Kalian pasti pernah kan, seenggaknya sekali seumur hidup, rebahan di kamar sambil menatap langit-langit terus ngehayal: "Coba aja tidur doang bisa dapet duit, pasti gue udah jadi orang terkaya di dunia." Nah, hayalan konyol yang sering kita impikan pas lagi capek-capeknya hidup itu, mendadak jadi kenyataan buat Abdul. Pemuda miskin korban PHK ini doanya dikabulkan secara ajaib. Sekali merem, saldo banknya bertambah 10 juta. Makin nyenyak dia ngorok, makin triliunan uang yang masuk ke rekeningnya secara legal! Tapi ternyata, dapet duit cuma modal tidur itu gak sesantai kedengarannya. Karena gak pernah keluar rumah tapi mendadak kaya raya, Abdul langsung dicurigai satu kampung pelihara babi ngepet, digerebek warga pas lagi enak tidur, dikejar-kejar orang pajak, sampai didatangi mantan pacar yang dulu ninggalin pas lagi sayang-sayangnya, Ups!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 JEJAK YANG TAK DITEMUKAN
Pagi itu Abdul terbangun dengan perasaan yang sedikit berbeda.
Entah kenapa, tidur semalam terasa jauh lebih nyenyak dari biasanya. Bahkan tubuhnya terasa ringan saat bangkit dari kasur.
Ia meregangkan badan sambil menguap panjang.
"Enak juga tidur semalam," gumamnya.
Seperti biasa, hal pertama yang ia lakukan adalah mengambil ponsel di samping bantal.
Namun kali ini Abdul sedikit heran.
Tidak ada SMS dari Bank Suka.
Tidak ada notifikasi mutasi masuk.
Tidak ada angka baru.
Kotak masuknya kosong.
"Hah?"
Abdul mengernyit.
Ia membuka aplikasi mobile banking.
Saldo rekeningnya masih sama seperti kemarin.
Tidak bertambah.
Tidak berkurang.
Tetap.
"Yah... hari ini zonk kali ya."
Abdul tertawa kecil.
Anehnya, ia tidak merasa kecewa.
Beberapa bulan lalu mungkin ia akan gelisah.
Namun sekarang berbeda.
Konveksinya berjalan.
Rumah baru sudah berdiri.
Orang tuanya hidup nyaman.
Panti asuhan sedang dibangun.
Ia tidak lagi menggantungkan kebahagiaannya pada nominal yang masuk setiap subuh.
"Alhamdulillah. Ada atau gak ada, tetap rezeki."
gumamnya.
Lalu ia segera bersiap menjalani aktivitas seperti biasa.
Di sisi lain...
Ratusan kilometer dari Gang Seng.
Di sebuah gedung modern berlapis kaca milik Bank Suka pusat.
Seorang analis IT bernama Arman sedang memandangi layar komputernya dengan wajah kusut.
Di depannya terbuka puluhan tabel data transaksi.
Ia menghela napas panjang.
"Lagi-lagi gak ada..."
gumamnya.
Sudah tiga hari penuh ia ditugaskan memeriksa rekening misterius milik Abdul.
Dan hasilnya selalu sama.
Kosong.
Tidak ada jejak pengirim.
Tidak ada server asal.
Tidak ada nomor referensi.
Tidak ada apa-apa.
Padahal uang itu nyata.
Masuk ke rekening.
Tercatat dalam saldo.
Bisa digunakan.
Bisa ditarik tunai.
Namun sumbernya seolah berasal dari udara kosong.
Arman mengusap wajahnya.
"Kalau aku laporin begini terus, bos pasti ngira aku gak becus kerja."
Tak lama kemudian pintu ruang kerja terbuka.
Seorang wanita muda masuk sambil membawa map.
"Mas Arman, Pak Direktur minta update hasil investigasi."
Arman tertawa pahit.
"Update apaan?"
"Orangnya dapat uang miliaran tanpa pengirim."
"Kalau aku bilang begitu nanti dikira habis mabuk."
Sementara itu di Gang Seng.
Aktivitas workshop Konveksi Berkah Gang Seng sedang ramai-ramainya.
Belasan mesin jahit bekerja bersamaan.
Suara dengung mesin memenuhi ruangan.
Rian berjalan mondar-mandir memeriksa hasil produksi.
Jaka sibuk melatih dua karyawan baru yang baru bergabung minggu ini.
Abdul baru saja datang ketika salah satu pekerja menghampirinya.
"Bos Abdul."
"Hm?"
"Ada tamu."
Abdul menoleh.
Di ruang tamu workshop terlihat seorang pria muda berpakaian rapi.
Di tangannya terdapat tas laptop hitam.
Begitu melihat Abdul datang, pria itu langsung berdiri.
"Mas Abdul?"
"Iya."
"Saya Fajar."
Pria itu mengulurkan tangan.
"Dari SMK Negeri Dua."
