NovelToon NovelToon
Nona Mafia Yang Menyamar

Nona Mafia Yang Menyamar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

bukan transmigrasi dan juga bukan romansa berlebihan karena cp mungkin akan datang pada chapter 80 keatas, bisa disesuaikan jika pembaca ingin didatangkan lebih cepat.

sinopsis :
bagaimana jika seorang ratu mafia memiliki seseorang kembaran namun memiliki nasib yang berbeda? dia menggunakan identitas kembaran nya itu untuk menyembunyikan identitasnya dan juga mencari musuh tanpa diketahui.

namun, tidak semudah itu untuk seorang valeria Alessandra yang merupakan pengguna bintang tingkat 10 yang menjadi incaran dunia. bagaimana selanjutnya?

novel ini menciptakan negara sendiri dan juga bertema sedikit fantasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

jam makan siang

Bel istirahat berbunyi. Suara riuh rendah siswa membanjiri koridor menuju kantin. Alessandra tetap duduk di kursinya beberapa saat, matanya menatap keluar jendela. Gedung-gedung sekolah megah berdiri kokoh di bawah langit biru.

Sekolah ini terlalu bagus untuk keluarga Sunjaya, pikirnya dingin.

"Vale, ayo ke kantin!" Laras sudah berdiri di samping mejanya, tangan di pinggang. "Lo pasti belum makan pagi, kan? Muka lo pucet."

"Gue tidak pucet," jawab Alessandra datar. "Ini warna kulit gue."

Mutiara terkekeh. "Ya udah, ayo. Biar gue kenalin makanan kantin. Enak loh, soalnya pemilik sekolahnya kaya raya, jadi fasilitasnya wah."

Alessandra hampir tersenyum. Iya, pemilik sekolahnya kaya raya. Dan dia sedang berdiri di depanku.

Tapi dia tidak berkata apa-apa. Dia berdiri, mengambil buku tebalnya, lalu mengikuti kedua gadis itu keluar kelas.

Kantin Alessandra High School terletak di gedung terpisah, dua lantai dengan desain industrial yang mewah. Lantai marmer hitam mengkilap, meja-meja kayu jati panjang dengan bangku empuk, dan di tengah terdapat air mancur mini yang mengalirkan air bening.

Ini bukan kantin sekolah biasa. Ini kantin yang biaya pembangunannya bisa membeli satu kompleks perumahan.

Tapi Alessandra tidak terkesan. Dia sudah terbiasa dengan kemewahan.

Yang membuatnya terkesan justru hal lain.

"Vale, antri di sini ya," ucap Mutiara sambil menunjuk konter makan.

"Gue tungguin," kata Alessandra. Dia berdiri di pinggir, menyandarkan punggung ke tiang besi, dan mengamati.

Puluhan siswa lalu lalang dengan nampan berisi makanan. Nasi, lauk, sayur, buah, semua terlihat segar dan berkualitas. Setidaknya manajemen sekolah ini tidak korupsi, pikirnya. Atau mungkin mereka takut karena pemiliknya adalah ketua mafia.

Dia merapikan kacamatanya.

Dan saat itulah dia melihat mereka.

Fiona dan tiga orang temannya yaitu cewek-cewek populer dengan seragam yang dimodifikasi sedikit lebih ketat, rok sedikit lebih pendek, riasan sedikit lebih tebal berjalan menuju ke arahnya.

Tapi bukan Fiona yang membuat Alessandra menyipitkan mata.

Di belakang Fiona, berjalan seorang gadis kecil dengan tinggi 158 cm, wajah bulat polos, rambut diikat pita putih.

Saskia.

Rubah kecil datang, pikir Alessandra.

"Vale, makanan udah jadi!" Laras datang dengan tiga nampan. "Gue bawain lo nasi goreng spesial, tahu isi, sama es teh manis. Ini favorit lu kan ."

Vale yang dulu, ulang Alessandra dalam hati. Bukan saya.

"Makasih," ucapnya mengambil nampan.

