NovelToon NovelToon
Nelayan Miskin Dengan Sistem Pengumpul Emas

Nelayan Miskin Dengan Sistem Pengumpul Emas

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sistem One

“[Ikan Langka! Hadiah 100 Emas!]”

Beni hanyalah nelayan miskin yang hidup penuh penderitaan. Ia dikhianati istrinya, dijebak hingga terlilit hutang, dan hampir kehilangan harapan hidup.

Namun saat berlayar di tengah badai, ia malah tersesat ke lautan misterius yang dipenuhi bahaya. Di sanalah sebuah sistem aneh tiba-tiba muncul di hadapannya.

Dengan bantuan sistem pengumpul emas, bisakah Ye Fan mengubah nasibnya dan menjadi orang terkaya di lautan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Berangkat massee

Sore itu, angin laut berhembus membawa aroma garam dan kenangan yang menyesakkan. Beni berjalan santai di sepanjang garis pantai yang basah oleh ombak.

Kakinya melangkah tanpa tujuan pasti, membiarkan pikirannya mengembara ke masa lalu yang kini terasa seperti sebuah sandiwara murah.

​Matanya menatap ombak yang pecah di kejauhan.

Di titik inilah, setahun yang lalu, ia menemukan Serena. Wanita itu sedang duduk meringkuk, terisak sendirian di bawah temaram lampu dermaga yang berkedip.

Beni yang naif, yang memiliki hati terlalu lunak, mendekatinya dengan niat baik hanya ingin menolong. Namun, kebaikan hatinya justru menjadi jerat yang membelenggunya.

​"Bodoh sekali aku dulu," gumam Beni dengan senyum kecut. "Aku pikir aku adalah pahlawan. Ternyata, aku hanyalah pion yang dipersiapkan untuk menutupi kesalahan orang lain."

​Bayangan malam itu kembali melintas. Ia ingat terbangun di pagi hari di kamar yang berantakan, bingung dan tanpa busana, dengan Serena yang menangis histeris di sampingnya. Jebakan itu terlalu rapi, terlalu terencana untuk sebuah kebetulan.

​"Ternyata itu jebakannya... agar ada pria malang yang mau bertanggung jawab atas kehamilannya. Wahai, Serena... kau memang wanita yang penuh perhitungan. Tapi lihatlah dirimu sekarang, masih saja kembali ke pelukan pria yang sudah jelas menganggapmu mainan. Bajingan bertemu dengan pelacur, cocok sekali."

​Beni berhenti melangkah. Pandangannya tidak sengaja tertuju pada area pemakaman desa yang terletak di lereng bukit kecil tak jauh dari pantai.

Kakinya, tanpa diperintah, melangkah masuk ke sana. Suasana hening, hanya suara gesekan daun pepohonan yang terdengar.

​Ia berhenti di depan sebuah makam kecil yang sudah mulai ditumbuhi rumput liar. Itu adalah makam anaknya atau setidaknya, anak yang ia anggap sebagai anaknya sendiri.

​"Halo, Nak," suara Beni melunak, jauh dari nada sinis yang ia gunakan sebelumnya. Ia berjongkok, mengusap nisan kayu yang sudah mulai membusuk itu. "Ayah datang lagi. Maaf, Ayah agak sibuk akhir-akhir ini."

​Ia terdiam cukup lama, menatap gundukan tanah kecil itu dengan tatapan kosong. "Meskipun aku tahu sekarang bahwa kau bukan darah dagingku... aku tidak bisa berbohong. Aku menyayangimu. Aku ingat bagaimana bangganya aku saat pertama kali belajar mengganti popokmu, bagaimana aku terjaga semalaman hanya untuk menenangkan tangismu. Kau adalah satu-satunya cahaya dalam hidupku saat itu."

​Suaranya bergetar sedikit, namun ia segera menelannya kembali. "Sayang sekali kau memiliki ibu dan ayah kandung yang buruk. Mereka tidak pantas mendapatkanmu. Tapi tidak apa-apa, Nak. Istirahatlah dengan bahagia di sana, jauh dari orang-orang hina seperti mereka. Ayah akan membalas semua rasa sakit yang mereka berikan."

​Beni berdiri, menepuk tanah di nisan itu sekali lagi, lalu berbalik. Ia tidak menoleh ke belakang saat ia berjalan keluar dari pemakaman. Hatinya kini lebih dingin, lebih keras, namun lebih bertekad.

