NovelToon NovelToon
Sorry, I Love You My Enemy

Sorry, I Love You My Enemy

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers
Popularitas:66
Nilai: 5
Nama Author:

Rayya Assyura tidak pernah menyangka, ketika menerima laporan tentang karyawan terbaik yang direkomendasikan langsung dari cabang luar negeri adalah Devan Yudistira. Pria yang paling ia benci sejak masa remaja. ketika menginjakkan kaki di rumahnya sebagai anak tukang kebun.

Rayya masih mengingat jelas bagaimana papanya begitu menyukai kepribadian Devan, cerdas, santun, pekerja keras, hingga tanpa ragu menyekolahkannya di SMA elit yang sama dengannya. Lebih dari itu, sang papa bahkan meminta Devan menjaga Rayya di sekolah.

kehidupan rayya sempat tenang ketika mendapati devan mendapat beasiswa kuliah di oxford university.

namun kharisma devan sekarang membuat rayya dipaksa berpikir ulang.

apakah kebencian masih dipertahankan atau takdir justru mempermainkan mereka berdua. bagaimana kisah selanjutnya? mari kita saksikan..

ikut tender pertama

Panggilan dari sekretaris datang ketika Devan baru saja kembali ke ruang kerjanya. Nada suaranya singkat, formal, tanpa penjelasan panjang.

“Pak Surya meminta Pak Devan ke ruangannya sekarang.” ucap sang sekretaris.

Devan menutup map yang sedang ia baca, lalu berdiri tanpa menunda. Ia sudah cukup lama berada di lingkungan korporasi untuk tahu, panggilan mendadak dari direktur utama jarang berkaitan dengan hal sepele.

Ruang Pak Surya berada di lantai paling atas. Begitu pintu terbuka, Devan langsung menangkap suasana yang sedikit berbeda. Pak Surya berdiri di dekat jendela, ponsel masih berada di tangannya, raut wajahnya serius namun terkendali.

“Duduk, Dev,” ucap Pak Surya sambil berbalik.

Devan duduk dengan sikap tegap. “Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanyanya.

Pak Surya meletakkan ponselnya di meja.

“Cabang Makassar sedang bermasalah. Audit internal menemukan ketidaksesuaian laporan operasional dan ada indikasi keterlambatan proyek. Saya harus berangkat hari ini juga.” ucapnya.

Devan mengangguk pelan, menyimak tanpa menyela.

“Tender proyek pelabuhan yang seharusnya saya hadiri bersama Rayya besok pagi… saya ingin kamu yang menggantikan saya,” lanjut Pak Surya lugas.

Devan terdiam sesaat. Bukan karena ragu, melainkan karena menyadari konsekuensi dari keputusan itu. Tender tersebut bernilai besar, melibatkan mitra strategis, dan yang paling penting ia akan berada di posisi sentral bersama Rayya.

“Saya paham,” jawab Devan akhirnya.

“Apakah ada arahan khusus, Pak?” tanyanya.

Pak Surya menatapnya tajam namun percaya.

“Fokus pada kelayakan operasional dan mitigasi risiko. Rayya menguasai sisi negosiasi dan strategi bisnis. Kamu lengkapi dari sisi teknis dan eksekusi.” jawab pak surya.

Devan mengangguk lagi.

“Baik, Pak. Saya akan menjalankannya.” sahut devan.

Tidak ada ekspresi keberatan. Tidak ada permintaan pengecualian. Devan menerima perintah itu dengan sikap profesional, sebagaimana yang selalu ia lakukan.

Pak Surya menghela napas pelan.

“Saya tahu ini tidak mudah. Tapi perusahaan membutuhkan orang yang bisa bekerja objektif.” ucapnya.

“Saya mengerti, Pak,” jawab Devan tenang.

“Pekerjaan tetap pekerjaan.” sambung devan.

