NovelToon NovelToon
Cinta Dibalik Kontrak

Cinta Dibalik Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: DinaSafitri

Alya Gabrielsen terpaksa menikah dengan pria asing demi menyelamatkan status keluarganya. ayahnya, Tyo, bangkrut dan terlilit hutang yang membuatnya hampir masuk penjara. Dengan paksaan sang ibu, Alya mau tak mau rela menikah di usia muda dengan pria yang sama sekali tak ia kenali. Bagaimana kisah Alya? saksikan hanya disini!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaSafitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CDK. 7

Sebuah mobil mewah meluncur perlahan memasuki gerbang kediaman keluarga Gabrielsen, lalu berhenti tepat di halaman rumah megah itu.

Sepasang suami istri turun dengan wajah sumringah. Senyum ramah segera mereka arahkan kepada Tyo selaku tuan rumah.

Helena memandangi pasangan itu dengan sorot mata menelisik. Dari mobil yang mereka gunakan, pakaian yang dikenakan, hingga aksesori yang melekat di tubuh keduanya—tak satu pun tampak mewah atau berlabel ternama.

Ternyata benar dugaanku... mereka sudah jatuh miskin. Aku tidak akan pernah membiarkan putriku menjadi menantu keluarga seperti ini, batin Helena sinis.

Namun sesaat kemudian, ia memaksakan senyum palsu di wajahnya. Isabella sempat melirik sekilas ke arah suaminya, menyadari kejanggalan itu.

Ethan yang memahami situasi hanya mengangguk tipis, lalu memberi isyarat agar istrinya diam.

“Silakan masuk, Tuan Ethan, Nyonya,” sambut Tyo dengan keramahan yang dipaksakan.

Mereka pun masuk dan duduk di ruang tamu. Beberapa pelayan telah menyiapkan minuman serta camilan ringan di atas meja.

Ethan dan Isabella mengamati seluruh isi rumah itu. Ada sesuatu yang terasa ganjil di mata mereka. Rumah sebesar ini seharusnya tampak megah dan lengkap, tetapi justru banyak sudut yang kosong.

Beberapa ruangan bahkan tampak seperti lama tak terurus. Sebenarnya tidak sopan menanyakan hal seperti itu, tetapi rasa penasaran Isabella terlalu besar untuk ditahan.

“Maaf jika saya lancang, Tuan Tyo... mengapa rumah sebesar ini tidak memiliki perabotan lengkap?” tanya Isabella hati-hati.

Ethan langsung menyikut lengan istrinya pelan.

Tyo terkekeh canggung.

“Beberapa sudah saya jual untuk menutupi utang, Nyonya,” jawabnya lirih.

Sepasang suami istri itu saling berpandangan.

“Menjual? Maaf... untuk apa? Maksud saya, memang sebesar apa utang Anda?” tanya Isabella lagi, kali ini lebih pelan.

Ethan berdeham seraya merapikan jasnya.

“Maafkan istri saya, Tyo,” ucapnya tidak enak hati.

“Tidak masalah, Tuan. Wajar jika Nyonya bertanya.” Tyo menghela napas panjang. “Saya mengalami kerugian besar hingga memiliki utang ratusan juta. Jika tidak segera dibayar, saya terancam dipenjara. Karena itu saya menjual beberapa fasilitas rumah, termasuk mobil, demi menutupinya. Bahkan kemungkinan besar rumah ini juga akan disita bank.”

Penjelasan itu membuat Ethan dan Isabella terdiam.

Dalam dunia bisnis, sekali salah langkah, kehancuran bisa datang tanpa ampun. Mereka pun merasa prihatin atas musibah yang menimpa calon besan mereka.

Ya, calon besan. Setidaknya itulah tujuan kedatangan mereka malam ini.

“Kami turut prihatin atas musibah yang menimpa Anda,” ujar Isabella dengan pandangan iba.

Tyo terkekeh kecil, lalu menggeleng.

“Tidak masalah, Nyonya.”

Percakapan ringan terus berlanjut hingga suara langkah kaki dari tangga mengalihkan perhatian semua orang.

Eleanor turun dengan dagu terangkat dan langkah anggun. Senyum tipis menghiasi bibirnya.

Ia mengenakan dress navy dengan high heels hitam menjulang. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai, riasan wajah cukup mencolok, dipadukan lipstik merah menyala yang memancarkan aura dewasa begitu kuat.

Di belakangnya, Alya menyusul turun mengenakan dress sederhana berwarna sage green yang serasi dengan kulitnya. Riasannya natural, lembut, dan sesuai dengan usianya.

“Selamat malam, semuanya,” sapa Eleanor, memecah keheningan.

Ternyata benar... mereka hanya keluarga miskin. Jika bukan karena usulan David, aku tak akan sudi datang, batin Ella sambil tetap mempertahankan senyum ramahnya.

Isabella dan Ethan membalas sapaan itu. Eleanor duduk di sebelah ibunya, sementara Alya duduk di sisi Tyo.

Baik Ethan maupun Isabella justru lebih tertarik pada penampilan Alya yang tampak sopan dan sederhana dibandingkan Eleanor.

Bahkan Ethan mulai bertanya-tanya dalam hati, apakah istriku benar-benar yakin dengan pilihannya kali ini?

“Oh ya, ngomong-ngomong, di mana putra Anda, Tuan Ethan?” tanya Tyo, baru sadar tamunya datang hanya berdua.

Ethan tertawa kecil.

“Sebentar lagi pasti datang. Anak itu memang seperti biasa... tidak pernah tepat waktu.”

