“Menikahlah denganku, Jia.”
“Berhentilah memikirkan masa lalu!! Kita tidak hidup di sana!!”
“Jadi kamu menolakku?”
“Apa yang kamu harapkan?? Aku sudah menikah!!!!”
Liel terdiam, sama sekali tidak menunjukkan keterkejutan. Sorot matanya yang tajam itu kembali lagi. “Aku tahu kamu sudah bercerai. Pernikahan macam apa yang sehari setelah menikah sudah tidak tinggal satu atap?”
Sebelas tahun lebih, mereka memutuskan untuk menyerah dan melupakan satu sama lain. Namun, secara ajaib, mereka dipertemukan lagi melalui peristiwa tidak terduga.
Akan kah mereka merajut kembali tali cinta yang sudah kusut tak berbentuk, meski harus melawan Ravindra dan anaknya Kay, wanita yang penuh kekuasaan dan obsesi kepada Liel, atau justru memilih untuk menyerah akibat rasa trauma yang tidak pernah sirna.
Notes : Kalau bingung sama alurnya, bisa baca dari Season 1 dulu ya, Judulnya Beauty in the Struggle
Happy Reading ☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Avalee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTEMUAN YANG MEMBUKA LUKA LAMA
Tiga minggu berlalu, namun Jia, masih tidak melakukan apapun dengan bukti video yang ada padanya. Bukan Jia tidak mengerti dengan apa yang akan dilakukannya, hanya saja … dia masih tidak tahu, kapan akan memulainya.
Terlebih lagi, wajah Kay bertebaran di mana-mana, di iklan tv, media sosial, baliho maupun videotron. Bahkan dari kejauhan, secara tidak sengaja mata Jia menyipit, membaca judul dari promosi iklan filmnya, dan itu membuat Jia merasa miris. Judul film yang diperankannya tidak lain “Perundungan di Senja Merah”.
“Wah … dia mendapat peran sebagai korban 'bullying'?? Siapa produsernya? Ini sungguh di luar dugaan.” gumam Jia dengan perasaan yang kembali terluka.
Meski begitu, Jia sadar, kesibukan yang Kay jalani sebagai orang terkenal hingga saat ini, membuatnya tidak pernah lagi mengganggu Jia, sedikitpun.
Lantas, apa yang Jia dapatkan jika dia bermain kembali dengan Kay hanya karena video yang ada di tangannya? Apakah yang dia lakukan murni balas dendam atau terus bersembunyi dan melupakan semuanya? Pikirannya berkecamuk, Jia benar-benar bimbang.
Begitu banyak hal yang ada di benaknya, sampai Jia tidak sadar bahwa hari sudah menjelang malam. Sejak satu jam yang lalu, dia duduk di luar “coffee shop” yang letaknya tidak jauh dari klinik nya, menghabiskan dua cangkir kopi espresso, yang rasa pahitnya kurang lebih sama seperti hidupnya.
Tanpa membuang waktu, dia memutuskan untuk kembali ke apartemennya. Namun, saat berdiri, wanita dengan blazer batik coklat dengan drees putih itu seperti tersihir dan mengurungkan niatnya untuk pulang, saat melihat toko kue yang terletak di seberang jalan “coffee shop”.
“Ah, 'cookies' kesukaanku, aku harus membelinya sebelum toko kue itu tutup,” ucapnya dalam hati sambil membawa tasnya.
Memasuki toko tersebut, Jia langsung disambut dengan berbagai aroma kue dan cookies yang wangi dan menggugah selera. Suasana hatinya kini berubah menjadi lebih hangat.
Bibirnya melengkungkan senyuman hanya dengan melihat berbagai macam kue yang cantik dan indah. Jia sangat tidak sabar untuk membeli dan mencicipinya.
Secepat kilat Jia berjalan ke bagian kasir. Kemudian, terdengarlah suara pintu yang bergeser. Seorang pria mengenakan setelan jas biru tua dengan tinggi yang semampai masuk ke toko kue. Jia hanya melirik sekilas melalui ekor matanya.
“Huh, pria ini badannya bagus, tetapi sayang, cookies dan kue kesayanganku lebih menarik daripada dia,” gumam Jia dalam hati tanpa melihat wajah pria tersebut.
Sembari menunggu pengembalian dana, mata Jia berbinar kembali saat melihat semua isi berbagai toples kaca yang berisikan cemilan manis dan aneka permen yang cantik dan berwarna-warni.
Hingga dia menyadari, bahwa ada pantulan wajah seorang pria dari salah satu toples kaca yang dilihatnya. Dia merasa bahwa pria tersebut tidak asing baginya.
“Hm, mengapa aku seperti mengenalnya? Akan tetapi … siapa? Apa aku harus berbalik dan menatap wajahnya dari dekat?? Tunggu!! Itu terlalu g1l4 … Jia.” ucapnya lagi dalam hati seraya menertawakan diri sendiri.
Kemudian, pria tersebut berjalan pelan ke arahnya. Wajah yang terpantul melalui toples kaca itu sekarang semakin terlihat jelas, dan Jia menyadari sesuatu.
