Aku sudah mati sekali di hari kiamat.
Sekarang aku kembali—3 hari sebelum semuanya dimulai.
Aku tahu siapa yang akan mati.
Aku tahu monster apa yang akan muncul.
Aku tahu dunia ini tidak bisa diselamatkan.
Jadi kali ini…
aku akan mengubah semuanya.
Atau menghancurkannya dengan caraku sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizqi Handayani Mu'arifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reuni Tim Dengan Reina
Salju hitam masih turun perlahan dari langit retak. Pecahan tubuh Utusan Gerbang Kedua berserakan di jalanan beku seperti kristal gelap. Monster-monster lain sudah menghilang sejak kemunculan Reina.
Reina perlahan turun ke tanah, ketika kakinya menginjakkan tanah, dunia seakan bergetar. Tidak ada yang berani mendekat. Keheningan menyelimuti mereka.
Sepasang retakan cahaya di punggungnya menghilang sedikit demi sedikit. Namun aura merah hitam di sekeliling tubuhnya masih terasa berat.
Prisma menatapnya tanpa bergerak. Untuk sesaat ia seperti tidak tahu harus berkata apa. Karena orang yang berdiri di depannya memang Reina. Tetapi juga terasa… berbeda.
Reina lebih dulu memecah keheningan. “Aku minta maaf.”
Suara itu membuat Dandi langsung menegang kecil. Itu benar-benar suara Reina yang mereka kenal.
Prisma akhirnya melangkah mendekat. “Bodoh.”
Reina sedikit terdiam.
Prisma berhenti tepat di depannya. “Kau pergi terlalu lama.”
Mata merah Reina bergetar kecil. Dan sebelum siapa pun sadar, Prisma langsung menarik Reina ke pelukan kasar.
Dandi membelalakkan mata. “Prisma—”
“Aku tidak peduli kau jadi apa sekarang.” Suara Prisma terdengar berat. “Tapi jangan menghilang lagi.”
Tubuh Reina membeku beberapa detik. Lalu perlahan tangannya bergerak membalas pelukan itu. Untuk pertama kalinya sejak kembali aura mengerikan di sekitar Reina sedikit melemah.
Namun tidak semua orang bisa langsung tenang. Andri masih berdiri beberapa meter jauhnya. Tangannya tetap memegang pistol. Tatapannya tajam memperhatikan simbol hitam di tubuh Reina.
Reina menyadari itu. Perlahan ia melepaskan Prisma lalu menatap Andri. “Kalau kau mau menembakku…” Suasana langsung menegang. “…lakukan sekarang sebelum aku berubah lebih jauh.”
Dandi langsung menoleh kaget. “REINA!”
Namun Andri tidak bergerak. Tatapannya tetap dingin. Beberapa detik terasa sangat lama. Lalu Andri perlahan menurunkan pistolnya. “Aku memang menyiapkan peluru untuk membunuhmu.”
Prisma langsung menatap tajam.
Tapi Andri melanjutkan: “Karena aku takut.” Keheningan turun. Andri menggenggam pistolnya lebih erat. “Aku takut suatu hari nanti… kita harus melawanmu.”
Mata Reina perlahan menunduk. Karena jauh di dalam dirinya ia juga takut akan hal itu.
Santo yang sejak tadi diam akhirnya berjalan mendekat. Tatapannya menelusuri simbol merah di mata Reina. “Jadi kau berhasil menekan jiwa dewimu.”
Reina menoleh pelan. “Tidak sepenuhnya.”
Angin dingin berhembus kecil. Lalu Reina berkata pelan: “Aku masih mendengar suaranya.”
Wajah semua orang langsung berubah serius. “Dan gerbang kedua…”
Tatapan Reina perlahan mengarah ke utara.“…sudah mulai bangun.”
Begitu kata-kata itu keluar tanah tiba-tiba bergetar kecil.
