Demi 100 Miliar, Gisel harus menjadi sekretaris penggoda bagi bosnya sendiri.
Gisella (20) terjepit kebutuhan ekonomi untuk pengobatan ibunya. Di tengah keputusasaan, Nyonya Widya ibu dari CEO tampan Arselan Dirgantara memberinya penawaran gila: Imbalan 100 miliar rupiah jika Gisel bisa membuktikan bahwa Arsel bukan penyuka sesama jenis.
Tugas Gisel hanya satu: Menjadi sekretaris pribadi dan menggunakan segala cara termasuk pesona fisiknya untuk memicu kembali gairah Arsel yang membeku sejak dikhianati masa lalu.
Gisel yang ceriwis harus menghadapi Arsel yang dingin dan gila kerja. Namun, saat tembok es Arsel mulai mencair, Gisel terjebak dalam dilema antara tuntutan kontrak dan perasaan yang mulai tumbuh nyata.
"Mampukah Gisel menuntaskan misinya, atau justru ia yang akan hancur oleh kebenaran di balik kontrak tersebut?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Skenario di Balik Gerbang Megah
Akhir pekan bagi Gisella biasanya berarti waktu ekstra untuk mencuci tumpukan pakaian, membersihkan rumah, atau mengambil shift tambahan di kafe. Namun, Sabtu ini berbeda. Sebuah pesan singkat dari Nyonya Widya mengubah jadwalnya secara total.
Nyonya Widya: Datanglah ke kediamanku pukul 11 siang. Aku sudah mengirimkan mobil untuk menjemputmu. Arsel sedang berada di rumah hari ini, dan ini adalah kesempatan emasmu untuk masuk ke ruang pribadinya.
Gisel menatap ponselnya dengan cemas. Menggoda di kantor saja sudah membuatnya hampir mati berdiri karena hinaan Arsel, apalagi di rumah pribadinya? Namun, bayangan tagihan rumah sakit yang sudah terbayar lunas dan wajah ibunya yang mulai bisa tersenyum kembali membuatnya tidak punya pilihan untuk mundur.
"Gisel, mau ke mana lagi? Ini kan Sabtu?" tanya Rian saat melihat kakaknya kembali berdandan rapi.
"Ada urusan pekerjaan tambahan, Rian. Mungkin pulang sore. Jaga Ibu ya, kalau ada apa-apa langsung telepon Kakak," pesan Gisel sambil memoleskan lip cream berwarna merah muda lembut di bibirnya.
Sebuah sedan mewah berbeda dengan milik Arsel namun tak kalah mahal sudah menunggu di depan gang. Kehadiran mobil itu kembali mengundang bisik-bisik tetangga, namun Gisel memilih untuk menutup telinga. Ia harus fokus pada misi 100 miliarnya.
Kediaman keluarga Dirgantara terletak di kawasan elit Menteng. Sebuah rumah megah dengan arsitektur klasik modern yang dikelilingi taman luas dan penjagaan ketat. Saat Gisel melangkah masuk, ia merasa seperti tokoh dongeng yang tersesat di istana raja.
"Selamat datang, Gisel. Kamu tampak manis hari ini," sapa Nyonya Widya yang sudah menunggu di ruang tamu yang luasnya hampir seluas rumah Gisel.
"Terima kasih, Nyonya. Tapi... apa ini tidak terlalu berisiko? Pak Arsel pasti akan curiga kalau melihat saya di sini," bisik Gisel cemas.
Nyonya Widya tersenyum tipis, penuh siasat. "Jangan panggil aku Nyonya jika di sini, panggil Tante. Dan jangan khawatir, aku sudah menyiapkan alasan. Aku akan bilang kau kemari untuk mengantarkan dokumen penting yang tertinggal di kantor. Selebihnya, itu tugasmu untuk 'tersesat' di rumah ini."
Nyonya Widya mendekat, merapikan sedikit kerah blus Gisel yang sengaja dipilih agak longgar di bagian leher. "Arsel sedang berada di kolam renang di belakang. Dia biasanya sangat santai saat weekend. Gunakan itu, Gisel. Buat dia merasa terganggu namun terpesona."
Gisel melangkah menuju area belakang rumah dengan jantung yang berdebar kencang. Suara kecipak air terdengar. Di sana, di kolam renang yang airnya tampak biru jernih, Arsel sedang berenang dengan gerakan yang sangat bertenaga.
