Selena Maheswari, adalah sosok gadis mandiri dan pekerja keras, dia tidak sengaja menyaksikan sendiri seseorang bertangan dingin yang dengan gampangnya mengeksekusi rekannya yang berkhianat, tanpa rasa bersalah ataupun menyesal.
Di dalam kejadian itu ternyata ada anak buah dari mafia tersebut yang mengintai Selena hingga pada akhirnya Selena terjerat ke dalam lingkaran sang Mafia.
Mampukah Selena keluar dari jerat sang Mafia atau malah sebaliknya?? Nantikan kisah selengkapnya hanya di Manga Toon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Yang Gagal
Setelah kepergian Valen dua maid langsung datang ke kamar Selena, membawa baju dan peralatan mandi yang khusus untuk Selena, gadis itu merasa heran, baru saja dirinya ingin menyusun strategi untuk kepergiannya, jika posisinya terus menerus dalam penjagaan ketat seperti ini mana mungkin dia bisa kabur.
"Nona, ayo ikut dengan maid Hana," ucap Mariah dengan tegas namun sopan.
"Ta ...tapi Bu Maria, aku bisa kok mandi sendiri," tolak Selena dengan halus.
"Ini perintah Nona," jelas Maria.
"Tapi aku bisa mandi sendiri Bu, lagian buat apa peralatan segitu banyaknya aku cuma pingin mandi biasa pakai sabun dah selesai," tolaknya dengan cepat.
"Nona, aku mengerti tapi semua alat ini sudah di beri khusus untuk Nona, tolong kerja samanya ya, agar kita sama-sama enak, Nona aman kita juga aman," jelas Maria.
Melihat wajah lelah wanita paruh baya itu tidak tega untuk Selena menolaknya, harinya mudah rapuh apalagi usia Maria sama persis dengan ibunya di kampung.
Akhirnya dengan terpaksa gadis itu mau mengikuti dua maid masuk ke dalam kamar mandi, Selena menatap nanar ke arah bak mandi marmer yang terletak di sudut kiri ruangan, uap tipis sedikit mengepul dari dalam air bak tersebut beserta taburan kelopak bunga mawar di dalamnya, Selena dibuat tertegun menyaksikan pemandangan ini. Aroma bunga mawar dan harum kayu cendana menyeruak sedikit membuat relaksasi, akan tetapi sejenak gadis itu mulai menyadari, ini bukan fasilitas yang sesungguhnya namun ini sebuah ikatan yang akan menjeratnya terus menerus.
Selena mulai memasukkan kakinya perlahan ke bak mandi itu, hingga seluruh tubuhnya berendam diantara taburan bunga mawar itu, sejenak Selena mulai menikmati relaksasi yang sudah di sediakan, ini bukan peralatan biasa terlalu mewah untuk dirinya yang hanya seorang tawanan.
Selesai dengan ritual mandinya Selena mulai mengenakan baju yang sudah di siapkan oleh Valen. Hidup gadis itu sejenak berubah menjadi Cinderella, namun segala kemewahan yang ada di tempat ini tidak bisa mengubah rencana dirinya yang sudah tersusun.
"Baiklah aku ikuti perintahmu Don! Untuk mengelabuhi semua pelayan mu," gumam Selena.
Selena sudah mengenakan dress bunga-bunga selutut dan rambutnya sedikit diikat tengah selebihnya dibiarkan tergerai menambahkan kecantikan alami yang di miliki oleh Selena.
Di saat Selena sedang menikmati waktu luangnya di saat itu pula dia sambil mengatur siasatnya, dia berpura-pura ingin berkeliling di seluruh ruangan ini yang ditemani oleh beberapa maid di belakangnya hingga pada akhirnya ia menemukan pintu keluar dari gudang belakang.
Wajahnya yang lugu membuat para pelayan tidak ada yang percaya kalau sebenarnya gadis lemah ini tengah mengatur rencananya.
☘️☘️☘️☘️
Waktu begitu cepat berlalu hingga matahari mulai bersembunyi di balik awan kelabu, di dalam kamar suasana sunyi mencengkam beruntung suara hujan menari-nari diatas genting bergemuruh layaknya lagu pengantar tidur.
Setelah menyusun semuanya gadis cantik itu malah tertidur diatas ranjang Valen yang begitu nyaman dan empuk sehingga mampu membius matanya ditambah musim penghujan yang membuat siapapun terlelap.
Akan tetapi di tengah-tengah tidurnya tiba-tiba saja Selena terbangun dengan sekujur tubuh yang dipenuhi oleh keringat dingin. Tiba-tiba saja tangan Valen yang berlumuran darah mulai hadir di dalam mimpinya.
