NovelToon NovelToon
SANDIWARA ISTRI YANG TERBUANG

SANDIWARA ISTRI YANG TERBUANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Sabar itu ada batasnya, Laras. Dan batasmu adalah kematianmu sendiri," bisik Dimas tepat di telingaku, saat tangannya dengan lembut mengusap kepalaku yang tertutup hijab.
Di depan semua orang, Dimas adalah suami saleh dan pengacara terpandang yang setia menjaga istrinya yang lumpuh. Namun, di balik pintu kamar, ia adalah iblis yang meracuniku setiap hari. Ia menghancurkan tubuhku demi membalas dendam masa lalu dan menguasai harta warisan orang tuaku untuk wanita lain.
Aku terjebak dalam tubuh yang tak bisa bergerak. Namun, di atas kursi roda ini, aku bersujud dalam hati. Aku berhenti meminum racun itu dan mulai berpura-pura lumpuh. Di saat Dimas merasa telah menang, ia tidak tahu bahwa aku mengawasi setiap langkah busuknya.
Aku memang istri yang kau buang, Dimas. Tapi ingatlah, doa orang yang terzalimi tidak akan pernah terhalang oleh langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu di Tengah Kesunyian

​Jantungku masih bertalu hebat di balik tulang rusukku. Pesan singkat itu—tentang Apartemen Cempaka dan kamar 1201—terus berputar di kepalaku seperti kaset rusak. Aku menatap kakiku yang masih terasa kaku. Efek obat semalam belum sepenuhnya hilang, namun kemarahan yang membakar dadaku memberiku kekuatan yang tak masuk akal.

​Aku harus tahu siapa pengirim pesan itu. Namun, lebih dari itu, aku harus tahu apa yang dilakukan suamiku di sana.

​"Nyonya? Nyonya Laras sudah bangun?"

​Suara ketukan di pintu kamar membuatku tersentak. Itu Bi Ijah, asisten rumah tangga yang sudah ikut keluargaku sejak aku masih remaja. Aku segera menyembunyikan ponsel di balik bantal dan mengatur napas.

​"Iya, Bi. Masuk saja," jawabku sesekali meringis, berakting seolah tubuhku sangat kesakitan.

​Bi Ijah masuk membawa baki berisi bubur dan segelas air putih. Wajah tuanya tampak kuyu, matanya berkaca-kaca menatapku yang terbaring tak berdaya. "Ya Allah, Nyonya... kenapa bisa begini? Semalam Nyonya masih sehat walafiat di pelaminan."

​Aku tersenyum tipis, meraih tangan Bi Ijah yang kasar. "Mungkin Laras kurang istirahat, Bi. Mas Dimas bilang ini hanya masalah saraf."

​Bi Ijah terdiam sejenak, ia menoleh ke arah pintu yang tertutup, lalu berbisik pelan. "Nyonya... maaf kalau Ijah lancang. Tapi semalam, saat Tuan Dimas pamit pergi karena Ibunya kecelakaan, Ijah melihat Tuan tidak pergi ke arah rumah sakit. Mobilnya justru berbelok ke arah pusat kota, ke arah perumahan elit itu."

​Darahku berdesir. Jadi, bukan hanya aku yang merasa ada yang aneh. Bahkan Bi Ijah pun menyadarinya.

​"Bi... tolong Laras," bisikku sambil menggenggam tangannya erat. "Jangan beri tahu Mas Dimas kalau Laras sudah bisa menggerakkan jemari tangan. Biarkan dia tahu Laras benar-benar lumpuh. Dan satu lagi, tolong ambilkan sisa vitamin yang ada di laci meja kerja Mas Dimas di bawah secara diam-diam. Laras ingin tahu apa itu sebenarnya."

​Bi Ijah tampak ragu, namun kesetiaannya pada almarhum Ibuku mengalahkan rasa takutnya pada Dimas. Ia mengangguk mantap sebelum keluar dari kamar.

​Tak lama setelah Bi Ijah pergi, suara mobil memasuki halaman rumah. Hatiku menciut. Itu Dimas. Aku segera memejamkan mata, mengatur posisi tubuhku agar terlihat seperti orang yang sedang tidur lelap karena pengaruh obat.

​Pintu kamar terbuka. Aroma parfum maskulin yang bercampur dengan aroma parfum wanita yang sangat tajam—parfum Maya—menusuk penciumanku. Aku mual, rasanya ingin sekali aku berteriak dan mencakar wajahnya, namun aku harus bertahan. Ini adalah sandiwaraku.

​"Sayang? Kamu masih tidur?"

​Dimas mendekat. Aku merasakan hembusan napasnya di pipiku. Ia tidak mencium keningku seperti biasanya. Aku mendengar suara gemerisik kertas.

​"Dokumen ini sudah beres, Laras," gumamnya pelan, seolah bicara pada dirinya sendiri. "Hanya butuh beberapa tanda tangan lagi saat kamu 'setengah sadar' nanti, maka rumah ini resmi berpindah tangan. Kamu tidak akan butuh rumah sebesar ini jika hanya bisa berbaring di tempat tidur, bukan?"

​Suaranya begitu dingin, begitu kejam. Tidak ada sedikit pun rasa kasih sayang yang tersisa. Baginya, aku hanyalah brankas uang yang harus dikosongkan.

​Tiba-tiba, ponsel Dimas bergetar. Ia mengangkatnya tepat di samping telingaku.

​"Iya, Maya. Aku sudah di rumah," ucap Dimas dengan nada suara yang kembali melunak. "Tenang saja, dia masih tidur. Obat itu bekerja dengan sangat baik. Besok kita akan mulai mengosongkan beberapa rekeningnya. Aku akan menemuimu malam nanti, kita rayakan keberhasilan kita."

​Dimas mematikan telepon, lalu mengelus pipiku dengan kasar sebelum melangkah keluar kamar.

​Begitu suara langkah kakinya menghilang, aku membuka mata. Tatapanku kosong menatap langit-langit kamar. Air mataku sudah mengering, digantikan oleh tekad yang sekeras baja.

​Dia pikir aku adalah boneka yang bisa ia kendalikan. Dia pikir dia adalah sutradara tunggal dalam drama ini. Dia salah besar.

​Aku meraih laptop yang sengaja kusembunyikan di sela tempat tidur. Jemariku yang masih terasa kaku mulai menari di atas papan ketik. Aku mulai menyusun rencana. Jika Dimas ingin bermain sandiwara, maka aku akan memberinya pertunjukan yang paling megah.

​Aku akan berpura-pura menjadi istri yang lumpuh, buta, dan tuli terhadap pengkhianatannya. Aku akan membiarkannya merasa menang, membiarkannya membawa Maya ke rumah ini, hingga saat yang tepat tiba—saat di mana aku akan menarik semua karpet kemewahan di bawah kakinya dan membiarkannya jatuh ke jurang paling dalam.

​"Selamat datang di panggung sandiwaraku, Mas Dimas," bisikku tajam.

1
Anonim
PADAHAL KAU BISA MENJALIN KONTRAK DENGAN IBLIS DIAVLO LARAS
kozci
PENASARAN BANGET
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!