Gisel berdiri di tepi kolam, memegang sebuah map dokumen sebagai "tameng". Ia memperhatikan Arsel yang muncul ke permukaan, menyugar rambut hitamnya yang basah ke belakang. Air mengalir di wajahnya yang tegas, turun ke bahunya yang sangat lebar dan otot-otot tubuhnya yang terpahat sempurna. Gisel menelan ludah; pria ini benar-benar tidak adil dalam hal ketampanan.
Arsel menyadari kehadiran seseorang. Ia berenang ke tepi dan menumpukan kedua tangannya di pinggir kolam, menatap Gisel dengan mata menyipit karena sinar matahari.
"Gisella? Sedang apa kamu di rumah saya?" tanya Arsel, suaranya terdengar lebih berat karena gema air.
"S-selamat siang, Pak Arsel. Maaf mengganggu weekend-nya. Tante Widya maksud saya Ibu Bapak meminta saya mengantarkan dokumen ini. Katanya Bapak butuh ini segera untuk rapat hari Senin," Gisel berakting sebaik mungkin, meski matanya sulit untuk tidak melirik dada bidang Arsel yang hanya berjarak beberapa senti dari kakinya.
Arsel mendengus, ia tahu ini pasti ulah ibunya, namun ia tidak punya bukti. "Letakkan saja di meja sana. Lalu kamu bisa pulang."
"Duh, Bapak ini ketus banget sih. Saya sudah jauh-jauh kemari, masa nggak ditawari minum dulu? Haus lho Pak, di luar macet," Gisel mulai mengeluarkan sifat ceriwisnya. Ia duduk di kursi santai tepi kolam, sengaja menyilangkan kakinya yang jenjang, membuat rok pendeknya sedikit tersingkap.
Arsel naik dari kolam renang. Gisel menahan napas saat melihat tubuh Arsel secara utuh. Hanya mengenakan celana renang pendek, Arsel tampak sangat mengintimidasi namun menggoda secara alami.
"Kamu ini sekretaris atau tamu tidak diundang?" Arsel mengambil handuk dan mengeringkan rambutnya, berdiri tepat di depan Gisel hingga beberapa tetes air dari tubuhnya mengenai lengan Gisel.
"Saya sekretaris yang berbakti, Pak," Gisel berdiri, mengambil botol air mineral yang ada di meja dan menyodorkannya pada Arsel. Saat Arsel hendak mengambil botol itu, Gisel sengaja tidak melepaskannya dengan cepat, membuat jari-jari mereka bersentuhan lama.
Gisel menatap mata Arsel dengan berani. "Bapak tahu... Bapak kalau tidak sedang marah-marah di kantor, kelihatannya lebih... manusiawi."
Arsel menatap Gisel tajam. Ia merasakan tarikan aneh di perutnya. Kehadiran Gisel di rumahnya, dengan pakaian santai namun tetap menonjolkan bentuk tubuhnya, benar-benar menguji pertahanannya.
"Pulanglah, Gisella. Sebelum saya melakukan sesuatu yang akan membuatmu menyesal," ancam Arsel dengan suara rendah.
Gisel justru tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat renyah. "Memangnya Bapak mau melakukan apa? Memecat saya lagi? Atau... Bapak takut kalau Bapak sebenarnya suka saya ada di sini?"
Gisel melangkah maju satu langkah, memperpendek jarak. Ia bisa mencium aroma kaporit dan sabun maskulin dari kulit Arsel yang masih lembap. "Tante Widya bilang, Bapak jarang membawa teman ke rumah. Apa saya orang pertama yang Bapak biarkan melihat Bapak... seperti ini?"
Arsel terdiam. Hatinya yang dingin merasa terusik oleh keberanian gadis ini. Ia ingin mendorongnya pergi, namun tangannya seolah terpaku. Di kejauhan, Nyonya Widya memperhatikan dari balik jendela lantai dua dengan senyum penuh kemenangan. Ia tahu, benteng anaknya mulai retak, dan Gisel adalah palu godam yang sempurna untuk menghancurkannya.
"Kamu... benar-benar gadis yang berbahaya," bisik Arsel, suaranya kini bukan lagi penuh kebencian, melainkan sesuatu yang lebih gelap dan penuh gairah yang berusaha ditekan.
Gisel hanya tersenyum manis. "Berbahaya tapi bikin Bapak penasaran, kan?"
Misi hari itu berakhir dengan Arsel yang melarikan diri kembali ke dalam rumah tanpa kata, namun Gisel tahu, bayangan dirinya di tepi kolam akan menghantui pikiran Arsel sepanjang malam.
nanti kamu praktekan aja 🤭🤭
kuat💪💪
makacih udah update 🙏