NovelToon NovelToon
Dewa Pedang Malas

Dewa Pedang Malas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KERETA

​Kabut tipis sisa semalam masih menyelimuti tanah saat matahari subuh baru saja mengintip malu-malu di ufuk timur. Di depan kediaman Keluarga Ji, suasananya terasa seperti rombongan yang bersiap menuju medan pembantaian. Dua puluh pengawal rumah tangga Keluarga Ji mengenakan baju zirah kulit terbaik mereka, tangan mereka mencengkeram gagang tombak dengan begitu erat hingga buku-buku jari mereka memutih.

​Ji Zhen, sang ayah, berdiri di samping kereta logistik utama yang penuh dengan kotak-kotak besi bersegel mantra kekaisaran—berisi batu spiritual murni dan tanaman obat berharga. Wajahnya tampak sepuluh tahun lebih tua pagi ini. Dia terus menatap ke arah jalanan yang sepi, menanti maut yang mungkin sudah mengintai di balik tikungan luar kota.

​Namun, ketegangan yang begitu pekat itu mendadak luntur saat sebuah kereta kuda berukuran raksasa keluar dari halaman dalam.

​Kereta itu tidak dilapisi besi zirah atau simbol militer yang gagah. Alih-alih terlihat seperti kendaraan pengawal, kereta itu lebih mirip seperti rumah mewah berjalan yang ditarik oleh empat ekor kuda jantan terbaik. Di dalamnya, Ji Huang telah melakukan sebuah renovasi ekstrem yang membuat para pengawal elitis kekaisaran sekalipun akan menangis tersedu-sedu jika melihatnya.

​Lantai kereta dilapisi oleh tidak tanggung-tanggung: tiga lapis kasur kapuk terbaik yang dijahit tebal, membuat permukaannya seempuk tumpukan awan. Di sudut-sudutnya, bantal-bantal sutra berukuran besar ditumpuk sedemikian rupa agar Ji Huang bisa bersandar dalam posisi apa pun tanpa takut lehernya salah urat. Tidak lupa, sebuah meja kayu kecil dipaku mati di tengah ruangan, penuh dengan piring-piring berisi kue kering, manisan buah persik, dan beberapa botol arak beras segar.

​"Huang'er... apakah kita ini sedang melakukan tugas pengawalan rahasia kekaisaran, atau sedang tamasya keluarga?" Ji Zhen memijat pelipisnya yang berdenyut, menatap anaknya yang sudah bergulung di dalam selimut tebal di dalam kereta, bahkan sebelum roda pertama berputar.

​"Ayah, hidup ini harus seimbang," suara Ji Huang terdengar meredam dari balik selimut sutranya. "Perjalanan ke Ibu Kota itu memakan waktu berhari-hari. Jika raga fana ini tidak dijaga kenyamanannya, bagaimana jiwaku bisa tetap jernih untuk memikirkan takdir kosmis? Sudah, cepat berangkat. Ini jam-jam krusial untuk tidur subuh."

​Ji Zhen hanya bisa menghela napas pasrah untuk kesekian kalinya. Dia memberi isyarat tangan kepada pemimpin pengawal, dan dengan suara derit kayu yang berat, iring-iringan logistik Keluarga Ji akhirnya mulai bergerak meninggalkan kota, memulai perjalanan panjang mereka.

​GLEDAG... GLUDUG... GLEDAG...

​Satu jam pertama perjalanan bagi Ji Huang adalah sebuah penderitaan lahiriah yang sangat nyata. Jalur keluar dari kota kekaisaran tidak semuanya dilapisi ubin batu yang halus. Begitu rombongan memasuki jalanan tanah berbatu, kereta raksasa itu mulai berguncang seirama dengan kontur jalanan yang tidak rata.

​Di dalam kereta, Ji Huang yang sedang mencoba memasuki alam mimpi indahnya terpaksa berguling ke kiri dan ke kanan akibat guncangan tersebut. Setiap kali roda kereta menghantam batu besar, tubuhnya akan sedikit memantul dari atas kasur tiga lapisnya.

​"Aduh... sialan," Ji Huang menggerutu, membuka matanya yang merah karena menahan kantuk. Dia menegakkan tubuhnya, jubah tidurnya berantakan, dan wajah tampannya tampak sangat dongkol. "Kereta fana ini suspensinya buruk sekali. Apa mereka tidak tahu cara meredam getaran dengan formasi spiritual? Membuat estetika tidur subuhku jadi hancur berantakan."

