"Menikahlah dengan cucu keluarga Wijaya, setelah kakek meninggal. "
"Menikah!, sekarang? "ucap Salsa terkejut.
Salsa tidak percaya dengan ucapan kakeknya yang terbaring lemah di rumah sakit, tiba-tiba saja dia harus menikah dengan cucu temannya yang seorang polisi bernama Rian.
karena itu wasiat kakeknya yang sudah membesarkan dirinya setelah kedua orang tuanya meninggal, dirinya pun pergi ke kota membawa alamat, surat wasiat yang akan diberikan oleh keluarga Wijaya dan cincin pertunangan mereka.
Tapi Salsa menutupi identitas aslinya yang bisa melihat arwah, karena Rian orang yang sensitif jika menyangkut masalah seperti itu.
Tapi kemampuan special Salsa itu bisa membantu Rian memecahkan beberapa kasus yang sulit untuk di pecahkan.
bagaimana cerita pernikahan mereka yang banyak sekali perbedaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3.Menjemput Salsa.
Sosok bergaun putih itu hanya berdiri diam di samping tubuh Rian yang tergeletak tak berdaya di halaman. Wajahnya tertutup rapat oleh rambut hitam panjang yang basah, namun jika diperhatikan lebih dekat, ada getaran aneh di sekitar tubuhnya—seperti seseorang yang sedang menahan tawa.
"Hu... hu... hu..." suara desisan halus keluar dari mulut sosok itu, terdengar menyeramkan namun sebenarnya itu adalah tawanya.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar dari arah belakang rumah.
"Siapa sih yang teriak-teriak pagi-pagi buta? Ganggu orang mau jemur baju aja..."
Salsa muncul dari sudut dapur, tangan kanannya masih memegang gantungan baju, dan wajahnya terlihat kesal. Namun, saat melihat pemandangan di halaman depan, ia langsung berhenti melongo.
Di tanah tergeletak seorang pria bertubuh kekar, tampan, mengenakan jaket kulit hitam yang sedang pingsan. Dan di sebelahnya, berdiri Noni—arwah wanita di villa dekat rumah nya, yang sudah tiga bulan menganggu Salsa.
"Sialan, Noni! Kamu lagi ya?!" seru Salsa sambil meletakkan gantungan baju itu ke meja teras dengan kasar. Ia berjalan mendekat, menatap tajam ke arah sosok arwah itu.
Sosok yang tadi terlihat mengerikan itu langsung menunduk takut, bahunya terkulai lemas seperti anak kecil yang baru saja ketahuan mencuri permen.
"Maaf... Salsa... Aku cuma iseng... Dia kelihatan gagah banget pas masuk tadi, jadi aku pengen liat dia takut gak..." jawab Noni dengan suara melengking namun lemah.
"Iseng apanya?! Lihat tuh! Orangnya sampai pingsan! Jantungnya lemah banget kayaknya," omel Salsa sambil menendang pelan tanah di dekat kaki Rian. "Kamu tuh ya, udah mati kok kelakuannya masih aja kayak anak kecil. Nanti kalau dia kenapa-napa gimana?!"
Salsa menghela napas panjang, lalu menunduk menatap wajah Rian yang masih tertutup. Wah, ganteng juga ya pria ini. Tapi sayang, penakut.
"Ya sudah, jangan berdiri disitu! Pindah! Kamu menghalangi jalan!" perintah Salsa.
Noni mengangguk patuh dan langsung melayang ke samping, melewati dinding kayu dengan mudah.
Sekarang masalahnya adalah... bagaimana cara memindahkan tubuh sebesar ini ke dalam rumah?
Salsa menatap tubuh Rian. Pria itu tinggi besar, posturnya jauh di atas rata-rata. Salsa hanya wanita bertubuh mungil.
"Aduh... berat nih kayaknya," gumam Salsa. Ia mencoba mengangkat lengan Rian, lalu mencoba membalikkan tubuhnya.
Nguk!
"Ampun deh! Berat banget sih badan lo, Pak!" gerutu Salsa sambil memaksakan tenaga. Beruntung Salsa memiliki fisik yang kuat karena sering bekerja keras di desa, ditambah lagi ada energi khusus yang mengalir di tubuhnya yang membuatnya lebih kuat dari manusia biasa.
Dengan susah payah, Salsa menyeret dan menggotong tubuh Rian menuju ruang tamu.
"Kenapa sih pingsannya pas di depan pintu? Kenapa gak pingsan di jalan aja sekalian! Nambah kerjaan orang aja ah!" Salsa terus mengomel sepanjang jalan, tapi tangannya tak berhenti bekerja.
Noni melayang-layang di belakang mereka sambil tertawa kecil melihat usahanya.
Akhirnya, dengan napas terengah-engah, Salsa berhasil membaringkan Rian di atas dipan kayu panjang yang ada di ruang tamu. Ia menutupi tubuh pria itu dengan selimut tipis.
"Fuh... selesai juga," Salsa mengusap keringat di dahinya. "Kau Noni, jangan ganggu orang,jika dia kenapa-napa gimana?jadi masalah buatku!."
"Iya... iya..." jawab Noni malas, lalu duduk melayang di sudut ruangan memeluk lutut.
Beberapa menit kemudian...
Mata Rian perlahan terbuka. Pandangannya masih kabur, kepalanya terasa berat dan berdenyut nyeri. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi terakhir kali.
Gelap... Dingin... Wajah seram... Terus...
Rian mengerjap-ngerjapkan matanya. Perlahan bayangan di hadapannya mulai jelas.
