Fiana Adams tak pernah menduga akan jatuh cinta pada pandangan pertama. Pertemuan yang singkat di reuni sebuah SMA telah membuatnya terus memikirkan Arjuna Zefanya Tekins. Siapa sangka keduanya justru tak bisa dipisahkan sejak malam itu walaupun mereka harus menghadapi kenyataan bahwa keluarga mereka adalah orang yang paling berkuasa dan paling bermusuhan sejak zaman dulu. Berbagai tantangan datang dan berusaha memisahkan keduanya. Sampai akhirnya keduanya berada di sebuah pilihan yang sulit. Mempertahankan cinta mereka atau menjaga nama baik keluarga.
Ceritanya di jamin sangat romantis dan bikin baper. Walaupun memang penuh dengan tantangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tantangan
"Pasien sudah kembali stabil. Tapi keadaannya masih kritis. Ia bisa saja mengalami serangan jantung." kata dokter yang menangani Jelo.
Zack dan Arjuna menarik napas lega.
Jelo sudah yatim piatu. Saat ia masih kecil, mamanya yang meninggal. Papa Jelo adalah adik dari papanya Arjuna. 2 tahun sesudah kematian mamanya, papa Jelo menikah lagi dengan perempuan yang selama ini menjadi asisten papanya. Jelo yang saat itu masih berusia 13 tahun merasa sangat terpukul karena akhirnya ia tahu kalau papanya itu sudah memiliki anak dari perempuan itu jauh sebelum mamanya meninggal. Akhirnya Jelo lebih dekat dengan keluarga Arjuna. Ia bahkan punya kamar khusus di rumah itu. Namun setelah ia selesai kuliah dan mendapatkan pekerjaan, Jelo akhirnya memilih untuk tinggal di apartemen.
Setahun yang lalu papa Jelo meninggal. Jelo mendapatkan warisan, termasuk rumah yang ditempati ibu sambungnya. Namun Jelo tak mau mengambil rumah itu. Ia hanya mengamankan saja apa yang menjadi aset penting di perusahaan papanya. Ia bahkan memecat adik tirinya karena ketahuan menggunakan uang perusahaan.
"Jangan menyerah Jelo." kata Arjuna dari balik kaca yang ada di ruangan ICU.
"Aku mau pulang untuk mandi dan beristirahat sedikit. Apakah kamu mau ikut?" tanya Zack.
Arjuna mengangguk. Ia mengikuti langkah sahabatnya itu.
"Bagaimana dengan laporan atas penembakan Jelo?" tanya Arjuna. Zack adalah pengacara keluarga Pekins. Walaupun ia baru 2 tahun menekuni profesinya sebagai pengacara namun ia sudah membuktikan kemampuannya dalam membela beberapa perkara keluarga Pekins. Usia Zack memang lebih tua 2 tahun dari Arjuna.
"Jordy Adams melarikan diri. Anak buah kita tadi masih bentrok dengan anak buah keluarga Adams. Suasana masih memanas."
"Apapun yang terjadi, kita harus menemukan Jordy sebelum keluarga Adams membuatnya menghilang. Aku ingin dia diadili atas perbuatannya pada Jelo. Katanya dia menyerang Jelo dengan membabi buta sehingga Jelo tak berdaya baru ditembak."
"Kamu serius ingin menemukan Jordy Adams? Kamu lupa kalau dia sekarang adalah kakak iparmu?"
Langkah Arjuna terhenti. Ia begitu marah melihat keadaan Jelo. Bertambah marah karena mendengar bagaimana Jordy menyerang Jelo. Ia lupa dengan statusnya sebagai suami dari Fiana.
"Aku yakin kalau Fiana akan mengerti. Cepat cari keberadaan Jordy saja." Kata Arjuna lalu segera masuk kedalam mobilnya.
*********
Karena kelelahan, Fiana akhirnya tertidur dengan pulas setelah diberikan vitamin oleh Reyna. Gadis itu bangun saat hari sudah sore.
