Aruna Prameswari tidak pernah tahu bagaimana hidupnya berubah menjadi runyam. Semenjak Kedatangan sosok Liam Noah Rajasa, Atlet bola sekaligus Pengusaha ibukota. Hidupnya dibuat kacau balau sejak laki-laki itu selalu merecoki harinya yang gitu-gitu aja. Kerja, lembur, nongkrong, dan pulang.
Laki-laki itu semakin gencar mendekati dirinya ketika tahu kalau dirinya baru saja putus dari pacarnya, padahal Aruna masih belum begitu move on. Namun Liam dengan segala usahanya hingga membuat dirinya menyerah dan cinta itu datang tiba-tiba.
akankah Cinta Aruna yang datang tiba-tiba berakhir dengan indah atau malah sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nisa_prafour, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25
"Bu, kalau adik saya, di tes urine anak Ibu juga harus di tes Urine! Biar kita sama-sama tahu siapa yang salah! Modal cctv buram seperti itu juga nggak akan bisa dijadikan bukti!"
Aruna bersungut-sungut. Demi Tuhan ... Ia sudah lelah dengan drama wanita tua disampingnya ini. Sejak tadi dia dipojokkan dengan dua orang wanita ini. Yang satunya gadis muda seumuran dirinya dengan rambut panjangnya. Cantik tapi seperti wanita nggak berpendidikan cara bicaranya.
"Heh! Adik kamu yang salah kok anak saya yang harus diseret! Adik mu itu kalau nggak bisa bawa mobil nggak usah sok-sokan! Biasa bawa motor aja begaya!"
"Udahlah kak! Terima aja hukumannya biar nggak panjang-panjang "
Kini Aruna menoleh. Menatap gadis muda itu. Matanya kembali melotot. Kini lebih membulat, "Saya bukan kakak kamu! Jangan panggil saya kak!"
"Ya terus kamu maunya dipanggil apa?! Pelayan?!"
"Mulut kamu memang ngga pernah di didik ya?!! Dasar bodoh!"
"Saya S2 sarjana ya. Yang bodoh itu--"
"CUKUP!! INI KANTOR POLISI BUKAN PASAR!!"
Suara keras itu sontak membuat semua orang disana berhenti berdebat. Hening pun mendominasi.Namun lain dengan Aruna, gadis itu menatap anggota Polsek didepannya yang ia ketahui bernama Barata itu dari name tag seragamnya, "Sebelumnya saya mohon maaf pak sudah membuat kegaduhan. Tapi pak, dengan segala rasa hormat saya dan peraturan yang adil, alangkah baiknya kalau kedua belah pihak ini diperlakukan secara adil. Maksud saya kalau yang satu melalui proses ini ya satunya juga harus sama pak. Lagipula sudah jelas kan pak di cctv ini nih cunguk satu yang nabrak duluan meskipun adik saya dalam pengaruh alkohol. Tapi kan adik saya masih sadar pak"
"Heh! Adik kamu itu seratus persen salah! Ya tetap harus dihukum. Kalau mau minta keadilan nanti di pengadilan!"
"Justru sebelum di pengadilan, semuanya harus di urus dengan adil!"
"Nggak usah pak! Saya tetap menuntut anak nakal ini. Penjarakan saja dia!"
"Ibu tenang dulu ya. Kita akan tetap melakukan hukuman sesuai prosedur Bu. Dan yang dibilang mbak ini benar. Kita memang harus melalui proses hukum yang adil. Dan bukti CCTV juga nggak terlalu banyak membantu Bu" Barata menjelaskan dengan lugas. Anggota Polsek itu mencoba memberi pengertian.
"Saya nggak setuju! Pokoknya dia harus dihukum dengan adil! Saya tetap tuntut dia!"
"Kalau gitu saya juga akan tuntut ibu! Karena ibu sudah mencoba menghalangi proses hukum!!"
Semakin berapi-api, Aruna bahkan maju satu langkah untuk lebih dekat dengan wanita paruh baya itu. Nafasnya tertahan kuat diujung kerongkongan. Percayalah kalau saat ini emosinya sudah berada di puncak ubun-ubun.
"Mohon tenang ya Mbak, ibu. Kita akan tetap prose secara hukum dengan adil. Jadi silahkan para wali terdakwa menunggu sebentar dan silahkan isi formulir yang sudah disediakan. Dan untuk para terdakwa ikut saya ke ruang interogasi!!"
"Run aku pergi ya. Kamu tetep disini kan?"
"Iya. Biar aku urus yang penting kamu nggak salah "
"Iya Run"
Setelah kepergian Vano, barulah Aruna menghembuskan nafasnya kasar beberapa kali. Ia mendadak pening sesaat sebelum sebuah rasa sakit dan panas itu ia rasakan di pipinya.
PLAK!
.
.
.
.
.
"Bajingan memang tuh orang! Dasar sundal!"
"Sabar run"
"Sabar pantatmu! Kamu enak meskipun di interogasi nggak babak belur. Lah aku?! Ni lihat dapat cap lima jari di pipi!!"