DUUUMM…
DUUUMM…
Seperti detak jantung raksasa dari kejauhan. Langit utara perlahan berubah merah gelap. Dan di balik badai salju sesuatu yang sangat besar sedang bergerak.
DUUUMM…
DUUUMM…
Getaran itu semakin jelas.
Salju di jalanan mulai bergetar kecil setiap dentuman terdengar dari arah utara. Bahkan udara terasa semakin dingin hingga napas mereka berubah menjadi kabut putih tebal.
Reina menatap jauh ke balik badai salju. Wajahnya perlahan menegang. “…Dia sudah bangun.”
Lyra langsung membelalakkan mata. “Mustahil. Gerbangnya bahkan belum terbuka penuh.”
Namun Reina menggeleng pelan. “Penjaga Gerbang Kedua berbeda.”
Simbol hitam di lehernya mulai menyala samar.nDan untuk sesaat mata Reina berubah jauh lebih merah. “Ia tidak tidur.”....“Ia menunggu.”
Suara itu kembali terdengar seperti dua orang berbicara bersamaan.
Prisma memperhatikan Reina diam-diam. Meski Reina masih terlihat seperti dirinya sendiri semakin lama aura dewinya semakin terasa.
Dandi mencoba mengalihkan suasana. “Kalau begitu kita bergerak sekarang?”
Andri langsung menjawab cepat. “Kita butuh informasi dulu.”
Ia mengeluarkan peta dunia lama dari tasnya lalu membentangkannya di atas kap mobil rusak. “Kalau gerbang kedua aktif di wilayah utara…” Jarinya menunjuk area putih luas di peta. “…berarti pusatnya kemungkinan di kota es Varekh.”
Lyra langsung menegang kecil. “Kota yang hilang itu…”
Prisma menoleh. “Kalian tahu tempat itu?”
Lyra perlahan mengangguk. “Dulu Varekh adalah kota penelitian gerbang.” “Saat gerbang kedua pertama kali muncul… seluruh kota membeku dalam satu malam.”
Dandi merinding. “Seluruh kota?”
“Andaikan hanya itu.” Lyra menatap mereka satu per satu. “Penduduk di sana tidak mati.” suaranya sedikit merendah “Mereka tetap hidup di dalam es.”
Keheningan turun karena keterkejutan mereka.
Andri menyipitkan mata.“…Abadi?”
“Tidak.” Tatapan Lyra berubah suram. “Terjebak.”
Angin dingin kembali berhembus. Dan di saat yang sama Reina tiba-tiba memegang kepalanya. “Gh…!”
Prisma langsung mendekat. “Reina!”
Potongan-potongan bayangan muncul di kepala Reina.
Salju merah. Lautan es. Ribuan manusia membeku sambil berteriak tanpa suara. Dan di tengah kota sesosok raksasa duduk di atas singgasana es hitam.
Tubuhnya dipenuhi rantai. Matanya tertutup. Namun saat Reina melihatnya mata makhluk itu perlahan terbuka. BIRU MENYALA.
Reina langsung tersentak mundur. Napasnya kacau. “Dia melihatku…”
Santo langsung menyadari sesuatu. “Penjaga Gerbang Kedua?”
Reina mengangguk pelan. Tatapannya dipenuhi ketegangan. “…Dia tahu aku sudah kembali.”
DUUUUMMMMM!!
Tiba-tiba suara gemuruh besar terdengar dari utara. Langit retak merah semakin melebar. Dan jauh di balik badai salju cahaya biru raksasa menembus langit.
Suhu langsung turun drastis. Es mulai menyebar di jalanan sekitar mereka.
Andri langsung mengangkat wajahnya. “Ini belum gerbang terbuka penuh?”
Lyra menjawab pelan: “Tidak…” diam sejenak, kemudian Lyra melanjutkan ucapannya“Ini hanya napasnya.” tatapannya sangat tajam kearah Utara.