Mereka berjalan mencari meja kosong di pojok, dekat jendela. Tepat saat mereka duduk—

Nampan Fiona membanting di meja sebelah.

"Wah, kebetulan banget," ucap Fiona dengan nada manis tapi tajam. "Kita satu meja, ya?"

Tanpa menunggu jawaban, Fiona dan gengnya duduk di meja panjang yang sama. Saskia ikut duduk di samping Fiona, tersenyum manis pada Alessandra.

"Kakak Vale," sapa Saskia lembut. "Saya senang sekali kakak sekolah di sini. Jadi kita bisa bareng-bareng."

Alessandra tidak menjawab. Dia mengambil sendok dan mulai makan.

Fiona mendengus. "Siska, lo kenal sama si pindahan ini?"

"Kakak saya," jawab Saskia dengan mata berbinar. "Valeria Allegra. Kakak saya yang hilang seminggu lalu."

"Wah, yang hilang itu? Ceritanya sempet viral, ya," salah satu teman Fiona ikut berkomentar. "Tapi kok bisa pindah ke sini?"

Mutiara dan Laras mengepalkan tangan. Tapi Alessandra tetap makan, tenang.

"Kakak Vale pindah karena... masalah di sekolah sebelumnya," ucap Saskia dengan nada ragu, sengaja menggantung kalimat. Matanya melirik Alessandra, mencari reaksi.

Dan Alessandra tahu persis apa yang dilakukan gadis cilik ini.

Mencari gara-gara. Membuka luka lama. Menikmati penderitaan orang lain dengan topeng kepolosan.

"Masa sih?" Fiona menyandarkan tubuh ke bangku. "Jangan-jangan dia dikeluarin? Atau ada skandal? Atau ketahuan kegatelan?"

Tawa kecil terdengar dari geng Fiona.

Laras tidak tahan. "Eh, jangan sembarangan ngomong, ya! Vale pindah karena—"

"Karena alasan pribadi," potong Alessandra dingin, tanpa menoleh. "Tidak perlu diumbar ke orang yang tidak berkepentingan."

Fiona mengerutkan kening. "Kurang ajar. Lo baru pindah, udah sombong."

"Sombong?" Alessandra berhenti makan. Dia meletakkan sendok pelan, lalu menoleh. Matanya menatap Fiona dengan dingin, tanpa ekspresi. "Saya hanya tidak suka membicarakan hidup pribadi saya di meja makan. Apakah itu disebut sombong?"

"Ya, karena lo pikir lo lebih baik dari kita."

"Saya tidak berpikir apa pun tentang kalian."

Tusukan. Halus. Tapi menusuk.

Fiona berdecak. "Kampungan. Cewek kayak gini dibela-bela sama Siska. Siska kenapa sih lo baik banget sama dia? Dia kan cuma—"

"Diamlah."

Suara itu pelan. Hampir tidak terdengar. Tapi semua orang di meja itu langsung membeku.

Alessandra menatap Fiona dengan mata yang tidak berkedip. Jarinya menyentuh kacamata, merapikannya pelan tanda dia sudah muak.

"Apa lo bilang?" Fiona menegang.

"Saya bilang, diamlah. Mulut Mbak Fiona berbunyi seperti burung beo yang kehilangan pemiliknya. Ribut, tapi tidak ada isi."

Kelas yang tadinya ramai mulai hening. Beberapa siswa di meja sekitar mulai menoleh.

Fiona berdiri, wajahnya merah padam. "LO BERANI—"

"Kak Fiona, jangan marah!"

Saskia tiba-tiba berdiri, wajahnya dibuat panik dan cemas. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Kak Fiona, maafkan kakak saya. Kakak Vale baru pulang setelah hilang seminggu, mungkin masih stres. Jangan marah sama kakak saya..."

Dia meraih tangan Fiona, memohon dengan wajah memelas.

Tapi matanya... melirik ke Alessandra.

Sorot kemenangan sesaat.

"Lihat, aku baik. Kamu jahat. Aku yang membelamu, tapi kamu tetap tidak berterima kasih."

