NovelToon NovelToon
Pernikahan Panas Sang Aktor

Pernikahan Panas Sang Aktor

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pernikahan Kilat / CEO / Pengantin Pengganti Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa
Popularitas:867
Nilai: 5
Nama Author: MissKay

Brian Aditama tidak pernah percaya pada komitmen, apalagi pernikahan. Baginya, janji suci di depan penghulu hanyalah omong kosong yang membuang waktu. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris kedua Imperium Aditama Group, dunia ada di bawah genggamannya sampai sebuah serangan jantung merenggut nyawa kakaknya secara mendadak.

Kini, Brian terjebak dalam wasiat yang gila. Ia dipaksa menikahi Arumi Safa, janda kakaknya sendiri. Wanita itu adalah satu-satunya orang yang tidak pernah gemetar melihat tatapan tajam Brian, dan kenyataan bahwa yang ia benci adalah kutukan terbesar dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissKay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Demi Semuanya Untuk Saat Ini

​Berita mengenai penangkapan Dermawan, Syarif, dan Rizal atas kasus pencucian uang serta rencana pembunuhan terhadap Presiden Utama Adrian Aditama dan Detektif Siska kini tengah menjadi topik utama di seluruh penjuru negeri. Setelah satu bulan mendekam di ruang bawah tanah, proses pemeriksaan terhadap kelompok kartel Blackwood Scorpio pun masih terus berlanjut dengan ketat.

​Di sisi lain, Leo yang sempat melarikan diri ke Rusia akhirnya berhasil diringkus setelah sistem pengenalan wajah di bandara mendeteksi identitasnya. Ia segera ditangkap dan dijadwalkan untuk langsung dipulangkan ke Jakarta guna mempertanggungjawabkan perbuatannya.

​Brian merasa sangat puas atas hasil kerja keras Frans dan Hendra, dua asisten kepercayaannya. Selama ini, Brian sengaja menjauh dari Arumi sebagai taktik untuk memancing musuh agar lengah. Strategi itu terbukti efektif, terutama dalam mengungkap niat tersembunyi Maria, kekasih Leo yang ternyata hanya memanfaatkan kedekatan dengan Brian demi kepentingan kartelnya.

​Di tengah hiruk-pikuk berita tersebut, suasana di kantor pusat Aditama tampak lebih tenang namun sibuk. Di ruang kerja Hendra, Frans mengetuk pintu yang terbuka.

​"Anda sedang sibuk?" tanya Frans sambil melangkah masuk dan duduk di hadapan Hendra.

​"Ada apa? Apa kamu sedang senggang sampai punya waktu luang untuk bicara denganku?" sahut Hendra tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen-dokumen di mejanya.

​Frans hanya tersenyum tipis. "Apa Tuan Muda menghubungimu?"

​"Tidak. Biarkan saja dia menikmati bulan madunya bersama Nyonya Arumi," jawab Hendra pendek.

​"Oh. Lalu... bagaimana keadaan di mansion utama?" tanya Frans lagi, mencoba terdengar santai meski nada suaranya sedikit ragu.

​Hendra menghentikan gerakan pulpen emasnya di atas laporan keuangan Aditama. Ia mengangkat alis, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan tatapan menyelidik. "Apa kau sebenarnya penasaran dengan kabar Nona Muda Dona?" tebak Hendra telak.

​Frans berdecak, pura-pura canggung sambil mengelus tengkuk lehernya, berusaha menghindari tatapan Hendra.

​"Setelah kejadian penembakan itu, Tuan Scott tidak pernah mengizinkan putrinya datang ke Jakarta dengan alasan apa pun. Nyonya Widia dan Tuan Muda Brian pun menyetujuinya demi keamanan," jelas Hendra dengan nada yang lebih serius.

​Frans terdiam. Ia mengangguk kecil lalu memalingkan wajahnya. "Baiklah. Saya kembali ke ruangan. Jika Anda butuh sesuatu, beritahu saja," ucap Frans singkat sebelum berdiri dan melangkah pergi.

​Hendra menatap punggung Frans yang menjauh sambil mengetuk-ngetuk pulpennya ke meja. Sebenarnya, Hendra merasa bimbang. Sudah berkali-kali Nona Dona menghubunginya hanya untuk menanyakan kabar Frans. Namun, mengingat Frans sudah memiliki tunangan dari keluarga yang sangat berpengaruh, Hendra tidak bisa membiarkan hubungan itu berlanjut.

​Sebagai tangan kanan keluarga Aditama, ia tidak ingin ada kejadian menakutkan lagi. Baginya, cukup mendiang Tuan Adrian saja yang bernasib malang, tidak untuk anggota keluarga yang lainnya.

​Hendra memijat pelipisnya saat melihat notifikasi pesan singkat yang masuk bertubi-tubi dari nomor Amerika. Dona, adik sepupu Brian yang berusia 20 tahun itu, memang tidak ada duanya kalau sedang merajuk.

​Flashback

Di sebuah apartemen mewah di New York, Dona membanting tas bermereknya ke atas sofa. Mahasiswi semester akhir itu baru saja pulang kuliah dengan perasaan dongkol. Ia meraih ponselnya dan melakukan panggilan video ke Hendra.

