NovelToon NovelToon
PENYESALAN SUAMI

PENYESALAN SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

Tujuh tahun Pamela bertahan menjadi istri dari Zidan yang playboy, menantu yang ditindas, dan ibu yang tak dihargai anak-anaknya sendiri. Dia mengabdi dalam diam, hanya bermodalkan cinta.

​Puncaknya hancur saat Zidan membawa selingkuhannya yang hamil tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka. Tanpa air mata, Pamela meletakkan surat cerai di meja makan, lalu pergi menghilang di tengah malam.

​Awalnya keluarga Zidan bersorak senang si "miskin" telah pergi. Namun dalam hitungan minggu, rumah megah itu berubah menjadi neraka yang kacau tanpa kehadiran Pamela. Saat penyesalan mereka datang terlambat, Pamela ditemukan telah menjelma menjadi wanita sukses yang bersinar dan bahagia tanpa mereka.

​Saat mereka bersujud memohon maaf, sanggupkah Zidan memenangkan kembali hati "mantan istri miskin" yang kini telah menjadi ratu?

...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 Rasa yang Hilang

...

Suasana di dalam kantor pusat perusahaan properti milik keluarga Zidan terasa begitu berventilasi dan dingin oleh embusan pendingin ruangan terpusat. Namun, bagi Zidan, hawa dingin di ruangan kerjanya hari ini tidak mampu mendinginkan kepalanya yang terasa mendidih sejak pagi.

Pria tampan itu duduk di kursi kebesarannya yang dilapisi kulit premium, menatap tumpukan berkas laporan keuangan kuartal pertama yang ada di hadapannya. Biasanya, dia bisa fokus dengan mudah. Sifat narsis dan ambisiusnya selalu menuntut kesempurnaan dalam setiap lembar pekerjaan yang dia sentuh. Namun, hari ini, fokusnya buyar berantakan. Bayangan kekacauan di rumahnya tadi pagi tangisan si kembar yang melengking, omelan ibunya yang kelaparan, hingga rasa kopi buatan Bi Sumi yang gosong terus berputar-putar di kepalanya bagai lalat yang mengganggu.

"Sialan," umpat Zidan lirih sambil melempar pena montblanc mahal miliknya ke atas meja kaca hingga menimbulkan bunyi ketukan yang nyaring.

Dia melonggarkan sedikit dasi sutranya yang terasa mencekik leher. Pintu ruang kerjanya kemudian diketuk pelan dari luar.

"Masuk," perintah Zidan dengan nada dingin yang kentara.

Sekretaris pribadinya, seorang pria muda bernama tulus, melangkah masuk dengan sikap sopan. Di tangannya terdapat sebuah map dokumen baru dan segelas kopi hitam dari kedai waralaba terkenal internasional yang sengaja dia beli di lobi bawah.

"Pagi, Pak Zidan. Ini berkas revisi untuk proyek pembangunan resort di Yogyakarta yang Bapak minta kemarin sore. Dan ini kopi hitam tanpa gula pesanan Bapak," ucap sekretaris itu sambil meletakkan dokumen dan gelas kopi dengan hati-hati di sudut meja kerja Zidan.

Zidan melirik gelas kopi bermerek tersebut. Tanpa mengucap terima kasih, dia langsung meraihnya dan menyesap cairan hitam pekat itu, berharap kafein premium bisa mengembalikan fokus dan suasana hatinya yang buruk. Namun, setelah beberapa tegukan, Zidan kembali mengernyitkan dahi. Dia meletakkan gelas itu kembali dengan sedikit hentakan.

Rasanya memang pahit dan kuat, khas kopi mahal. Namun, ada yang salah. Lidahnya yang sudah telanjur dimanjakan oleh takaran racikan Pamela selama tujuh tahun terakhir merasa menolak rasa kopi ini. Pamela selalu tahu kapan harus merebus air hingga suhu yang pas, berapa gram bubuk kopi hitam murni yang harus dimasukkan, dan bagaimana cara mengaduknya agar aroma khasnya keluar tanpa menyisakan rasa sepat yang mengganggu di tenggorokan Zidan. Kopi mahal ini terasa hambar dan asing di lidahnya.

"Pak Zidan? Apakah ada yang salah dengan kopinya? Mau saya ganti dengan menu yang lain?" tanya sekretarisnya dengan raut wajah cemas saat melihat perubahan ekspresi bosnya.

Zidan berdeham, mencoba menguasai kembali keangkuhannya. "Gak usah. Biarkan saja di situ. Bagaimana dengan jadwal saya siang ini?"

"Jam satu siang nanti Bapak ada janji makan siang dengan perwakilan investor dari Singapura di restoran hotel bintang lima, Pak. Setelah itu, jam empat sore ada rapat internal dengan divisi pemasaran," sekretaris itu menjelaskan dengan cekatan.