Saat ia memeriksa ponselnya, tak ada panggilan dari Arjuna. Fiana pun langsung meneleponnya namun nomor lelaki itu tidak bisa dihubungi.
Fiana menjadi galau. Ia baru saja akan keluar dari kamarnya, saat pintu kamarnya terbuka dan ternyata mamanya yang masuk.
"Ada apa, ma?" tanya Fiana lalu duduk di pinggiran tempat tidur.
Wulan duduk di samping putrinya. "Sayang, apakah kamu punya gaun untuk pergi makan malam dengan pangeran? Kalau tidak, ayo kita ke butik untuk membeli gaun untukmu."
Fiana mendengus kesal. "Aku nggak mau pergi, ma. Aku tidak tertarik dengan pangeran. Lagi pula aku ingin segera kembali ke Amerika."
"Sayang, jangan seperti itu. Papa mu ingin agar kita bisa membangun hubungan dengan keluarga kerajaan. Bukankah pangeran Jeremi sangat tampan?"
"Mama, aku ingin sekolah."
Wulan akan bicara namun matanya tertuju pada cincin yang dipakai Fiana. "Kamu punya cincin baru? Kok mama nggak pernah lihat kamu memakai cincin ini sebelumnya. Ini juga bentuknya seperti cincin kawin." Wulan memegang tangan anaknya.
Fiana dengan cepat menarik tangannya. Ia bersyukur karena bentuk cincin pernikahannya ini tak seperti cincin pernikahan pada umumnya karena ada berlian kecil di tengahnya.
"Mama apaan sih? Cincin ini sudah lama aku miliki. Di berikan oleh salah satu cowok yang pernah berpacaran dengan ku di Amerika."
"Kamu pernah punya pacar? Kenapa Reyna bilang kalau kamu tak pernah pacaran di sana?"
"Ayolah, ma. Apakah kehidupan ku harus 24 jam diawasi oleh aunty Rere?" Fiana pura-pura kesal.
"Nak, setidaknya malam ini kamu pergi makan malam dengan pangeran. Kamu kan belum mengenal pribadinya. Jangan buat papamu tambah stres ya?"
"Iya." Fiana menjawab dengan wajah cemberut. Wulan mengecup puncak kepala putrinya sebelum akhirnya ia meninggalkan kamar Fiana.
Gadis itu langsung menelpon Arjuna kembali. Namun ponsel cowok itu masih belum aktif. Fiana menjadi semakin gelisah.
Makanya, pukul 7 tepat, Jeremi sudah menjemput Fiana.
Keduanya pergi dengan mobil Jeremi ke sebuah restoran yang ada di puncak kota itu. Jeremi sengaja memilih ruangan privat sehingga jauh dari sorotan kamera.
"Aku senang karena kamu menerima ajakan untuk makan malam ini." kata Jeremi dengan wajah sumringah. Fiana pun memaksakan sebuah senyum walaupun sebenarnya hatinya gelisah karena belum bisa menghubungi ponsel Arjuna.
"Ayo silahkan di pilih makannya." kata pangeran saat melihat Fiana yang nampak tak banyak bicara.
"Pangeran saja yang memilihnya. Tahu kan kalau aku sudah lama tak tinggal di sini jadi lupa dengan semua makannya."
"Baiklah." Jeremi segera memanggil pelayan untuk memesan makanan. Sambil menunggu makanan siap, keduanya menikmati anggur.
"Fiana, aku baru tahu kalau kamu adalah mahasiswa S2. Pada hal usiamu masih sangat muda." kata Jeremi.
"Aku memang ingin sekolah setinggi mungkin. Aku sangat suka dengan dunia pendidikan dan berharap bisa menjadi guru juga."
"Wah, cita-cita yang mulia. Aku sangat senang mendengarnya. Aku juga berkeinginan membangun banyak fasilitas pendidikan di kerajaan ini sehingga generasi muda kita tak perlu kuliah ke luar negeri."
