NovelToon NovelToon
Olaf & Cyntaf

Olaf & Cyntaf

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cinta Seiring Waktu / Romantis
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Orang lama menang karena sejarah, tapi orang baru menang karena masa depan."

Azeant Apolo-valerio kehilangan cintanya, namun menemukan kembali harga dirinya. Kata "Putus" dari Claudia Astor seharusnya menjadi akhir, namun bagi pewaris tunggal keluarga Valerio ini, itu hanyalah sebuah awal dari pembebasan.

Apolo adalah pria yang hidup dalam presisi rumus teknik, namun ia gagal menghitung variabel ego seorang wanita yang hanya haus akan validasi.

Segalanya berubah saat sebuah notifikasi dari aplikasi kencan masuk, membawa nama Veronica Brooklyn.
Gadis itu adalah anomali; dia tidak memuja ketampanan Apolo, malah menantangnya dengan kejujuran yang Brutal.

Veronica hadir bukan untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Claudia, melainkan untuk menciptakan standar baru yang tak pernah Azeant Apolo-valerio bayangkan sebelumnya.

Apolo belajar bahwa terkadang, orang yang datang paling akhir adalah satu-satunya yang layak menjadi yang pertama.

🦋
Selamat Membaca 🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#3

Kegelapan di unit apartemen lantai dua belas itu tidak lagi terasa kosong. Udara di dalamnya kini sarat dengan aroma hujan yang terbawa dari pakaian luar yang tersampir di lantai, bercampur dengan wangi maskulin yang tajam dari leher Veronica.

Azeant Apolo-valerio, pria yang selama dua puluh satu tahun hidupnya memegang teguh prinsip etiket keluarga Valerio, kini merasa seluruh dinding pertahanannya runtuh.

Bayangan Daddy Alvaro yang selalu menekankan tentang kehormatan, serta nasehat lembut Mommy Florence tentang bagaimana seorang pria sejati menjaga kesucian sebuah hubungan, seolah menguap begitu saja tertiup angin malam Tribeca.

Di bawah cahaya remang-remang dari lampu tidur di sudut ruangan yang sengaja diredupkan hingga batas minimal, Apolo hanya bisa melihat siluet tubuh yang ramping dan rambut yang terurai bebas. Ia tidak bisa melihat warna matanya, tidak bisa melihat detail wajahnya, namun insting purbanya mengambil alih.

Tangan Apolo yang biasanya lincah merangkai sirkuit rumit, kini gemetar saat menyentuh kulit bahu wanita di hadapannya. Kulit itu terasa sehalus porselen, namun hangat dan hidup.

"Ini... ini yang pertama bagiku," bisik Veronica. Suaranya serak, bergetar antara keraguan dan keberanian yang dipaksakan. Kepercayaan dirinya yang biasanya setinggi gedung pencakar langit New York, mendadak luluh lantah dalam dekapan pria asing ini.

Apolo tertegun sejenak. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut wanita itu bisa mendengarnya. Ia mendekatkan wajahnya, menghirup aroma dileher wanita itu, aroma yang memabukkan sekaligus menenangkan.

"Aku juga," pengakuan itu meluncur begitu saja dari bibir Apolo. "Ini juga yang pertama untukku. Aku akan pelan... aku janji."

Ada sebuah kejujuran yang aneh dalam ruang hampa udara itu. Dua manusia yang saling asing secara identitas, kini saling menyerahkan harta paling berharga dalam hidup mereka hanya berdasarkan rasa penasaran dan pelarian dari luka masing-masing.

Apolo membimbing wanita itu menuju ranjang besar di tengah ruangan. Gerakan mereka canggung pada awalnya, sebuah tarian tanpa musik yang dipandu oleh rabaan tangan dan napas yang memburu.

Saat kulit mereka bersentuhan tanpa penghalang, Apolo merasa seolah ada aliran listrik ribuan volt yang menyengat saraf-sarafnya—jauh lebih kuat dari simulasi mana pun yang pernah ia buat di laboratorium.

Malam itu berubah menjadi badai yang bergelora. Di bawah selimut sutra, Apolo menemukan sisi dirinya yang tidak pernah ia ketahui keberadaannya. Dia bukan lagi mahasiswa Teknik Elektro yang membosankan atau putra Valerio yang kaku. Dia adalah seorang pria yang sedang memuja keindahan dalam kegelapan.

Sentuhan demi sentuhan berubah menjadi penyatuan yang intens. Rasa sakit yang singkat di awal segera tergantikan oleh gelombang gairah yang tak terbendung. Apolo bergerak dengan insting, dipandu oleh suara napas wanita di bawahnya yang semakin tak beraturan.

"Siapa kau...?" desah Apolo di tengah pergulatan keringat mereka. Ia merasa frustrasi karena tidak bisa menyebutkan nama wanita yang telah membawanya ke puncak kegilaan ini. "Siapa namamu? Aku ingin mendesah atas namamu..."

Wanita itu mencengkeram bahu kokoh Apolo, kuku-kukunya sedikit menancap di kulit pria itu.

Dalam kabut gairah yang menyesakkan, benteng kerahasiaannya sedikit goyah. Ia butuh sesuatu untuk dipegang, sebuah identitas singkat agar ia tidak merasa benar-benar hilang dalam kegelapan ini.

"Panggil aku Vea..." bisiknya parah. "Namaku... Vea."

"Vea..." Raung Apolo, suaranya berat dan penuh pemujaan. Nama itu terasa begitu pas di lidahnya. "Vea... Oh, Vea..."

Malam itu, nama 'Vea' menjadi mantra yang menggema di setiap sudut apartemen. Apolo merayakan nama itu dengan setiap gerakan, setiap ciuman di pundak, dan setiap pelukan erat yang seolah takut jika fajar tiba, wanita ini akan menghilang seperti mimpi.

