NovelToon NovelToon
Delapan Tahun Lalu Dan Sebuah Janji

Delapan Tahun Lalu Dan Sebuah Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:422
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Arga Baskara hidup dalam bayang-bayang janji masa kecil yang ia genggam selama delapan tahun. Ketika Nala Anindita kembali ke kehidupannya sebagai teman sekelas, ia berharap waktu akan menyatukan kembali keduanya. Namun, Nala telah berubah—ia tak lagi mengingat masa lalu yang begitu berarti bagi Arga.


Di tengah realitas baru, Arga harus menghadapi cinta yang tak berbalas, diperparah oleh kehadiran Satria yang semakin dekat dengan Nala. Terjebak antara kenangan dan kenyataan, Arga dihadapkan pada pilihan: terus bertahan pada perasaan lama, atau belajar melepaskan.


Kisah ini menggambarkan tentang cinta yang tertinggal oleh waktu, dan perjuangan seseorang untuk menerima bahwa tidak semua janji akan kembali utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Lampu sorot berwarna jingga dan biru menyapu lapangan SMA Nusa Bangsa, menciptakan bayangan panjang yang menari di atas aspal. Suara dentum bas dari pengeras suara raksasa di sisi panggung utama menggetarkan rongga dada setiap orang yang hadir. Di tengah kerumunan yang melompat kegirangan mengikuti irama lagu rok alternatif, Arga Baskara memilih untuk meleburkan diri dengan kegelapan di sudut lapangan.

Ia menyandarkan punggungnya pada tiang penyangga tenda panitia yang sudah sepi. Tangannya terbenam dalam saku jaket, meremas pelan gantungan kunci robot yang catnya sudah mulai mengelupas di beberapa bagian. Benda kecil itu terasa sangat berat, seolah membawa beban ingatan delapan tahun yang tidak kunjung usai.

Dari posisinya yang tersembunyi, mata Arga tertuju pada satu titik di barisan depan penonton. Di sana, Nala Anindita berdiri dengan rambut yang berkilau terpapar cahaya lampu panggung. Gadis itu tertawa lepas, sebuah pemandangan yang jarang Arga lihat belakangan ini. Nala tampak begitu hidup, begitu nyata, dan begitu jauh dari jangkauan memorinya.

Arga melihat bagaimana Satria Dirgantara berdiri tepat di sebelah Nala. Cowok itu sesekali membisikkan sesuatu ke telinga Nala yang dibalas dengan senyum lebar dan anggukan antusias. Satria memiliki segalanya yang tidak dimiliki Arga, yaitu keberanian untuk hadir di masa sekarang tanpa terbebani bayang-bayang masa lalu.

"Jangan jadi patung terus di sini," suara berat itu memecah lamunan Arga.

Arga menoleh dan mendapati Dimas Pratama sudah berdiri di sampingnya sambil membawa dua botol minuman dingin. Dimas menyodorkan salah satu botol kepada sahabatnya itu dengan gerakan dagu yang mengisyaratkan keprihatinan.

"Gue cuma lagi menikmati musik," jawab Arga pelan setelah menerima botol tersebut.

"Nikmatin musik atau nikmatin rasa sakit?" tanya Dimas tanpa basa-basi.

Arga tidak langsung menjawab. Ia membuka tutup botol dan membiarkan cairan dingin itu membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Matanya kembali beralih pada Nala yang kini sedang bertepuk tangan mengikuti instruksi vokalis di atas panggung.

"Gue sudah mutusin buat berhenti, Ga," gumam Arga hampir tidak terdengar di tengah kebisingan festival.

Dimas mengernyitkan dahi sambil menatap Arga dengan saksama. "Berhenti apanya?" tanyanya memastikan.

"Berhenti berharap kalau Nala bakal ingat janji itu. Gue sadar sekarang, janji delapan tahun lalu itu cuma dongeng buat dia. Cuma gue yang masih terjebak di dalam bukunya," ujar Arga dengan nada suara yang datar namun menyiratkan kelelahan yang luar biasa.

"Baguslah kalau lo sadar. Dunia tetap berputar, Arga. Nala sudah lari jauh ke depan, dan lo masih sibuk ikat tali sepatu di garis start yang sudah hilang," balas Dimas dengan gaya bicaranya yang selalu logis.

Di sisi lain lapangan, Rara Kinanti yang sedang berdiri bersama beberapa teman organisasi tampak tidak sengaja menangkap sosok Arga di kejauhan. Tatapan Rara berubah sendu. Sebagai orang yang baru saja mengetahui rahasia besar Arga, ia bisa merasakan betapa menyesakkannya berdiri di posisi cowok itu. Rara melihat Nala, lalu melihat Arga, dan akhirnya hanya bisa menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala.

Tiba-tiba, lagu di panggung berubah menjadi balada yang lembut. Lampu sorot meredup menjadi warna kuning keemasan yang hangat. Suasana yang tadinya riuh mendadak menjadi melankolis. Arga melihat Satria melepaskan jaketnya dan memberikannya kepada Nala karena udara malam yang semakin menusuk tulang. Nala menerimanya dengan malu-malu, sebuah gestur sederhana yang menghancurkan sisa-sisa pertahanan di hati Arga.

Tania Larasati lewat di depan Arga bersama rombongan temannya. Gadis itu sempat menghentikan langkahnya sebentar ketika menyadari keberadaan Arga. Ada kilat kesedihan di matanya, namun ia memilih untuk terus berjalan tanpa menyapa. Arga tahu ia telah menyakiti Tania, dan itu menambah beban rasa bersalah yang harus ia pikul malam ini.

"Lo nggak mau balik duluan?" tanya Dimas sambil menepuk bahu Arga.

"Sebentar lagi, Dim. Gue mau lihat ini sampai selesai," jawab Arga dengan mata yang masih terpaku pada punggung Nala.

Arga ingin memastikan bahwa memori terakhirnya tentang Nala di masa SMA ini adalah memori tentang kebahagiaan gadis itu. Meskipun bukan ia yang menjadi alasan di balik tawa tersebut, Arga mulai belajar menerima bahwa mencintai tidak selalu berarti memiliki ruang di dalam hidup orang yang dicintai.

Gantungan kunci robot di saku jaketnya ia lepaskan perlahan dari kaitan jari-jarinya. Arga merasa malam ini adalah malam pemakaman bagi janji masa kecilnya. Di bawah langit yang gelap tanpa bintang, ia berdiri diam, menyaksikan perempuan yang ia cintai selama hampir satu dekade menjadi milik masa depan yang sama sekali tidak melibatkan namanya.

Lagu balada itu mencapai puncaknya, dan Arga memejamkan mata sejenak, membiarkan angin malam menyapu luka yang belum kering di hatinya. Saat ia membuka mata kembali, ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa besok, ia akan bangun sebagai Arga yang tidak lagi menoleh ke belakang. Namun untuk malam ini, ia masih ingin menjadi Arga yang menjaga Nala dari kejauhan, satu kali lagi, untuk yang terakhir kalinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!