Bukan salah Mika hadir dalam rumah tangga Naya sebagai orang ketiga. Karena hadirnya juga atas permintaan Naya yang tidak ingin punya anak gara-gara obsesinya sebagai model. Mika melawan hati dengan rela menerima tawaran Naya juga punya alasan. Sang mama yang sedang sakit keras menghrauskan dirinya untuk mendapatkan uang dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Sedangkan Naya sendiri, karena rasa bersalah pada suaminya, dia rela mencarikan istri untuk si suami.
Bukan salah orang ketiga. Ini murni kisah untuk Mika, Naya, dan Paris. Tidak sedikitpun aku terlintas di hati untuk membela orang ketiga. Harap memakluminya. Ini hanya karya, aku hanya berusaha menciptakan sebuah karya dengan judul yang berbeda untuk kalian nikmati. Mohon pengertiannya. Selamat membaca. Temukan suasana yang berbeda di sini. Dan, ambil pelajarannya dari kisah mereka. Bisakah cinta segitiga berjalan dengan bahagia? Atau malah sebaliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab*7
Lalu, kenapa Mika tidak berhasil ditemui oleh Sam di ruang kerja tadinya, itu karena Mika langsung bertemu dengan Rama sesaat setelah dia masuk. Semua urusan pemindahan, Rama lah yang mengurusnya. Ruangan kerja juga, Rama yang mengatur.
Perusahaan Paris punya aturan tersendiri untuk para karyawan yang bekerja di sana. Tidak sepenuhnya urusan karyawan harus Paris yang menangani. Karena sebagian besar urusan kantor itu, Rama lah yang mengurusnya. Karena itu pula, Mika tidak bertemu dengan Paris di saat dia pertama kali masuk kantor. Karena semuanya, sudah di urus oleh Rama.
"Bagaimana mungkin?" Raut kecewa terlihat dengan sangat jelas di wajah Sam saat ini. Paris yang melihatnya langsung merasa penasaran.
"Kenapa?"
"Paris. Bidadari ku tidak ada di sini."
"Bukannya tadi aku sudah bilang kalau bidadari mu sudah kabur saat tahu siapa dirimu yang sebenarnya, Sam."
"Jangan bercanda lagi, Paris. Aku sedang kecewa. Aku merasa, aku benar-benar sedang dibohongi. Aku sangat, aku sangat kesal, Paris."
"Heh ... sudahlah. Kembalilah ke perusahaan mu sekarang juga. Tolong jangan ganggu pekerjaan ku lagi. Kau tahu? Aku sedang sangat sibuk sekarang."
Pada akhirnya, Sam menyerah. Dia pun pergi meninggalkan perusahaan Paris tanpa menyelesaikan tujuan awal kedatangannya ke kantor si sahabat. Di sisi lain, Mika yang saat ini sudah menyelesaikan prosedur pemindahan, langsung di bawa ke tempat duduknya oleh Rama.
"Semua. Minta perhatiannya sebentar," ucap Rama sambil menepuk tangannya dua kali.
Setelah semua rekan melihat, Rama kembali berucap. "Kita kedatangan rekan baru. Dia adalah Mikaila Adinda Utari. Dia adalah karyawan pindahan dari kantor cabang."
Mika langsung tersenyum manis pada semuanya. "Halo semua. Salam kenal. Kalian bisa panggil aku dengan nama singkat, Mika. Mohon bimbingannya."
"Salam kenal, Mika. Selamat bergabung," ucap hampir semua rekan secara serentak.
Mika tersenyum manis. Rama pun mempersilahkan Mika ke tempat duduk yang sudah diperuntukkan buat Mika. Gadis itu bergerak dengan bahagia. Sungguh, dia masih tidak percaya kalau keadaan kantor pusat sangat bersahabat.
Sebelumnya, Mika cukup khawatir akan sambutan rekan-rekan kerja di tempat baru ini. Namun, kekhawatiran itu ternyata tidak benar. Rekan baru cukup bersahabat. Cukup baik memberikan sambutan atas kedatangannya ini.
"Baiklah semuanya. Selamat bekerja kembali," ucap Rama sebelum beranjak.
Mika mendudukkan pantatnya ke atas kursi. Baru juga duduk, dia langsung dihampiri oleh rekan yang duduk di sampingnya. Gadis sederhana dengan kaca mata putih yang cukup besar. Namun, dandanan si gadis tidak seperti gadis culun. Dandanannya cukup anggun untuk di pandang. Dengan balutan kemeja, si gadis jauh lebih formal dari pakaian yang Mika kenakan.
