"Uangku adalah uang kita, tapi uangmu adalah uang keluargamu."
Kalimat itu menjadi pahit yang Arumi telan setiap hari. Membesarkan dua anak yang beranjak dewasa sendirian di bawah atap yang sama dengan seorang suami, Arumi merasa seperti single parent berstatus menikah. Sementara sang suami tampil necis dan loyal di luar sana, Arumi harus berjuang dengan wajah kusam di depan laptop demi biaya sekolah anak-anak.
Sampai kapan Arumi harus mengalah? Apakah pernikahan sepuluh tahun ini layak dipertahankan jika keberadaannya hanya dianggap sebagai 'mesin penghasil uang' yang tak berhak bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI
Setelah badai besar di meja makan subuh tadi, Arumi memaksakan dirinya untuk tetap tegak. Dengan mata yang masih sedikit sembap, ia membonceng kedua putranya membelah jalanan kota menggunakan motor matic tua peninggalan almarhum ayahnya. Sepanjang perjalanan, tidak banyak kata yang terucap.
Bintang memeluk pinggang ibunya dengan erat dari belakang, sementara si Adik bersandar tenang di bagian depan. Mereka bertiga saling menguatkan lewat keheningan.
Begitu motor berhenti di depan gerbang sekolah, Arumi membantu kedua anaknya turun. Ia merapikan seragam mereka yang sedikit kusut akibat pelukan erat di lantai dapur tadi.
"Belajar yang rajin ya, Kak, Dek. Jangan dipikirin masalah yang tadi," bisik Arumi sambil mengecup dahi mereka satu per satu.
Bintang menatap ibunya dengan mata cerdasnya. "Ibu langsung pulang ya. Jangan melamun di jalan. Kakak sama Adik pasti jagain Ibu."
Arumi tersenyum haru, mengangguk pelan sampai kedua punggung anaknya hilang di balik ramainya gerbang sekolah. Begitu mereka tak lagi terlihat, senyum di wajah Arumi perlahan pudar, digantikan oleh rasa lelah yang luar biasa hebatnya. Ia memutar arah motornya, berniat langsung pulang ke rumah sederhana peninggalan orang tuanya.
Pikiran Arumi berkecamuk sepanjang jalan. Fitnah keji yang dilontarkan Pras pagi ini benar-benar menjadi belati yang memotong sisa-sisa rasa hormat dan cintanya yang terakhir. Sepuluh tahun ia bertahan dalam kemandirian yang dipaksakan, menahan lapar, menahan rindu akan kasih sayang, dan mengalah pada ibu mertua serta keluarga besar Pras. Namun, dituduh tidak suci dan dituduh bermain gila dengan laki-laki lain hanya karena ia mencari nafkah lewat tulisan? Itu sudah keterlaluan.
"Aku harus pisah," gumam Arumi di balik helm baretnya. Kali ini, tekad itu tidak lagi berupa keraguan. Rasanya sudah seratus persen bulat. Ia tidak ingin anak-anaknya tumbuh besar di dalam rumah yang penuh dengan racun manipulatif dari seorang ayah yang tidak bertanggung jawab.
Sesampainya di rumah, suasana sepi langsung menyambutnya. Arumi melangkah masuk, mengunci pintu rapat-rapat, lalu meletakkan kunci motor di atas meja. Ia berjalan ke arah sofa ruang tamu tempat anak-anaknya berbicara kemarin. Di sana, ia terduduk lemas, menyandarkan kepalanya yang terasa sangat pening.
Tiba-tiba, ponsel di dalam saku jaket lusuhnya bergetar. Drrt... drrt...
Arumi meraba sakunya dengan malas. Ia menduga itu adalah pesan dari Pras yang melanjutkan makiannya, atau mungkin dari ibu mertuanya yang ikut menyemprotnya setelah mendapat aduan dari sang anak. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Arumi membuka layar ponselnya.
Namun, dugaannya salah besar. Nama yang tertera di layar adalah Editor Meta, editor yang selama ini membimbing naskah novel online miliknya.
Editor Meta: Pagi, Kak Arumi! Ada kabar gembira banget hari ini. Aku baru saja dapat laporan dari tim manajemen. Naskah novel Kakak yang sedang berjalan mendapat respons yang sangat luar biasa dari salah satu penerbit mayor ternama!