"Mungkin aku bisa menjadi salah satu staf pengajarnya."
Jeremi mengangguk setuju. "Kenapa tidak?"
Fiana menyesap anggurnya perlahan. Sesungguhnya ia terus memikirkan Arjuna.
"Fiana, aku sungguh tertarik denganmu. Bagiku kamu gadis yang menarik dan...."
Ponsel Fiana tiba-tiba saja berbunyi. Gadis itu langsung mengambilnya dan ia terkejut saat melihat kalau itu dari Arjuna. Wajahnya langsung berubah menjadi senang.
"Pangeran, aku permisi untuk menerima panggilan ini." Fiana langsung berdiri dan melangkah menuju ke bagian luar.
"Hallo sayang ..." terdengar suara Arjuna dari seberang.
"Aku sangat khawatir, sayang. Ponselmu dari tadi tidak aktif."
"Maafkan aku, sayang. Aku tak sadar kalau ponselku batrei nya kosong. Aku terlalu memikirkan Jelo. Keadaannya masih kritis dan itu yang membuatku kurang fokus."
"Tidak apa-apa, sayang. Aku tadi agak stres karena berpikir kalau kamu akan membenciku karena kakakku menembak sepupumu."
"Bagaimana mungkin aku akan membencimu? Kamu adalah cinta dalam hidupku."
Fiana jadi lega. "Aku sudah merindukanmu."
"Aku juga, sayang. Sabar ya? Jika keadaan Jelo sudah membaik maka kita pasti bertemu."
"Baiklah. Oh ya, aku sedang keluar makan malam dengan pangeran."
Terdengar helaan napas dari seberang. "Aku cemburu sayang."
"Please ..., jangan cemburu Karena aku tak akan pernah berpaling darimu walaupun ada seribu pangeran di depanku."
"Aku mencintaimu."
"Aku juga, sayang."
"Doakan kesembuhan Jelo ya?"
"Ok."
"Bye."
Fiana masuk lagi ke dalam. Makanan yang mereka pesan sudah ada.
Jeremi ingin bertanya siapa yang menelepon namun ia mengurungkan niatnya. Wajah Fiana kini terlihat penuh senyuman. Sangat berbeda sebelum ia menerima telepon tadi.
"Pangeran, boleh kita makan sekarang?" tanya Fiana.
"Makanlah, cantik."
Fiana pun mencoba menikmati makanan itu walaupun sebenarnya ia tak merasa lapar.
**********
"Keberadaan Jordy sudah diketahui." kata Zack. Arjuna yang masih duduk di depan ruangan ICU langsung berdiri.
"Di mana dia?"
"Ada di kota Lou. Keluarga Adams punya sebuah kastil di sana. Kastil itu letaknya jauh dari pusat kota."
"Bagaimana sistem keamanannya?"
"Cukup ketat. Apakah kamu akan menyerang ke sana?"
Arjuna mengangguk. "Ya. Aku harus berbicara dengan Jordy Adams."
"Kamu akan memukulnya?" tanya Zack khawatir karena ia tahu Arjuna sangat menguasai ilmu bela diri.
"Ya. Sebagaimana ia sudah melukai Jelo."
"Kamu yakin? Kamu tak ingat lagi dengan Fiana?"
"Tenang saja. Aku tidak akan menembaknya." kata Arjuna lalu segera berdiri dan langsung melangkah ke luar.
Di rumahnya, Fiana tak bisa tertidur. Ia terus memikirkan Arjuna.
Tiba-tiba ia mendengar keributan di luar kamarnya. Ia segera keluar dan melihat Kakaknya Jerry yang sedang mengisi peluru di pistolnya.
"Ada apa, kak?"
"Aku akan membunuh Arjuna Pekins karena dia sudah membunuh kakakku Jordy!"
Fiana terkejut. "Tidak.....! Tidak....!" teriaknya histeris sebelum akhirnya gadis itu pingsan.
************
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Terima kasih ya yang sudah membaca bab ini