NovelToon NovelToon
MARRIAGE FOR HEIR

MARRIAGE FOR HEIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Poligami / Keluarga / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Pernikahan Liana dan Abi hanyalah kesepakatan pahit di atas kertas untuk menyambung keturunan.
Liana terjepit di antara rasa hormat kepada Genata dan status barunya sebagai istri kedua. Namun, seiring berjalannya waktu, batas antara "paman" dan "suami" mulai mengabur. Abi terjebak dalam dilema besar saat ia menyadari bahwa Liana bukan sekadar pelanjut nasab, melainkan pemilik kunci hatinya yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Suasana pemakaman yang mendung seolah mewakili kehampaan yang kini menetap di hati Liana.

Tanah merah yang masih basah itu menjadi peristirahatan terakhir Papa Habibie, pria yang menjadi dunianya, sekaligus pria yang memberinya "belenggu" terakhir sebelum ia pergi.

Tanpa sepatah kata pun, setelah doa selesai dipanjatkan, Liana langsung berbalik.

Langkahnya cepat, hampir tersandung nisan lain, mengabaikan panggilan Mama Prameswari dan saudara lainnya.

Ia langsung menuju mobil hitam milik Abi yang terparkir di pinggir area pemakaman.

Liana masuk ke kursi belakang, menutup pintu dengan bantingan keras, lalu menyandarkan kepalanya ke jendela kaca yang dingin.

Tatapan matanya kosong dan tidak ada lagi air mata yang tersisa.

Dari kejauhan, Mama Prameswari berdiri mematung, didampingi oleh Tante Rani.

Ia menatap mobil tempat putrinya mengurung diri.

Sebagai seorang ibu, ia bisa merasakan ada sesuatu yang mati di dalam diri Liana.

"Lihatlah anak itu, Rani. Sorot matanya bukan lagi mata Liana yang manja. Ia menatapku seolah aku adalah orang asing yang baru saja menyerahkannya ke tangan singa."

"Sabar, Kak. Liana hanya sedang terpukul. Kehilangan Papa dan dipaksa menikah dalam satu waktu itu bukan beban yang ringan," hibur Tante Rani, meski ia sendiri merasa cemas melihat perubahan drastis keponakannya.

"Bukan hanya terpukul, Rani. Dia marah. Dan aku takut kemarahan itu akan menghancurkan dirinya sendiri dan juga pernikahannya dengan Abi."

Tak lama kemudian, pintu depan mobil terbuka dan Abi masuk ke kursi kemudi, sementara Genata menyusul di kursi penumpang sampingnya.

Suasana di dalam kabin mobil seketika menjadi sangat dingin, lebih dingin dari udara AC yang berembus.

Abi melirik melalui spion tengah. Ia melihat Liana sedang membuang muka, menatap jauh ke luar jendela.

"Liana, kita pulang ke rumah dulu ya. Kamu perlu istirahat, Mama juga akan menyusul ke rumah kita untuk nanti malam tahlilan," ucap Abi dengan nada yang sangat hati-hati.

Liana tidak menjawab dan tetap menatap ke arah jendela.

"Liana, tadi Mbak sudah minta orang rumah menyiapkan teh hangat untukmu."

"Berhenti berpura-pura peduli," suara Liana memotong, dingin dan tajam seperti sembilu.

"Kalian mendapatkan apa yang kalian mau, bukan? Papa sudah tenang, Paman Abi sudah punya istri cadangan, dan Mbak Gen sudah punya 'rahim pengganti'. Jadi, bisakah kita pulang sekarang? Aku muak berada di sini."

Perkataan Liana membuat Genata tersentak hingga dadanya terasa sesak, sementara Abi mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih.

Kemudian mobil itu melaju perlahan meninggalkan area pemakaman.

Disepanjang perjalanan mereka tidak ada yang saling bicara.

Mobil hitam itu berhenti di depan rumah besar milik Abi.

Tanpa menunggu mesin benar-benar mati, Liana langsung membuka pintu dan melangkah lebar masuk ke dalam rumah.

Ia tidak menghiraukan beberapa pelayat yang masih ada di ruang tamu, juga tidak memedulikan tatapan bertanya-tanya dari para asisten rumah tangga.

Liana menaiki tangga dengan terburu-buru, setiap langkahnya terasa seperti dentuman genderang perang dalam kepalanya.

Sesampainya di depan kamar, ia masuk dan langsung memutar kunci.

BRAKK!

