Dicap sebagai janda rendahan, dipermainkan oleh pria tak bertanggung jawab, dan dicemooh oleh keluarga sendiri karena kemiskinannya, Arumi memiliki segalanya untuk hancur. Namun, Arumi memilih untuk bangkit dari abu.
Ia mematikan hatinya, menolak bantuan siapa pun, dan bekerja dalam diam hingga namanya disegani.
Saat ia kembali, ia tidak datang untuk memohon. Ia datang untuk menagih setiap air mata yang pernah ia jatuhkan.
Karena pembalasan yang paling manis adalah kesuksesan yang membuat musuhmu tidak mampu lagi menatap matamu.
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Arumi.
By - Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 4
Hari ini, menjadi babak baru yang menyesatkan bagi Arumi. Setelah memutus hubungan dengan semua pekerjaannya yang menghina, Arumi kini bertahan hidup dengan menjual jasa menjahit pakaian dari pintu ke pintu di lingkungan yang lebih jauh dari jangkauan Mbak Sari dan teman-temannya.
Siang itu, hujan mengguyur deras. Arumi baru saja menyelesaikan permak celana panjang seorang pelanggan. Saat ia hendak melangkah pulang dengan payung yang sudah bocor, sebuah sedan hitam mewah berhenti di sampingnya.
Kaca jendela turun, menampakkan seorang pria berusia sekitar tiga puluhan dengan wajah ramah dan setelan jas rapi. Itu adalah Reza.
"Hujan deras sekali, Mbak. Mau saya antar sampai depan? Kasihan kalau basah kuyup," tawar Reza lembut.
Arumi, yang sudah terlalu sering diperlakukan kasar oleh pria, baik yang berniat jahat maupun yang hanya ingin memanfaatkannya, refleks mundur satu langkah. "Terima kasih, Pak. Tapi saya bisa jalan sendiri."
Reza tidak tersinggung. Ia justru tersenyum, senyum yang bagi Arumi terasa sangat asing karena tidak ada nada mengejek di sana.
"Saya bukan orang jahat, Mbak. Saya lihat Mbak tadi kehujanan saat mengantar jahitan ke rumah Bu RT. Saya sering lewat sini. Ayo, saya antar. Ini demi kesehatan Mbak."
Keraguan sempat menyelimuti pikiran Arumi. Namun, udara dingin mulai menusuk tulang, dan teringat Kirana yang menunggunya di rumah, Arumi akhirnya mengangguk pelan. Ia masuk ke dalam mobil. Interior mobil itu wangi kopi dan parfum pria yang mahal.
"Nama saya Reza," ucap pria itu sambil menjalankan mobilnya pelan. "Saya pengusaha distributor bahan tekstil. Mbak sendiri?"
"Arumi," jawabnya singkat.
Sepanjang jalan, Reza tidak bertanya hal-hal yang menyudutkan. Ia tidak bertanya soal status jandanya, tidak menyinggung kemiskinannya, dan tidak meremehkan pekerjaannya.
Ia justru bertanya tentang teknik menjahit yang Arumi gunakan dan memuji ketelitiannya. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Arumi merasa dianggap sebagai manusia yang memiliki nilai.
"Mbak Arumi punya bakat luar biasa," ujar Reza saat mereka sampai di depan kontrakan Arumi yang reyot. "Pakaian yang saya pakai ini kualitas jahitannya tidak jauh berbeda dengan ketelitian Mbak."
Arumi tersenyum tipis, sebuah senyum yang sudah lama tidak ia tunjukkan. "Ini hanya keterampilan kecil, Pak Reza."
"Tidak ada yang kecil kalau dilakukan dengan hati," balas Reza mantap. Sebelum Arumi turun, Reza memberikan kartu nama. "Kalau Mbak butuh bantuan, atau sekadar ingin bicara tentang desain pakaian, jangan sungkan hubungi saya. Saya punya banyak kain sisa di gudang yang mungkin bisa Mbak pakai untuk menambah modal."
Arumi turun dari mobil itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Di dalam kontrakan, Kirana menyambutnya dengan pelukan hangat. Arumi menatap kartu nama di tangannya.
'Reza, Direktur Utama PT. Tekstil Sejahtera.'
Hari-hari berikutnya, kehadiran Reza mulai mengisi celah-celah sepi dalam hidup Arumi. Reza sering mampir, membawa makanan untuk Kirana, bahkan sesekali memberikan pesanan menjahit untuk karyawan-karyawan perusahaannya.
Arumi, yang awalnya membangun tembok pertahanan, perlahan mulai meruntuhkannya. Ia merasa bahwa mungkin, Tuhan sedang mengirimkan seseorang yang akan mengubah nasibnya.
Hubungan itu semakin intens. Reza mengajak Arumi dan Kirana makan di sebuah restoran keluarga. Arumi merasa sangat tidak pantas berada di sana dengan pakaiannya yang sederhana, tapi Reza justru menggandeng tangannya dengan bangga.
"Mbak Arumi cantik sekali kalau tersenyum," bisik Reza di sela-sela makan malam.
Kirana, yang sudah sangat dekat dengan Reza, tertawa kecil. "Om Reza baik sekali, ya, Bu?"