Keheningan langsung berubah menjadi kepanikan kecil. Es terus merayap di jalanan seperti makhluk hidup. Mobil-mobil tua membeku dalam hitungan detik, sementara bangunan di sekitar mulai dipenuhi kristal es hitam.
Dandi menghentakkan tombaknya ke tanah. “Kalau ini cuma napasnya, bagaimana saat gerbang benar-benar terbuka?”
Tidak ada yang menjawab. Karena mereka semua memikirkan hal yang sama.
Reina perlahan menatap tangannya sendiri. Ujung jarinya mulai dipenuhi embun merah samar. Kekuatan gerbang kedua bereaksi terhadap dirinya. Atau mungkin... menyambutnya.
Prisma menyadari perubahan itu dan langsung berdiri di depan Reina, seolah melindunginya dari sesuatu yang bahkan belum datang. “Kita bergerak sekarang.”
Andri mengangkat alis. “Kau serius mau langsung ke pusat bencana?”
“Kalau kita menunggu, wilayah utara akan jadi kuburan es.”
Andri mendecih kecil, tetapi tidak membantah. Karena jauh di dalam dirinya, ia tahu Prisma benar.
Perjalanan menuju utara dimulai malam itu juga. Mereka menggunakan kendaraan lapis baja tua hasil modifikasi Andri. Mesinnya meraung berat saat melewati jalanan retak penuh salju hitam.
Namun semakin jauh mereka bergerak dunia semakin berubah. Hutan-hutan membeku membentuk patung-patung aneh.
Bangkai monster tertutup es merah.
Bahkan langit mulai kehilangan warna selain putih dan merah.
Dan yang paling mengganggu mereka mulai menemukan manusia membeku.
Masih hidup.
Di pinggir jalan…
di dalam rumah…
di kendaraan hancur…
mata mereka masih bergerak pelan di balik lapisan es.
Dandi langsung menghentikan langkah saat melihat seorang wanita tua membeku sambil memeluk anak kecil. “…Mereka sadar.”
Lyra menunduk. “Kutukan gerbang kedua. Tubuh berhenti… tapi jiwa tetap terbangun.”
Prisma mengepalkan tangannya keras. “Monster macam apa yang membuat ini…”
Reina yang sejak tadi diam akhirnya bicara pelan. “Bukan monster.”
Semua menoleh padanya.
Tatapan Reina mengarah jauh ke utara. “…Dia dulu manusia.”
Angin dingin langsung berhembus lebih kuat. Santo menyipitkan mata. “Kau melihat ingatannya?”
Reina mengangguk kecil. Potongan bayangan tadi masih tersisa di kepalanya.
Seorang pria duduk sendirian di singgasana es.
Dirantai.
Terus membeku.
Namun tidak bisa mati.
Dan di sekelilingnya seluruh kota ikut membeku bersamanya.
Andri menatap Reina serius. “Siapa dia?”
Reina perlahan menjawab: “…Raja Kedua.”
DUUUMMM!!
Tiba-tiba kendaraan mereka terguncang keras.
Andri langsung membanting setir. “Apa lagi sekarang?!”
Santo mendadak mencabut pedangnya. “Di bawah!”
CRAAAAKKK!!
Tanah es meledak. Seekor makhluk raksasa keluar dari bawah salju.
Tubuhnya seperti cacing raksasa berlapis es hitam.
Mulutnya dipenuhi wajah manusia membeku yang terus berteriak tanpa suara. Monster itu langsung menghantam kendaraan mereka hingga terpental.
“SERANGAN!” Prisma melompat keluar lebih dulu. Palu raksasanya menghantam kepala monster.
DUUUUMM!!
Namun tubuh monster itu hanya retak sedikit sebelum kembali membeku.
Andri membelalakkan mata. “Regenerasi es?!”
Monster itu meraung keras. Dan dari dalam mulutnya puluhan tangan manusia membeku mulai merangkak keluar menuju mereka.