NovelToon NovelToon
Dijual Teman Laknat, Dibeli Mantan Minus Akhlak

Dijual Teman Laknat, Dibeli Mantan Minus Akhlak

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Nikah Kontrak
Popularitas:20.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dfe

Nyangka nggak kalau temen mu sendiri bisa jadi setan yang sesungguhnya di dunia nyata?

Ini yang dialami Badai, lelaki 23 tahun ini dijual ke mantan pacarnya sendiri sama temennya, si Sajen!

Weh kok bisa? Ini sih temen laknatullah beneran ya kan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dfe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabar kedatangannya

Malam makin larut. Suara canda tawa yang tadi sempat memenuhi bengkel kini perlahan luruh, menyisakan keheningan yang tak sepenuhnya sepi. Hal itu tersebab masih ada Badai dan Sajen yang berada di Badai Garage meski pintu bengkel tersebut sudah ditutup rapat. Di bawah cahaya lampu yang berpendar, Sajen tampak asyik rebahan sambil memainkan ponselnya, matanya terpaku pada layar ponsel yang dia miringkan, sementara Badai masih bergulat dengan mesin.

Gerakan tangan Dai yang memutar kunci pas terlihat begitu presisi, seolah sudah menyatu dengan rungu dan baut. Otot lengannya yang kokoh tampak menegang setiap kali dia memberikan tekanan, sementara noda oli di kulitnya justru semakin mempertegas kesan maskulin yang tangguh sekaligus liar.

"Belum sembuh kok udah main dongkrak gitu, ngejar apa sih, lo? Mbok ya biarin. Tinggal istirahat sana lho. Udah punya karyawan dua butir harus di manfaatkan dengan sebaik mungkin, Dai," ucap Sajen santai. Dia menggeser posisi selonjorannya, mencari hembusan angin dari arah kipas angin yang berderit di sudut ruangan.

Badai menghela napas berat, merasakan sisa-sisa nyeri yang berdenyut di kaki dan tangan kanannya. "Kalau nggak diajak gerak malah kaku tangan sama kaki gue, Jen," jawabnya singkat sembari berusaha mengumpulkan tumpuan untuk berdiri. Dia ingin segera membasuh sisa oli di tangannya.

Sajen memang tipe kawan yang minim empati fisik. Alih-alih mengulurkan tangan saat melihat Badai kepayahan meraih kruk sebagai penyangga, lelaki itu justru tetap bergeming di posisinya. Benar-benar tidak ada akhlak. Sajen justru menonton perjuangan sahabatnya itu sembari bersenandung dengan nada yang dibuat-buat dramatis.

"Bilaaaa waktu.. Tlah berakhir, teman sejati hanyalah... Amaaaal.."

"Congor lo bisa diem nggak, Jen. Nggak ngebantu nggak apa-apa, nggak ada gunanya di sini juga nggak apa-apa, tapi nggak usah bikin emosi juga kali," gertak Badai. Tanpa ragu, satu kruk di tangannya langsung melayang, terlempar tepat ke arah Sajen.

"Lah, lo sewot kenapa? Gue nyanyi, Dai. Nyanyi!" seru Sajen menghindar tipis. Dia kemudian memungut benda logam itu, lalu alih-alih menyerahkannya dengan baik, Sajen justru menendangnya kembali ke arah Badai menggunakan kaki dengan cara yang paling nggak sopan.

Tak ingin membiarkan sisa energinya terkuras habis hanya untuk meladeni kelakuan Sajen yang memang sudah di luar nalar, Badai memilih beranjak. Dengan langkah tertatih, dia menggeser posisinya, duduk agak jauh di sudut lain yang lebih tenang agar terhindar dari jangkauan teman rasa setan yang sekarang terlihat cekikikan entah karena apa.

Di tengah keheningan yang mulai terasa menekan malam, getaran di saku celananya memecah fokus. Badai merogoh ponselnya, menemukan sebuah notifikasi email di sana. Awalnya dia mengira itu hanya pesan urusan bengkel atau iklan suku cadang, namun hanya dalam beberapa detik, sorot matanya berubah tajam. Tubuhnya menegang, seolah baru saja tersengat aliran listrik statis dari mesin yang sedang Dai perbaiki.

Email itu singkat, formal, namun terasa seperti perintah mutlak. Siapa lagi kalau bukan dari bapaknya Dai.. Hiro Daichi, pengusaha kelas dunia yang berbasis di Tokyo. Pria yang secara biologis adalah ayahnya, namun secara emosional merupakan orang asing. Dan bapak kandung rasa asing itu sedang mengumumkan kepulangannya ke Indonesia.

"Ngapain si arigato itu mau ke Indo, jualan moci?" tentu saja seloroh asalnya itu hanya untuk menghilangkan degup jantungnya yang kian terpacu karena pesan dari bapaknya.

"Siapa yang jualan moci malam-malam gini?" Sajen bertanya sambil membuat kopi sasetan entah dapat dari mana. Dia juga menambahkan serbuk putih dari dalam toples yang dia percaya adalah susu bubuk.