“EH!!! BUKANKAH ITU DIA?? ITU BENAR DIA BUKAN? MENGAPA DIA BISA ADA DI SINI!!! SI4L, AKU HARUS SEGERA PERGI!!!!” batin Jia dalam hati seraya menundukkan kepalanya.
Sebelum sempat pria tersebut tiba di tempatnya. Jia segera pergi dengan langkah yang cepat seperti seekor tikus. Dia tetap menundukkan kepala, berpura-pura tidak mengenalnya.
...****************...
Ironisnya, pria tersebut malah mengejarnya. Terdengar beberapa kali pria itu memanggil namanya, namun tidak Jia hiraukan. Jia terus berjalan menuju parkiran mobil di klinik, tanpa menoleh ke belakang, berharap pria tersebut berhenti mengejarnya.
Namun, pria itu tetap gigih dan tidak berhenti mengikutinya, membuat Jia kewalahan. “Apa kamu penguntit? Berhenti mengikutiku!!!” ucap Jia tanpa menoleh ke belakang.”
“Haaaa … jalanmu sungguh cepat ... kemarilah, ada yang ingin aku berikan padamu.” balas pria itu seraya menghela napas panjang.
Jia berbalik secara perlahan tanpa menatap matanya yang tajam. Angin malam mulai berhembus, mengacak pelan rambut Jia.
Dia kemudian merapikan rambutnya dan akhirnya, mata mereka saling bertemu, menatap satu sama lain, di bawah taburan permata yang berkelap kerlip indah di langit malam.
Jia memicingkan matanya dan bertindak tegas. “Berhentilah menggangguku, seolah kita kenal satu sama lain.”
“Hei, jangan terlalu galak, aku mengikutimu karena ingin memberikan ini,” balas pria itu seraya mengembalikan uang sisa kembalian, yang tidak sempat Jia ambil dari kasir yang ada toko kue tadi.”
Mata Jia melebar seraya mengambil sisa uang tersebut dengan kasar dari tangannya. “Kuharap kita tidak bertemu lagi!!”
“Ah, ini struk pembelianmu tadi … wow, kamu membeli 7 buah cookies, 1 cupcake, dan 2 potong cheese cake … apa kamu ingin menjadi penderita Diabetes? Kurangi lah makan makanan yang manis.” Balasnya tanpa menghiraukan perkataan Jia.
“Aku lebih tahu tentang kesehatanku daripada kamu, jadi hentikan dan pergilah dari hadapanku.” Jia membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya.
“Ah, jadi kamu bekerja di sini? Apakah Klinik ini milikmu?? Hei tunggu, kamu berdandan sekarang? Ada apa dengan matamu? Mengapa bulu matamu panjang sekali??”
Jia mulai geram seraya mengernyitkan dahinya. Dari jutaan pertanyaan yang bisa di lontarkan pria itu kepadanya, kenapa dia harus memilih kata-kata yang menyudutkan penampilannya saat ini.
“Ini 'eyelash extension', bod0h!!!” Jadi, berhenti menghinaku … Eliel Bentela!!!
“Akhirnya … kamu memanggil namaku … aku rindu. Hi Jia, 'long time no see',” balas Liel dengan senyuman tipisnya.
“Aku bilang pergi!!” usir Jia sambil menunjuk ke arah jalan.
Liel pun menghela napas panjang. Wajahnya tampak putus asa namun dia tetap bersikeras untuk mendapatkan perhatian Jia. “Menikahlah denganku, Jia.”
Seketika Jia terdiam. Mulutnya sedikit terbuka dan wajahnya terlihat bingung, saat telinganya harus mendengar ungkapan Liel. “Hah? Apa?? Ya ampun … sepertinya kamu tidak waras!! Pergilah, anggap saja aku tidak pernah mendengar pembicaraan ini!!”
“Aku hanya mengatakan apa yang otakku perintahkan saja … bukankah ini mirip dengan perkataanmu saat kita pertama kali bertemu??” (Beauty in the Struggle, bab 1)
Seketika Jia memicingkan matanya. Hanya satu yang ada dipikirannya saat ini, yaitu segera pergi dari Liel. “ Berhentilah memikirkan masa lalu!! Kita tidak hidup di sana!! Sekarang singkirkan tanganmu atau tanganmu akan terjepit di pintu mobil ini!!!!!”
“Jadi kamu menolakku?”
“Apa yang kamu harapkan?? Aku sudah menikah!!!!”
Liel terdiam, sama sekali tidak menunjukkan keterkejutan. Sorot matanya yang tajam itu kembali lagi.
Dia pun perlahan mendekatkan wajahnya ke arah Jia, dengan suaranya yang rendah dan berat, dia pun berbisik di telinga Jia
“Aku tahu kamu sudah bercerai. Pernikahan macam apa yang sehari setelah menikah sudah tidak tinggal satu atap? Bahkan selama setahun, kamu menutupi perilakunya yang memilih untuk selalu tinggal bersama kekasihnya?” bisik Liel dengan suara rendahnya, membuat Jia merinding.