Alessandra melihat semuanya.

Pertunjukan yang memuakkan.

Dia berdiri. Tingginya 170 cm dan jauh di atas Fiona (163 cm) dan sangat jauh di atas Saskia (158 cm). Dia menatap Saskia dari ketinggian, dengan mata yang tidak menyembunyikan rasa jijik.

"Berhenti berpura-pura."

Suara Alessandra dingin seperti es kutub.

"Saya tahu apa yang kau lakukan. Topeng polosmu mungkin bekerja pada orang bodoh. Tapi tidak pada saya."

Saskia tersentak. Wajahnya sedikit berubah hanya sepersekian detik sebelum kembali ke ekspresi polosnya. "Kakak... saya hanya—"

"Saya bukan kakakmu dan ibu saya hanya melahirkan saya."

Alessandra merapikan kacamatanya sekali lagi.

"Saya tidak pernah meminta menjadi bagian dari keluarga Sunjaya. Saya pindah ke sekolah ini karena masalah di sekolah sebelumnya, bukan karena saya ingin dekat dengan kalian. Jadi berhenti berpura-pura peduli."

Dia mengambil nampannya.

"Dan keluarga Sunjaya? Mereka tidak pernah memperkenalkan saya kepada siapa pun, kan? Karena saya anak yang tidak diakui. Jadi kenapa kalian semua tiba-tiba peduli sekarang?"

Keheningan.

Mutiara dan Laras membelalak.

Fiona terdiam, bibirnya gemetar.

Saskia pucat, matanya berkedip cepat mencari celah, mencari cara untuk membalikkan situasi.

Tapi Alessandra sudah berbalik.

"Ayo, Mutiara. Laras. Kita makan di tempat lain."

Dia berjalan pergi dengan langkah tegap, meninggalkan meja yang membeku dalam ketegangan.

Di belakangnya, Saskia mulai menangis pelan dengan pura-pura, tentu saja. Fiona mencoba menenangkannya sambil menghujat Alessandra.

Tapi Alessandra tidak peduli.

Jari telunjuknya menyentuh kacamata sekali lagi gerakan yang mulai menjadi kebiasaan setiap kali dia merasa dunia di sekitarnya terlalu tolol untuk ditoleransi.

"Ck," Laris bergumam di sampingnya. "Vale, lo... keren banget. Tapi hati-hati, Fiona dendamannya kejam."

"Biarkan," jawab Alessandra dingin. "Saya sudah terbiasa dengan orang-orang seperti dia."

Dan orang-orang seperti dia biasanya tidak bertahan lama jika berhadapan denganku, tambahnya dalam hati.

Mutiara menggenggam tangan Alessandra pelan berani, karena biasanya Vale tidak suka disentuh.

"Hei," bisik Mutiara. "Lo gak sendiri, oke? Gue sama Laras bakal selalu bela lo."

Alessandra melihat tangan Mutiara di lengannya.

Sentuhan yang tidak membuatnya ingin meledak.

Berbeda dengan Saskia.

"Makasih," ucapnya datar. "Tapi gue gak butuh pelindung."

"Ya, gue lihat sendiri," Laras tertawa kecil. "Kok rasanya lo yang jadi pelindung kita berdua."

Alessandra tidak menjawab. Tapi di sudut bibirnya, tersembul sedikit lengkungan bukan senyum, tapi bukan juga cemberut.

Mungkin... tidak semua orang di sini menyebalkan.

(Valeria terlalu biasa menggunakan bahasa formal dan kadang menggunakan bahasa gaul, namun seiring berjalannya waktu dia akan biasa dengan bahasa anak muda)

1
azka aldric Pratama
kenapa gk nyari belangnya si anak pungut aja ...dr pada kelamaan berdebat 🙄🙄🙄
azka aldric Pratama
ini mc cewenya seorang kultivator / apa Thor 🤔🤔🤔
Elda Elda
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
shinobu
aku suka sekali ceritanya min😍😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!