Di sebuah wilayah terpencil di kaki Bukit Wengker, hidup seorang anak bernama Gandraka—anak dari Ki Bagaskara, penjaga ilmu lama yang nyaris dilupakan. Sejak kecil, Gandraka menunjukkan tanda-tanda yang tak biasa: ia memahami lambang-lambang kuno, mampu meredam sesuatu yang bersemayam di dasar sumur tua, dan menjalankan ritual yang bahkan orang dewasa tak berani sentuh.
Namun Wengker bukan tanah biasa.
Di balik perbukitan dan sunyinya desa, tersegel kekuatan gelap yang perlahan mulai bangkit. Sesuatu yang tak hanya membawa kegelapan… tetapi juga kehampaan yang menelan segala.
Saat segel mulai melemah, Gandraka dihadapkan pada takdir yang tak bisa ia hindari—menjadi penjaga… atau berubah menjadi algojo bagi dunia yang tak pernah benar-benar memahami dirinya.
Di tanah Majapahit yang tampak damai, bara itu diam-diam menyala.
Dan ketika waktunya tiba… tidak semua yang hidup akan tetap menjadi manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Ki Bagaskara berdiri di pematang, memperhatikan langkah-langkah kecil Gandraka yang tak pernah benar-benar jauh dari tanah tempatnya berpijak. Nyai Lodra di sampingnya menatap dengan sorot mata yang sulit disembunyikan—antara cemas dan iba, antara ingin memahami dan takut pada kemungkinan yang tak terucap.
Gandraka tidak menoleh. Tangannya terus bergerak, jemarinya mencoret tanah dengan penuh keyakinan, seolah apa yang ia gambar bukan sekadar coretan anak kecil, melainkan sesuatu yang telah lama ia kenal. Garis demi garis terbentuk dengan presisi yang aneh, tidak goyah, tidak ragu.
Segitiga itu tampak kokoh, sempurna. Di tengahnya, bulatan kecil digambar dengan tekanan yang lebih dalam, seakan menjadi pusat dari segala sesuatu. Namun yang membuat Nyai Lodra merinding bukan bentuk itu… melainkan gambar di bawahnya.
Sebuah kitab terbuka.
Garis-garisnya tidak sederhana. Ada lekukan, ada simbol kecil di tiap sisi halaman, seperti tulisan yang bukan berasal dari dunia yang mereka pahami. Tanah di sekitar goresan itu tampak sedikit lebih gelap, seakan menyerap sesuatu yang tak kasatmata.
“Ayah…” suara Gandraka kembali terdengar, kali ini lebih pelan, namun justru terasa lebih dalam. “Kalau kitabnya dibuka… siapa yang membaca?”
Ki Bagaskara tidak langsung menjawab. Tatapannya mengeras, namun bukan karena marah—melainkan karena ia mulai menyadari arah dari pertanyaan-pertanyaan anaknya. Ini bukan sekadar rasa ingin tahu. Ini seperti… ingatan.
“Ada yang membaca… dan ada yang dipanggil,” akhirnya ia berkata, suaranya rendah namun tegas. “Tapi tidak semua yang membaca akan mengerti. Dan tidak semua yang dipanggil bisa kembali.”
Gandraka akhirnya berhenti menggambar. Ia menatap hasil coretannya beberapa saat, lalu tersenyum tipis—senyum yang terlalu tenang untuk anak seusianya.
“Kalau begitu… aku harus belajar menutupnya juga, ya, Yah?”
Nyai Lodra tanpa sadar menggenggam lengan suaminya lebih erat. Ada dingin yang merambat di hatinya, perlahan tapi pasti.
Ki Bagaskara menghela napas panjang, lalu berjongkok di hadapan anaknya. Tangannya menyapu sebagian gambar itu, mengaburkan garis-garis yang tadi begitu jelas.
“Iya, Nak,” ucapnya lembut, namun penuh makna. “Karena yang paling berbahaya… bukan saat sesuatu itu dibuka.”
Ia menatap langsung ke mata Gandraka.
“Tapi saat kita tidak tahu cara menutupnya.”
“Gandraka, Ayah dan Ibu akan pergi ke sawah. Jaga ternak dan rumah kita,” ucap ayahnya.
“Baik, Yah.”
Tak lama kemudian, mereka pun pergi, meninggalkan Gandraka sendirian di halaman.
Setelah puas menggambar lambang-lambang aneh di tanah, Gandraka bangkit dan melangkah pelan menuju kamar ayahnya. Ia mengambil sebuah kendi berisi air bunga tujuh rupa—air yang telah dimantrai oleh Ki Bagaskara.
Tanpa ragu, Gandraka kembali ke halaman dan menyiramkan air itu ke atas lambang yang ia buat. Seketika, goresan tanah itu berubah menjadi abu hitam, tipis namun pekat, disertai asap yang mengepul perlahan.