Dai menatap sengit, matanya tertuju pada toples yang baru saja Sajen tutup. "Lo buat apa?"

"Kopi. Di alam gue sih namanya kopi, nggak tau di alam lo namanya apa." cuek banget cara Sajen ngomong. Dia mengaduk cairan yang sekarang berubah warna dari hitam jadi ke coklat susu dengan khidmat.

Dai tersenyum mengejek, "Lo mau bersihin usus lo pake serbuk poles mesin cerium oxide?"

Baru di ujung bibir, ditiup tiupin sebelum diminum sambil membayangkan nikmatnya kopi susu gratisan, seketika rasa ingin ngopi itu berubah menjadi ekspresi jijik bercampur takut dalam waktu bersamaan. "Lo naruh racun di toples, Dai? Demit aja sujud sama kelakuan lo, astagaaaaa! Baik-baik kualat lo kalau sampai gue kenapa-napa. Nggak abis fikri gue." sambil membuang cairan yang dia racik tadi ke alas Roban.

"Nyesel gue ngasih tau. Pulang sana, lo! Di sini juga nggak ada faedahnya." usir Dai tanpa mengurangi sedikit pun rasa gedeknya.

Dan dikarenakan perseteruan itu tak kunjung berakhir, maka diputuskan meninggalkan mereka dengan caci maki di ujung lidah masing-masing.

................

Baru saja tiba di apartemennya, Kilau sudah disuguhi pemandangan yang membuatnya ingin kembali pergi meninggalkan tempat tinggalnya tersebut.

"Kok papa bisa masuk ke sini?" tanya Kilau tanpa duduk lebih dahulu. Dia bahkan berlalu ke arah dapur untuk mengambil minum.

"Jangan kurang ajar, aku ini papamu! Bisa kan bicara sambil duduk?" mata Djiwa mengekor kemanapun putrinya bergerak di dalam apartemen.

"Kurang ajar? Jadi bicara sambil berdiri itu kurang ajar? Apa kabar sama papa yang masuk ke apartemen ku tanpa izin?" ejek Kilau duduk di kursi di pantry. Sangat jauh jaraknya dari sofa mahal di ruang tamu yang sekarang Djiwa duduki.

Kilau masih memegang gelas air dingin itu, merasakan embun yang mulai membasahi jemarinya. Dia bisa melihat pantulan wajahnya sendiri di permukaan air.. wajah yang lelah, namun memendam api pemberontakan yang sudah lama ingin meledak.

"Papa tidak punya waktu untuk menanggapi ocehan mu. Papa hanya ingin mengatakan, berhenti bermain-main dengan teman gembel mu itu. Pikirkan masa depan perusahaan kita. Pikirkan MahaTech!" bentak Djiwa.

"Masa depan perusahaan siapa? Pa, kita sama-sama tahu, MahaTech udah di ujung tanduk. Bahkan separuh dari keseluruhan saham MahaTech sudah diambil orang lain yang bahkan kita nggak tau siapa," ejek Kilau. Suaranya datar, namun setiap kata yang keluar terasa seperti belati yang menusuk langsung ke ego Djiwa.

Djiwa bangkit dari sofa kulit yang mahal, langkah kakinya terdengar berat dan berwibawa di atas lantai marmer. Dia berjalan menuju dapur, mempersempit jarak. Matanya menyipit, kilat amarah terpancar dari sana. Dia tak suka dengan sikap anaknya yang mulai meremehkan dirinya, apalagi di saat posisinya sebagai pemimpin sedang digoyang oleh investor misterius berinisial BAD.

"Justru karena itu, Kilau! Dengarkan Papa!" Djiwa menggebrak meja pantry, membuat gelas yang baru Kilau taruh di sana bergetar. "Ada pengusaha besar kelas dunia dari Jepang yang akan berkunjung ke Indonesia minggu depan. Relasi dan modalnya tak terbatas. Jika kita bisa mendapatkan dukungannya, MahaTech bukan hanya akan selamat, tapi kita akan menguasai pasar Asia kembali. Hanya informasi kedatangannya ke Indonesia saja di jual di pasar gelap. Papa mendapatkan informasi itu tidak gratis, jadi jangan buat papa kecewa."

Djiwa menatap putrinya dengan pandangan menuntut. "Papa ingin kamu yang menemuinya. Dekati dia. Buat dia terkesan. Papa sudah mengatur jadwal makan malam pribadi untuk kalian." lanjut Djiwa tak memperdulikan perasaan anaknya.

Kilau tertawa sinis. "Mendekati? Maksud Papa, aku harus menjadi 'umpan' untuk menyelamatkan ambisi Papa? Aku bukan aset perusahaan, Pa. Aku manusia. Papa mau jual aku, gitu?"

"Ini bukan soal umpan atau jual beli, Kilau. Ini tentang tanggung jawab mu sebagai pemimpin perusahaan!" bentak Djiwa.