Mereka terhanyut dalam simfoni desahan yang menyayat sunyi, sebuah perjamuan fisik yang melampaui logika manusia manapun.

Waktu seolah berhenti berputar di Tribeca, namun hukum alam tetap berlaku. Cahaya biru kelabu mulai menyelinap di celah gorden, menandakan bahwa New York bersiap untuk bangun dari tidurnya.

Pukul lima pagi tepat.

Veronica, atau yang kini dikenal Apolo sebagai Vea, mendadak tersentak sadar. Kabut gairah itu menguap, digantikan oleh realita dingin yang selalu ia takuti. Ia segera melepaskan diri dari dekapan hangat Apolo yang masih tertidur lelap dengan napas yang tenang.

Dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara, Vea mengumpulkan pakaiannya yang berserakan di lantai. Ia melangkah menuju kamar mandi, menyalakan pancuran air dingin untuk membasuh jejak-jejak malam itu dari tubuhnya.

Di bawah kucuran air, ia memejamkan mata, mencoba menghapus sensasi sentuhan Apolo yang masih tertinggal di kulitnya.

"Jangan bodoh, Veronica," bisiknya pada diri sendiri. "Ini hanya fisik. Jangan biarkan dia masuk lebih dalam."

Selesai mandi, ia berpakaian dengan cepat. Ia keluar dari kamar mandi dan menatap siluet Apolo di atas ranjang untuk terakhir kalinya. Pria itu tampak begitu damai dalam tidurnya, separuh wajahnya tertutup bantal, menyembunyikan identitas yang sebenarnya tidak ingin Vea ketahui.

Tanpa meninggalkan pesan, tanpa suara, Vea melangkah keluar dari apartemen itu. Pintu tertutup dengan suara klik yang halus, mengakhiri kontrak kegelapan mereka untuk malam itu.

Beberapa menit kemudian, Apolo terbangun karena rasa dingin yang tiba-tiba menyerang sisi ranjang yang kosong. Ia meraba-raba, mencari kehangatan yang baru saja ada di sana, namun hanya menemukan seprai yang kusut.

Ia duduk tegak, matanya mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya pagi yang samar. Apartemen itu kembali sunyi. Aroma parfum wanita itu—aroma maskulin yang berpadu dengan wangi sabun miliknya—masih tertinggal di bantal, namun pemiliknya telah pergi.

Apolo menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, menatap tangannya yang semalam telah menjelajahi setiap inci tubuh 'Vea'. Ia tidak tahu wajahnya, ia tidak tahu warna matanya, ia bahkan tidak tahu apakah 'Vea' adalah nama aslinya.

Ia hanya mengenal suaranya yang lembut saat membisikkan namanya, bau tubuhnya yang unik, dan rasa penyatuan yang telah mengubah hidupnya dalam satu malam.

"Vea..." bisik Apolo pelan.

Ada perasaan aneh yang bergejolak di dadanya—sebuah rasa kurang yang menyesakkan.

Ketenangan yang ia cari kini justru terasa seperti kesepian yang baru. Pangeran Valerio itu kini sadar, ia telah menyerahkan dirinya pada seorang bayangan, dan ia tidak tahu apakah ia sanggup kembali menjadi pria yang sama saat ia berjalan di lorong kampus NYU nanti siang.

Di luar, New York mulai bising dengan suara klakson dan kesibukan pagi, namun di dalam hati Apolo, hanya ada gema nama Vea yang tak kunjung hilang.

1
Xiao Ling Yi
Dia itu perwakilan perempuan paling nyebelin sedunia
Ros 🍂: hihi🤭
total 1 replies
ren_iren
semangatt kak nulisnya, ceritamu selalu tak tunggu 🤗
Ros 🍂: ma'aciww ya kak. author tunggu masukannya 🫶
total 1 replies
Wifasha
kok gk da,ngulang lg nih bca nya dri awal
Ros 🍂: Maaf ya kak 🫶 cerita nya sudah direvisi, Dan mulai dari awal lagi. dan dengan cerita yang berbeda 🙏🏼🥰
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
Bagus lh, ngaku sendiri 🤣🤣🤣
Ros 🍂: Reader silent Silent 🤣🤣🤭
total 3 replies
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
B.... ehhh ini aja, Ade, lebih manis, Pemain 🤣🤣🤣
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ: Logan, 2 kali kena Karma ya, De 🤣🤣🤣
total 2 replies
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
wkwkwk menang di 'card' juga sih 🤣🤣🤣
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ: 'Black', yg keluar, auto kalah smua y, De, temen² Apolo itu 🤣🤣🤣
total 2 replies
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
Kiwww Kiwww Visual di lempar ke 'Arena' ini 🤣🤣🤣
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ: Hi hi Fav ya, De 🤣🤭🥳
total 2 replies
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
Ht², jgn sampe hangus 🤣🤣🤣
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ: Hi hi 🤣🤣🤣
total 4 replies
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
Biasaa, cwo msh kudu dgetok martil dulu baru sadar-sesadarny 🤦🤦🤦
Ros 🍂: Mari kita getok Bersama Kak 🤭🤣🤣🫣
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁YW💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
Awas y, jgn nyesel udh putusin Apolo
Ros 🍂: iyaa kak 🫶🥰
total 3 replies
ren_iren
selalu menyukai debaran tulisan yg kau ciptakan kak.... serasa diriku masuk ke ceritanya liat adegan2 mereka yg malu2 meowwww... 😂🤣
Ros 🍂: ma'aciww ya kak 🫶😍 semoga suka cerita nya🥰
total 1 replies
ren_iren
gasssss bacaa bacaaa....... 🤗
ren_iren: always kak 🤗
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!