NovelToon NovelToon
Kontrak Hati Seorang CEO

Kontrak Hati Seorang CEO

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:141
Nilai: 5
Nama Author: Akmaluddinl

Nareswari (18), gadis desa peraih beasiswa, dipaksa menerima perjodohan dengan Arjuna Bhaskara (27), CEO dingin yang sinis terhadap cinta karena trauma masa lalu. Pernikahan mereka hanyalah kontrak kaku yang didasari janji orang tua. Di apartemen yang sunyi, Nares berjuang menyeimbangkan hidup sebagai mahasiswi baru dan istri formal. Mampukah kehangatan dan kepolosan Nares, yang mendambakan rumah tangga biasa, mencairkan hati Juna yang beku dan mengubah ikatan kontrak menjadi cinta sejati, di tengah kembalinya bayangan masa lalu sang CEO?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaluddinl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 KHSC

Fajar menyingsing di Jakarta, mewarnai langit kelabu kota dengan gradasi oranye dan ungu. Di dalam penthouse mewah, keheningan terasa berbeda. Bukan lagi sunyi yang dingin, melainkan sunyi yang damai.

Arjuna Bhaskara membuka mata. Ia terkejut, bingung, dan merasa sangat hangat. Ia bukan berada di kamar tidur utamanya yang minimalis, melainkan di sofa ruang utama. Ia duduk tegak, kepalanya terasa jauh lebih ringan. Demamnya telah hilang.

Juna menoleh. Di lantai, bersandar pada sandaran sofa, Nareswari tertidur pulas. Gadis itu terbungkus selimut tipis, di sampingnya terdapat mangkuk bekas kompres dan sebuah buku kuliah. Tangannya yang mungil masih memegang tangan Juna yang semalam ia genggam.

Juna menatap wajah Nares. Tanpa kerudung, rambut Nares yang hitam diikat longgar, beberapa helainya jatuh menutupi wajahnya yang polos. Nares yang tertidur tampak sangat rentan, layaknya anak kecil. Juna merasakan gejolak aneh—perasaan bersalah dan keterikatan yang ia benci.

Ia perlahan menarik tangannya, berusaha tidak membangunkan Nares. Juna bangkit, berjalan ke kamarnya. Di depan cermin, ia melihat dirinya. Ia terlihat seperti pria yang baru pulih dari badai, tetapi matanya, yang biasanya dingin, menunjukkan sedikit kelembutan yang ia tidak kenali.

Juna kembali ke ruang utama, melihat Nares masih tertidur. Ia ingat, semalam ia begitu lemah hingga ia menyerahkan kendali sepenuhnya pada gadis ini. Nares tidak memanfaatkan kelemahannya. Nares tidak menuntut cinta. Nares hanya menjalankan kewajiban yang ia yakini.

Nareswari terbangun ketika Juna sudah mengenakan setelan jas lengkap.

“Juna? Kau sudah sehat?” tanya Nares, segera bangkit, matanya cemas.

“Ya. Aku sudah baik,” jawab Juna, suaranya kembali ke mode CEO. Tetapi ia tidak lagi dingin. Ada nada kewaspadaan yang terselip. “Terima kasih.”

Ucapan terima kasih itu, yang diucapkan Juna dengan jelas dan tulus, membuat Nares terkejut.

“Sama-sama, Juna. Itu kewajibanku,” kata Nares, membereskan selimut bekas Juna.

“Aku sudah memberitahu Rio untuk membayarimu. Jumlahnya akan masuk ke rekeningmu pagi ini,” kata Juna.

Nares menghentikan gerakannya. Ia menatap Juna dengan tidak percaya. “Membayariku? Untuk merawat suami sendiri?”

“Anggap itu bonus karena kau sudah melanggar kontrak dengan cara yang berguna. Lagipula, aku tidak suka berhutang pada siapa pun, bahkan padamu,” kata Juna, berusaha membangun kembali bentengnya.

Nares berjalan mendekat. Ia menatap Juna, matanya yang teduh kini memancarkan api ketegasan.

“Aku tidak butuh uangmu untuk ini, Juna,” kata Nares, suaranya rendah namun tajam. “Aku merawatmu karena ikatan Ijab Kabul yang kita lakukan di hadapan Allah, bukan karena kontrak kakekmu. Aku tidak mau dibayar untuk melaksanakan ibadah.”

Juna terkejut. Nares jarang meninggikan suaranya, tetapi penolakannya kali ini sangat kuat. Nares menolak uang, simbol kekuasaan Juna, demi menjunjung tinggi kesakralan janji suci mereka.

“Jangan membuatku merasa bersalah, Nareswari. Itu hanya uang,” Juna mencoba meredam.

