NovelToon NovelToon
Jejak Cahaya Di Bumi Pertwi

Jejak Cahaya Di Bumi Pertwi

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Jesa Cristian

Langit Jakarta sore itu tidak berwarna biru, melainkan abu-abu pekat, tertekan oleh lapisan polusi yang bercampur dengan awan mendung pembawa hujan. Di lantai empat puluh gedung perkantoran kaca di kawasan Sudirman, AC berdengung halus, menciptakan suhu dingin yang artifisial, kontras dengan panasnya kemacetan yang terlihat jelas dari balik jendela floor-to-ceiling.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jesa Cristian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Jejak Lumpur di Green Valley

Matahari pagi di Bogor bersinar terik, menembus celah-celah awan yang masih tersisa setelah hujan semalam. Udara di kawasan Puncak terasa lebih segar dibandingkan Jakarta, namun bagi Arya Wiguna, suasana di lokasi proyek Green Valley hari ini terasa mencekam.

Mobil SUV hitam milik Arya melaju pelan melewati gerbang proyek yang setengah jadi. Di sana, ratusan pekerja konstruksi sedang beraktivitas. Suara mesin ekskavator, palu, dan teriakan mandor bersahut-sahutan menciptakan simfoni kerja yang keras. Namun, ada sesuatu yang ganjil. Wajah-wajah para pekerja tampak murung, bahu mereka turun, dan semangat yang biasanya menyala pagi hari seolah padam ditelan kabar buruk.

Arya meminta Pak Ujang menghentikan mobil tepat di depan posko lapangan. Ia turun, tidak menunggu dibukakan pintu. Kemeja putihnya yang rapi kini kontras dengan latar belakang tanah merah dan debu semen. Ia langsung disambut oleh Pak Darman, kepala mandor yang sudah bekerja bersama ayahnya sejak puluhan tahun lalu. Wajah Pak Darman yang biasanya ceria kini kusut, penuh kerutan kekhawatiran.

"Mas Arya..." suara Pak Darman parau, matanya berkaca-kaca. "Benarkah kabar itu, Mas? Katanya... katanya proyek ini akan dijual ke developer lain? Katanya kita semua akan diberhentikan minggu depan karena ganti manajemen?"

Beberapa pekerja di sekitar situ berhenti bekerja, menatap Arya dengan tatapan penuh harap sekaligus takut. Mereka adalah tulang punggung keluarga; kehilangan pekerjaan di sini berarti kehilangan segalanya.

Arya menghela napas, lalu tersenyum menenangkan. Ia melangkah mendekati Pak Darman dan menepuk bahu pria tua itu kuat-kuat. "Assalamualaikum, Pak Darman. Waalaikumsalam. Siapa yang bilang proyek ini akan dijual? Siapa yang bilang kalian akan diberhentikan?"

"Tadi pagi Pak Gunawan datang sebentar, Mas," jawab Pak Darman gemetar. "Beliau bawa surat. Katanya ada perubahan besar. Skema gaji akan dipotong, kontrak harian diubah jadi borongan tanpa jaminan, dan kalau kami tidak setuju, silakan cari kerja lain. Beliau bilang, 'Zaman sudah berubah, idealisme tidak bisa membayar beras'."

Darah Arya mendidih mendengar itu. Jadi, setelah kalah di ruang rapat tadi pagi, Pak Gunawan memilih untuk melampiaskan frustrasinya dengan cara paling kejam: menekan rakyat kecil. Ini bukan lagi soal bisnis; ini soal memanipulasi ketakutan orang-orang tak berdosa.

"Pak Darman, dengarkan saya baik-baik," ucap Arya lantang agar terdengar oleh para pekerja di sekitarnya. "Tidak ada pemutusan hubungan kerja. Tidak ada pemotongan gaji. Dan proyek ini tetap milik kita, milik Wiguna Cipta Nusantara, dengan prinsip syariah yang kita junjung tinggi. Surat yang dibawa Pak Gunawan pagi itu tidak berlaku! Saya, sebagai Direktur Utama, membatalkan instruksi tersebut detik ini juga."

Sorak sorai kecil terdengar dari kerumunan pekerja. Wajah-wajah yang tadi pucat mulai berwarna kembali.

"Tapi Mas," sela Pak Darman ragu. "Kalau nanti Pak Gunawan marah? Kalau beliau menahan dana operasional untuk bayar upah minggu ini?"

Arya menatap tajam ke arah gudang material di ujung lahan. "Urusan dana biar saya yang tanggung. Hak pekerja adalah amanah yang harus didahulukan sebelum keuntungan pemilik. Pak Darman, kumpulkan semua mandor dan perwakilan pekerja di ruang briefing dalam 15 menit. Saya ingin bicara langsung. Dan tolong, siapkan teh hangat. Kita butuh diskusi kepala dingin."