Pak Surya menatap Devan beberapa detik lebih lama, seolah memastikan satu hal yang tak ia ucapkan. Lalu ia mengangguk kecil.

“Kamu boleh kembali ke ruanganmu. Saya akan berangkat satu jam lagi.” ucap pak surya.

Devan berdiri.

“Semoga perjalanan Bapak lancar.” balas devan sambil tersenyum.

Begitu pintu tertutup di belakangnya, Devan menarik napas dalam-dalam. Ia tidak menyesali keputusan apa pun, tapi ia tidak memungkiri satu hal: pertemuannya dengan Rayya kini tidak bisa dihindari.

Kabar itu sampai ke Rayya menjelang sore.

Ari, asistennya, mengetuk pintu dengan raut sedikit ragu.

“Bu Rayya, ada perubahan agenda untuk tender besok.” ucap ari tergesa - gesa.

Rayya mendongak dari layar laptop.

“Perubahan apa?”

“Pak Surya harus ke Makassar. Beliau menunjuk Pak Devan untuk menggantikan beliau di pertemuan tender.” jawab ari cepat.

Tangan Rayya berhenti di atas mouse.

“Siapa?” tanyanya, meski ia sudah tahu jawabannya.

“Pak Devan Yudistira, Bu.” jawab ari.

Hening beberapa detik mengisi ruangan.

Rayya bersandar di kursinya, menatap kosong ke depan. Jadi ini bukan sekadar pertemuan singkat. Bukan sekadar satu tarian yang ingin ia lupakan. Mereka akan duduk di meja yang sama, mewakili perusahaan, mengambil keputusan yang berdampak besar.

“Jadwal tetap?” tanyanya akhirnya, suaranya datar.

“Ya, Bu. Besok pukul sembilan.” jawab ari.

Rayya mengangguk.

“Baik. Siapkan semua dokumen pendukung. Aku tidak mau ada celah.” sahut rayya.

Ari mengangguk dan keluar, meninggalkan Rayya sendirian.

Rayya menutup matanya sejenak.

Ia tahu ini akan terjadi cepat atau lambat. Ia hanya tidak menyangka secepat ini.

Di ruang kerjanya, Devan membuka berkas tender dengan fokus penuh. Grafik, laporan teknis, analisis risiko—semuanya ia telaah dengan saksama. Namun di sela-sela itu, satu bayangan tetap muncul di kepalanya.

Rayya.

Bukan sebagai masa lalu.

Melainkan sebagai rekan kerja.

Devan mengetuk pena pelan ke meja. Ia tidak boleh membiarkan emosi apa pun mengganggu penilaiannya. Ia sudah memilih jalannya. Ia sudah menerima tanggung jawab itu.

Dan besok, ia dan Rayya akan berdiri di sisi yang sama,

bukan sebagai musuh,

bukan sebagai kenangan,

melainkan sebagai dua orang dewasa yang diuji oleh profesionalisme mereka sendiri.

Namun jauh di dalam dirinya, Devan tahu satu hal:

Bekerja bersama Rayya akan jauh lebih sulit

daripada sekadar menghadapi tender bernilai miliaran.

Sore itu, ruang meeting utama kembali dipenuhi para direksi. Layar besar di ujung ruangan sudah menyala, menampilkan ringkasan proyek pelabuhan yang akan dipresentasikan keesokan harinya. Angka-angka bernilai triliunan terpampang jelas, cukup untuk membuat siapa pun paham bahwa ini bukan proyek biasa.

Rayya datang lebih dulu.

Ia duduk di ujung meja panjang, membuka laptopnya, menata dokumen dengan rapi. Wajahnya tenang, ekspresinya profesional, seolah tidak ada beban apa pun. Namun di dalam dirinya, ada ketegangan yang sulit disangkal. Ia tahu, sebentar lagi Devan akan masuk ke ruangan ini. Dan ia tidak bisa menghindarinya.

Pintu terbuka.

