Aisya harus menelan pil pahit, dua tahun pernikahan, ia belum dikaruniai keturunan. Hal ini membuat mertuanya murka dan memaksa suaminya menjatuhkan talak.
Dianggap mandul dan tak berguna, Aisya dicampakkan tanpa belas kasihan, meninggalkan luka yang menganga di hatinya.
Saat sedang mencoba menyembuhkan diri dari pengkhianatan, Aisya dipertemukan dengan Kaisar.
Penampilan Kaisar jauh dari kata rapi, rambut gondrong, jaket kulit lusuh, dan tatapan liar. Mirip preman jalanan yang tampak awur-awuran.
Sejak pandangan pertama, Kaisar jatuh cinta pada Aisya. Ia terpesona dan bertekad ingin menjadikan Aisya miliknya, memberikan semua yang gagal diberikan mantan suaminya.
Tapi, mampukah Kaisar meluluhkan hati Aisya yang sudah terlanjur hancur dan tertutup rapat? Atau apakah status dan cintanya yang tulus akan ditolak mentah-mentah oleh trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Setelah menenangkan Aisya dan memastikan istrinya beristirahat, Hendra keluar dari kamar. Ia menghela napas panjang, bersiap menghadapi konfrontasi yang pasti akan meletus di ruang tengah. Ia tahu, Ibu Marni pasti sudah menunggunya.
Benar saja, begitu pintu kamar tertutup, Ibu Marni sudah berdiri di sana, memelototinya dengan amarah yang memuncak. Wajahnya keras, tidak ada sedikit pun kelembutan ibu yang tersisa.
“Kenapa kamu lama sekali di dalam?! Kenapa kamu tidak ceraikan perempuan itu sekarang juga?! Kamu mau membuat Ibu mati karena malu, hah?!” seru Ibu Marni dengan histeris
Hendra mencoba meredakan situasi. “Ibu, tolong. Jangan bicara keras-keras. Aisya sedang istirahat. Dia habis ditampar Ibu, dan kepalanya sakit karena jambakan Ibu.”
“Biar saja dia sakit! Itu pantas didapatkan oleh istri yang tidak tahu diuntung! Kamu itu kenapa, Hendra?! Kamu itu anak Ibu! Kenapa kamu malah membela perempuan mandul itu terus-terusan?! Dia sudah ketahuan mesra-mesraan sama preman di musala!” Marni menuding Hendra dengan jari telunjuknya.
Hendra memejamkan mata sejenak, menahan emosinya. Ia harus tetap tenang demi Aisya.
“Ibu, Aisya sudah menjelaskan. Dia tidak selingkuh. Dia menolong pria itu karena pria itu menolongnya dari penodongan. Uang belanja kami bahkan habis untuk membeli obat. Kenapa Ibu tidak mau mendengarkan kebenarannya?” Hendra mencoba berargumen dengan rasional.
“Kebenaran apa?! Kebenaran yang mana?! Kebenaran kalau kamu sebentar lagi akan berumur tiga puluh dan tidak akan pernah punya keturunan?! Itu kebenaran yang harus kamu hadapi!” Marni berteriak, suaranya tajam dan menyakitkan.
“Kamu itu anak satu-satunya Ibu! Ibu mau punya cucu! Ibu mau melihat darah daging Ibu bermain di rumah ini sebelum Ibu mati! Kamu pikir Aisya bisa memberikannya?! TIDAK!”
Marni melangkah maju, tangannya mencengkeram lengan Hendra kuat-kuat.
“Dia mandul, Hendra! Dia cuma membawa aib dan kesialan! Dua tahun kamu buang-buang waktu hanya untuk tahu tempe dan cacian! Ceraikan dia! Cari perempuan lain yang subur, yang bisa memberikan Ibu cucu!”
Hendra menarik tangannya, menatap ibunya dengan kecewa. “Ibu egois! Ibu hanya memikirkan diri Ibu sendiri! Ibu tidak pernah peduli dengan perasaan Aisya, tidak pernah peduli dengan perasaan aku!”
Mendengar Hendra menyebutnya egois, Marni tersinggung luar biasa. Matanya melotot.
“Ibu egois?! Justru Ibu melakukan ini demi kamu! Demi masa depan nama keluarga kita! Kamu pikir kamu mau dicap suami mandul seumur hidup?! Ibu ini ibumu, ibu tahu yang terbaik untukmu!”
“Yang terbaik itu bukan menceraikan istri yang aku cintai, Bu! Aku mencintai Aisya, dan aku akan berjuang bersama Aisya. Soal anak, itu urusan Allah. Kami akan berusaha sekuat tenaga!” balas Hendra tegas.
Marni tertawa sinis, tawa yang menusuk hati. “Cinta?! Cinta itu tidak bisa memberikan kita cucu! Cinta itu tidak bisa membeli susu dan popok! Ceraikan dia, Hendra! Kalau kamu tidak mau menceraikannya, berarti kamu tidak menganggapku sebagai ibumu lagi! Kamu durhaka!”
Ultimatum itu membuat Hendra terdiam.
Kata ‘durhaka’ selalu menjadi senjata andalan Marni untuk mengendalikan dirinya. Hendra sangat mencintai ibunya, tetapi ia juga tidak bisa membiarkan ibunya menghancurkan pernikahannya.
“Ibu, jangan bawa-bawa kata durhaka. Aku mohon. Beri kami waktu. Aku akan cari cara, aku akan bawa Aisya berobat—”
“Tidak ada waktu lagi, Hendra! Ibu sudah muak! Kamu harus memilih!” Marni memotong cepat. Wajahnya mendekat, nadanya berubah menjadi ancaman. “Pilihannya hanya dua. Ceraikan Aisya sekarang juga, atau Ibu bersumpah, Ibu akan usir kalian berdua dari rumah ini! Kamu dan perempuan mandul itu silakan hidup menggelandang!”
Ancaman itu benar-benar kejam. Hendra tahu, ia tidak punya tempat tinggal lain. Ia hanyalah karyawan dengan gaji pas-pasan. Jika mereka diusir, Aisya akan semakin menderita.
Hendra menundukkan kepala, kepalanya terasa pening. Ia terjebak dalam dilema yang menyakitkan. Di satu sisi, ada Aisya, istri yang ia cintai dan harus ia lindungi. Di sisi lain, ada ibunya, satu-satunya orang tua yang tersisa.
“Hendra! Jawab Ibu! Apa keputusanmu?!” desak Marni, tidak memberi kesempatan Hendra untuk bernapas.
Hendra mengangkat wajah, matanya terlihat putus asa. Ia mencintai Aisya, tetapi ia juga takut melihat Aisya semakin menderita jika mereka harus hidup susah tanpa tempat tinggal. Kekejaman ibunya telah mencapai puncaknya.
“Bu… Ibu memberi aku pilihan yang sangat sulit,” bisik Hendra, suaranya penuh kekecewaan. Ia melihat ke arah pintu kamar, tempat Aisya berada, tempat ia seharusnya melindunginya. Ia merasa gagal total.
Marni hanya menunggu, wajahnya dingin, tidak menunjukkan simpati sedikit pun. Keinginannya untuk memiliki cucu telah membuatnya menjadi sosok yang kejam dan egois. Ia tidak peduli jika itu berarti menghancurkan kebahagiaan putranya sendiri.
apa Sarah nama tengah belakang atau samping 🤣