NovelToon NovelToon
Arunika Di Kala Senja

Arunika Di Kala Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu
Popularitas:491
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

Arunika hidup dengan trauma masa lalu yang membuatnya menjadi pribadi dingin dan tertutup. Setelah kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil, ia diasuh oleh kakek dan neneknya di sebuah penginapan tua di desa wisata yang dipenuhi pohon damar. Aroma lilin dari getah damar selalu menjadi tempat ternyaman bagi Arunika, hingga kehadiran seseorang dari masa lalunya perlahan mengusik hidup yang selama ini terasa tenang. Di saat yang sama, seorang pemuda yang telah menemaninya sejak kecil masih setia berada di sisinya. Lalu, siapakah yang akhirnya akan dipilih Arunika?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cahaya Baru di Penginapan Tua

Matahari baru saja naik sepenggalah, menyiratkan cahaya keemasan yang menembus celah-celah daun Agathis, saat halaman penginapan kayu itu berubah menjadi bengkel kerja yang sibuk.

Senja, pria yang biasanya akrab dengan wangi parfum mahal dan ruangan berpendingin udara, kini tampak berbeda. Ia mengenakan kaus oblong putih yang sudah terkena noda cat dan peluh yang membasahi keningnya. Di tangannya terdapat selembar denah sketsa yang ia buat semalam—sebuah rencana untuk merombak estetika penginapan tanpa menghilangkan jiwa tradisionalnya.

Di sampingnya, Arkala sedang sibuk dengan gergaji mesin dan beberapa potong kayu berkualitas. Arkala adalah otot dan pengalaman dalam proyek ini. Ia tahu persis mana kayu yang masih kokoh dan mana yang butuh sentuhan baru.

Namun, yang menarik perhatian Arunika dari balik jendela dapur adalah pemandangan luar biasa: Senja tidak hanya memberi perintah. Ia ikut mengangkat balok kayu, ia ikut mengamplas permukaan meja yang kasar, dan ia mendengarkan setiap instruksi Arkala dengan saksama.

"Bukan begitu caranya, Senja. Kalau lu motongnya terlalu miring, serat kayunya bakal rusak. Sini, perhatikan tangan gue," ujar Arkala. Meskipun mereka sudah mulai akrab, nada bicara Arkala tetap lugas dan tanpa basa-basi.

Senja tidak membantah. Ia memperhatikan gerakan tangan Arkala, lalu mencobanya kembali dengan penuh kesabaran. "Begini? Gue belum terbiasa, tapi gue ingin belajar. Desain di kertasini gabakal jadi apa-apa kalau gue gatau cara menyatukan kayunya."

Arunika berjalan keluar membawa baki berisi air kelapa muda yang segar. Ia terpaku sejenak melihat kebersamaan itu. Arkala, sang pemuda lokal yang tangguh, dan Senja, sang anak kota yang ternyata punya kemauan keras untuk belajar. Mereka berdua adalah perpaduan yang aneh namun indah.

"Kalian sudah bekerja sejak pagi, istirahatlah dulu," ucap Arunika lembut. Arunika juga membawa dua cangkir teh dan juga pisang goreng hangat.

Senja mendongak, menyeka keringat dengan punggung tangannya, dan tersenyum tulus. "Terima kasih, Ika. Arkala memang guru yang galak, tapi pengetahuannya soal kayu luar biasa. Berkat dia, desain yang aku buat mulai terlihat bentuknya."

Arkala terkekeh, menepuk bahu Senja yang kini penuh debu kayu. "Anak kota ini ternyata nggak cuma jago teori. Tangannya lumayan kuat juga buat ngangkat kayu damar. Gue pikir dia bakal pingsan di jam pertama."

Pekerjaan itu berlanjut selama beberapa hari. Senja merapikan sistem pemesanan secara digital, mengganti beberapa dekorasi interior dengan sentuhan modern namun tetap hangat, sementara Arkala memperbarui eksterior dan struktur yang mulai menua.

Arunika sendiri membantu merapikan taman dan memberikan sentuhan bunga-bunga liar di setiap sudut beranda. Kerja tim ini begitu solid, diwarnai dengan candaan dan ejekan ringan yang membuat lelah seolah menguap begitu saja.

Hasilnya pun tidak sia-sia. Keajaiban itu terjadi hanya dalam hitungan minggu. Berkat promosi digital yang dilakukan Senja—dengan foto-foto estetik yang menangkap kehangatan penginapan—pesanan mulai membanjir.

Penginapan yang tadinya sunyi kini dipenuhi tawa para tamu. Area penginapan yang terletak agak jauh dari rumah utama Kakek kini terisi penuh. Sementara itu, Senja tetap berada di kamar VIP yang letaknya paling dekat dengan rumah utama Kakek dan Nenek.

Suatu sore, Kakek duduk di beranda sambil memperhatikan keramaian tamu dari kejauhan. Matanya berkaca-kaca melihat buku catatan tamu yang kini penuh dengan nama. Ia memanggil Senja dan Arkala yang sedang duduk beristirahat di dekatnya.