"Hai." Sapa si gadis ramah.
"Iya ... hai." Mika menjawab dengan perasaan sedikit canggung.
Langsung si gadis mengulurkan tangan tanpa ragu. "Kenalin, namaku Tina."
"Hai, Tina. Salam kenal."
"Iya. Semoga betah," ucap Tina masih saja ramah.
Mika pikir, gadis itu pendiam. Taunya, si gadis sangat ramah. Teman baru yang dia temui sangat bersahabat ternyata. Mika diajak makan bersama ketika jam makan siang tiba. Namun, baru juga mau beranjak, suara Rama tiba-tiba terdengar.
"Mika."
"Ya, pak Rama."
"Pak Paris ingin bertemu. Ikut aku ke ruangan pak Paris sekarang ya."
"Oo oh, baiklah."
"Teman-teman, maaf. Aku gak bisa ikut kalian makan siang. Aku harus pergi bersama pak Rama ke ruangan pak Paris."
"Hm ... iya deh. Hati-hati berhadapan dengan si bos, Mika. Dia agak-- "
"Hush. Jangan buat Mika takut." Tina berucap cepat memotong perkataan teman kerjanya. "Jangan dengarkan apa yang dia katakan, Mika. Pak bos gak galak kok. Cuma dingin aja."
"Iya, Mik. Gak galak. Tapi dingin kek es batu."
"Hei, sudah. Jangan ajak Mika ngobrol lagi. Dia harus pergi ke ruangan pak bos. Tar, dia kena tatapan dingin dari pak bos lagi. Kan gak enak jadinya nanti. Langsung di tatap dengan tatapan tajam plus dingin di pertemuan pertama."
Obrolan acak yang dikeluarkan oleh rekan-rekan barunya cukup untuk menumbuhkan perasaan cemas dalam hati Mika. Membuat batin Mika berat untuk bertatap muka dengan si bos yang digosipkan dengan sebutan pria dingin, sedingin es balok. Sayang, seberat apapun hati Mika untuk bertemu dengan pak bos barunya itu, tetap saja dia tidak bisa menolak. Mana ada karyawan yang bekerja tidak bertemu dengan atasan.
"Mika."
"Iy-- iya, pak Rama."
"Ayo!"
"Iy-- iya."
Mika berjalan dengan langkah berat mengikuti Rama dari belakang. Kegelisahan Mika langsung bisa Rama lihat hanya dengan melirik si gadis sekilas saja.
Senyum kecil Rama muncul. "Kenapa, Mika? Gugup ya?"
"Hm ... sedikit."
"Jangan gugup, Mika. Pak Paris gak galak kok. Tapi .... "
"Cuma dingin ya?" Mika malah menyambung kata yang Rama gantung.
Rama langsung terkekeh. "Bisa aja kamu. Pasti kamu sudah mendengar gosip dari karyawan lain tentang pak bos 'kan?"
Mika nyengir kuda. "Iya ... sedikit."
Rama malah kembali mengukir senyum. "Pak Paris tidak dingin kok, Mik. Jangan dengarkan gosip yang beredar. Dia hanya sedikit menahan diri dengan orang yang tidak akrab dengannya. Sebaliknya, jika dia sudah akrab dengan seseorang, pak Paris bisa jadi pria yang sangat hangat dan sangat menyenangkan."
Penjelasan Rama hanya Mika sambut dengan anggukan pelan. Akhirnya, obrolan itu benar-benar harus di akhiri karena mereka sudah tiba ke tempat yang ingin mereka tuju.
"Siapa?" Terdengar suara khas milik Paris ketika pintu di ketuk oleh Rama.
"Saya, Pak. Rama."
"Masuk!"
"Ayo, Mika!"
"Iy-- iya."
Gugup Mika semakin menjadi-jadi. Maklum, baru pertama kali berhadapan dengan pimpinan utama dari perusahaan tempat dirinya bekerja. Ya sudah sewajarnya gadis itu merasa sangat gugup saat ini.
Pintu terbuka lebar. Karena perasaan gugup, Mika memilih menundukkan pandangannya ke bawah. Kaki berat dia paksa untuk bergerak. Dia pun berjalan pelan di belakang Rama.
"Pak Paris, ini Mikaila. Karyawan pindahan dari kantor cabang." Rama berucap sambil bergeser ke samping.
Saat itu, Mika yang berdiri di belakangnya langsung terlihat. Sontak, mata Paris langsung membulat saat matanya menangkap sosok gadis yang ada di hadapannya saat ini.
"Kamu?"