Rela menunggu kepulangan seorang lelaki selama 5 tahun. Alisa harus dihadapkan dengan kenyataan pahit bahwa gadis yang akan Gus Hafidz nikahi, bukanlah dirinya.
Sebagai salam perpisahan terakhir, Alisa rela menjadi bridesmaid pengantin wanita sebelum ia memilih untuk pergi dari pesantren.
Namun ternyata, kakaknya, Zefano. Pria yang baru pulang dari luar negeri itu jatuh cinta pada Alisa pada pandangan pertama. Dan berusaha menjerat Alisa agar menjadi miliknya. Hingga melakukan hal diluar nalar demi menjadikan Alisa istri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mur Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zefano vs Hafidz
Hafidz sontak maju, menutupi Alisa. Seolah menjadi tameng untuknya dari pria seperti Zefano.
"Tolong kak, lepaskan Alisa." Ucap Hafidz tenang, sementara Alisa sudah gemetaran dibelakang tubuh Gus Hafidz.
Sudut bibir Zefano tertarik tipis. Menghela nafas panjang setelah melihat begitu protective sekali adiknya itu pada gadis yang akan menjadi pilihannya.
"Lepaskan? Abah sendiri sudah setuju dengan perjodohan kami."
"Aku akan bilang sekali lagi pada Abah."
Zefano tak sanggup menahan tawanya kali ini, "Apa ini? Kau melarangku? Kau tidak berfikir calon istrimu disana akan bersedih saat melihat calon suaminya melindungi wanita lain?"
"Alisa bukan wanita lain!" Tegas Hafidz, suaranya meninggi.
Zefano tersenyum tipis, "Bukan wanita lain? Lalu? Masa lalumu?"
"Tolong kak, dari 2000 santriwati di pesantren ini, kakak bebas memilih siapapun selain Alisa!"
"Tapi aku maunya—dia." Tunjuk Zefano tegas ke arah belakang Hafidz.
Tangan Hafidz mengepal erat. Menatap tajam sang kakak di depannya serius.
Sementara Alisa di belakangnya gemetaran, kakinya lemas. Namun saat melihat tangan Hafidz gemetar dan mengepal. Alisa menjadi khawatir.
"Aku akan memilih Alisa." Tegas Zefano, tak perduli dengan pendapat adiknya itu.
Hafidz langsung emosi. Ia spontan mengarahkan tangannya ke atas, hendak menghajar sang kakak. Namun dihentikan oleh Alisa.
"Cukup!" Serunya, menghentikan langkah Hafidz.
Pria itu spontan menoleh, mendekat ke arah Alisa. Namun gadis itu langsung mundur beberapa tapak, menghindari Hafidz.
"Apa yang dibilang kakak itu benar. Tidak pantas anda melindungi saya sementara pernikahan anda dengan Ning Anisa tinggal hitungan hari." Ucap Alisa dengan kepala merunduk, tak ingin menatap keduanya.
Hafidz menganga tak percaya, sementara Zefano tersenyum miring, penuh kemenangan.
Hafidz genggam erat bahu Alisa, "Tapi aku khawatir denganmu, Alisa!"
Tangan Hafidz sontak terpental saat tiba-tiba Zefano menariknya. Berdiri tepat di samping Alisa. Menggenggam erat tangan Alisa hingga tubuh Alisa menegang. Refleks mendongak ke samping, menatap wajah Zefano tajam.
"Jangan sekali-kali kau sentuh calon istriku. Tanganmu tidak pantas menyentuh milikku!" Seru Zefano dingin, dengan sorot mata yang begitu tajam ke arah Hafidz.
Alisa sontak menyentak genggaman tangan Zefano dari tangannya. Memberi jarak diantara mereka berdua. Menatap ke arah Zefano dengan tubuh gemetar.
"Kalian berdua benar-benar gila!" Serunya, sebelum akhirnya ia berjalan cepat masuk kembali ke asrama melewati gerbang pembatas. Meninggalkan kakak beradik yang terus berseteru diluar gerbang itu.
Hafidz tatap tajam sang kakak yang begitu tenang itu. Tak ingin membuat keributan, pria itu langsung melangkah pergi, meninggalkan Zefano yang menatapnya dengan ekspresi datar, begitu tenang.
Senyum di bibirnya terbit. Ia rogoh saku jas miliknya. Bersiap menelfon seseorang.
"Hallo sayang. Tumben kamu telfon malam-malam begini?"
Zefano tatap datar ke depan, tatapan yang begitu serius, "Kita putus, aku dijodohkan dengan gadis disini."
"Why...why...what?! Babe!"
TUT!!!
Telfon langsung Zefano putus secara sepihak. Seringaian tipis terbit di bibirnya. Menoleh ke arah asrama putri yang sudah sepi, beberapa lampu sudah pada dimatikan.
"Menyerah? Aku tidak akan menyerah dengan sesuatu yang sudah aku targetkan."