Zidan mengangguk pelan. "Ya sudah. Kamu boleh keluar sekarang."

Setelah sekretarisnya keluar, Zidan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Tangannya bergerak mengambil ponsel pintarnya yang tergeletak di meja. Matanya menatap layar kunci, berharap ada notifikasi pesan atau panggilan masuk dari nomor Pamela. Dalam benak narsisnya, dia mengira Pamela pasti saat ini sedang kebingungan di luar sana, tidak punya uang untuk makan siang, dan mulai menyesali keputusan dramatisnya tadi malam.

Namun, layar ponselnya tetap bersih dari nama Pamela. Hanya ada beberapa pesan masuk dari grup koordinasi kantor dan pesan manja dari Karina yang menanyakan kapan dia akan pulang untuk menemaninya memeriksa kandungan ke dokter kandungan sore ini.

Zidan mendengus sinis, melempar ponselnya kembali. 'Bagus, Pamela. Kita lihat seberapa keras kepala kamu bertahan jadi gelandangan di luar sana. Jangan harap aku yang akan telepon kamu duluan,' batinnya penuh rasa menang yang semu.

Sementara itu, di rumah megah keluarga Zidan, waktu makan siang telah tiba, dan suasana justru semakin memburuk. Papa Zidan, seorang pria paruh baya bertubuh tambun yang biasanya irit bicara namun memiliki temperamen yang keras jika menyangkut kenyamanan pribadinya, baru saja pulang dari lapangan golf.

Pria tua itu berjalan masuk ke ruang makan dengan handuk kecil yang melingkar di lehernya, wajahnya tampak merah karena kegerahan dan lapar. "Ma! Pamela mana?! Cepat suruh dia hidangkan makan siang! Papa lapar sekali, dari pagi cuma makan roti kering di klub golf!" teriak Papa sambil menduduki kursi utamanya.

Mama berjalan keluar dari ruang tengah dengan wajah yang tak kalah masam. "Gak usah teriak-teriak, Pa! Pamela gak ada di rumah! Perempuan tidak tahu diuntung itu semalam angkat kaki dari rumah ini sambil bawa surat cerai!"

Papa terbelalak, wajahnya yang tadinya kemerahan langsung berubah menjadi tegang. "Apa kamu bilang?! Cerai?! Kok bisa?! Terus siapa yang masak makanan Papa sekarang?! Kamu tahu sendiri kan Papa gak bisa makan masakan sembarangan sejak kena gejala kolesterol tinggi!"

"Ya mana Mama tahu! Dia sengaja mogok kerja buat balas dendam sama kita! Bi Sumi sama Bi Inah lagi coba masak di dapur, tapi dari tadi baunya gak enak banget!" adu Mama dengan nada sengit.

Keysha yang baru saja pulang dari kampusnya ikut bergabung di meja makan, langsung mengempaskan tas kuliahnya dengan kasar. "Duh, rumah kok rasanya panas banget sih hari ini? Gak ada yang nyalain AC ruang tengah apa ya? Terus itu cucian baju olahraga Keysha buat besok kenapa masih numpuk di keranjang kamar mandi? Biasanya kan si Pamela langsung cuci subuh-subuh!"

Kekacauan verbal itu terputus saat Bi Sumi dan Bi Inah keluar dari dapur dengan tangan bergetar, membawa mangkuk besar berisi sayur sup iga dan sepiring ayam goreng. Wajah kedua ART tua itu tampak pucat pasi, sadar bahwa hasil kerja keras mereka yang dipaksakan tidak akan pernah bisa menyamai standar masakan Pamela.

"I-ini makan siangnya, Tuan, Nyonya... mohon maaf jika rasanya agak berbeda," cicit Bi Sumi sebelum buru-buru mundur selangkah.

Papa langsung menyendok kuah sup iga tersebut ke dalam mangkuk kecilnya, lalu mencicipinya dengan terburu-buru. Namun, baru satu suapan masuk ke dalam mulutnya, pria tua itu langsung memuntahkan kembali kuah tersebut ke atas piring kecilnya dengan wajah yang memerah padam karena marah.

Brak!

Papa menggebrak meja makan kayu jati itu dengan sangat keras, membuat mangkuk-mangkuk di atasnya bergetar dan berdenting nyaring. Keysha dan Mama sampai terlonjak kaget di kursi mereka.

"Masakan sampah apa ini?!" bentak Papa dengan suara menggelegar, matanya melotot tajam ke arah Bi Sumi. "Kuahnya hambar kayak air keran! Iganya keras seperti sandal jepit! Kamu mau bikin gigi saya patah, hah?! Pamela biasanya merebus iga ini sampai empuk dan bumbunya meresap sampai ke tulang! Kenapa buatanmu menjijikkan begini?!"

