"Jangan menghindar, Alana..."
dr. Raden Ganendra Adicandra adalah dokter bedah jenius yang dingin dan terhormat. Namun di balik pintu yang terkunci, ia adalah pria posesif yang menuntut kepatuhan mutlak.
Alana terjebak di antara rasa takut dan pesona berbahaya sang dokter. Bagi pewaris Adicandra itu, Alana adalah milik pribadi yang tak akan pernah ia lepaskan.
"Satu langkah lagi kau menjauh, Sayang... maka kau tak akan pernah keluar dari sini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhya_cha7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Rahasia di Balik Kolong Meja
Gagang pintu itu bergerak turun, persis seperti mood cewek yang berantakan karena balas chat lama.
Suara cklek dari pintu sukses menambah kepanikan dalam diri Alana.
"Dok-dokter bagaimana ini.... bisa mati aku!" bisik Alana panik setengah mati.
Tangannya gemetar hebat saat mencoba mengancingkan kembali seragamnya. Namun, kancing itu justru terus terlepas dari jemarinya. Alana semakin kalut.
Raden menyeringai. Sebuah senyuman penuh teka-teki yang seolah menantang maut.
Ia tak peduli pintu mulai terbuka, sementara tangannya masih tetap mengunci pinggang Alana agar gadis itu tidak turun dari meja.
"Dokter Raden? Anda di dalam, kan? Saya langsung masuk ya, Dok?" suara bariton Pak Direktur terdengar tepat di balik pintu.
"Sekarang kamu turun dan sembunyi di bawah meja sebelum ketahuan. Cepat!" desis Raden rendah namun sarat intimidasi.
Dengan satu tarikan, Raden menarik tangan Alana hingga gadis itu meluncur jatuh dari atas meja—persis seperti buah kelapa yang jatuh ke tanah.
Tanpa perlu diperintah dua kali, Alana langsung merangkak masuk ke kolong meja yang sempit dan pengap.
Cklek!
Masuklah sang direktur rumah sakit. Sosok pria yang ternyata memiliki ketampanan yang tak kalah memikat dari Dokter Raden.
"Maaf mengganggu waktunya, Dok. Saya lihat tadi pintunya tidak terkunci," ucap Pak Direktur.
Suara berat itu menggema masuk ke telinga Alana, menciptakan suasana mencekam seperti masuk ke wahana rumah hantu.
Alana meringkuk dengan tubuh bergetar hebat. Ia bisa melihat sepatu pantofel hitam milik direktur yang mengkilap, berhenti tepat di depan persembunyiannya.
Jaraknya hanya sejengkal!
Alana refleks membekap mulutnya sendiri agar tidak ada satu pun suara yang lolos.
"Silakan duduk dulu, Pak Direktur," suara Raden terdengar santai, seolah ia tidak sedang menyembunyikan seorang wanita di bawah kakinya.
Parahnya, Raden malah menarik kursi kebesarannya masuk lebih dalam ke kolong meja.
Tindakan itu membuat paha gagahnya mengunci pergerakan Alana.
Wajah cantik Alana kini terperangkap di antara kaki Raden.
Aroma maskulin sang dokter mendominasi seluruh indra Alana, hingga ia harus menahan napas agar jantungnya tidak meledak.
"Jadi begini Dokter, saya ingin membahas tentang anggaran untuk alat medis baru," ucap Pak Direktur.
Tiba-tiba, pulpen Dokter Raden yang terletak di atas meja jatuh ke bawah. Trak!
Alana rasanya ingin pingsan. Ia melihat Pak Direktur mulai membungkuk, ingin mengambil pulpen yang menggelinding tepat ke arah kaki Raden.
Mampus! Aku sepertinya akan tamat saat ini juga! Otak Alana malah mengingat lirik lagu jadul... "Hoo... kamu ketahuan... pacaran lagi!"