“Memalukan! Dasar tidak sadar diri. Sudah tahu ada urusan penting, malah mengulur-ulur waktu,” gumam Helena sengaja dengan suara cukup keras agar terdengar semua orang.

“Ma, jangan bicara begitu! Hargai tamu...” tegur Tyo, wajahnya memerah menahan malu.

“Kenapa? Bukankah yang Mama katakan memang benar?” balas Helena ketus.

Ia bangkit dari duduknya, menyilangkan kaki, lalu memasang wajah jutek.

“Ma, ki—”

“Tidak masalah.” Ethan cepat memotong. “Apa yang diucapkan istrimu itu benar, Tyo. Anakku memang selalu seperti ini. Dia gila kerja, jadi tidak heran kalau sering terlambat. Sebentar lagi pasti datang.”

“Cih!” Helena berdecak sinis lagi.

Tyo hanya bisa terus-menerus meminta maaf.

Sepertinya aku sudah salah menilai keluarga ini. Ibunya saja seperti itu... bagaimana dengan anaknya nanti? batin Isabella mulai gelisah.

---

“Kenapa kau masih duduk santai di sini, Bos? Bukankah seharusnya kau datang ke tempat perjodohan yang ibumu katakan?” tanya Jayden heran.

Sejak sore hingga hampir tengah malam, atasannya itu hanya duduk diam dengan laptop di pangkuan, termenung tanpa melakukan apa-apa.

“Nanti.”

Jawaban singkat itu membuat Jayden hampir putus asa.

“Astaga! Bicara sama es batu memang begini. Ini sudah jam setengah sembilan malam! Kau mau menundanya sampai kapan? Besok pagi? Lusa? Atau tahun depan sekalian?” gerutunya kesal.

Max menatap asistennya datar.

“Aku yang mau dijodohkan. Kenapa justru kau yang tidak sabaran?” tanyanya polos.

Wush!

Sebuah bantal melayang ke wajah Max. Namun pria itu menghindar dengan santai hingga bantal jatuh ke lantai keramik yang dingin.

“Bagaimana aku tidak sabaran? Apa kau lupa? Kalau kau tidak menikah, aku juga tidak akan pernah menikah! Heran, ngajak jadi bujang lapuk kok bareng-bareng!” omel Jayden.

Max justru tersenyum kecil.

“Ya, terserah kau saja. Kalau kau mau.”

“Terserah? Kalau kata itu benar-benar berlaku, aku pasti sudah punya istri dan anak sekarang!” balas Jayden sengit.

Max berdiri dari duduknya.

“Sekarang kau mau ke mana?” tanya Jayden curiga.

Pria itu menoleh dengan satu alis terangkat.

“Kau ingin menikah atau tidak?”

“Maksudmu?” Jayden mengernyit bingung.

“Bodoh. Ayo ikut.”

Max melangkah pergi begitu saja.

Meski masih kebingungan, Jayden tetap mengejarnya. Max mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, mengabaikan ocehan panjang asistennya di samping.

Jayden terus bertanya ke mana mereka akan pergi. Bukannya jawaban, ia justru menerima jitakan keras di kepala.

“Diam, kalau kau masih ingin menikah,” ancam Max dingin.

Jayden langsung bungkam.

---

“Mana sih? Kenapa lama sekali? Saya punya urusan penting di luar. Tidak bisa menunggu terlalu lama. Batalkan saja sudah!” ujar Helena ketus.

“Sabar, Mah. Jangan marah-marah begitu,” tahan Tyo.

“Ya bagaimana tidak marah? Mereka yang tiba-tiba mau melamar, tapi mereka juga yang mengulur waktu.”

“Dari tadi kita duduk di sini cuma bicara hal kosong! Benar-benar buang waktu!”

Ucapan itu membuat Tyo kehilangan muka di hadapan tamunya sendiri. Ia merasa gagal sebagai suami karena tak mampu mendidik istrinya bersikap sopan.

“Sabar, Mah. Jangan bicara begitu kalau masih ada tamu. Tidak enak dilihat,” bisik Alya lembut.

“Diam kamu, anak kecil!” bentak Helena.

Alya terdiam, menggigit bibir bawahnya menahan sakit hati.

“Ah, Tuan ma—”

“Tidak masalah,” Ethan menahan Tyo sebelum pria itu kembali meminta maaf.

Ia lalu menoleh pada istrinya.

“Tolong telepon anak itu, Mah. Tidak baik membuat mereka menunggu.”

Isabella mengangguk dan meraih ponselnya dari dalam tas. Ia hendak menghubungi putra mereka, ketika sebuah suara familiar terdengar dari balik pintu.

“Maaf sudah menunggu lama.”

Semua kepala serentak menoleh.

Tyo, Helena, Ella, bahkan Alya terpaku di tempat begitu melihat siapa pemilik suara itu.

“T-Tuan Max...?” gumam Tyo dengan wajah pucat.

1
Barru Kab
mana kelanjutannya thor
Dina Safitri: OTW yaa🤭
total 1 replies
Neng Nosita
semoga nanti Max mengetahui kelicikan ibu mertuanya
Neng Nosita
wah..siapa tuh?
Neng Nosita
lamaran yang jauh dari kata romantis,...😄
Neng Nosita
sak sek syok pasti si Alya...
Neng Nosita
uuuh..seru thor👍
Dina Safitri: MasyaAllah terimakasih sudah mampir kakak. mohon untuk saran keritikan nya😍

cerita ini masih dalam proses kontrak, begitu kontrak turun aku akan melanjutkan ceritanya. sekali lagi terimakasih karena sudah mampir🙏
total 1 replies
pieyyy
bgs kak, sini mampir bntr kak aku baru keluarin karya baruku, makasihh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!