Arumi menatap Reza dengan tatapan yang mulai menaruh harapan. Ia mulai membayangkan masa depan. Kirana punya sosok ayah, dan ia punya seseorang untuk bersandar.
Ia merasa tidak lagi sendirian melawan dunia yang kejam. Ia mulai melupakan peringatan di dalam hatinya untuk tetap waspada.
~~
Namun, siang itu, Arumi berniat memberikan kejutan kepada Reza dengan datang ke kantornya untuk memberikan kemeja yang baru saja selesai ia jahitkan secara khusus. Ia sudah hafal jalan menuju kantor itu.
Saat sampai di depan ruangan direktur, pintu itu terbuka sedikit. Arumi hendak mengetuk, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara seorang wanita yang sangat familiar, suara yang penuh amarah.
"Sudah berapa kali aku bilang, Reza! Jangan main-main dengan janda itu! Kamu mau mempermalukan keluarga kita?!"
Itu adalah suara istri sah Reza. Arumi mematung. Napasnya tercekat di tenggorokan.
"Aku cuma bosan, Sayang," suara Reza terdengar dingin, sangat jauh dari keramahan yang ia tunjukkan pada Arumi selama ini. "Lagipula, janda beranak satu seperti dia sangat mudah dikendalikan. Dia butuh uang, dia butuh kasih sayang, dan dia tidak akan menuntut apa-apa selain sedikit perhatian. Dia hanyalah hiburan saat aku lelah di rumah."
Dunia Arumi berputar. Kemeja yang ia pegang jatuh ke lantai. Suara itu membuat Reza dan istrinya menoleh ke arah pintu. Wajah Reza tidak terlihat kaget, apalagi bersalah.
Ia justru menatap Arumi dengan pandangan jijik, seolah-olah Arumi adalah serangga yang baru saja ia injak.
"Wah, ternyata kamu di sini," ucap Reza sinis. "Sepertinya kamu sudah dengar semuanya ya?"
Istri Reza maju ke depan, menatap Arumi dari atas sampai bawah dengan tatapan merendahkan. "Jadi ini wanita murahan yang kamu ceritakan? Ternyata benar-benar sampah. Dengar, ya, Janda! Jangan pernah berani mendekati suamiku lagi. Kamu pikir kamu siapa? Hanya karena kamu bisa menjahit, kamu pikir kamu bisa merebut posisiku? Kamu itu hanya sampah yang tidak punya masa depan!"
Arumi ingin menjawab, ingin membela harga dirinya, tapi suaranya tersangkut. Ia hanya bisa melihat Reza yang kini berdiri di samping istrinya, memeluk pinggang wanita itu dengan pose yang sangat mesra, seolah-olah apa yang terjadi dengan Arumi tidak pernah ada artinya.
"Pergi dari sini," usir Reza dengan nada membentak. "Jangan pernah tunjukkan wajahmu lagi di kantor ini. Kamu sudah merusak suasana hatiku."
Arumi berbalik. Ia berjalan keluar dari gedung itu dengan lutut yang gemetar. Di luar, hujan mulai turun lagi, seolah langit pun ikut menertawakan kebodohannya. Ia telah membiarkan hatinya terbuka, ia telah percaya pada janji manis, dan sekali lagi, ia dibuang seperti barang bekas.
Saat ia sampai di halte bus, Arumi menatap pantulan dirinya di jendela kaca yang buram. Ia bukan lagi wanita yang tadi pagi merasa punya harapan.
Ia adalah wanita yang kembali ditelanjangi oleh kenyataan bahwa di mata dunia, ia hanyalah janda beranak satu yang pantas dipermainkan.
Arumi menyeka air matanya dengan kasar. Ia tidak akan membiarkan dirinya hancur lagi. Di dalam dompetnya, ia meremas kartu nama Reza. Ia merobeknya menjadi serpihan-serpihan kecil dan membuangnya ke genangan air hujan.
"Cukup," batinnya. "Ini terakhir kalinya aku membiarkan pria mana pun menyentuh hatiku. Sekarang, aku tahu. Di dunia ini, tidak ada yang namanya pertolongan tanpa agenda. Aku hanya bisa mengandalkan diriku sendiri. Dan mulai hari ini, aku tidak akan lagi berbelas kasihan."
Arumi menatap ke depan dengan tatapan kosong yang perlahan berubah menjadi api dendam yang lebih besar.
Pengkhianatan Reza bukan lagi luka, melainkan pelajaran. Pelajaran bahwa ia harus menjadi lebih kuat, lebih dingin, dan jauh lebih sukses daripada siapa pun yang pernah menghinanya.
Ia melangkah pergi, meninggalkan bayang-bayang pria itu, menuju rumah di mana Kirana menunggunya.
Di sepanjang jalan, Arumi merancang rencana bagaimana ia akan membuat Reza, istrinya, dan semua orang yang menertawakannya, suatu hari nanti bertekuk lutut di hadapannya.
"Tunggu saja," bisiknya dalam hati. "Karena saat aku bangkit nanti, kalian tidak akan punya tempat untuk bersembunyi."
...----------------...
To Be Continue ....
semoga kuat dan sabar Arumi