Editor Meta: Mereka tertarik untuk segera menerbitkan buku Kakak dalam bentuk cetak dan sudah mengajukan draf kontrak untuk adaptasi lebih lanjut. Bonus performa dan royalti bulan ini juga dipastikan melonjak tajam karena grafik pembaca Kakak naik drastis. Tolong hubungi aku segera ya Kak kalau sudah senggang!
Arumi membaca pesan beruntun itu dengan mata terbelalak. Ia membaca setiap kalimatnya berulang kali, memastikan bahwa matanya tidak salah lihat akibat terlalu banyak menangis. Jantungnya berdegup kencang, kali ini bukan karena takut atau sedih, melainkan karena rasa haru yang membuncah.
"Ya Allah..." Arumi menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air matanya kembali tumpah, namun kali ini adalah air mata rasa syukur yang amat dalam.
Di saat suaminya menghina pekerjaannya sebagai kegiatan nggak jelas dan menuduhnya yang bukan-bukan, Tuhan justru membuka pintu rezeki dari jalan pekerjaan tersebut. Kabar dari penerbit ini bukan sekadar tentang uang atau popularitas bagi Arumi, melainkan sebuah jaminan kebebasan. Ini adalah jawaban atas doa-doanya di atas sajadah subuh tadi.
Dengan gemetar, Arumi mengetik balasan untuk editornya, menyatakan bahwa ia sangat bersedia dan siap melakukan proses selanjutnya. Setelah mengirim pesan tersebut, Arumi memeluk lututnya di atas sofa. Rasa lega yang teramat sangat mengalir di sekujur tubuhnya.
Kini, ia tidak perlu lagi takut kelaparan jika harus meninggalkan Pras. Ia tidak perlu lagi bingung bagaimana cara membayar sewa atau membiarkan anaknya memakai sepatu jebol. Saldo dari hasil keringatnya sendiri kini sudah lebih dari cukup untuk membangun kehidupan baru yang mandiri bersama Bintang dan si Adik. Rumah sederhana tempat ia berpijak saat ini adalah warisan mutlak dari orang tuanya, artinya ia tidak perlu pergi ke mana-mana Pras-lah yang harus keluar dari rumah ini.
Arumi menatap foto almarhum kedua orang tuanya yang tergantung di dinding ruang tamu. Tatapan mata mereka di dalam foto seolah tersenyum, memberikan restu atas keputusan besar yang akan ia ambil.
"Bapak, Ibu... Arumi akan jaga peninggalan kalian. Arumi akan besarkan cucu-cucu kalian dengan terhormat," bisik Arumi dengan suara mantap.
Ia bangkit dari sofa, berjalan menuju kamarnya dengan langkah yang jauh lebih ringan dari sebelumnya. Rasa pening di kepalanya mendadak hilang, tergantikan oleh energi baru yang meluap-luap. Arumi membuka laptop tuanya, duduk di kursi kayu asalnya, dan menatap layar yang menyala.
Siang ini, jemarinya tidak lagi menari di atas keyboard karena tekanan atau tuntutan rasa takut akan kekurangan uang belanja dari Pras. Hari ini, ia mengetik dengan penuh kemenangan. Setiap kata yang ia susun adalah batu bata yang sedang ia bangun untuk dinding kebebasannya sendiri. Arumi tahu proses perpisahan nanti tidak akan mudah, Pras pasti akan mengamuk dan mertuanya akan mencacinya habis-habisan. Namun dengan kontrak buku di tangan dan cinta kedua anaknya di sisi, Arumi siap menghadapi badai apa pun yang akan datang.
kenapa juga gak naik taksi online atau apa gtu, walau cerita nya mereka masih akting susah sekali pun🙏🙏😁
padahal harusnya hubungan keluarga jangan sampai putus begtu saja, kalau sdh ada penyesalan terdalam dan niat baik untuk memperbaiki nya....
memang menyakitkan, namun mikir untuk kedepannya saja 🙏🙏😁
bukannya Arumi juga punya motor sendiri walau sdh tua yaa peninggalan bapak nya yg suka antar jemput sekolah??? maaf... tolong di jelaskan 😁🙏🙏