Elora Kirana bukan lagi nama yang dipuja seperti dulu. Sekali waktu dia adalah bintang yang bersinar terang, tapi satu skandal cukup untuk menjatuhkannya tanpa ampun. Dalam semalam, dunia yang dulu memujanya berubah jadi lautan hujatan. Kariernya hampir runtuh, kontrak diputus, dan kepercayaan publik hilang begitu saja. Saat semua orang menjauh, satu orang justru datang dengan cara yang paling tidak ia duga. Arshaka Bhumisvara. Seorang CEO muda yang dikenal dingin, tak tersentuh, dan selalu terlihat terlalu sempurna untuk dunia yang penuh drama seperti milik Elora. Tidak ada yang mengira dia akan ikut campur dalam skandal seorang artis. Tapi Arshaka datang bukan untuk simpati. Dia menawarkan sebuah kesepakatan. “Jadilah pacarku di depan publik.” Sebuah hubungan palsu untuk menutupi skandal, meredam media, dan menyelamatkan nama baik mereka berdua. Syarat yang terdengar sederhana, tapi jelas bukan tanpa risiko. Awalnya, Elora hanya menjalani semuanya seperti akting. Senyum di depan kamera, genggaman tangan yang dibuat seolah nyata, dan tatapan hangat yang sebenarnya kosong makna. Tapi Arshaka… terlalu meyakinkan untuk sekadar berpura-pura. Dan Elora mulai sadar, batas antara sandiwara dan kenyataan perlahan menghilang. Di balik sikap dinginnya, Arshaka menyimpan cara memandang Elora yang membuatnya ragu. Terlalu dalam. Terlalu nyata untuk dianggap pura-pura. Masalahnya sekarang bukan lagi soal skandal yang ingin mereka tutupi… Tapi perasaan yang diam-diam tumbuh di antara dua orang yang sama-sama tidak siap untuk jatuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 - Skandal yang Kembali Menggigit
Elora sebenarnya sudah belajar satu hal dari hidupnya sejak lama, bahkan sebelum semua ini terjadi. Ia belajar bahwa dalam dunia yang bergerak secepat ini, tidak ada skandal yang benar-benar mati. Tidak peduli seberapa lama ia mencoba diam, tidak peduli seberapa banyak ia mencoba membangun citra baru, selalu ada sesuatu yang tersisa. Sesuatu yang menunggu waktu yang tepat untuk kembali muncul ke permukaan, lebih tajam, lebih berisik, dan lebih sulit untuk dijelaskan daripada sebelumnya. Dan pagi itu, Elora akhirnya menyadari bahwa “waktu yang tepat” itu tidak pernah benar-benar peduli pada kesiapan seseorang.
Semuanya bermula dari satu notifikasi kecil di layar ponselnya. Lalu datang yang kedua. Lalu ketiga. Sampai akhirnya ponsel itu tidak lagi berhenti bergetar di atas meja rias kamar hotelnya, seolah benda itu sendiri ikut panik sebelum Elora sempat memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi di luar sana. Ia baru saja selesai bersiap untuk menemui Arshaka hari itu, pikirannya masih setengah berada di rutinitas yang mulai ia jalani dalam beberapa hari terakhir, ketika dunia digital yang selama ini ia coba hindari justru kembali menariknya masuk tanpa permisi.
Trending lagi.
Namanya kembali berada di urutan teratas.
Dan kali ini, rasanya tidak seperti sebelumnya.
Elora duduk perlahan di tepi kursi riasnya, jari-jarinya menggantung di udara sebelum akhirnya menyentuh layar ponsel dengan gerakan yang hampir ragu. Video itu sudah tersebar di mana-mana. Video lama, yang bahkan ia sendiri sudah berusaha menguburnya jauh di dalam ingatan, kini kembali muncul dengan kualitas yang lebih jelas, lebih terang, dan jauh lebih kejam dari yang ia ingat. Bukan karena video itu berubah, tapi karena cara dunia sekarang melihatnya sudah berbeda.
Dan itu yang membuat semuanya terasa lebih berat.
Bukan hanya satu video, tapi potongan-potongan narasi yang disusun ulang. Kalimat yang tidak pernah ia ucapkan tiba-tiba muncul sebagai “kutipan”. Adegan yang tidak pernah ia pahami sepenuhnya sekarang diputar ulang dengan interpretasi yang sudah ditentukan. Seolah hidupnya bukan lagi sesuatu yang ia jalani, tapi sesuatu yang bisa diedit, dipotong, dan disusun ulang oleh orang lain sesuka hati mereka.