Pintu terbanting keras dan Liana langsung menyandarkan punggungnya di balik pintu kayu yang dingin itu, lalu merosot perlahan hingga terduduk di lantai.

Di luar sana, ia bisa mendengar suara Abi dan Genata yang baru saja masuk, disusul suara hiruk pikuk persiapan tahlilan malam pertama untuk Papanya. Namun bagi Liana, semua suara itu terdengar seperti dengungan lalat yang mengganggu.

Ia tidak peduli lagi pada norma, pada kesopanan, atau pada tamu-tamu yang datang. Baginya, dunia sudah berakhir di gundukan tanah merah tadi pagi.

"Liana! Buka pintunya, Nak. Ada saudara yang mau menyapa," ucap Mama Prameswari terdengar dari balik pintu, terdengar sangat lelah dan penuh permohonan.

Liana tetap diam dan menutup telinganya rapat-rapat dengan kedua telapak tangan.

"Pergi.. Semuanya pergi," bisiknya pada kegelapan kamar yang hanya diterangi cahaya remang sore hari.

Mama Prameswari turun dan menyapa beberapa saudara yang hadir.

Abi mendongakkan kepalanya dan menatap ke arah pintu kamar istrinya yang tertutup.

Detik demi detik berganti dan acara tahlilan dimulai.

Suara lantunan doa menggema hingga ke lantai atas, merayap masuk melalui celah pintu. Namun bagi Liana, setiap doa yang dipanjatkan justru terasa seperti duri.

Ia merasa dikhianati oleh takdirnya sendiri. Mulai dari ayahnya yang pergi setelah menjeratnya dalam pernikahan yang tidak ia inginkan.

Di tengah keputusasaan itu, terdengar ketukan pintu yang berbeda.

Tok.... tok..... tok....

"Li... ini aku, Angela. Aku sendirian di sini. Buka pintunya atau aku akan mendobraknya seperti yang dilakukan Paman Abi kemarin," ucap Angela.

Liana langsung menoleh ke arah pintu saat mendengar suara Angela.

Perlahan Liana bangkit, dengan tangan yang masih gemetar, ia membuka kunci pintu.

Begitu pintu terbuka, Angela langsung masuk dan menutupnya kembali, menguncinya agar tidak ada yang bisa mengganggu.

Angela tertegun melihat kondisi sahabatnya yang rapuh dengan memakai pakaian hitam sisa pemakaman masih melekat di tubuh Liana, wajahnya kusam, dan matanya merah padam. Tanpa berkata apa-apa, Angela menghambur dan memeluk Liana erat.

"Menangislah, Li. Jangan ditahan. Kamu bukan robot," bisik Angela.

Pertahanan Liana runtuh. Di bahu sahabatnya, tangis yang sejak tadi membeku akhirnya pecah kembali.

"Dia pergi, Ang. Papa pergi dan meninggalkanku di rumah ini bersama mereka. Aku benci diriku sendiri karena tidak bisa membenci Paman Abi sepenuhnya, tapi aku juga benci melihat Mbak Gen yang selalu terlihat seperti malaikat. Aku merasa seperti orang asing di hidupku sendiri!"

Angela membelai rambut Liana, membiarkan sahabatnya menumpahkan seluruh racun yang mengendap di hatinya.

"Aku di sini, Li. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian menghadapi mereka. Kalau kamu butuh lari, aku akan jadi pelarianmu. Tapi untuk malam ini, demi Papa, cobalah untuk bertahan hidup."

Liana tersedu-sedu, mencengkeram jaket Angela seolah itulah satu-satunya pegangan yang tersisa agar ia tidak tenggelam dalam samudera kesedihan yang tak bertepi.

Di luar, suara doa masih berkumandang, sementara di dalam kamar, dua sahabat itu berbagi duka yang paling sunyi.

Lantunan doa tahlil di lantai bawah masih terdengar sayup-sayup, menciptakan suasana yang kian menyesakkan bagi Liana.

Di dalam kamar, Angela masih setia mendekap Liana, membiarkan sahabatnya itu melepaskan seluruh beban yang menghimpit dada.

Tiba-tiba, terdengar ketukan pelan di pintu kamar Liana.

"Angela, ini aku, Abi."

Liana tersentak kecil di pelukan Angela, tubuhnya seketika menegang saat mendengar suara berat itu.

Angela mengusap bahu Liana, memberikan isyarat agar ia tetap tenang, lalu perlahan bangkit untuk membuka pintu sedikit saja.

