Apakah selembar kain jilbab cukup untuk menghapus masa lalu yang dianggap cacat?
Bagi Hana, pernikahan adalah gerbang lembaran suci. Namun, kenyataan menamparnya begitu menginjakkan kaki di kediaman suami. Sebagai wanita modern, ia dinilai miskin ilmu agama dan tidak bernasab terhormat. Sang Umi pun menganggapnya sebagai perusak masa depan putra kesayangan.
Kini, Hana harus menghadapi penolakan dingin dan upaya mertua mengembalikan kekasih lama suaminya. Ia hanya ingin bertahan demi membuktikan keikhlasan berbenah diri.
Jika gagal, Hana akan kehilangan pria tercinta sekaligus merelakan kesehatan jiwanya hancur. Di tengah jepitan konflik, sang suami dipaksa memilih antara bakti orang tua atau melindungi belahan jiwanya.
Akankah ketulusan Hana melunakkan kerasnya hati sang Umi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Uang Belanja Yang Menjadi Bahan Guningan
Uang belanja yang menjadi bahan guningan keji oleh sekelompok ibu perumahan di ujung jalan raya seketika membuat langkah kaki Hana terhenti tepat di depan pintu gerbang besi butiknya. Mereka berkerumun sambil menunjuk papan nama toko, menyebarkan desas desus miring mengenai asal usul modal usaha konveksi yang dituduh hasil menguras rekening pesantren. Berita bohong yang sengaja diembuskan oleh lingkaran kerabat Sarah kini telah sampai ke wilayah perkotaan, mengancam kredibilitas sosial yang sedang Hana bangun dengan susah payah. Wanita muda itu menarik napas dalam dalam, mencoba menekan debar jantung yang mendadak berpacu cepat akibat hantaman fitnah domestik yang kian melebar tanpa kendali.
"Lihatlah gaya penampilannya yang mewah sekarang, pasti semua itu diambil dari jatah nafkah bulanan para santri di kampung halaman suaminya," bisik seorang wanita paruh baya bergaun jingga dengan nada mencemooh.
Hana membalikkan badan perlahan, menatap lurus kelompok pengguning tersebut dengan sepasang mata yang memancarkan ketegasan seorang pemilik usaha. "Jika Ibu sekalian memiliki pertanyaan mengenai transparansi modal butik ini, silakan masuk dan periksa seluruh nota hukum dokumen kami secara terbuka."
"Kami tidak butuh pembelaan kata dari menantu pembangkang yang tega meninggalkan mertuanya yang sedang sekarat," sahut wanita bergaun jingga itu sambil melangkah mundur ketakutan.
"Kejujuran usaha ini akan dibuktikan oleh waktu, bukan oleh spekulasi liar tanpa dasar fakta yang kalian sebar pagi ini," tegas Hana sebelum melangkah masuk ke dalam ruko.
Pintu kaca butik ditutup dengan ketukan yang mantap, menyisakan keheningan yang menyesakkan di dalam ruang pamer busana muslimah yang bernuansa putih bersih. Neti segera datang mendekat dengan wajah yang pucat pasi, membawa gawai digital yang menampilkan beberapa pesan pembatalan pesanan dari pelanggan lokal akibat isu finansial tersebut. Tekanan psikologis ini dirancang dengan sangat rapi untuk menghancurkan sendi ekonomi Hana, memaksa dirinya agar menyerah kalah dan kembali bersujud memohon ampun ke surau. Namun, penderitaan fisik dan mental masa lalu telah menempa jiwa sang wanita kota menjadi sekeras batu karang yang tidak akan sudi lagi tunduk pada kezaliman manusia.
Sementara itu, di koridor luar ruang perawatan intensif rumah sakit daerah, Azzam sedang menghadapi tuntutan ganti rugi finansial yang diajukan oleh pengacara keluarga Sarah. Lembaran berkas audit sepihak diletakkan kasar di atas kursi besi, menuduh Azzam telah menyalahgunakan wewenang jabatan untuk mencuri dokumen sertifikat tanah hak waris milik Hana. Ayah Sarah memanfaatkan momen kritis ini untuk memojokkan posisi sang ustaz muda, mengancam akan membawa kasus pemindahan dokumen ini ke ranah hukum pidana jika rencana pernikahan darurat tetap dibatalkan. Keadaan domestik pesantren semakin berada di ujung tanduk sewaktu beberapa pengurus senior mulai memihak kepada kekuatan modal kelompok pendonor kolot tersebut.
"Pilihlah dengan bijak, Azzam, kembalikan sertifikat tanah itu ke brankas yayasan atau hadapi tuntutan hukum yang akan menghancurkan reputasi profesimu," ancam pengacara keluarga Sarah dengan senyuman dingin.
Azzam bangkit berdiri dengan sisa kekuatan fisiknya, menatap tajam dua pria paruh baya yang berada di hadapannya tanpa ada secuil pun rasa gentar. "Sertifikat itu adalah hak mutlak warisan almarhum ayah Hana yang selama ini kalian kuasai secara batil di bawah kedok dana titipan umat."
"Tanpa dukungan finansial dari keluarga kami, pesantren ibundamu akan dinyatakan pailit dalam waktu tiga bulan ke depan," cetus ayah Sarah seraya melipat kedua tangan di dada.
"Tuhan yang memelihara surau ini sejak dahulu, bukan tumpukan uang sewa tanah yang kalian banggakan setiap rapat pleno," jawab Azzam dengan suara rendah namun bergetar hebat.