Devan melangkah masuk dengan map hitam di tangan. Ia berhenti sejenak, memberi anggukan singkat ke arah para direksi sebelum menatap Rayya. Tatapan mereka bertemu sekilas, cukup lama untuk menyadari satu hal yang sama: pertemuan ini tidak bisa dihindari.

“Baik,” ujar salah satu direktur senior, memecah keheningan.

“Kita mulai. Waktu kita terbatas.” sambungnya.

Rayya langsung berdiri, memulai pemaparan dari sisi strategi bisnis. Suaranya tegas, terukur. Ia menjelaskan skema kerja sama, potensi keuntungan jangka panjang, serta posisi perusahaan dalam persaingan tender. Setiap poin disampaikan dengan keyakinan penuh.

Devan menyimak tanpa menyela.

Ketika Rayya selesai, ia menggeser layar ke sisi lain.

“Pak Devan, silakan.” ucap rayya.

Devan berdiri. Tidak tergesa. Tidak ragu.

Ia melanjutkan dengan analisis operasional yang detail, alur distribusi, manajemen risiko, kesiapan SDM, hingga rencana mitigasi jika terjadi keterlambatan proyek. Setiap data saling mengunci dengan pemaparan Rayya sebelumnya, seolah mereka telah bekerja bersama selama bertahun-tahun.

Beberapa direksi saling bertukar pandang.

“Kalau ada perubahan regulasi pelabuhan di tahun kedua?” tanya salah satu dari mereka.

Rayya menjawab cepat.

“Kami sudah siapkan klausul penyesuaian biaya dan timeline.” jawab rayya dengan percaya diri.

Devan langsung menambahkan,

“Dari sisi operasional, kita juga punya opsi pengalihan jalur logistik agar aktivitas tetap berjalan tanpa downtime.” sambung devan.

Tidak ada saling memotong. Tidak ada ego.

Pertanyaan demi pertanyaan mengalir. Dan setiap kali satu dari mereka menjawab, yang lain melengkapi. Sinkron. Presisi. Profesional.

Ketegangan yang semula terasa perlahan berubah menjadi kekaguman.

Direktur keuangan mengangguk puas.

“Kalau presentasi besok sekuat ini, posisi kita sangat unggul.” ucapnya.

Direktur hukum ikut menimpali,

“Saya jarang melihat kolaborasi seefektif ini dalam waktu sesingkat ini.”

Rayya dan Devan saling melirik singkat, hanya sepersekian detik. Tidak ada senyum. Tapi ada pengakuan diam-diam.

Setelah hampir dua jam, rapat ditutup.

“Terima kasih,” ujar  wakil direktur utama yang hadir mewakili Pak Surya.

“Saya yakin, dengan materi dan kerja sama seperti ini, kita punya peluang besar memenangkan tender pelabuhan.” ucapnya.

Para direksi berdiri, satu per satu meninggalkan ruangan dengan ekspresi puas.

Begitu pintu tertutup dan ruangan hampir kosong, Rayya menutup laptopnya pelan. Ia berdiri tanpa menoleh.

“Terima kasih atas datanya,” ucapnya datar.

“Sama-sama,” jawab Devan.

“Strategimu solid.” sambungnya

Rayya berhenti sejenak.

“Jangan biasakan memujiku.”

Devan tersenyum tipis.

“Aku hanya menyebutkan fakta.”

Rayya tidak membalas. Ia melangkah keluar ruangan, menjaga jarak seperti garis tak kasat mata yang sengaja ia pertahankan.

Devan menatap punggungnya sejenak sebelum mengemas berkas-berkasnya sendiri. Ia tahu, profesionalisme hari ini tidak serta-merta menghapus luka lama. Tapi setidaknya, mereka telah membuktikan satu hal.

Jika keadaan memaksa mereka berdiri di sisi yang sama,

mereka bisa menjadi kombinasi yang berbahaya.

bagi pesaing,

dan mungkin…

bagi perasaan mereka sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!