Bi Sumi langsung berlutut di lantai marmer, tubuhnya gemetar hebat karena ketakutan. "Mo-mohon maaf, Tuan Besar... biasanya Non Pamela yang merendam iganya pakai parutan nanas dari malam dan meracik bumbu rempahnya sendiri. Kami... kami tidak tahu takarannya, kami cuma pakai bumbu instan yang ada di lemari dapur..."

"Sudah! Bawa pergi makanan sialan ini dari depan muka saya! Bikin mual saja!" usir Papa dengan napas memburu karena emosi.

Dia menoleh ke arah istrinya dengan tatapan tajam yang menuntut jawaban. "Ma! Kamu harus cari cara buat bawa Pamela balik ke rumah ini sekarang juga! Papa gak peduli apa masalah dia sama Zidan, yang jelas rumah ini gak bisa jalan kalau gak ada dia! Siapa yang mau ngurusin diet makanan Papa kalau dia gak ada?!"

Mama mendengus, merasa posisinya disudutkan. "Ih, Papa kok malah belain perempuan miskin itu sih? Dia itu sudah berani mengancam keluarga kita! Lagian, Zidan sudah bawa calon istri baru yang jauh lebih kaya dan berpendidikan daripada si Pamela itu! Namanya Karina, dia lagi hamil anak Zidan di atas!"

Papa mengernyitkan dahi, ekspresinya tidak terlihat senang sama sekali. Sifat dingin dan egoisnya yang mirip dengan Zidan membuatnya hanya memikirkan kenyamanan dirinya sendiri. "Kaya? Berpendidikan? Emangnya perempuan kaya itu mau masuk dapur buat masakin sup iga tanpa lemak buat saya tiap pagi?! Emangnya dia mau mijitin kaki kamu kalau kamu lagi encok malam-malam?! Pikir pakai otak, Ma! Perempuan manja begitu cuma bakal ngabisin uang Zidan, bukan ngerawat kita!"

Ucapan Papa seperti sebuah tamparan realitas yang keras yang menghantam ego Mama dan Keysha seketika. Mereka berdua terdiam, saling pandang dengan raut wajah yang mulai diliputi kegelisahan samar. Apa yang dikatakan Papa ada benarnya. Selama tujuh tahun ini, mereka terbiasa menerima pengorbanan Pamela yang tanpa batas tanpa pernah mengucapkan kata terima kasih sekali pun. Mereka menganggap semua kenyamanan yang mereka nikmati di rumah ini adalah hal yang lumrah, seolah rumah ini bisa rapi dan bersih dengan sendirinya berkat sihir.

Mereka baru menyadari, dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam setelah kepergian Pamela, bahwa pondasi kenyamanan hidup mereka yang mewah ternyata ditopang sepenuhnya oleh pundak kurus seorang wanita miskin yang selalu mereka injak-injak harga dirinya.

...

Di lantai atas, Karina yang baru saja turun tangga berniat ikut makan siang, menghentikan langkahnya di anak tangga terakhir saat mendengar keributan dan makian dari Papa mertua. Wajah cantiknya yang penuh riasan tebal itu tampak masam dan kesal. Dia menyadari bahwa kehadirannya di rumah ini tidak disambut dengan karpet merah yang instan oleh sang kepala keluarga.

Sementara itu, sunyi yang sebenarnya perlahan-lahan mulai merayap masuk ke dalam setiap sudut rumah mewah tersebut, mengikis habis sisa-sisa kehangatan yang dulu selalu dijaga oleh senyuman tulus Pamela yang kini telah hilang tanpa jejak. Badai penyesalan yang lambat namun mematikan, kini resmi mulai mengetuk pintu rumah keluarga Zidan.

...

1
it's me
ceritanya bagus tapi sayang gagk ad endingnya
kikyoooo: ditunggu up bab selanjutnya....
tenang aja1setiap satu hari pasti up. entah itu 1 bab atau lebih
total 1 replies
it's me
penulisnya gak jelas sih,masa ceritanya dibuat menggantung.
Adam Markelov izaan
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
 🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
Allea
mama mertua mulu ngetiknya kan si pamela lg dikampung bingung eike
Allea
kira2 endingnya balikan ga nih ,kesel kl balikan mah udah nunggu2 😁
Himna Mohamad
kereeen👍👍👍👍👍
Himna Mohamad
rasain
Himna Mohamad
lanjut kk
Alia Chans
Satu like = satu bentuk apresiasi. Semangat thor ✍️👈😉




saling support sabi kali ya😉
kikyoooo: siapp... gue kan baik dan tidak sombong hihihi😍 btw semangat thorr😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!