Sinopsis – Aku Diculik Mafia Tampan
Alya, gadis sederhana yang bekerja keras demi menghidupi ibunya, tak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena satu kecelakaan kecil. Saat menabrak mobil mewah di tengah hujan, ia justru diculik oleh pemilik mobil itu—Kael Lorenzo, pria tampan, kaya raya, dan pemimpin mafia paling ditakuti di kota.
Dibawa ke mansion megah bak penjara emas, Alya dipaksa tinggal bersama pria berbahaya yang dingin dan kejam itu. Kael seharusnya menyingkirkannya, tetapi ada sesuatu pada Alya yang membuatnya tak mampu melepaskan.
Semakin Alya melawan, semakin Kael terobsesi.
Ia melarang Alya pergi.
Ia menghancurkan siapa pun yang mendekat.
Ia rela menumpahkan darah demi menjaga gadis itu tetap di sisinya.
Namun saat rahasia masa lalu Kael mulai terbongkar dan musuh-musuh mafia mengincar Alya, keduanya terjebak dalam permainan cinta yang berbahaya.
Bisakah Alya kabur dari pria yang menculiknya…
atau justru jatuh cinta pada mafia tampan yang menganggapnya milikny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Kaca Berdarah
Bab 34 – Rumah Kaca Berdarah
Hujan turun tipis saat mobil hitam Kael melaju membelah jalanan sepi di belakang mansion.
Alya duduk di kursi belakang bersandar di samping Kael. Tangannya masih terasa dingin. Serena memaksa ikut duduk di depan bersama sopir. Katanya sih untuk “dukungan emosional”, tapi dari caranya mengemil camilan, sepertinya dia cuma ingin menonton drama langsung dari barisan depan.
Riko yang menyetir melirik kaca spion.
“Rumah kaca itu letaknya di area kebun tua, Nona. Sudah lama ditutup dan ditinggalkan.”
“Kenapa sampai dibiarkan begitu saja?” tanya Alya penasaran.
Serena menjawab santai tanpa menoleh,
“Karena pernah terbakar habis.”
Alya menoleh kaget.
“Kapan?”
Serena menatap kaca depan yang basah oleh air hujan.
“Malam yang sama saat ibumu kabur membawa kau pergi dari rumah ini.”
Suasana di dalam mobil langsung hening total.
Alya menoleh ke arah pria di sampingnya.
“Kamu tahu soal ini?”
Kael tidak memalingkan wajah, tatapannya lurus ke depan.
“Sebagian.”
“Dan kamu nggak bilang apa-apa sama aku?”
“Kau kan lagi hamil, lagi marah-marah sama aku, dan emosimu lagi naik turun. Aku pikir lebih baik nanti saja kubilang satu per satu.”
Alya mendecakkan lidah kesal.
“Jawabanmu selalu ajaib dan menyebalkan.”
“Tapi efektif kan?” jawab Kael santai.
Mobil akhirnya berhenti di depan gerbang besi tua yang sudah berkarat dan berlumut.
Di baliknya berdiri sebuah bangunan besar berbahan kaca yang tampak angker. Sebagian kacanya retak, tanaman liar tumbuh tak teratur menutupi dinding, dan kabut tipis menyelimuti halaman.
Tempat itu terlihat seperti lokasi pembunuhan yang estetik.
“Aku benci tempat ini,” gumam Alya.
“Aku juga,” jawab Kael pelan.
“Bohong. Kamu kan suka tempat-tempat menyeramkan begini.”
“Benar juga. Tapi kali ini beda.”
Kael turun lebih dulu, lalu berkeliling membukakan pintu untuk Alya. Ia mengulurkan tangannya.
Alya menatap tangan besar itu beberapa detik, akhirnya menggenggamnya erat.
Kael tidak berkata apa-apa, tapi ibu jarinya mengusap punggung tangan Alya pelan sekali.
Sial. Di situasi seberbahaya ini pun, pria itu masih bisa membuat jantungnya berdebar kencang.
“Riko, amankan area sekeliling!” perintah Kael.
“Siap, Tuan!”
“Serena, kau jaga bagian belakang.”
Serena mendesah kesal.
“Aku selalu saja dapat kerjaan kasak-kusuk begini.”
“Kau masih bisa bernapas sampai sekarang itu sudah syukur.”
“Romantis sekali ya cara bicaramu.”
Mereka berjalan mendekati pintu utama bangunan kaca itu.