Abdul mengernyit.
"SMK?"
Fajar tersenyum.
"Iya. Kami dengar konveksi Mas Abdul sekarang berkembang pesat."
"Kepala sekolah kami ingin mengajak kerja sama program magang siswa."
Abdul sedikit terkejut.
Ia tidak menyangka usaha yang baru beberapa bulan berjalan sudah mulai dilirik sekolah.
Mereka pun duduk dan berbincang.
Semakin lama mendengar penjelasan Fajar, Abdul semakin tertarik.
Program tersebut memungkinkan siswa tata busana belajar langsung di workshop.
Sebagai gantinya sekolah membantu menyediakan tenaga magang yang bisa dilatih menjadi karyawan tetap.
Saat pembicaraan selesai, Abdul langsung menyetujui kerja sama tersebut.
"Kalau memang bisa bantu anak-anak dapat pengalaman kerja, saya setuju."
Fajar tersenyum lega.
"Terima kasih banyak, Mas."
Menjelang siang.
Abdul kembali mengunjungi proyek pembangunan panti.
Cuaca hari itu cukup cerah.
Kerangka bangunan utama sudah mulai terlihat jelas.
Beberapa dinding baru berdiri kokoh.
Doni dan anak-anak lainnya sedang membantu membersihkan halaman sementara.
Begitu melihat Abdul, mereka langsung berlari menghampiri.
"Kakak baik datang!"
teriak Doni.
Abdul tertawa.
"Kenapa setiap ketemu panggilannya itu terus?"
"Soalnya Kakak emang baik."
jawab Doni polos.
Anak-anak lain langsung mengangguk setuju.
Membuat Abdul hanya bisa menggeleng sambil tersenyum malu.
Saat itulah Bu Aminah datang menghampiri.
Wanita itu tampak jauh lebih sehat dibanding beberapa bulan lalu.
Wajahnya tidak lagi dipenuhi kecemasan.
"Assalamualaikum, Nak Abdul."
"Waalaikumsalam, Bu."
Bu Aminah menatap pembangunan di belakang mereka.
Air matanya mulai berkaca-kaca.
"Sampai sekarang saya masih gak percaya."
"Saya selalu berdoa semoga suatu hari ada keajaiban."
"Tapi saya gak pernah membayangkan sebesar ini."
Abdul hanya tersenyum.
Ia tidak berani mengatakan apa pun.
Karena sebenarnya ia sendiri masih tidak mengerti bagaimana semua ini bisa terjadi.
Sore hari.
Setelah semua pekerjaan selesai, Abdul kembali ke rumah.
Di ruang keluarga, ia mendapati bapaknya sedang duduk sambil memegang sebuah tongkat terapi.
Biasanya selalu ada yang membantu.
Namun kali ini tidak.
"Bapak?"
Pria tua itu menoleh.
Lalu perlahan...
Sangat perlahan...
Ia berdiri sendiri.
Tanpa bantuan siapa pun.
Meski hanya beberapa detik.
Meski tubuhnya masih sedikit bergoyang.
Namun ia benar-benar berdiri.
Mata Abdul langsung membelalak.
"Bapak!"
Ibu Abdul yang baru keluar dari dapur langsung menutup mulutnya.
Air matanya mengalir begitu saja.
Bapak Abdul tersenyum bangga.
"A... aku..."
Kalimat itu masih terbata-bata.
Namun cukup jelas untuk dipahami.
"Aku... bisa..."
Abdul langsung memeluk bapaknya dengan hati-hati.
Dadanya terasa sesak oleh rasa haru.
Tidak ada uang miliaran yang bisa membeli momen seperti ini.
Tidak ada.
Malam itu.
Setelah semua orang tidur.
Abdul kembali berbaring di atas kasurnya.
Ia memandangi langit-langit kamar cukup lama.
Hari ini tidak ada uang masuk.
Namun entah kenapa...
Hari ini terasa sangat berharga.
Karena hari ini ia melihat bapaknya berdiri.
Karena hari ini ia membuka kesempatan kerja bagi anak-anak sekolah.
Karena hari ini ia melihat anak-anak panti tertawa lebih ceria.
Perlahan senyum muncul di wajahnya.
"Kalau memang besok gak ada uang lagi juga gak apa-apa."
gumamnya.
"Yang penting semuanya baik-baik saja."
Tak lama kemudian matanya terpejam.
Dan untuk kesekian kalinya...
Abdul kembali memasuki alam mimpi.
Namun jauh di dalam kegelapan yang tidak ia sadari...
Sebuah cahaya emas kembali menyala.
Sangat redup.
Sangat samar.
Dan sebuah tulisan misterius muncul sesaat.
[Perubahan Nasib Positif Terdeteksi.]
[Sinkronisasi Meningkat...]
[21% → 22%]
Lalu tulisan itu menghilang.
Seakan sedang menunggu sesuatu yang lebih besar terjadi.