Sementara Pak Darman bergegas mengumpulkan orang, Arya berjalan keliling lokasi proyek. Ia tidak hanya melihat dari jauh; ia menyentuh dinding-dinding yang belum selesai, memeriksa kualitas bata, dan menyapa pekerja satu per satu. Ia bertanya tentang kondisi keluarga mereka, tentang kesulitan hidup di tengah kenaikan harga bahan pokok. Setiap jawaban yang ia dengar semakin menguatkan keyakinannya: bisnis bukan sekadar angka di neraca, tapi tentang menghidupkan harapan manusia.

Di sudut lahan yang agak terpencil, Arya melihat sekelompok pekerja sedang istirahat di bawah pohon rindang. Di antara mereka, ada seorang pemuda berusia sekitar 20 tahun yang sedang membaca Al-Qur'an dari mushaf saku yang sudah lusuh. Suaranya lirih namun merdu, melantunkan ayat-ayat tentang kesabaran.

Arya mendekat dan duduk di samping pemuda itu tanpa basa-basi. Pemuda itu terkejut, segera menutup mushafnya dan hendak berdiri. "Maaf, Pak Bos. Saya nggak tahu Bapak datang."

"Duduk, Dek. Jangan panggil saya Pak Bos. Panggil saja Mas Arya," ucap Arya ramah. "Siapa namamu? Sedang baca apa tadi?"

"Saya Irfan, Mas. Tadi baca Surah Al-Insyirah. Soalnya hati lagi sempit, Mas. Dengar kabar mau di-PHK tadi, jadi cuma bisa ngadu sama Allah," jawab Irfan polos.

Arya tersenyum sedih. "Allah mendengar keluhanmu, Fan. Dan kamu tahu? Justru karena kamu mengadu pada-Nya di saat sulit, pertolongan-Nya sudah dekat. Hari ini, tidak ada yang akan di-PHK. Saya jamin."

Mata Irfan berbinar. "Beneran, Mas? Alhamdulillah... Makasih ya, Mas. Saya punya adik tiga yang masih sekolah. Kalau saya nggak kerja, mereka bisa putus sekolah."

"Itulah kenapa saya berjuang mati-matian pagi ini," kata Arya sambil menatap langit biru Bogor. "Supaya adik-adikmu bisa tetap sekolah, supaya bapak-bapak seperti Pak Darman bisa tidur nyenyak, dan supaya kita semua bisa makan dari rezeki yang halal dan berkah. Irfan, kamu hafiz?"

"Belum sepenuhnya, Mas. Baru 5 juz. Dulu pernah nyantri di Jombang, tapi harus pulang karena biaya. Sekarang kerja sambil ngaji malam di masjid dekat kos," cerita Irfan antusias.

Arya tertegun. Jombang. Nama itu kembali mengingatkan pada masa lalunya, pada Kyai Abdullah, dan pada janji yang belum ia tepati untuk kembali membangun pendidikan di sana. Ide brilian tiba-tiba muncul di benaknya.

"Irfan," panggil Arya. "Kalau saya beri kesempatan kamu untuk melanjutkan hafalan sambil kerja di sini, dengan fasilitas asrama gratis dan beasiswa sampai tamat 30 juz, maukah kamu?"

Irfan ternganga, mulutnya terbuka lebar. "Mas... serius? Tapi... saya cuma tukang angkut semen, Mas."

"Di mata Allah dan akal sehat, tidak ada pekerjaan yang hina jika dilakukan dengan niat ibadah. Kamu pekerja keras yang menjaga kitab suci di tengah debu konstruksi. Itu kombinasi yang langka dan mulia," tegas Arya. "Mulai besok, kamu pindah ke asrama karyawan baru yang akan saya bangun di sisi timur proyek ini. Program 'Santri Konstruktur' akan kita launching. Saya ingin bukti bahwa orang bangunan juga bisa jadi penghafal Qur'an, dan penghafal Qur'an bisa jadi tukang bangunan yang jujur."

Air mata mengalir di pipi Irfan. Ia mencium tangan Arya erat-erat. "Saya mau, Mas! Saya bakal kerja sekuat tenaga buat balasin kebaikan Mas Arya!"

Tak lama kemudian, ruang briefing penuh sesak. Arya berdiri di depan papan tulis putih yang berisi denah proyek. Di hadapannya, puluhan mandor dan perwakilan pekerja duduk mendengarkan dengan seksama.