​Sambil menggerutu tanpa henti, Ji Huang merangkak malas ke arah jendela kereta, menggeser tirai sutranya sedikit, lalu berteriak keluar dengan suara malas yang melengking.

​"Hei! Kusir! Bisa pelan-pelan sedikit tidak?! Jalannya miring-miring terus, manisan buah persikku sampai tumpah dari piring!"

​Kusir kereta yang merupakan seorang pelayan tua Keluarga Ji langsung gemetaran mendengar teguran sang Tuan Muda. "M-Mohon ampun, Tuan Muda! Jalanan di depan memang banyak lubang dan batu gunung. Jika kita memperlambat kecepatan lagi, kita tidak akan sampai di pos peristirahatan sebelum malam tiba!"

​Ji Zhen yang berkuda di samping kereta segera mendekat, wajahnya penuh kecemasan. "Huang'er, tahan sedikit. Kita harus bergerak cepat. Semakin lama kita berada di jalanan terbuka, semakin besar peluang kita untuk disergap oleh musuh atau bandit!"

​Ji Huang mendengus malas, kembali menarik kepalanya ke dalam kereta dan menutup tirai dengan sentakan kesal. Dia menjatuhkan dirinya kembali ke atas tumpukan bantal dengan pasrah. Sambil mengunyah sebutir manisan buah yang tersisa di meja untuk melampiaskan kekesalannya, dia mencoba memaksa jiwanya untuk kembali tidur, mengabaikan fakta bahwa guncangan kereta terus menyiksa tubuh fana pemalasnya sepanjang hari.

​Waktu berlalu dengan lambat, matahari sore mulai condong ke barat, memancarkan cahaya kemerahan yang temaram di langit. Perjalanan yang melelahkan itu akhirnya membawa iring-iringan Keluarga Ji tiba di depan sebuah celah gunung yang sangat sempit dan curam—mulut Lembah Angin Hitam.

​Lembah itu tampak seperti celah raksasa yang membelah gunung menjadi dua. Di kanan dan kiri jalanan tanah yang sempit, tebing-tebing batu hitam menjulang tinggi menembus awan, ditumbuhi oleh pepohonan liar yang lebat dan mati. Begitu rombongan melangkah masuk, atmosfer di sekeliling mereka mendadak berubah secara drastis.

​Suhu udara menurun drastis menjadi sangat dingin. Suara kicauan burung fana yang tadinya terdengar di sepanjang jalan, kini mendadak lenyap total, digantikan oleh kesunyian yang begitu pekat dan mencekam. Hanya ada suara langkah kaki kuda dan derit roda kereta yang menggema di antara dinding-dinding tebing batu.

​"Semuanya, tingkatkan kewaspadaan! Siapkan senjata kalian!" Ji Zhen berteriak dengan suara rendah, tangan kanannya telah mencengkeram gagang pedang di pinggangnya. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya.

​Para pengawal Keluarga Ji langsung membentuk formasi melingkar, melindungi kereta logistik utama dan kereta raksasa milik Ji Huang di tengah-tengah. Langkah kaki mereka melambat, setiap pasang mata menatap liar ke arah semak-semak lebat di atas tebing dengan jantung yang berdegup kencang bagaikan tabuh jendral perang.

​Di dalam keretanya, Ji Huang yang baru saja berhasil menemukan posisi tidur yang pas dan mulai mendengkur halus, perlahan membuka satu kelopak matanya. Indra dewa yang tersembunyi di dalam jiwanya menangkap sesuatu.

​"Ugh... hawa membunuh yang sangat amat amatiran," gumam Ji Huang pelan sambil membalikkan badannya, mencoba mengabaikan puluhan aura manusia yang sedang mengendap-endap di atas tebing. Bagi seorang Dewa Pedang, hawa membunuh para bandit itu rasanya seperti bau menyengat dari bawang putih yang busuk—sangat mengganggu, namun dia terlalu malas untuk sekadar bangun dan mengusirnya.

​Dia hanya berharap para cecurut di luar sana tidak melakukan tindakan bodoh yang bisa membuat keretanya berhenti bergoyang dengan cara yang tidak sopan. Namun, takdir fana tampaknya memang selalu hobi menguji batas kesabaran sang kaum rebahan tertinggi ini.

1
Shen shandian luo
semua di labeli fana..tusuk gigi fana segala
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!