Elora Kirana bukan lagi seorang manusia di mata publik.
Ia berubah menjadi cerita yang bisa dimanipulasi.
Ia tidak sadar kapan napasnya mulai terasa lebih berat dari biasanya. Yang ia tahu hanya satu hal: dadanya seperti ditekan perlahan oleh sesuatu yang tidak terlihat, sesuatu yang tidak bisa ia lawan hanya dengan diam atau menjauh dari layar. Tangannya menggenggam ponsel itu terlalu erat sampai ujung jarinya memutih, sementara suara di kepalanya kembali ramai, seperti masa lalu yang tidak pernah benar-benar selesai mengikutinya ke mana pun ia pergi.
Namun ada sesuatu yang berbeda kali ini.
Bukan hanya rasa takut atau lelah.
Tapi rasa malu yang lebih dalam.
Bukan untuk dirinya sendiri saja.
Tapi untuk versi dirinya yang tidak pernah diberi kesempatan untuk menjelaskan apa pun kepada dunia.
Ketukan pintu terdengar lebih cepat dari biasanya, lebih tegas, seperti seseorang yang tidak mau membuang waktu untuk hal-hal kecil. Elora bahkan tidak perlu menebak siapa yang ada di baliknya. Arshaka tidak pernah datang dengan cara yang ragu-ragu, apalagi di situasi seperti ini.
Pria itu masuk tanpa banyak kata begitu pintu dibuka.
Tingkahnya sama seperti biasa—tenang, terkendali, seolah dunia di luar tidak pernah benar-benar mengganggunya. Tapi Elora yang sudah mulai terbiasa memperhatikan hal-hal kecil dalam beberapa hari terakhir langsung menangkap sesuatu yang berbeda di matanya. Bukan kepanikan. Bukan keterkejutan. Lebih seperti seseorang yang sudah membaca situasi lebih cepat dari semua orang lain di ruangan ini.
“Elora,” suara Arshaka terdengar rendah, stabil, tapi ada ketegasan yang berbeda di dalamnya, “kamu sudah lihat?”
Elora tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangkat ponselnya sedikit, layar masih menyala, masih dipenuhi judul-judul yang terus berubah seiring waktu. Arshaka melangkah lebih dekat, lalu mengambil ponsel itu dari tangannya tanpa banyak pertanyaan, matanya langsung membaca isi layar dengan kecepatan yang tidak biasa, seperti sedang menyusun ulang fakta di kepalanya sendiri.
Dan untuk beberapa detik yang terasa lebih lama dari seharusnya, Arshaka tidak berbicara sama sekali.
Suara di layar itu terus berputar meskipun tidak ada audio yang benar-benar terdengar di ruangan itu.
“Elora Kirana diduga terlibat skandal lama dengan produser…”
“Kontrak tidak resmi…”
“Manipulasi karier di balik layar…”
Semua itu terdengar seperti pecahan kaca yang jatuh satu per satu, tidak sekaligus, tapi cukup untuk membuat ruangan terasa lebih dingin dari sebelumnya. Elora hanya duduk diam, tangannya yang tadi sempat memegang ponsel kini jatuh perlahan ke pangkuannya.
“Aku sudah pernah lihat ini,” katanya akhirnya pelan, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri daripada pada Arshaka.
Arshaka menutup layar ponsel itu tanpa terburu-buru, lalu mengembalikannya ke meja. “Tapi cara mereka mengangkatnya sekarang berbeda.”
Elora menatapnya. “Karena kita?”
Arshaka tidak langsung menjawab.
Dan keheningan kecil itu justru lebih jujur daripada jawaban apa pun yang bisa ia berikan.
Beberapa jam berikutnya berubah menjadi sesuatu yang lebih cepat dari yang bisa Elora ikuti. Telepon masuk tanpa henti, bukan hanya ke dirinya, tapi juga ke manajernya, ke tim Arshaka, bahkan ke pihak-pihak yang sebelumnya mulai membuka pintu untuknya lagi. Semua kembali menutup. Semua kembali menjauh. Seolah dunia hanya menunggu alasan kecil untuk kembali menghapusnya dari tempat yang sempat ia injak lagi.