Aruna yang menyetir mobil milik Vano bersungut-sungut sambil mengumpat tanpa hentinya. Yap, setelah beberapa proses panjang yang dilalui Vano beberapa saat lalu akhirnya laki-laki disampingnya ini dinyatakan tidak bersalah. Dan pria tengil yang mengaku menjadi korban tadi dinyatakan sebagai terdakwa.
"Run aku aja yang nyetir sini. Aku lebih takut kalau kamu mode Tarang tula raksasa begini deh"
"Diem kamu!! Ini semua gara-gara kamu ya. Gimana ceritanya kamu jam segini udah minum-minum nggak jelas hah?! Kalau sampai tadi tes urine kamu positif pakai narkoboy juga, aku mampusin kamu!"
"Panjang run ceritanya. Aku lagi kesel makanya minum"
"Kesel kenapa? Lagian seharian ini aku nggak lihat kamu di kantor. Kamu kemana?!"
"....."
"Van?! Aku lagi tanya nggak khutbah jawab!"
"Aku bolos kerja. Aku habis hamilin anak orang Run "
"APA?!! APA KAMU BILANG?!"
"Kamu nggak salah denger Run! Aku hamilin anak orang!"
Mulut Aruna menganga tidak percaya. Ia mendadak menepikan mobil yang ia kendarai. Ia membenturkan kepalanya pada stir mobil beberapa kali. Butuh beberapa menit untuk Aruna mengembalikan akal sehatnya sebelum akhirnya ia menatap garang Vano yang kini terlihat menundukkan kepalanya.
"Kamu tuh bajingan berkedok Malaikat ya Van?"
"Nggak gitu Run. Aku beneran nggak sengaja"
"Trus sel sperma mu jalan sendiri ke rahim cewek yang kamu hamilin? Dia jalan pakek Jnt express gitu?! Bodoh banget sih kamu"
"run jangan hakimi aku kayak gini dong. Aku lagi pusing banget"
"Ya soalnya kamu tolol! Siapa ceweknya?!"
"Farah Run"
"Farah siapa?"
"....."
Keterdiaman Vano yang hanya menatap Aruna dengan tatapan kuyu itu sudah cukup membuat Aruna mengerti. Gadis itu memejamkan matanya lalu mengacak rambutnya frustasi.
"Ya ampun!!! Kok bisa sih Van?! Kenapa harus anak magang sih. Predikat laki-laki tolol tahun ini jatuh ke kamu!"
"....."
"Terus sekarang gimana kondisi dia?"
"Aku nggak tahu Run!"
"HEH! Kamu jangan sampai lari dari tanggung jawab ya!"
"Aku nggak lari dari tanggung jawab Run. Aku cuma lagi kalut aja"
"Kita ke kos an kamu aja. Ayo pulang!"
"Aku anter kamu aja pulang dulu Run"
"Nggak! Kita pulang ke kosan kamu. Kita cari solusi bareng. Kamu nggak mungkin terus-menerus kalut gini. Kasian Farah"
"....."
"Dimana kosan mu?"
"Udah Deket kok. Didepan sanaa sekitar 15 menitan"
Dan Aruna pun kembali menjalankan mobilnya, "Rencana kamu gimana setelah ini"
"Aku masih nggak tahu mbak. Aku masih belum kepikiran buat nikah jujur aja. Kamu tahu sendiri kondisi aku kayak gini"
"Kayak gini gimana?"
"Ya kayak gini. Aku ekonomi aja belum stabil-- run kosan ku didepan awas kelewatan"
"Yang mana dongo!" Aruna gemas sendiri dan ia otomatis menginjak rem pelan. Tadi Vano bilang kosannya masih sekitar 15 menitan. Tapi mereka bahkan masih berjalan 5 menit dan laki-laki ini sudah berteriak jika kosannya hampir sampai.
"Gedung tinggi itu Run. AFI apartemen"
"Kamu bilang apa?"
"Kamu kenapa sih dari kantor polisi tadi mendadak budek? Dari tadi kalimat mu 'kamu bilang apa' mulu? Budek kamu?"
"Ngelunjak ya kamu! Gimana aku nggak kaget mulu. Kamu daritadi bikin aku spot jantung terus Bajingannn!! Kamu kan selama ini bilang kamu ngekos daerah Thamrin. Ya aku percaya lah"
"Aku emang kos disini run. Di apartemen ini maksudnya. Aku nggak bohong kan ini daerah Thamrin"
"Terserah kamu deh bajak laut. Aku iya aja"
"Udah masuk dulu ayo ke basemen"
"Trus Maksud kamu bilang ekonomi nggak stabil barusan apa hah?! Kamu tinggal di Apartemen mewah tapi kamu bilang ekonomi mu nggak stabil?! Bilang aja kamu mau lari dari tanggung jawab bangsat!"
"Run nggak gitu, demi Tuhan aku nggak bakal lari dari tanggung jawab"
"Halah alasan! Kebanyakan bohong sama aku kualat kamu!"
"Kita masuk aja deh Run. Daripada debat dalem mobil gini ga enak"
Vano berdecak sebelum akhirnya ia turun lebih dulu dari mobil setelah Aruna berhasil mendapatkan parkiran untuk mobilnya. Meninggalkan gadis itu begitu saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...