Pintu kayu tua itu terbuka sendiri perlahan tertiup angin malam.
KREEEKKK…
Suaranya berdecit mengerikan.
Alya tanpa sadar merapatkan tubuhnya ke samping Kael.
“Takut?” tanya Kael pelan.
“Enggak!”
“Tapi tanganmu mencengkeram jaketku kuat sekali.”
Alya langsung melepaskan pegangannya cepat-cepat.
“Itu refleks doang!”
Kael malah tersenyum tipis, lalu meraih kembali tangan gadis itu dan menggenggamnya.
“Pegang ini saja. Jangan lepas.”
“Kenapa sih?”
“Supaya aku yakin kau tetap di sisiku dan nggak kemana-mana.”
Jantung Alya berdetak kacau lagi.
“Manipulatif sekali kamu.”
“Benar. Aku memang begitu.”
Di dalam rumah kaca itu, udaranya terasa lembap dan sangat dingin.
Tanaman merambat sudah menutupi sebagian besar dinding kaca yang pecah. Cahaya bulan hanya tembus samar-samar masuk.
Di tengah ruangan, ada sebuah kursi kayu tua.
Dan di sana… Mira duduk terikat kuat di kursi itu.
“IBUUUU!”
Alya mau langsung berlari, tapi tangan Kael dengan cepat menarik pinggangnya menahan.
“Jangan dulu! Hati-hati!”
Mira menggeleng-geleng panik melihat mereka.
“JANGAN DEKAT! ADA JEBAKAN!”
Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan pelan dari arah balkon di lantai dua.
Tok.
Tok.
Tok.
Seorang wanita berjalan turun dari tangga spiral.
Memakai gaun hitam elegan, rambut panjang terurai, wajahnya cantik… tapi matanya sedingin es dan tajam seperti ular.
“Elena,” gumam Serena dari belakang dengan nada rendah.
Wanita itu tersenyum mengejek.
“Kael. Kau tumbuh dewasa dan sangat mirip sekali dengan ayahmu.”
Kael berdiri tegak tepat di depan tubuh Alya melindunginya.
“Sayangnya aku tidak mewarisi selera buruk dan kebusukan dia.”
Elena tertawa kecil.
“Mulutmu masih tajam seperti dulu.”
Matanya lalu beralih menatap Alya dari ujung kaki sampai ke kepala.
“Dan ini dia bayi kecil yang dulu berhasil lolos dari tanganku.”
Bulu kuduk Alya meremang seluruh badan.
“Jangan panggil aku bayi kecil.”
“ELENA!” bentak Mira dengan napas tersengal. “Lepaskan putriku! Jangan sentuh dia!”
Elena menatap Mira dengan wajah datar tanpa rasa bersalah.
“Kau mencuri segala sesuatu yang seharusnya menjadi milikku.”
Alya mengernyit bingung.
“Milikmu? Apa maksudmu?”
Elena turun satu langkah lagi, suaranya penuh dendam.
“Kalau kau dan ibumu tidak kabur malam itu… aku yang akan menjadi Nyonya Lorenzo yang sesungguhnya! Aku yang akan memegang segalanya!”
Serena berbisik pelan ke arah Alya,
“Wanita ini delusional dan gila.”
Elena mendengarnya dan menatap tajam ke arah Serena.
“Dan kau tetap saja menyebalkan seperti dulu, Serena.”
“Aku memang berbakat,” jawab Serena santai.
Kael akhirnya angkat bicara dengan nada dingin yang mematikan.
“Lepaskan Mira sekarang.”
Elena menggeleng pelan.
“Tidak. Tidak sebelum aku mendapatkan penggantinya.”
Ia menunjuk jari telunjuknya tepat ke wajah Alya.
“Dia. Aku mau dia.”
Kael menjawab tanpa ragu sepersekian detik pun.
“TIDAK AKAN PERNAH.”
“Kalau begitu… ibunya yang mati.”
TRAK!
Elena mengangkat pistol yang sembunyi di balik gaunnya dan langsung menempelkan moncongnya tepat ke pelipis Mira.
“JANGAAAAAN!” jerit Alya histeris.
Kael memegang lengan Alya erat sekali menahannya agar tidak nekat maju.
“Diam dan tenang Alya.”
“AKU GAK BISA DIAM! ITU IBUKU!”
“KAU HARUS BISA! DENGARKAN AKU!”
Elena tersenyum puas melihat kepanikan mereka.