Dia melihat sebuah wajah wanita sedang menatapnya dari jarak dekat. Wajahnya cantik, kulitnya bersih, matanya bulat dan hitam pekat. Tapi... rambutnya panjang hitam... dan cahaya di ruangan itu agak remang...
Jantung Rian yang baru saja berdetak normal kembali, tiba-tiba berpacu kencang lagi!
HANTU!
"ARGH! PERGI KAMU, JANGAN GANGGU AKU!" Rian langsung melompat bangun dan mundur ketakutan hingga punggungnya menabrak dinding. Ia menunjuk Salsa dengan tangan gemetar.
Salsa yang sedang menuangkan air putih terlonjak kaget. "Heh! Kenapa teriak-teriak?! Gila ya?!"
"Kau... kau hantu kan?! Hantu wanita yang tadi! Jangan dekati aku!" teriak Rian panik, matanya terbelalak ketakutan.
Mendengar itu, Salsa langsung tertawa terbahak-bahak. Tawanya keras dan renyah, sangat manusiawi.
"Hahaha! Hantu apanya sih?! Lihat nih! Aku punya bayangan! Dan aku ini manusia!" Salsa mendekatkan wajahnya, lalu menarik tangan Rian dan menempelkannya ke pipinya sendiri.
"Warm! Terasa kan? Panas! Itu tandanya aku manusia! Bukan hantu!" jelas Salsa kesal tapi tertawa.
Rian menyentuh pipi itu. Lembut, hangat, dan nyata. Ia melihat ke lantai, benar ada bayangan Salsa. Ia menatap wajah gadis itu lagi. Matanya berbinar hidup, tidak kosong seperti yang ia bayangkan.
Rian menghela napas panjang, dadanya naik turun mencoba menenangkan jantung yang hampir copot.
"Ya ampun... Ngeri banget sih lo..." Rian mengusap wajahnya kasar. "Maaf... aku kira..."
"Kira apa? Kira aku hantu wanita yang mau nyeret kamu ke alam baka?" potong Salsa sambil menyodorkan segelas air. "Minum dulu! Biar gak histeris."
Rian menerima gelas itu dan meneguknya hingga habis. Rasa segar menyegarkan tenggorokannya.
"Terima kasih," ucapnya pelan, kali ini suaranya sudah normal kembali. Ia memandang sekeliling ruangan yang sederhana namun bersih dan wangi. "Jadi... kamu yang bawa aku masuk?"
"Iya dong. Siapa lagi?"
"Kamu siapa? Mau apa datang ke rumah ku? " Tanya Salsa bertubi-tubi.
"Aku Rian, aku kemari untuk menjemputmu ke rumah keluarga Wijaya. "
Salsa terdiam mendengar ucapan Rian. Matanya tidak menatap pria itu, melainkan melirik tajam ke arah sudut ruangan di mana Noni sedang melayang-layang dengan wajah memelas.
'Jangan pergi, Salsa... Kamu janji mau bantuin aku...' bisik Noni lirih.
Salsa menghela napas panjang. Ia tidak bisa pergi begitu saja. Ia sudah berjanji pada Noni untuk mempertemukannya dengan kakak kandungnya, pemilik villa tua di dekat rumahnya. Selama ini sang kakak tidak pernah datang ke sana, sehingga Noni tidak bisa menuntaskan rasa penasarannya dan masih terikat di dunia ini.
"Maaf, Pak Rian..." jawab Salsa pelan namun tegas. "Saya belum bisa ikut sekarang. Saya masih ada urusan penting yang harus diselesaikan di sini."
Rian mengerutkan kening, merasa heran dengan sikap gadis itu yang sering melamun dan seolah-olah sedang berkomunikasi dengan seseorang yang tidak terlihat. "Urusan apa lagi? Bukankah Kakekmu sudah tiada? Apa yang lebih penting daripada masa depanmu sendiri?"
"Sulit dijelaskan, tapi ini janji saya. Saya tidak bisa ingkar janji," tegas Salsa.
Rian menggeleng tidak terima. Ayahnya memerintahkannya untuk membawa Salsa pulang hari ini juga. Lagipula, cutinya sangat singkat, dia tidak bisa berlama-lama di desa terpencil ini. Dia tidak mungkin meninggalkan gadis ini sendirian di tempat yang menurutnya angker dan berbahaya.
"Dengar, Salsa. Saya tidak bisa pulang sendirian. Perintah dari orang tua saya harus saya laksanakan hari ini," kata Rian tegas. "Tapi... saya juga tidak mau memaksamu kalau kamu memang punya masalah. Jadi, apa masalahnya? Ceritakan, mungkin saya bisa bantu."
Salsa terdiam, memikirkan solusi. Matanya berbinar saat mengingat Rian adalah polisi, pasti akses informasinya luas dan cepat.
"Benar ya mau bantu?" tanya Salsa memastikan.
"Tentu. Apa yang harus saya lakukan?"
"Saya butuh tahu alamat dan nomor telepon pemilik villa tua yang ada di ujung jalan sana," jelas Salsa cepat. "Pemiliknya jarang sekali datang ke sana. Saya harus bertemu dengannya untuk urusan penting ini."
Rian tersenyum miring. Bagi seorang Komisaris Polisi seperti dia, mencari data penduduk atau pemilik aset hanyalah pekerjaan mudah.
"Itu saja? Gampang!" jawab Rian yakin. "Oke, kesepakatannya begini, saya akan carikan data orang itu sekarang juga. Tapi setelah itu, kamu harus ikut saya ke kota. Bagaimana?"
Salsa menatap Noni, yang kini mengangguk-angguk antusias. "Baiklah! Sepakat!"
up nya tiap hari doooooooo😅🙏
bagus banget
bisa dinikmati
lanjut 👍👍👍👍👍