang Urug menatap mata kiri Samudra, "mata itu... mata yang indah, entah mengapa aku seperti melihatnya namun dimana?" Batin Eyang Urug.

"aku rasa percuma aku membujukmu, sebagai gantinya karena kau sudah bertarung hingga sejauh ini akan aku berikan kau kematian yang menyakitkan! Akan aku hanguskan tubuhmu tanpa menyisakan secuil dagingpun, agar orang terdekatmu tidak memiliki tempat untuk mengenangmu..."

Samudra tersenyum tipis, "lakukan saja... sudah tidak ada orang terdekat dalam hidupku.." balas Samudra lirih.

"Hahaha... baiklah..." Eyang Urug tampak mengangkat tangannya teraliri api merah oranye yang mirip seperti lava.

"aku tau ini sangat beresiko namun aku sudah tidak memiliki pilihan lain..." batin Samudra.

Samudra menutup mata kanannya dan hanya membiarkan mata kirinya yang terbuka, ia memfokuskan pandangannya ke arah tubuh Eyang Urug.

Semakin lama Samudra menatap Eyang Urug rasa sakit dimata kirinya semakin menjadi jadi, tidak hanya itu darah tampak mengalir keluar dari mata kirinya menandakan bahwa Samudra terlalu memaksakan kekuatan mata dewanya.

Melihat itu Eyang Urug menjadi sedikit penasaran, "hm... jurus terakhirmu ya? Namun sayang sekali.. kau tidak akan mampu menandingi api ini... api ini adalah api yang teramat panas dari alam azrak.. selamat tinggal..."

Swusshh...

Eyang Urug menerjang kearah Samudra berniat mencekik dan membakarnya dengan api di tangannya.

"Api Suci...!!!" Teriak Samudra.

Blarr...!!!

Entah datang dari mana api putih terang tampak membakar tubuh Eyang Urug.

"Aaaarrrrrggghhhh...!!!!" Eyang Urug langsung meronta ronta, ia merasakan rasa panas yang teramat sangat.

Samudra masih memelototkan mata kirinya kearah Eyang Urug, bola matanya tampak bergetar.. seiring dengan itu api putih ditubuh Eyang Urug semakin membesar.

"Aaaaaaaaaarrrrrrgghhhhh....!!!!" Eyang Urug terus meraung-raung kepanasan seraya meronta-ronta.

"Aaaarrrggh.... api ini.. api suci, bagaimana mungkin bocah itu bisa menguasainya?!" Eyang Urug benar benar tak menyangka akan hal ini.

"Mata itu, aku baru ingat... itu mata..."

Namun sayang sekali api yang membakar Eyang Urug semakin membesar dan tidak bisa padam, api suci sendiri tidak akan padam kecuali targetnya sudah benar benar hangus menjadi debu.

"Aaaaaaaarrrrgghhhhh....!!!!" Raungan kepanasan Eyang Urug benar benar terdengar penuh kepiluan, rasa panas ditubuhnya benar benar luar biasa.

Bruk!

Samudra akhirnya kembali tumbang...

Dunia seakan meredup, kehilangan saturasi warnanya. Langit yang tadinya membara, kini perlahan meluruh menjadi abu-abu pucat. Samudra terjerembab ke tanah yang dingin, lututnya tak lagi mampu menopang beban tubuh yang kini terasa seperti timah panas.

Darah. Terlalu banyak darah.

Ia bisa merasakannya merembes keluar dari balik jubah yang sudah koyak. Merah pekat, kental, dan hangat—satu-satunya hal yang terasa nyata di antara mati rasa yang mulai merayap dari ujung jari kaki. Napasnya pendek, berbunyi nyaring, seolah-olah tenggorokannya dipenuhi pasir tajam.

Uhuk.

Setetes darah segar jatuh ke atas rumput yang layu, kontras di atas hijau yang menghitam.