“Bukan tentang uang. Ini tentang niat. Jika kau memberiku uang, itu artinya kau menempatkanku sebagai seorang perawat bayaran, bukan sebagai istri. Aku tidak akan menerima transfer itu. Tolong batalkan,” Nares menegaskan, lalu berjalan kembali ke dapur.

Juna menatap punggung Nares. Ia merasa terhina, tetapi juga merasa dikalahkan. Ia menyadari, kekuatan Nares terletak pada kesederhanaan dan ketulusannya. Ia tidak bisa membeli Nares, juga tidak bisa mengontrol Nares dengan logika bisnisnya.

Ia mengambil kunci mobil dan melangkah keluar. Pagi itu, Juna pergi ke kantor dengan pikiran yang jauh lebih kacau daripada saat ia demam.

***

Juna memimpin rapat yang sangat krusial. Mereka sedang membahas akuisisi saham perusahaan startup kecil yang sangat menjanjikan di bidang energi terbarukan. Juna biasanya memegang kendali penuh, memancarkan aura autopilot yang sempurna.

“Baik. Menurut analisis risiko yang kita buat, kita harus menawarkan 1.2 triliun rupiah untuk mengamankan 70% saham,” kata Rian, kepala Divisi Strategi.

Juna terdiam sejenak. Ia melihat angka-angka itu, tetapi pikirannya malah melayang pada Nares. Nares yang menolak uangnya. Nares yang merawatnya tanpa pamrih. Nares yang mengatakan bahwa ia melaksanakan kewajiban suci.

“Tidak,” kata Juna tiba-tiba, mengejutkan seluruh timnya. “Aku pikir kita harus memberikan penawaran yang berbeda.”

“Berbeda bagaimana, Pak?” tanya Rian.

“Kita tawarkan 1.1 triliun untuk 60% saham. Tetapi kita berikan insentif yang lebih besar pada pendiri startup itu, terutama berupa equity jangka panjang dan saham di Bhaskara Corp,” jelas Juna.

Tim Juna kebingungan. Secara matematis, penawaran ini lebih berisiko.

“Mohon maaf, Pak. Itu menyimpang dari proyeksi. Kenapa Bapak ingin memberikan insentif non-moneter yang lebih besar?” tanya Rian.

Juna menatap Rian, teringat pada Nares. Ia menyadari sesuatu: tidak semua hal bisa dibeli dan dikontrol dengan uang tunai. Beberapa hal—seperti loyalitas, dan dalam kasusnya, ketulusan—hanya bisa didapatkan dengan memberikan nilai yang lebih dalam.

“Kita tidak ingin mereka hanya bekerja untuk uang, Rian. Kita ingin mereka bekerja karena merasa memiliki. Kita ingin mereka merasa menjadi bagian dari keluarga besar Bhaskara. Berikan mereka kehormatan, bukan hanya uang,” ujar Juna, mengadopsi bahasa yang sangat asing baginya.

Tim Juna saling pandang. Juna baru saja memberikan nasihat kepemimpinan yang berbau emosi dan nilai-nilai, bukan profit semata. Ada sesuatu yang berubah pada Juna. Mereka mengangguk, tanpa berani bertanya lebih lanjut.

***

Sementara Juna bergulat dengan emosi dan strategi bisnis barunya, Nares disibukkan dengan kuliah. Ia menghabiskan waktu luangnya di perpustakaan, belajar hingga larut.

Tugas kelompok Nares, yang dipimpin oleh Danu, ternyata kembali menjadi masalah. Danu, yang ambisius, mendapat kontak baru.

“Aku punya kabar baik, Nares! Kita bisa mendapatkan insider look ke Bhaskara Corp! Tapi kita harus bertemu dengan kontakku di restoran eksklusif dekat kantor mereka, hari Jumat malam,” kata Danu, matanya berbinar.

Nares langsung menolak. “Aku tidak bisa, Danu. Aku tidak bisa pulang larut malam.”

“Ayolah, Nares. Ini kesempatan emas. Kau mau beasiswamu hanya menghasilkan IPK, tanpa koneksi? Kau harus berani berkorban!” desak Danu.

Nares merasa tertekan. Ia tidak bisa membayangkan Juna melihatnya di restoran dekat kantornya, apalagi dengan mahasiswa laki-laki. Itu akan melanggar garis batas keharusan menjaga nama baik.

“Maaf, aku benar-benar tidak bisa. Kalian bisa melanjutkan tanpaku, aku akan mengerjakan bagian laporanku sendiri,” putus Nares, merasa bersalah.

Danu menjadi marah. “Kau ini aneh, Nares. Kau tinggal di mana, sih? Di goa? Kau selalu menolak ajakan dan bersikap tertutup. Semua orang tahu kau mahasiswi beasiswa, tapi kenapa kau bersikap seperti putri raja yang terikat?”

Nares hanya menunduk. “Aku hanya ingin fokus pada kuliahku, Danu.”