"Tanggung jawab siapa? Aku tidak mau!" seru Kilau lantang, berdiri menantang ayahnya. "Cukup, Pa. Aku nggak mau papa ngatur hidupku lagi, apalagi menjadikanku sebagai negosiasi bisnis."

Plak!

Suara tamparan itu bergema di seluruh ruangan, memutus kalimat Kilau dengan paksa. Kepala Kilau terhentak ke samping. Rasa panas menjalar di pipi kirinya, diikuti oleh denyut nyeri yang menyengat. Ruangan itu seketika hening, hanya menyisakan deru napas Djiwa yang memburu.

Kilau tidak menangis. Dia perlahan memutar kepalanya kembali, menatap ayahnya dengan sorot mata yang sekarang terasa sangat dingin.

"Kamu pikir kamu punya pilihan?" Djiwa mendesis, suaranya rendah namun penuh ancaman. Dia menunjuk tepat ke wajah Kilau. "Hanya karena laki-laki bengkel itu, kamu berani membantahku?"

"Dia hanya montir biasa! Dia tidak ada harganya di dunia kita. Lelaki gembel yang tidak akan pernah sebanding denganmu, apalagi dengan keluarga kita. Kamu menghancurkan martabatmu sendiri hanya untuk laki-laki yang bau oli dan debu jalanan, Kilau!" lanjut Djiwa dipenuhi emosi.

"Dia lebih punya harga diri daripada Papa!" balas Kilau, suaranya bergetar karena emosi yang tertahan di tenggorokan.

"Tutup mulutmu!" Djiwa kembali berteriak, suaranya menggelegar memenuhi apartemen. "Ingat ini baik-baik, Kilau. Selamanya Papa tidak akan sudi memberi restu pada pemuda itu. Jika kamu nekat melanjutkan hubungan dengan montir itu, Papa akan pastikan hidupnya hancur. Papa bisa membuat bengkel kecilnya rata dengan tanah dalam semalam."

Djiwa merapikan jasnya yang sedikit berantakan, mencoba mengembalikan citra pria berkuasa yang tak tersentuh. Dia berbalik menuju pintu keluar tanpa sedikit pun rasa sesal atas bekas merah yang tercetak jelas di pipi putrinya.

"Siapkan dirimu untuk bertemu dengan pengusaha dari Jepang itu. Pelajari beberapa kosakata umum bahasa Jepang secara singkat, waktu mu tidak banyak. Jangan buat papa malu! Mengerti?!" ucap Djiwa dingin sebelum membanting pintu apartemen dengan keras.

Kilau berdiri mematung di dapur. Tubuhnya gemetar, bukan karena takut, melainkan karena amarah yang memuncak. Dia menyentuh pipinya yang berdenyut. Di balik rasa sakit itu, pikirannya justru melayang pada Badai. Lelaki yang ayahnya hina sebagai 'montir biasa', padahal lelaki itulah yang selama ini menjadi satu-satunya tempat Kilau merasa nyaman.

Mereka tidak tahu jika 'montir biasa' yang dihina Djiwa adalah sosok yang sedang memegang leher perusahaan mereka dari balik inisial nama BAD.

1
📌♏♎®️𝕯µɱՇɧeeՐՏ🍻¢ᖱ'D⃤ ̐
oleh Dai oleh babat wes mumlung ketemu yokan kokopan Sampek dower juga oleh
Dewi kunti
sok nanya lagi,dilarang jg pasti tetep ngokop
Badai pasti berKilau
Boleh gak ya ☺
Badai pasti berKilau
Miyako 🤣

Cosmos ada ?
Badai pasti berKilau
Santet aja Thor, ehh Kil, gemez lama-lama sama Dai Badai 😌
Badai pasti berKilau
Cemburu ya abang Badai 🤣🤣
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
klo udah di kamar dan ngbrol sama Kilau, auto jadi anak kucing ya Dai😅
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
ini otor keknya penasaran aja klo gak bikin pembacanya mewek dah
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
tobat makanya tobaaaatttt..
masih ae mikirin harta aja udah nyungkep krna ketamakan sendiri juga
Bulan-⁶
bapak si raja kejam
Badai pasti berKilau
Dihh manjanya ko Badai 🤣
📌♏♎®️𝕯µɱՇɧeeՐՏ🍻¢ᖱ'D⃤ ̐
sabar Xylas resiko ngadepin arek bucin gak ada obatnya emang
📌♏♎®️𝕯µɱՇɧeeՐՏ🍻¢ᖱ'D⃤ ̐
bapak durjanahhh🤣🤣🤣
anaknya suruh kerja dia mepet emaknya 🤣🤣
Dewi kunti
haaaiiiii ky judul film🤭🤭🤭🤭
Bulan-⁶
paham pak djiwa????!!!!!
Bulan-⁶
gak usah nantangin kamu dai bisa2 kelabakan sendiri nantinya
Bulan-⁶
kopi dangdut🤣🤣🤣
Dewi kunti
hai hai hai main kokop aj, bodyguard Kon nunggoni wong kokopan
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
udah cukup oe..
tar takut ada yg bangkit pulak🤣🤣🤣
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
heleh, entut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!