Elora duduk di sofa kamar hotel, tidak banyak bergerak. Bukan karena ia tidak peduli, tapi karena ia sudah terlalu sering berada di posisi ini untuk benar-benar terkejut lagi. Yang berbeda hanya satu hal: Arshaka tidak pergi.
Pria itu masih di ruangan yang sama, berdiri dekat jendela, menatap ke luar tanpa ekspresi yang bisa dibaca dengan jelas. Tapi kali ini Elora bisa merasakan sesuatu yang tidak biasa—bukan hanya kehadiran fisik, tapi keputusan untuk tetap tinggal di tengah sesuatu yang tidak seharusnya menjadi urusannya.
“Kenapa kamu tidak pergi?” suara Elora akhirnya pecah di tengah keheningan.
Arshaka tidak menoleh. “Harusnya aku pergi?”
Elora tersenyum kecil, tapi bukan senyum yang ringan. Lebih seperti senyum seseorang yang terlalu lelah untuk bereaksi dengan cara lain. “Orang sepertimu biasanya tidak mau berada terlalu lama di tengah masalah seperti ini.”
Kali ini Arshaka menoleh.
Tatapannya jatuh langsung ke Elora, tidak terburu-buru, tidak menghindar.
“Orang sepertiku?” ulangnya pelan.
Elora mengangkat bahu kecil. “CEO. Stabil. Tidak terlibat drama seperti ini.”
Ada jeda singkat.
Lalu Arshaka berjalan perlahan mendekat, setiap langkahnya terdengar lebih jelas di ruangan yang tiba-tiba terasa lebih sempit dari sebelumnya.
“Kalau aku tidak mau masalah,” katanya akhirnya, “aku tidak akan memulai ini sejak awal.”
Elora terdiam.
Karena untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, jawaban Arshaka tidak terdengar seperti bagian dari kontrak.
Malam turun lebih cepat dari biasanya, membawa suasana yang lebih berat ke dalam kota. Di luar, media sudah mulai berkumpul. Suara mereka samar tapi terus ada, seperti ombak yang tidak berhenti memukul pantai. Dunia di luar kamar hotel itu terasa semakin dekat, semakin menekan, semakin sulit dihindari.
Elora berdiri di dekat pintu, menatapnya cukup lama.
“Ini selalu terjadi,” katanya pelan, lebih ke dirinya sendiri.
Arshaka berdiri di belakangnya, jaraknya tidak terlalu jauh. “Tidak harus selalu kamu hadapi sendiri.”
Elora menoleh sedikit. “Kamu masih ingat ini cuma kontrak?”
Arshaka tidak langsung menjawab.
Dan kali ini, keheningan itu terasa berbeda.
Lebih berat.
Lebih jujur.
Sampai akhirnya dia berkata dengan suara yang lebih pelan dari biasanya—
“Mulai tidak.”
Pintu hotel diketuk keras, lebih seperti didorong oleh dunia di luar daripada sekadar tangan manusia. Suara kamera, teriakan, dan pertanyaan mulai terdengar lebih jelas, masuk ke dalam ruangan meskipun pintu masih tertutup.
Elora berdiri diam.
Tapi Arshaka sudah bergerak lebih dulu.
Pria itu melangkah ke depan, membuka pintu sedikit, lalu tanpa ragu menarik Elora untuk mengikutinya. Tidak ada penjelasan, tidak ada perhitungan panjang. Hanya keputusan yang diambil dalam satu detik yang mengubah arah semuanya.
Dan ketika pintu itu terbuka sepenuhnya, cahaya kamera langsung menghantam mereka berdua tanpa ampun.
Elora tidak tahu harus merasa apa di tengah semua itu.
Semua suara bercampur menjadi satu.
Semua pertanyaan terdengar seperti berasal dari tempat yang jauh.
Tapi yang paling jelas justru bukan dunia di luar sana.
Melainkan tangan Arshaka yang masih menggenggamnya.
Dan untuk pertama kalinya, Elora menyadari sesuatu yang tidak ingin ia akui sejak awal perjalanan ini dimulai
Skandal ini mungkin memang menghancurkan hidupnya.
Tapi yang jauh lebih berbahaya adalah cara seseorang di sampingnya perlahan membuatnya lupa bagaimana rasanya ingin pergi.
⸻
Jangan lupa vote & komentar ya—aku baca semua 💌
See you di bab selanjutnya...