"Aaaaah!" teriak Selena dengan napas yang terengah-engah.
Selena mencoba mengambil nafas dengan beberapa kali tarikan, di dalam benaknya bayangan tangan dan darah selalu memenuhi isi kepalanya, sejenak gadis itu mulai melihat ke arah pintu yang sedikit terbuka, jantungnya mulai berdetak cepat baginya ini merupakan kesempatan emas yang tidak boleh terlewatkan begitu saja.
Pelan-pelan kakinya mulai bergetar menyentuh lantai yang terasa dingin, perlahan tapi pasti langkah kecil Selena mulai menyusuri lorong-lorong panjang di rumah itu. Sejenak suara langkah para penjaga terdengar semakin dekat, membuatnya buru-buru menempel di balik lemari besar. Nafasnya tercekat, hanya beberapa sentimeter saja, ia bisa ketahuan.
'Tuhan tolong selamatkan aku dari sini,' pintanya di dalam hati.
Beruntung mereka langsung berlalu tanpa menengok ke arah kiri tempatnya bersembunyi, Selena segera melangkah ke arah gudang di mana tempat itu sudah ia selidiki siang tadi, sialnya pintu gudang itu terkunci, Selena pun bingung harus dengan cara apa dia membukanya.
"Astaga! Ini bagaimana tolong beri aku petunjuk," pinta Selena di dalam doanya.
Sekejap mata Selena mulai menyapu ke seluruh ruangan, entah kenapa seperti ada dorongan yang mengharuskannya untuk mendongak ke atas, dan ternyata diatas kepalanya terpasang sebuah kotak kecil yang terbuat dari kayu.
Dengan cepat Selena segera membuka kotak tersebut dan ternyata di dalamnya berisi beberapa kunci, sejenak Selena langsung mempercepat tangannya untuk memutar kunci tersebut dan dalam percobaan pertanyaan pintu langsung bisa terbuka.
"Kreek," bunyi pintu itu dengan lirih.
Selena langsung masuk ke dalam gudang tersebut yang menembus langsung ke halaman belakang, beruntung ia masih memegang beberapa kunci tadi sehingga ia bisa keluar dari gudang tersebut dengan mudah.
"Puji Syukur aku sudah berada di halaman belakang rumah ini," ucapnya dengan nafas yang tersengal.
Selena berhenti sejenak memperhatikan kakinya yang berdarah akibat menginjak sesuatu yang tajam tadi di dalam gudang. Saat ini gadis itu mencoba untuk melanjutkan kembali langkahnya namun baru beberapa langkah terdengar oleh Mateo.
Ia langsung keluar berlari tanpa peduli dengan suara berisik Mateo. Alarm berbunyi nyaring, sorot lampu menyorot ke segala arah. “Ada yang kabur!” teriak seseorang.
Kaki Selena dipenuhi darah yang bercucuran akan tetapi dia tidak peduli dan langsung menghampiri pagar kawat tinggi yang menjadi pembatas halaman belakang.
Tangannya mulai meraih bagian tengah pagar dan perlahan kakinya mulai memanjat hingga pada akhirnya ia berada di puncak pagar, tubuhnya hampir melompat keluar akan tetapi bajunya nyangkut, Selena panik, antara ingin menyelamatkan bajunya atau melompat dari atas pagar.
"Selena!" teriak suara bariton itu, menghentikan gerakannya.
Seketika Selena menoleh dibawah pencahayaan lampu yang temaram, jantungnya seolah berhenti ketika melihat wajah dingin Valen dan tatapan yang mematikan itu.
"Kau pikir bisa kabur dariku," ucapnya tenang namun penuh ancaman.
Langkah kaki Valen tenang, namun mematikan berbanding balik dengan deru nafas gadis itu yang begitu ketakutan melihat langkah Valen yang semakin mendekat ke arahnya.
"Turun, atau aku yang menurunkan," ucapannya dengan tatapan yang mengerikan.
Selena mencoba memejamkan matanya tanpa terasa air mata jatuh membasahi pipinya. "Nona Selena aku tidak menyuruh Anda untuk berpikir lama, turun atau aku yang menurunkan kan!" ucapnya kembali penuh dengan tekanan.
Tanpa pikir panjang Selena pun langsung terjun ke bawah dan tanpa sadar tubuhnya menubruk tubuh tegap Valen.
"Aaaaah ....!" teriak Selena.
"Bruuuugh!" tubuh keduanya terjatuh dalam posisi Selena menindih tubuh Valen.
"Dasar gadis bodoh!" desis Valen dengan tatapan elangnya.
Bersambung ....
Malam kakak semoga suka ya!
my queen
queen mafia pantang mundur,dan satu tidak ada kata maaf