***
Tubuh Alisa gemetar. Ia tidak berani masuk ke asrama. Ia memilih kebelakang gedung asrama putri untuk melampiaskan kekesalan dan rasa sakit yang masih membekas.
Tak pernah terbayangkan baginya akan mendapatkan sosok seperti Zefano. Pria yang jauh sekali akan agama. Bahkan, sangat jauh. Tidak bisa dibandingkan dengan Hafidz yang lulusan Kairo, seujung kuku pun.
Alisa mendongak menatap langit malam, terisak kecil. Memeluk lengannya sendiri yang gemetar menahan tangis.
"Ya Allah....padahal aku sudah berharap akan diganti dengan yang lebih baik, tapi...." Ucapan Alisa terhenti.
"Aku tidak ingin suudzon pada ketentuanmu, Ya Allah. Tapi aku—aku berat untuk menerima semua ini."
"Aku bahkan belum bisa berdamai dengan diriku sendiri. Rasa sakitku, dan traumaku masih begitu menyesakan. Tapi, tapi kenapa secepat ini? Dan kenapa, pria yang akan dijodohkan denganku itu—hiks!"
Alisa membenamkan wajahnya pada lutut, terisak sejadi-jadinya disana.
Berat. Sangat berat. Padahal menunaikan ibadah rosul. Tapi rasanya seperti hendak melewati Sirothol Mustaqim.
Menikah dengan Zefano sama sekali tidak ada dalam bayang-bayang Alisa. Bahkan ia tidak kenal seluk beluk pria itu. Dan bagaimana pergaulannya selama di luar negeri.
Ia sering mendengar, pergaulan orang luar negeri sangat tidak tahu batas. Bahkan HS disana sudah seperti normal dikalangan para remaja. Alisa tak bisa membayangkan, sudah berapa wanita yang Zefano tiduri semasa ia remaja hingga se dewasa sekarang. Meski jatuhnya suudzon, tapi saat Hafidz bilang kakanya bukan pria baik-baik, wanita mana yang akan berfikir positif?
"Berhentilah menangisi seorang pria yang tidak memilihmu."
Bahu Alisa tersentak tatkala mendengar suara pria di sekitarnya. Saat ia mendongak, barulah ia melihat sosok Zefano, duduk di pagar setinggi pinggang Alisa, menyebat satu batang rokok, lalu menyesapnya, menghembuskan asap dari mulutnya ke atas.
Alisa buru-buru bangkit, mengusap air matanya cepat. Merapikan gamisnya yang kusut itu, menatap Zefano takut-takut.
"Buat apa kamu kesini?" Tanyanya dingin.
Zefano lirik Alisa sekilas. Terlihat tatapan penuh rasa iba dari sorot mata pria itu, menatap Alisa intens, "Aku hanya tidak ingin melihat calon istriku menangisi pria yang bukan menjadi takdirnya."
Tangan Alisa mengepal. Ucapan Zefano terlalu ikut campur bahkan ke ranah perasaannya.
Alisa tatap Zefano tajam, "Berhentilah mencampuri urusanku, aku belum setuju dengan perjodohan kita."
Zefano terkekeh kecil, menatap korek api yang ia buka tutup penutupnya, lalu melirik Alisa dengan sudut bibir terangkat.
"Pernikahan kita akan tetap berlangsung meski kau tidak setuju."
Alisa sontak melotot, "Saya tidak kenal anda, dan kita juga tidak dekat. Mohon jaga batasan anda, tuan." Final Alisa, beranjak pergi.
Namun langkahnya terhenti oleh satu kata dari Zefano, "Setidaknya aku tidak plin-plan seperti adikku, Alisa."
Alisa termanggu. Ucapan Zefano, memang benar adanya. Baru saja Hafidz berucap dengan tegas saat memutuskan hubungan mereka. Namun saat tahu kakanya akan meminang dirinya, Hafidz langsung gundah dan bertindak semaunya.
Meski begitu, bukan berarti Alisa setuju dengan pria asing di depannya 100%. Meski, persentase ia bisa kabur dari pernikahan ini itu hanya 10%.
"Berpikirlah dengan kepala dingin. Jangan hanya mengandalkan perasaan, kau akan hancur jika hanya berpatokan pada perasaan yang bisa berbolak-balik itu." Ucap Zefano lagi. Menggundahkan perasaan Alisa.
Alisa lirik Zefano yang menatapnya intens dengan bibir terangkat. Meremat ujung gamisnya kuat.
"Terimakasih atas nasihat anda, tuan. Mohon untuk tidak melewati batasan dengan masuk ke asrama putri. Itu tidak pantas untuk seorang putra kiai terhormat seperti anda." Nasehat Alisa dengan tegas, beranjak pergi dari sana.
Zefano tak mampu menahan kekehan di bibirnya. Ia tatap lekat sosok Alisa dari yang di depannya, hingga wujudnya hilang di telan tembok.
"Sepertinya kelinci manis ini pandai menggigit, aku harus lebih hati-hati." Lirihnya dengan bibir tersenyum.