Melihat hal itu, Raden bergerak cepat. Ia menendang pulpennya hingga terlempar lebih jauh, sementara kakinya mengunci bahu Alana lebih rapat.
"Eh, tidak usah Pak, biarkan saja. Nanti biar asisten pribadi saya yang mengambilnya," ucap Raden dingin.
Mendengar itu, Pak Direktur urung menunduk. Alana yang berada di bawah sana hampir saja meledakkan tangis karena lega.
"Ah.. iya, apa asisten baru Anda itu Suster Alana? Dia cantik sekali seperti bintang film. Bagaimana kalau saya memindahkannya ke rumah sakit pusat untuk jadi asisten pribadi saya?"
Di bawah meja, Alana merasakan aura Dokter Raden berubah semakin gelap.
Tiba-tiba, tangan kiri Raden merosot ke bawah meja. Tanpa aba-aba, tangan besar itu mencengkeram pergelangan kaki Alana dengan sangat kuat.
Sentakan mendadak itu membuat Alana terkejut hingga harus menggigit jarinya untuk meredam napas yang memburu.
"Dok, suara apa itu?" tanya Pak Direktur curiga. Ia mulai mencondongkan tubuhnya, mencari sumber suara di balik meja.
"Saya rasa... mungkin hanya suara kursi yang kurang pelumas," jawab Raden tenang, meski jemarinya di bawah sana mulai bergerak semakin tegas pada kaki Alana.
"Jadi bagaimana soal Suster Alana tadi, Dok? Apa boleh saya membawanya?" tanya Pak Direktur mendesak.
Raden menekan cengkeramannya lebih kuat, membuat Alana nyaris memekik tertahan.
"Sayang sekali tidak bisa, Pak. Suster Alana sudah menjadi tanggung jawab saya sepenuhnya. Tidak akan saya biarkan dia pergi tanpa izin."
Setelah Pak Direktur akhirnya pamit dan pintu terkunci, Alana mencoba merangkak keluar.
Namun Raden justru menarik kursinya lebih rapat, menutup jalan keluar. Pria itu ikut merunduk ke dalam kolong meja, mengurung Alana.
"Dokter... lepaskan saya, direktur sudah pergi!" bisik Alana lemas.
"Siapa bilang hukumanmu sudah selesai, Sayang?" Raden menarik tubuh Alana hingga tak ada celah tersisa.
"Dia menginginkanmu. Dan hukumanmu bertambah karena kamu telah membuatku cemburu. Kamu tetap di bawah sini sampai aku puas."
"Panggil namaku, Sayang," bisik Raden tepat di telinga Alana.
"Ra-Raden... tolong... lepaskan..." suara Alana nyaris hilang.
Di tengah debaran jantung yang gila, mata Alana menangkap sebuah kartu nama keemasan yang terjatuh dari saku kemeja pria itu.
Raden Adicandra — Chief Executive Officer (CEO) dan Pemilik Utama Adicandra Medical.
Alana tersentak kaget. Pria yang kini mendekapnya ternyata bukan sekadar dokter bedah biasa.
Dia adalah raja dari kerajaan bisnis ini. Dan sang predator sama sekali tidak berniat melepaskannya.
****
Catatan Penulis:
Gimana Bab 7-nya, Guys? Jantung masih aman atau sudah pindah ke ginjal saking tegangnya? 😂
Kasihan si Alana, sudah jatuh dari meja kayak kelapa jatuh, eh sekarang malah tahu kalau predator di depannya ini bos besar seluruh rumah sakit!
Kira-kira kalau kalian jadi Alana, bakal langsung minta surat resign atau malah minta naik gaji mumpung lagi "dikunci" sama Pak CEO? 🌚
Yuk, jangan jadi pembaca gelap ya! Tabur Bintang yang banyak, klik Like, dan Komen pendapat kalian.
Ingat, satu bintang dari kalian sangat berarti buat biaya urut Alana yang habis jatuh tadi! See you in the next chapter! ❤️✨