" Senja, Arkala... Kakek benar-benar tidak tahu harus bicara apa. Kalian sudah menghidupkan kembali tempat ini. Kakek sempat mengira tempat ini akan mati pelan-pelan, tapi lihatlah sekarang," ucap Kakek dengan suara bergetar karena haru.

Arunika mendekat, berdiri di samping kakeknya. Ia menatap Senja dengan binar kagum yang tak bisa ia sembunyikan. "Aku juga berterima kasih banget sama kamu, Senja. Kamu sudah membuktikan kalau niat baik itu bisa mengubah segalanya. Dan buat kamu juga, Arkala... terima kasih sudah mau membantu dan mengajari Senja. Tanpa kalian berdua, penginapan ini nggak akan jadi seperti sekarang."

Senja menatap Arunika dengan lembut. "Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan, Ika. Melihat Kakek dan Nenek tersenyum lagi itu sudah lebih dari cukup buat aku."

"Aku juga senang bisa bantu, Ika. Lagian, asik juga ngeledekin anak kota ini tiap hari," sahut Arkala sambil tertawa lepas, diikuti tawa yang lain.

Sebagai bentuk rasa syukur, Nenek mengajak mereka semua untuk makan malam bersama. Namun, ini bukan makan malam biasa. Nenek meminta mereka berkumpul di dapur utama rumah kakek. Dapur itu luas, dengan tungku tradisional yang masih menyala, menebarkan aroma bumbu rempah yang sangat harum.

Nenek sedang sibuk mengulek sambal, sementara di atas tungku, seekor ayam kampung sedang dimasak dengan bumbu opor kuning yang kental. Aroma nasi hangat yang baru matang memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang begitu menghangatkan hati.

"Ayo, semuanya duduk. Jangan sungkan. Malam ini Nenek masak semua makanan kesukaan kalian," ujar Nenek ramah.

Mereka duduk mengelilingi meja kayu besar di tengah dapur. Suasana sangat intim. Di kota, Senja mungkin biasa makan di restoran mewah dengan piring perak, tapi di sini, makan di dapur dengan cahaya lampu yang agak kuning dan aroma kayu bakar, ia merasa menemukan kemewahan yang sebenarnya.

"Senja, coba ini. Ini ayam kampung hasil ternak sendiri," ucap Nenek sambil menyodorkan piring.

"Terima kasih, Nek. Wanginya enak sekali," jawab Senja. Ia mengambil suapan pertama dan matanya membelalak. "Wah, ini... ini lebih enak dari masakan restoran mana pun yang pernah saya coba di Jakarta."

Arkala menyahut sambil mulutnya penuh makanan, "Makanya, Senja, jangan pulang ke kota dulu. Di sana lu cuma makan micin, di sini lu makan cinta dari masakan Nenek."

Tawa pecah di meja makan itu. Perbincangan mengalir dengan santai. Mereka membicarakan hal-hal lucu saat proses renovasi kemarin—tentang Senja yang salah mencat dinding karena mengantuk.

Arunika sesekali melirik Senja. Ada sesuatu yang berbeda pada pria itu. Keseriusannya saat bekerja, kerendah hatiannya saat belajar dari Arkala, dan caranya memperlakukan Kakek dan Nenek dengan penuh hormat telah meruntuhkan dinding pembatas di hati Arunika.

Ia mulai melihat Senja bukan sebagai bayang-bayang masa lalu yang kelam, melainkan sebagai sosok yang baru, sosok yang benar-benar telah berbenah.

"Ika, kenapa kamu melamun? Ayo dimakan ayamnya, nanti diambil Arkala lho," goda Nenek yang membuat Arunika tersipu malu.

"Eh, iya Nek... ini lagi makan kok," jawab Arunika gugup.

Malam itu, dapur rumah Kakek dan Nenek menjadi saksi bisu sebuah pertemuan hati. Tidak ada lagi rasa canggung. Yang ada hanyalah sebuah tim yang solid, sebuah keluarga baru yang diperat oleh kerja keras dan ketulusan. Di kejauhan, lampu-lampu di penginapan yang baru direnovasi tampak bersinar cantik di antara kegelapan hutan, menandakan bahwa sebuah awal yang baru telah benar-benar dimulai.

Senja menatap ke arah luar jendela dapur, ke arah penginapan yang kini ramai. Ia merasa, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia memiliki sebuah rumah. Bukan rumah yang terbuat dari beton dan besi di kota yang bising, tapi rumah yang terbuat dari tawa, tulusnya persahabatan, dan hangatnya sebuah maaf.

"Terima kasih ya, Ika," bisik Senja pelan saat mereka sedang membantu Nenek mencuci piring setelah makan.

"Untuk apa?" tanya Arunika.

"Untuk segalanya. Untuk kesempatan kedua ini. Aku janji, aku nggak akan mengecewakan kamu lagi."

Arunika tersenyum, sebuah senyuman yang sangat tulus yang pernah Senja lihat. "Kita semua sedang berbenah, Senja. Dan aku senang kita melakukannya bersama-sama."

Lampu dapur akhirnya dipadamkan, namun hangatnya kebersamaan malam itu tetap membekas, memberikan energi baru untuk menyambut hari esok yang jauh lebih cerah bagi mereka bertiga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!