NovelToon NovelToon
Sketsa Rasa Yang Belum Usai

Sketsa Rasa Yang Belum Usai

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda
Popularitas:736
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Hubungan yang berawal dari reuni kecil itu tumbuh begitu cepat, seolah waktu ingin mengejar ketertinggalan mereka selama di SMA. Arman adalah sosok kekasih yang penuh perhatian. Dia tahu kapan Kanaya sedang lelah hanya dari nada suaranya, dan dia selalu punya cara untuk membuat Kanaya merasa dihargai.

​Bagi Kanaya, Arman adalah pelabuhan yang aman. Begitu pula bagi Arman, ketulusan dan kemandirian Kanaya adalah hal yang tidak bisa ia temukan pada perempuan lain."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai di kamar 12

Di dalam kamar kos yang terkunci rapat, Kanaya sedang berada di titik terendah dalam hidupnya. Pikirannya riuh, berperang dengan segala spekulasi dan rasa kecewa yang teramat dalam. Selama ini, ia mengira Arman adalah sosok laki-laki pelindung, pria baik-baik yang sopan dan bertanggung jawab. Namun, kenyataan pahit dua hari lalu menamparnya dengan keras. Arman tidak lebih dari seorang pengecut yang tega menumbalkan darah dagingnya sendiri demi sebuah topeng nama baik di hadapan sang ayah.

​"Aku salah besar..." bisik Kanaya lirih, air matanya kembali menetes di atas bantal yang sudah basah.

​Tiba-tiba, rasa mual yang teramat hebat kembali menyodok ulu hatinya. Perutnya bergejolak, membuat kerongkongannya terasa membara. Menggunakan sisa-sisa tenaga yang ada, Kanaya bangkit dari tempat tidur.

​Dengan kesadaran yang mulai berkabut dan tubuh yang gemetar hebat, ia melangkah tertatih-tatih menuju kamar mandi di sudut kamar. Ini sudah kesekian kalinya ia harus memuntahkan cairan bening karena perutnya yang kosong menolak segala makanan.

​Namun, sore itu malang tak dapat ditolak. Rasa pusing yang hebat mendadak menyerang kepalanya tepat saat ia baru saja melewati ambang pintu kamar mandi. Pandangannya menggelap seketika.

​Kanaya terhuyung lemas, kehilangan keseimbangan tubuhnya. Di lantai kamar mandi yang licin dan basah karena rembesan air, kaki Kanaya terpeleset dengan keras.

​Brak!

​Tubuhnya terhempas ke lantai porselen yang dingin. Rasa sakit yang luar biasa hebat langsung menghantam bagian bawah perutnya, memancar bagai sengatan listrik yang melumpuhkan seluruh sarafnya. Kanaya melenguh kesakitan, tangannya mencengkeram perut dengan erat sembari air mata mengalir deras menahan perih yang tak tertahankan.

​Perlahan, di antara rasa sakit yang membuat napasnya tersengal-sengal, Kanaya melihat warna merah yang pekat mulai mengalir di sela-sela kakinya. Darah segar bergelinang, bercampur dengan air di lantai kamar mandi, kian lama kian banyak.

​"Anakku..." lirih Kanaya dengan suara yang nyaris habis, sebelum kesadarannya benar-benar hilang sepenuhnya di atas lantai dingin yang sepi itu.

Rasa sakit yang luar biasa di bagian perut bawahnya memaksa Kanaya untuk membuka mata. Pandangannya masih kabur, dan kepalanya terasa berputar hebat. Namun, melihat genangan warna merah yang kian meluas di lantai kamar mandi, insting bertahan hidupnya langsung bangkit memicu adrenalin.

​Dengan sisa tenaga yang nyaris habis, Kanaya mencengkeram ujung pintu kamar mandi. Ia memaksakan tubuhnya yang lemas untuk bergerak. Sambil menahan rintihan perih yang menyayat, Kanaya mulai merangkak di atas lantai.

​Setiap senti tarikan tubuhnya terasa begitu menyiksa. Ia meninggalkan jejak noda merah di sepanjang lantai kamar menuju ke arah tempat tidur, tempat di mana ponselnya tergeletak. Di ambang batas kesadarannya yang kian menipis, ego dan rasa marahnya pada Arman mendadak luntur, digantikan oleh rasa takut yang luar biasa akan kematian.

​Bagaimanapun juga, di dalam hatinya, Arman adalah ayah dari anak yang sedang berada dalam bahaya ini.

​Kanaya menggapai ujung seprai, menarik tubuhnya ke atas dengan payah, lalu meraih ponselnya dengan jemari yang gemetar dan bernoda darah. Dengan pandangan yang semakin menggelap, ia membuka layar kunci dan langsung menekan kontak pertama yang muncul di daftar panggilan daruratnya.

​Kontak yang selama dua hari ini ia abaikan. Arman.

​Di seberang jalan, Arman masih duduk di atas motornya dengan perasaan gundah, menatap ke arah jendela kos Kanaya. Tiba-tiba, ponsel di saku jaketnya bergetar hebat. Nama "Kanaya" berkedip di layar.

​Jantung Arman seakan berhenti berdetak. Tanpa membuang waktu satu detik pun, ia langsung menggeser tombol hijau ke atas.

​"Nay! Nay, kamu di mana? Tolong angkat, Nay, maafin aku—"

​"Ar-Arman..." suara Kanaya terdengar sangat lirih, terputus-putus oleh napasnya yang tersengal. "Sakit, Man... Darah... Tolong aku..."

​Tut.

​Sambungan telepon terputus sepihak karena ponsel Kanaya terjatuh dari genggamannya. Kanaya kembali terkulai lemas di sisi kasur, tak lagi mampu mempertahankan kesadarannya.

​Mendengar bisikan lirih dan kata 'darah' dari ujung telepon, wajah Arman seketika pias, memutih tanpa darah. Kepanikan luar biasa menghantam dadanya. Tanpa memedulikan aturan kos atau pandangan orang lain, Arman langsung melompat dari motornya, berlari kencang menyeberang jalan, dan menerobos masuk ke dalam gerbang kos Kanaya dengan jantung yang bertalu hebat.

1
Himna Mohamad
lanjut kk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!