Di ambang pintu, Abi berdiri masih mengenakan baju koko hitam dan peci. Wajahnya tampak luar biasa letih.

Di tangannya, ia membawa sebuah nampan berisi nasi putih, ayam goreng dan segelas susu hangat.

"Bagaimana kondisinya?" tanya Abi dengan suara rendah, matanya mencoba mengintip ke dalam kamar, mencari sosok Liana yang kini meringkuk membelakanginya.

"Masih sangat terpukul, Om," jawab Angela pelan. Ia sengaja memanggil 'Om' untuk menjaga jarak formal di tengah situasi yang rumit ini.

Abi menghela napas panjang, lalu menyodorkan nampan itu kepada Angela.

"Tolong, berikan ini kepada Liana. Aku tahu dia tidak mau melihat wajahku, apalagi menerima makanan dariku. Tapi dia belum makan apa pun sejak pemakaman tadi. Tolong bujuk dia, Ang. Hanya kamu yang dia mau dengar sekarang."

Angela menerima nampan itu dengan berat hati. Ia bisa melihat ada gurat keputusasaan di mata Abi, seorang pria yang berkuasa di luar sana, namun kini tampak tak berdaya menghadapi kebencian istrinya sendiri.

"Aku akan mencobanya, Om," bisik Angela.

"Terima kasih. Beritahu dia, Ang. Kalau aku dan Genata ada di bawah kalau dia butuh sesuatu. Dan katakan padanya, jangan memaksakan diri untuk turun jika memang belum sanggup."

Abi memberikan anggukan kecil sebelum akhirnya berbalik dan melangkah menjauh dengan bahu yang tampak turun.

Angela menutup pintu dan kembali menguncinya. Ia membawa nampan itu dan meletakkannya di atas nakas, tepat di samping Liana.

"Li, Paman Abi yang membawakan ini," ucap Angela lembut.

"Buang saja, Ang. Aku tidak mau menyentuh apa pun dari rumah ini."

"Bukan Paman Abi yang masak, ini dari Tante Rani. Dia titip pesan agar kamu makan sedikit saja. Kamu mau membuat Papa semakin sedih di sana melihat putrinya jatuh sakit lagi?"

Mendengar itu, Liana perlahan memutar tubuhnya.

Ia menatap makanan itu dengan pandangan hampa. Dengan tangan gemetar, ia meraih gelas susu hangat itu.

"Dia menyuruhmu membujukku, kan?" tanya Liana dengan senyum getir yang menyayat hati.

Angela hanya diam, tidak mau berbohong.

"Dia pikir dengan makanan ini, rasa sakitku akan hilang? Dia pikir dia sudah menjadi pahlawan karena menjagaku?" Liana meminum susu itu sedikit, hanya untuk membasahi tenggorokannya yang sudah kering karena menangis seharian.

"Dia tidak tahu, Ang. Setiap kali aku melihat wajahnya, aku hanya teringat detik-detik terakhir Papa yang memaksaku menyerahkan hidupku padanya."

Angela duduk di sisi tempat tidur, menyuapi Liana sesuap demi sesuap dengan sabar, seolah sedang merawat seorang anak yang baru saja kehilangan dunianya.

1
Sasikarin Sasikarin
di bolak balik belum juga tayang /Shy/
Sasikarin Sasikarin
lanjuttttt... 🤭
Sasikarin Sasikarin
💪 othor tuk berkarya 🙏
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
lg lg banjir /Sob/
Sasikarin Sasikarin
good job author bikin novelnya mewek mulu. 🤭
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
hi hi... lanjut si thor tambah seru si ceritanya
Sasikarin Sasikarin
hihi.... lanjut si thor tambah seru alna? 😁
Sasikarin Sasikarin
aduh thor napa g minghat dulu liana nya. nyesek aq baca nya.. lanjutttttty 🙏
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt 💪
اختی وحی
jngn balik lu biarin abi stres
Sasikarin Sasikarin
💪 othor makin penasaran nasib si paman
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt t seru nih
my name is pho: sudah kak.
selamat membaca 🥰
total 4 replies
my name is pho
sabar kak
Sasikarin Sasikarin
lanjuttt
my name is pho: siap kak
besok lagi
total 1 replies
اختی وحی
kok sepi ya pdhl ceritanya bagus
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt thor please... banjir air mata nih
Sasikarin Sasikarin
sukaaaa ceritanya, buat mewek dan meresap kata2nya, sumpah nie cerita buat mengaduk emosi pembaca .💪
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
اختی وحی
makin seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!