Nares keluar dari perpustakaan dengan hati yang remuk. Ia menyadari, mempertahankan kontrak dengan Juna menuntut pengorbanan sosial yang sangat besar. Ia harus mengorbankan pengalaman kampus demi menjaga perjanjian pernikahannya.

***

Juna pulang pukul sepuluh malam. Ia tidak sakit lagi, tetapi ia masih merasa lelah. Ia masuk ke apartemen dan mendapati lampu dapur menyala.

Nares sedang merapikan bahan makanan. Ia mengenakan mukena dan baru selesai Shalat Isya. Di meja makan, sudah tersaji sup ayam dan nasi hangat.

“Aku tahu kau lelah, Juna. Makan dulu, aku siapkan sup ayam agar tubuhmu hangat,” kata Nares tanpa menoleh.

Juna berdiri di lorong, memperhatikan Nares. Ia melihat ketulusan dalam setiap gerakan Nares. Gadis itu tidak mencoba menjadi seksi, tidak mencoba merayunya. Ia hanya berusaha memenuhi kebutuhannya sebagai seorang suami.

Juna duduk di meja makan. Ia makan dalam diam. Sup ayam itu terasa lezat, hangat, dan menenangkan, sama seperti sentuhan tangan Nares.

“Kau tidak perlu menyiapkan ini. Aku bisa meminta Rio memesankannya,” kata Juna setelah menghabiskan setengah mangkuk.

“Tidak masalah, Juna. Aku punya waktu luang,” balas Nares, yang kini duduk di seberangnya, tetapi tidak makan. Ia hanya menemaninya.

“Aku sudah batalkan transfer uang tadi pagi,” kata Juna tiba-tiba.

Nares menoleh, tersenyum kecil. “Terima kasih, Juna. Aku menghargai itu.”

“Tapi aku butuh sesuatu darimu sebagai gantinya,” kata Juna, menatap tajam ke mata Nares.

Jantung Nares berdebar. Apakah Juna akan menuntut haknya lagi?

“Aku butuh ketenangan. Aku tidak ingin ada drama di sini. Kau harus ingat batasmu. Jangan mengganggu pekerjaanku,” Juna memperingatkan. “Dan kau harus berhenti menolak kegiatan kampusmu. Aku sudah melihat jadwalmu. Jangan sampai IPK-mu menurun.”

“Aku menolak kegiatan kampusku karena Danu ingin mengadakan pertemuan larut malam di luar, Juna,” kata Nares. “Aku tidak ingin melanggar perjanjian menjaga nama baik. Danu bersikap agresif.”

Mendengar nama pria lain, Juna merasakan sesuatu yang aneh—bukan cemburu, tetapi marah karena kendalinya dipertanyakan.

“Aku tidak peduli. Jika itu untuk tugas, kau harus pergi. Kau tidak boleh membiarkan beasiswamu hilang. Aku akan mengizinkannya, asalkan kau mengirimiku pesan sebelum berangkat dan setelah tiba. Dan jangan pernah berduaan dengan pria lain,” kata Juna, nadanya keras, seperti mengeluarkan titah.

Nares mengangguk. “Baik, Juna.”

Juna menyelesaikan supnya. Ia bangkit, siap pergi ke ruang kerjanya. Tiba-tiba, Juna berhenti di belakang Nares. Ia melihat leher Nares yang terlihat saat Nares menunduk.

Juna merasakan dorongan kuat untuk menyentuh, untuk menguji batasnya lagi. Ia membungkuk, wajahnya mendekat ke leher Nares.

“Aku bersyukur, kau merawatku,” bisik Juna, suaranya dalam dan serak.

Nares menahan napas, jantungnya berpacu kencang. Ia bisa merasakan nafas hangat Juna di kulitnya. Nares tahu, ini adalah ujian.

“Aku juga bersyukur, Juna,” balas Nares, tidak bergerak. “Aku senang kau pulih. Aku doakan kau selalu sehat.”

Juna terdiam, terkejut. Nares membalas keintiman fisik dengan ketulusan dan do’a, membalas hasrat dengan kesucian. Nares tidak takut, tetapi ia meletakkan dinding yang tidak bisa ditembus oleh amarah atau godaan Juna: dinding iman.

Juna menegakkan tubuh, mundur selangkah. Ia kalah. Lagi. Ia tidak bisa memaksa Nares, karena Nares memegang kendali moral.

“Selamat malam, Nareswari. Tidur yang nyenyak,” kata Juna, nadanya kali ini sudah normal, tetapi ada sedikit kelembutan yang ia tidak sengaja lepaskan.

Ia berjalan ke ruang kerjanya. Pagar yang ia bangun di antara mereka terasa semakin goyah. Ia mulai tergantung pada kehangatan gadis desa itu, dan ia membenci perasaan itu.

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!