​Malam tiba dengan cepat, menyelimuti pesisir desa dengan kegelapan total. Beni sudah berdiri di depan perahunya.

​"Kali ini, aku tidak akan pulang dengan tangan kosong," ucapnya mantap.

​Ia menyalakan mesin perahu. Suara deru mesin yang halus memecah kesunyian malam saat ia mulai membelah ombak.

Semangatnya membara, tak tersisa sedikit pun rasa takut yang ia rasakan kemarin. Sambil mengunyah wafer terakhir yang tersisa di sakunya, ia menatap cakrawala.

​Tak lama kemudian, kabut perak yang ia kenal mulai muncul dari balik kegelapan. Itu adalah gerbang menuju dunia yang penuh dengan misteri dan emas.

​"Sepertinya aku sudah sampai," bisik Beni.

​Saat perahunya menembus kabut, atmosfir di sekitarnya berubah. Langit di atasnya tidak lagi gelap, melainkan dihiasi oleh rasi bintang. Air laut mulai berpendar biru elektrik, seolah menyimpan listrik statis di permukaannya.

​DING!

[Peringatan: Area Spiritual Level 1 Terdeteksi. Intensitas Aura Tinggi. Persiapkan diri, Tuan Rumah!]

​Beni merasakan tekanan aura yang membuat bulu kuduknya berdiri. Tekanan udara di sini lebih berat, seolah-olah ia sedang menyelam jauh ke dalam samudra. Ia mematikan mesin kapal dan membiarkan perahunya terombang-ambing pelan di atas air yang berpendar.

​"Level 1... ini dia," gumam Beni. Ia mengambil joran pancing perunggu yang baru dibelinya dan memasang umpan terbaik yang ia miliki. "Ayo, keluar kau. Jangan membuatku menunggu terlalu lama."

​Ia melemparkan kailnya. Kali ini, ia tidak menunggu dengan santai. Ia merasakan insting nelayannya kembali menyala. Ia memejamkan mata, membiarkan indranya merasakan getaran halus yang merambat melalui tali pancing.

​Teng!

​Getaran itu datang. Bukan sekadar tarikan ikan, tapi getaran yang merambat hingga ke jantungnya, seolah-olah lautan itu sendiri sedang berbisik kepadanya.

​"Oh... ini dia," Beni membuka matanya lebar-lebar. Senyum yang penuh dengan rasa haus akan kemenangan terukir di wajahnya. "Mari kita lihat, ikan jenis apa yang berani menantangku malam ini?"

​Ia memutar tuas pancingnya, namun kali ini ia tidak terburu-buru. Ia memainkan tali itu, merasakan perlawanan yang jauh lebih elegan dan berbahaya daripada Ikan Petir Bertanduk kemarin. Ini adalah pertarungan antara kesabaran, strategi, dan keberanian.

​"Ayo, tunjukkan dirimu," tantang Beni sambil menarik joran pancingnya dengan ritme yang sempurna. Di bawah sana, air laut mulai bergolak membentuk pusaran, dan sebuah cahaya mulai menembus kegelapan, menandakan bahwa sang target akhirnya memutuskan untuk menunjukkan taringnya.

1
Jerry K-el
up-nya harus konsisten biar pembaca tambah dan yg sdh baca gak kabur 😅
Manusia Biasa
utamakan mancing
Manusia Biasa
dimas udah punya wife ternyata 🗿
Manusia Biasa
/Scream/
Manusia Biasa
konsepnya menarik bosku. punya potensi naik rangking fiksi pria ini lanjutkan
Manusia Biasa
nice jangan mau balikan. cuma jadi lingkaran setan nanti
Manusia Biasa
mampus
Manusia Biasa
bro memilih rute membuat restoran 🤣
Manusia Biasa
jenius
Manusia Biasa
ada manusia setengah ikan kagak nanti? lawan mc grade s gitu🗿
Manusia Biasa
ada fantasi battle juga kah
Maul: Dikit-dikit
total 1 replies
Manusia Biasa
jir kirain emas batangan asli🗿
Manusia Biasa
gaz solo vs squad
Manusia Biasa
hindari cewek modelan gini aminn🙏
Manusia Biasa
sad ending😭 mana banyak yang demen genre ginian🗿
Manusia Biasa
wih novel sistem pecah telur gacor😘
Agen One
🤣
Agen One
ada apa nih di kejer
Agen One
🤕
Agen One
🤣🤣jadi seratus juta
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!