Ketegasan spiritual sang ustaz muda membuat ayah Sarah terdiam dengan wajah yang kian memerah padam menahan murka yang mendalam. Azzam segera membalikkan tubuh, meninggalkan koridor rumah sakit menuju area parkir kendaraan untuk segera menyusul istrinya ke kota besar menggunakan mobil travel umum. Ia menyadari bahwa keselamatan mental Hana jauh lebih penting daripada mempertahankan puing puing kekuasaan yayasan yang telah terinfeksi oleh virus ketamakan duniawi. Sepanjang perjalanan membelah jalur cepat antarkota, doa keselamatan terus mengalir dari bibir sang pendidik, berharap benteng sabar sang pendamping hidup belum sepenuhnya runtuh oleh badai guningan baru.
Di dalam ruko konveksi perkotaan, Hana memilih untuk mengabaikan kerumunan di luar dengan memimpin langsung proses pemotongan kain sutra putih bersama para karyawan setianya. Jemari tangannya yang lentik bergerak cekatan mengarahkan gunting besar, mengubah rasa sakit batin menjadi sebuah karya busana muslimah modern yang bernuansa elegan. Setiap goresan kapur pola di atas kain adalah simbol perlawanan terhadap tuduhan miring mengenai aliran uang belanja pesantren yang dijadikan bahan guningan publik. Fokus kerja yang tinggi ini berhasil menjaga stabilitas emosi para staf, mengubah ketegangan lingkungan menjadi produktivitas usaha yang sangat masif.
"Neng Hana, ada utusan resmi dari asosiasi perancang busana muslimah pusat yang ingin menemui Anda di ruang tamu atas," panggil Neti dari balik tirai pembatas ruangan.
Hana meletakkan gunting besarnya perlahan, merapikan letak jilbab barunya sebelum melangkah menaiki anak tangga marmer menuju ruang pertemuan khusus. "Silakan siapkan minuman hangat untuk tamu kita, Neti, saya akan segera menemui mereka sekarang juga."
"Baik, Neng, semoga kedatangan mereka membawa angin segar bagi kelangsungan bisnis kita di tengah boikot ini," bisik Neti dengan secercah harapan di matanya.
Langkah tegap Hana menyambut kedatangan sang kurir asosiasi yang ternyata membawa surat rekomendasi pameran tahunan tingkat nasional di ibu kota. Penghargaan ini diberikan karena integritas desain Hana dinilai sangat konsisten menjaga nilai kesopanan syariat tanpa kehilangan sentuhan modernitas perkotaan yang dinamis. Air mata haru hampir saja menetes di pipi ayu Hana, sebuah pembuktian instan dari langit bahwa rezeki manusia tidak pernah bisa ditutup oleh konspirasi sekelompok pembenci. Dengan penandatanganan kontrak pameran ini, butik Hana resmi lepas dari ketergantungan material konveksi konvensional yang sempat diancam akan dihentikan oleh pengurus pondok.
Namun, kebahagiaan itu kembali diuji saat suara kegaduhan mendadak terdengar dari arah selasar depan ruko, disusul oleh suara benturan keras pada pintu gerbang besi. Azzam telah tiba di lokasi dengan penampilan yang sangat memprihatinkan, jubahnya tampak kusam terkena debu jalanan sementara perban di tangannya mulai mengering kaku. Kehadiran sang suami yang mendadak di tengah kepungan para pengguning komplek seketika memicu gelombang ketegangan baru yang sangat dramatis di sepanjang koridor pertokoan. Beberapa ibu perumahan langsung mengarahkan kamera gawai mereka ke arah sang ustaz muda, siap menjadikan momen pertemuan domestik ini sebagai konsumsi digital baru yang provokatif.
Hana melangkah turun dengan cepat, membuka pintu kaca butik lalu berdiri mematung memandangi sosok lelaki yang masih sah menjadi pemimpin hidupnya tersebut.
"Mengapa Anda nekat datang kembali ke sini setelah melepaskan seluruh jabatan penting di dalam yayasan pesantren, Mas Azzam?" tanya Hana dengan nada suara bergetar menahan haru.
Azzam melangkah maju satu jengkel, menatap sepasang mata istrinya dengan pancaran ketulusan cinta yang tidak mampu lagi disembunyikan oleh gengsi adat. "Saya datang untuk menyerahkan sisa harga diri saya yang utuh, Hana, saya telah meninggalkan seluruh fasilitas duniawi itu demi berdiri di sampingmu."
"Keputusanmu ini akan membuat Umi semakin membenciku sebagai penyebab kehancuran silsilah suci surau kita," lirih Hana seraya menundukkan kepala dalam dalam.
"Umi akan mengerti setelah kebenaran tentang kelicikan keluarga Sarah terbongkar sepenuhnya melalui jalur hukum yang adil," tegas Azzam sambil mencoba meraih jemari tangan Hana.
Sentuhan fisik yang canggung itu seketika menciptakan atmosfer suspense yang mencekam di bawah tatapan penuh selidik dari para tetangga yang masih berkumpul di luar gerbang. Hana tidak menarik tangannya kali ini, merasakan hangatnya pembelaan seorang suami yang selama ini ia rindukan di sela sudut sajadah malamnya yang sepi. Pertemuan di ambang pintu butik ini menjadi titik balik penting bagi alur pernikahan mereka, sebuah transisi emosi dari kepasrahan pasif menuju perjuangan aktif menegakkan syariat yang sesungguhnya. Sebelum Azzam sempat mengucapkan kalimat berikutnya, sesosok wanita berpakaian hitam pekat mendadak muncul dari balik kerumunan massa dengan membawa selembar kertas fatwa sosial.
Mata wanita misterius itu berkilat penuh kedengkian, siap melemparkan tuduhan baru yang akan menggoncang ketenangan batin sang menantu kota.