"Bapak-bapak, Saudara-saudara," mulai Arya, suaranya berwibawa namun hangat. "Tadi pagi ada isu bahwa perusahaan akan berubah haluan dan mengorbankan hak-hak kalian. Saya tegaskan di sini, di hadapan Allah dan saksi-saksi yang hadir: Wiguna Cipta Nusantara tidak akan pernah meninggalkan prinsip kemanusiaan dan keislaman. Keuntungan boleh naik turun, tapi martabat pekerja adalah harga mati."

Arya menjelaskan rencana baru: penundaan sementara target penyelesaian gedung komersial untuk fokus menyelesaikan perumahan subsidi bagi para pekerja terlebih dahulu. Ia juga mengumumkan pembentukan koperasi syariah internal yang akan dikelola oleh perwakilan pekerja, dengan modal awal dari kas pribadi Arya sendiri.

"Kita akan ubah cara kerja," lanjut Arya. "Tidak ada lagi sistem borongan yang menindas. Kita pakai sistem bagi hasil yang adil. Jika proyek untung, kalian dapat bonus. Jika ada risiko, kita tanggung bersama dengan transparan. Tapi ingat satu syarat: kejujuran. Jangan ada korupsi material, jangan ada curang dalam takaran. Karena keberkahan hanya turun pada usaha yang bersih."

Semua orang mengangguk setuju. Semangat baru membakar ruangan itu. Rasa takut telah berganti menjadi rasa memiliki. Mereka sadar, CEO mereka bukan sekadar bos yang duduk di menara kaca, tapi pemimpin yang turun ke lumpur bersama mereka.

Setelah rapat usai, Arya keluar ruangan dengan perasaan lega. Namun, ponselnya bergetar lagi. Pesan singkat dari Hendra: "Mas, berita sudah viral. Media memberitakan konflik internal kita dengan judul 'CEO Muda Selamatkan Prinsip Syariah dari Cengkeraman Komisaris Serakah'. Publik mendukung Mas, tapi saham kita masih fluktuatif. Pak Gunawan sedang memberikan konferensi pers tandingan di hotel bintang lima dekat sini. Dia mengklaim Mas Arya tidak kompeten dan emosional."

Arya membaca pesan itu sambil berjalan menuju mobil. Angin sore mulai berhembus, membawa aroma tanah basah dan bunga kamboja dari pohon di pinggir jalan. Ia tidak marah. Justru ia merasa bersyukur. Konflik ini membuka mata banyak orang.

"Pak Ujang," kata Arya saat masuk mobil. "Kita tidak perlu buru-buru balik ke Jakarta. Antar saya ke pondok pesantren kecil di kaki gunung sana. Saya ingin silaturahmi dengan Kyai setempat sebelum maghrib. Dan tolong, belikan kotak nasi sebanyak 200 bungkus. Kita bagikan ke semua pekerja sore ini sebagai tanda syukur kita masih diberi kepercayaan untuk mengelola amanah ini."

"Siap, Mas," jawab Pak Ujang sambil tersenyum bangga.

Saat mobil melaju meninggalkan lokasi proyek, Arya menatap spion. Para pekerja masih berdiri di gerbang, melambaikan tangan dengan antusias. Di antara mereka, terlihat Irfan yang tersenyum lebar sambil memegang mushafnya.

Arya menyadari satu hal penting: perang melawan Pak Gunawan dan kekuatan riba bukanlah perang yang bisa dimenangkan hanya dengan argumen hukum atau rapat tertutup. Perang ini dimenangkan dengan memenangkan hati manusia. Dengan membuktikan bahwa Islam itu rahmat, bahwa bisnis Islami itu memihak pada yang lemah, dan bahwa akal sehat selalu sejalan dengan wahyu.

Langit Bogor mulai berubah warna menjadi jingga keemasan. Azan Ashar berkumandang dari menara masjid terdekat, suaranya mengalun indah memecah keheningan sore. Arya memejamkan mata sejenak, mengucapkan syukur dalam hati.

Jalan masih panjang. Pak Gunawan pasti akan meluncurkan serangan berikutnya, mungkin lebih licik, mungkin lebih berbahaya. Tapi Arya Wiguna kini memiliki pasukan yang bukan dibayar dengan uang semata, melainkan digerakkan oleh keyakinan dan cinta. Dan itu adalah kekuatan yang tidak bisa dibeli oleh triliunan rupiah sekalipun.

Mobil berbelok memasuki jalan setapak menuju pesantren, meninggalkan jejak ban di atas tanah merah yang lembap. Jejak itu mungkin akan hilang tertutup hujan nanti malam, tapi jejak kebaikan yang ditanamkan Arya hari ini, ia berharap, akan tumbuh subur menjadi pohon yang rindang di masa depan

[BERSAMBUNG]

1
Uking
semangat thor😍
Jesa Cristian: iya makasih bang
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!