Pandangannya kabur, menatap sosok musuh utama yang sedang berusaha keras melepaskan rasa panas ditubuhnya. Kemenangan? Benar, Samudra menang. Tapi harganya adalah detak jantungnya sendiri yang kini melambat, menyerupai lonceng pemakaman yang berdentang pelan.

"Jadi... di sini akhirnya." bisiknya, suaranya parau, hampir tak terdengar.

Ia menatap pedang kubikiribocho. Pedang pusakanya tergeletak tak jauh, bilahnya retak, sama patahnya dengan tubuhnya. Tangan kanannya terangkat, Ujung jari-jarinya gemetar, mencoba menggapai udara, menggapai kenangan masa lalu yang kini terasa begitu jauh. Bayangan senyum guru-gurunya—mereka yang gugur lebih dulu—seakan melambai dari balik kabut tipis yang mulai menutupi pandangan.

"Maafkan aku guru, aku gagal... aku gagal menjadi sosok yang kalian harapkan... perjalananku cuma sampai sini."

Rasa sakit yang hebat tadi kini berubah menjadi sensasi dingin yang aneh. Seolah-olah jiwanya sedang ditarik pelan-pelan dari tulang belulang.

Darah terus mengalir dari robekan di dada, membuat jubahnya hitamnya terasa berat. Napasnya makin jarang, satu-satu, memaksa paru-paru yang terkoyak bekerja melebihi batas.

Langit perlahan menghilang. Sunyi.

Samudra memejamkan mata. Tidak ada rasa takut, hanya kelelahan yang luar biasa yang akhirnya bisa beristirahat. Ia adalah api yang akhirnya padam, meninggalkan asap kenangan di medan laga.

Brak..!!!

Aarrrghhh... Eyang Urug tumbang tidak jauh dari Samudra, Eyang Urug sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk meronta seberapa keras pun ia berusaha api tersebut tidak akan padam..

Hingga akhirnya api tersebut benar benar padam dan menyisakan tubuh Mahesapati yang telanjang dengan kulit gosong.

Suasana mendadak hening...

"Kau... hampir saja membunuhku keparat!" Suara Mahesapati memecahkan keheningan membuat Samudra terkejut.

"Karenamu... karena kau cepat menghabisi Eyang Urug membuat diriku tidak jadi mati, aku berterimakasih kepadamu bocah..."

"Kau benar benar seperti kecoak yang sangat sulit dibasmi." Lirih Samudra.

"Setidaknya... kau akan mati, aku benar benar bahagia melihat wajah menyedihkanmu.." lirih Mahesapati sambil meringis merasakan sisa panas yang ditinggalkan api suci.

Eyang Urug hanya merasuki tubuh Mahesapati sesaat, sehingga saat ini Mahesapati mampu bertahan, kecuali apabila Mahesapati sudah terasuki cukup lama.

Api sucipun menghilang setelah menjadikan tubuh Eyang Urug abu, karena target yang terkunci oleh Samudra hanya Eyang Urug bukan tubuh Mahesapati yang berada didalam tubuh Eyang Urug.

Baik Samudra dan Mahesapati saat ini benar benar diujung kematian mereka. Mereka berdua sama sama sekarat.

Swusssshh...

Tiba tiba Datuk Ringgih keluar dari cincin dimensi Samudra dalam keadaan tidak terikat, ya! Tidak terikat kain perak Samudra karena Samudra sedang sekarat ia tidak mampu mempertahankan ikatan kain perak tersebut.

Datuk Ringgih berdiri diantara kedua orang yang sekarat ini, bukan Penyihir Gila Penuh Tekad bukan pula Penyihir Penuh dendam yang berdiri paling akhir.. namun justru Datuk Ringgih hanya pria yang terhianati dan tidak mendapatkan keadilan didunia ini.

1
anggita
nama ilmu yg keren. mantra api jiwa👏
anggita
ikut dukung ng👍like, 2x☝☝iklan. moga novelnya lancar.
anggita
novel laga lokal👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!