“Aku suka gadis ini. Sama nekatnya dan sama emosionalnya seperti ibunya dulu.”
Mira menangis terharu.
“Alya… jangan dengarkan dia… dia gila…”
Alya menatap Kael dengan mata berkaca-kaca.
“Lepaskan aku Kael. Aku harus ke sana.”
“Tidak.”
“KAEL!”
“TIDAK BOLEH!”
“DIA IBUKUUUU!”
Kael menatap lurus ke mata gadis itu, suaranya tegas namun bergetar.
“Dan kau… adalah keluargaku. Dan anak di perutmu juga keluargaku. Aku tidak boleh kehilangan satu pun dari kalian.”
Kalimat itu membuat Alya membeku terpaku.
Kael lalu menatap Elena lagi.
“Kalau mau seseorang… ambil aku. Tukar dengan mereka.”
Elena tertawa mengejek.
“Aku tidak butuh anak kecil yang arogan dan menyebalkan sepertimu.”
Dari samping, Serena batuk kecil menahan tawa.
“Deskripsi yang sangat akurat sih sebenernya.”
Kael mengabaikannya.
Elena mulai menekan pelatuk pistolnya sedikit.
“Aku hitung sampai tiga. Alya maju ke sini… atau Mira mati.”
Alya menarik napas panjang patah-patah. Dadanya sesak sekali.
Kael tiba-tiba membisikkan sesuatu sangat pelan tepat di telinga gadis itu.
“Percaya padaku.”
“Kenapa aku harus percaya kamu saat situasi begini?”
“Karena aku sudah menempatkan penembak jitu di atap sejak tadi.”
Alya menoleh cepat kaget.
“Kapan?!”
“Pas kita di perjalanan tadi. Aku selalu siap siaga.”
“Aku benci kamu suka bikin rencana rahasia tanpa bilang siapa-siapa!”
“Daftar kelebihanku memang panjang sekali.”
Elena mulai menghitung dengan suara lambat dan menyeramkan.
“Satu…”
Kael menarik tubuh Alya ke belakang punggungnya melindungi penuh.
“Dua…”
Alya menggenggam ujung jaket Kael erat sekali, jantungnya mau copot.
“Tig—”
DORRR!!!
Suara tembakan meledak keras!
TAPI… bukan dari pistol Elena.
Peluru itu menembus tepat ke arah lampu utama besar yang menggantung di atas kepala Elena!
BRUAKKK!!!
Lampu itu hancur berkeping-keping, kaca berjatuhan berserakan.
Semua orang menjerit kaget.
Ruangan langsung gelap gulita total!
GELAP TOTAL.
Kael bergerak secepat kilat dalam kegelapan itu. Ia mendorong tubuh Alya jatuh ke lantai dan menimpakan tubuhnya di atas gadis itu jadi perisai hidup.
Tembakan kedua terdengar membalas.
DOR!
Serena berteriak dari sudut ruangan,
“AKU BENCI DRAMA YANG HARUS MATI LAMPU GINI!”
Suara keributan pecah di mana-mana. Suara benturan besi, langkah kaki berlari, dan teriakan.
Alya hanya bisa memejamkan mata, merasakan tubuh hangat Kael yang melindunginya dari hujan serpihan kaca.
Tiba-tiba terdengar suara Mira menjerit.
“AALYAAAAA WASPADA!”
BYARR!
Lampu darurat berwarna merah menyala mendadak, menerangi ruangan dengan cahaya yang menyeramkan.
Alya mengangkat kepalanya perlahan.
Mira sudah bebas! Riko sedang sibuk memotong tali di tangannya. Serena malah sedang memukul seseorang menggunakan pot bunga besar dengan ganas.
Dan di depannya…
Kael berdiri mencengkeram pergelangan tangan Elena yang memegang pistol dengan sangat kuat hingga wanita itu meringis kesakitan.
TAPI…
Yang membuat darah Alya langsung membeku dan berhenti mengalir—
Di tangan kiri Elena, tergenggam sebuah pisau belati yang tajam.
Dan ujung pisau itu… sudah menempel tepat di perut Alya.
Ternyata saat gelap tadi, Elena sudah menyelinap dan berpindah tempat tepat di samping gadis itu!
Wanita itu tersenyum lebar dengan tatapan gila.
“Satu langkah lagi kau maju, Kael…”
Ia menekan ujung pisau itu sedikit lebih dalam hingga menembus kain baju.
“…aku akan bunuh pewaris lo ini SEKARANG JUGA!”