Dengan tenang, Gandraka segera mengumpulkan abu tersebut. Ia menaburkannya di sekeliling rumah, di kandang sapi, dan juga di sekitar sumur tua di samping halaman. Itu bukan pertama kalinya ia melakukan hal itu—melainkan sesuatu yang telah menjadi kebiasaan hariannya.
Namun kali ini berbeda.
Langkah Gandraka terhenti di dekat sumur tua itu. Ia terdiam cukup lama, tubuhnya membeku, sementara matanya menatap tajam ke dalam mulut sumur yang gelap.
Seolah-olah… ada sesuatu di dalam sana yang sedang menatap balik kepadanya.
Beberapa saat kemudian, Gandraka merasakan denyutan halus yang berasal dari dalam sumur itu. Denyutan itu merambat pelan, seakan memanggilnya untuk mendekat.
Anehnya, tanpa sedikit pun rasa takut, Gandraka melangkah mendekati bibir sumur. Ia menunduk dan menatap ke dalamnya. Pandangannya lama, tak berkedip, seolah mencoba menembus kegelapan yang menggantung di dasar.
Perlahan… sesuatu muncul.
Seberkas cahaya seperti nyala api terlihat jauh di bawah sana. Kecil pada awalnya, lalu perlahan membesar, berpendar dalam diam, seakan hidup dan menyadari kehadirannya.
“Kau tak bisa menakutiku,” ucap Gandraka datar.
Ia segera meludahi abu hitam yang masih berada di genggamannya. Seketika, abu itu bertambah banyak, mengembang seperti menyerap sesuatu yang tak kasatmata. Tanpa ragu, ia menaburkannya ke dalam sumur.
Begitu abu itu jatuh, nyala api di dasar sumur bergetar… lalu padam, seolah dicekik oleh sesuatu yang tak terlihat.
Keheningan kembali menyelimuti.
Tanpa banyak bicara, Gandraka lalu berjongkok di sekitar sumur. Dengan jemarinya, ia mengukir lambang-lambang khusus di tanah—lambang yang pernah diajarkan ayahnya. Setiap goresannya tegas, teratur, dan penuh kesadaran, seperti bagian dari sesuatu yang telah ia pahami sejak lama.
Setelah selesai, Gandraka berdiri. Ia menatap sumur itu sekali lagi, singkat namun tajam, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah.
Seolah apa pun yang barusan terjadi… hanyalah bagian dari rutinitasnya.
Di dalam rumah, sambil menunggu ayah dan ibunya pulang, Gandraka menghabiskan waktu dengan membaca kitab yang diberikan oleh ayahnya. Sebuah kitab mantra kuno yang sudah lusuh, namun menyimpan pengetahuan yang tak semua orang mampu pahami.
Ia tahu, setiap kali dirinya mulai tenggelam dalam bacaan itu, selalu ada saja gangguan yang datang dari luar.
Seperti saat ini.
Suara kerbau di kandang tiba-tiba gaduh, mengamuk tanpa sebab yang jelas. Gandraka menutup kitabnya perlahan. Tatapannya berubah tajam, seolah sudah memahami apa yang sedang terjadi.
Seperti yang sudah-sudah, ribuan belatung kembali bermunculan, merayap dan menyerang ternaknya. Namun mereka tertahan oleh garis mantra yang telah ia buat sebelumnya—sebuah batas yang tak terlihat, namun cukup kuat menahan serangan itu untuk sementara waktu.
Gandraka tahu… itu tidak akan bertahan lama.
Tanpa membuang waktu, ia berjalan ke samping kebun dan memetik selembar daun talas yang lebar. Ia kembali ke dekat kandang, lalu mengibaskan daun itu ke atas tanah sambil melantunkan mantra pelan.
Seakan dipanggil oleh sesuatu yang lebih kuat dari naluri mereka sendiri, belatung-belatung itu mulai bergerak. Mereka merayap mendekat, bahkan sebagian melenting-lenting, berkumpul menuju daun talas yang dipegang Gandraka.
Dalam waktu singkat, ribuan belatung telah menumpuk di atas daun tersebut.
Tanpa ragu, Gandraka melipat daun talas itu menjadi sebuah bungkusan. Ia mengikatnya dengan ikat pinggangnya sendiri, mengencangkan simpulnya dengan gerakan cepat dan pasti.
Lalu, ia kembali membaca mantra.
Dengan satu hentakan, ia menarik ikatan itu hingga terlepas.
Srakkk!
Sekejap kemudian, api muncul begitu saja, melahap bungkusan daun talas itu tanpa ampun. Api itu tidak biasa—nyalanya tenang, namun panasnya terasa menekan.
Gandraka membawa bungkusan yang terbakar itu ke pinggir sawah, tepat di kaki Bukit Wengker. Ia lalu duduk diam di sana, memperhatikan api yang perlahan menghabiskan isinya.
Tak ada raut takut di wajahnya.
Ia hanya menatap… sampai bungkusan itu berubah menjadi abu.
Seolah semua itu… hanyalah bagian dari kesehariannya.