​"Hendra! Kenapa Frans tidak membalas pesanku? Apa dia sengaja memblokir ku?!" seru Dona tanpa basa-basi begitu panggilan terhubung.

​"Nona Muda, Frans sedang sangat sibuk membantu Tuan Brian setelah kejadian penembakan di mansion kemarin," jawab Hendra sabar.

​"Aku tidak peduli! Aku ingin ke Jakarta sekarang! Aku ingin menemunya sendiri!" Dona menghentakkan kakinya manja. Meskipun dia sangat kaya dan dikenal publik sebagai keluarga aktor besar Brian Aditama, Dona tidak pernah peduli pada citra. Dia hanya peduli pada Frans, pria kaku yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama saat ia berkunjung ke Jakarta.

​"Tuan Scott melarang Anda kembali ke Jakarta demi keamanan, Nona," tegas Hendra.

​"Papih selalu begitu! Bilang pada Frans, kalau dia tidak membalas pesanku dalam sepuluh menit, aku akan nekat terbang ke Jakarta tanpa pengawal!" ancam Dona dengan gaya bar-barnya sebelum mematikan ponsel.

Flashback Off.

​Hendra menghela napas. Dona tidak tahu bahwa Frans sudah bertunangan. Kabar itu sengaja disembunyikan darinya agar dia tidak melakukan hal nekat yang bisa membahayakan nyawanya dan juga posisi Frans. Dan Hendra sengaja mengganti nomer Frans saat Dona tak sadar tertembak waktu itu di mansion.

...***...

Jauh dari kebisingan New York dan ketegangan Jakarta, Brian Aditama sedang menikmati peran barunya sebagai suami. Di sebuah balkon depan vila mewah yang menghadap langsung ke deretan bangunan klasik dan kubah-kubah gereja di Roma, Brian duduk santai sambil memperhatikan istrinya, Arumi.

​Sebagai aktor besar yang terbiasa dengan sorotan kamera, berada di tempat yang penuh sejarah dan jauh dari gangguan media seperti ini adalah kemewahan yang sesungguhnya bagi Brian. Aroma kopi espresso yang kuat di atas meja berpadu sempurna dengan semilir angin Italia yang sejuk.

​Brian memejamkan mata sejenak, dan tiba-tiba suara bising Roma berganti menjadi rimbun pepohonan di taman kampus Harvard bertahun-tahun silam.

​Di sana, di bawah bayangan gedung bata merah yang ikonik, mereka bertiga selalu bersama. Brian, aktor muda yang sedang merintis mimpi. Reno, calon pengusaha properti yang ambisius dan Maria, putri seniman dengan mata yang selalu tampak penuh rahasia.

​Brian ingat betul sore itu. Ia sudah menggenggam sebuah sketsa yang ia buat sendiri untuk Maria sebuah bentuk kekagumannya pada bakat gadis itu. Namun, langkahnya terhenti di balik pilar perpustakaan. Ia melihat Reno sedang menyampirkan jaket tebalnya ke bahu Maria yang menggigil, sambil membawakan segelas cokelat panas dan mendengarkan keluh kesah Maria tentang pameran galerinya dengan penuh perhatian.

​Reno selalu punya waktu untuk hal-hal kecil, sesuatu yang sering kali Brian lewatkan karena kesibukan syutingnya.

​"Dia lebih bahagia bersamamu, Reno," bisik Brian dalam hati waktu itu. Ia memilih melangkah mundur, melipat sketsanya, dan membiarkan cintanya terkubur demi persahabatan.

​Ia tak pernah menyangka, bahwa Maria yang ia 'serahkan' demi kebahagiaan sahabatnya, suatu saat nanti akan mengkhianati Reno demi lelaki seperti Leo dan menjadi otak di balik serangan kartel Blackwood Scorpio yang mengincar keluarganya sendiri.

​"Kau sedang memikirkan adik sepupumu?" tanya Arumi sambil membawakan segelas jus segar untuk Brian.

​Brian menarik Arumi agar duduk di pangkuannya. "Dona? Anak nakal itu pasti sedang mengamuk di New York karena dilarang ke Jakarta. Dia terobsesi pada Frans sejak pertemuan pertama mereka. Aku hanya khawatir keberaniannya yang barbar itu malah merepotkan Frans."

​Arumi tertawa kecil, menyandarkan kepalanya di bahu Brian. "Dia hanya sedang jatuh cinta, Brian. Persis sepertimu saat memaksaku dulu."

​Brian mengecup hidung Arumi dengan gemas. "Tapi setidaknya aku tidak mengancam akan meledakkan gedung jika pesanku tidak dibalas. Sekarang, lupakan Dona, lupakan kartel Blackwood, dan lupakan Maria dan Leo. Saat ini hanya ada kita berdua."

​Brian memeluk Arumi erat, mensyukuri ketenangan yang akhirnya mereka dapatkan di Kota Abadi ini, setelah badai penembakan di mansion yang hampir merenggut nyawa orang-orang terdekat mereka.

1
Miss Kay
Hi, reader ku tercinta. Terima kasih sudah mengikuti, membaca, dan menyukai cerita ini. Dukung terus cerita ini ya, agar aku semangat update. Berikan like, masukkan ke perpustakaan kalian, dan jangan lupa vote nya. 🤭🙏😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!