Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.
Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.
Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia sopir Nayla di kehidupan sebelumnya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara. Dan dia membawa bukti—bukti yang bisa menyelamatkan Nayla jika tidak terlambat satu menit.
Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.
Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman dari Dalam Keluarga
Hari Minggu, pukul 08.00. Rumahku.
Bel pintu berbunyi. Aku membuka pintu—dan terkejut.
"Kak... Dinda?"
Dinda—kakak sepupuku yang sudah tiga tahun tidak pernah berkunjung—berdiri di depan pintu dengan senyum lebar.
"Nay! Lama nggak ketemu. Kamu tambah cantik!"
"Ka-Kak Dinda... kamu kok bisa ke sini?"
"Nggak boleh? Aku kangen sama bibimu."
Tapi matanya... matanya tidak hangat. Matanya dingin. Sama seperti mata Pak Andi.
---
Di Ruang Tamu
Bunda senang sekali. "Dinda, kamu mau minum apa? Makan? Bunda masakin?"
"Nggak usah repot, Bibi. Aku cuma mau ngobrol santai."
Dinda duduk di seberangku. Dia memperhatikan aku—terlalu lama.
"Nay, aku dengar kamu terlibat kasus besar."
"Aku cuma saksi, Kak."
"Saksi?" Dinda tertawa kecil. "Kata orang, saksi yang merepotkan orang besar."
"Aku tidak tahu maksud Kakak."
Dinda mencondongkan badan. "Dr. Hendra menyapamu."
Darahku membeku.
"Ka-Kak Dinda kenal Dr. Hendra?"
"Dia partner bisnis ayahku."
Jadi... paman—ayah Dinda—terlibat dengan Dr. Hendra?
"Ayahku suruh aku menyampaikan pesan." Dinda tersenyum—senyum yang tidak sampai ke mata. "Berhenti."
"Aku tidak akan berhenti."
"Kamu keras kepala. Seperti almarhum ayah kandungmu."
Seketika Bundaku yang dari tadi di dapur berhenti bergerak.
"Apa?" Bunda keluar. "Dinda, omong apa kamu?"
Dinda tidak terkejut. Dia berdiri. "Bibi tahu, kan? Nayla bukan anak Bibi Budi. Dia anak polisi yang mati ditembak."
Bunda pucat. "Ka-kamu—"
"Saya tahu semuanya, Bibi. Dan jika Nayla tidak berhenti, saya akan memastikan semua orang tahu."
Dinda melirikku sekilas. "Selamat siang, Bibi. Selamat siang, Nay. Pikirkan baik-baik."
Dia pergi.
Bunda menangis.
Aku hanya bisa diam.
---
Telepon ke Rasya
"Nay, kamu nangis?"
"Bukan. Aku... gemeteran."
"Ceritakan."
Aku ceritakan semuanya.
"Dinda. Sepupuku. Ternyata anak buah Dr. Hendra."
"Jadi Dr. Hendra akan menyerang dari dalam keluargamu."
"Iya."
"Nay, kamu harus bicara dengan ayah dan bundamu."
"Mereka sudah tahu soal ayah kandungku. Tapi soal ancaman dari Dinda..."
"Bilang."
---
Makan Malam
"Ayah, Bunda... aku harus cerita sesuatu."
Kuberi tahu semuanya. Tentang Dinda. Tentang ancaman.
Ayahku—Budi Santoso—mendengarkan dengan saksama. Saat aku selesai, dia berdiri.
"Bapak akan bicara dengan pamanmu."
"Tapi, Yah—"
"Keluarga adalah keluarga. Tapi kalau ada anggota keluarga yang mengancam anak Bapak..." Ayah mengepalkan tangan. "Bapak tidak akan diam."
Bunda menggenggam tanganku. "Kamu jangan takut, Nak. Bunda di sini. Ayah di sini. Keluarga ini akan melindungimu."
Aku menangis.
Bukan karena takut. Tapi karena lega.
---
Hari Senin, pukul 19.00. Rumahku. Suasana tegang sejak Dinda datang kemarin.
Ayahku—Budi Santoso—duduk di ruang keluarga dengan setelan rapi, meskipun baru pulang kerja. Wajahnya lelah, tapi matanya menyala.
"Nak," katanya padaku, "Ayah sudah bicara dengan pamanmu."
Aku duduk di seberangnya, jantung berdebar. "Terus, Yah?"
"Pamanmu... dia tidak tahu kalau Dinda terlibat dengan Dr. Hendra. Dia kaget. Dia marah. Tapi dia juga takut."
"Takut apa, Yah?"
"Takut kehilangan bisnisnya." Ayah menghela napas. "Dr. Hendra punya saham besar di perusahaan pamanmu. Kalau pamanmu melawan Dr. Hendra, perusahaannya bisa bangkrut."
"Jadi paman memilih bisnis daripada keluarga?"
Ayah diam. Itu sudah jawaban.
"Tapi Ayah tidak akan diam." Ayah menatapku. "Ayah sudah bertemu dengan teman-teman Ayah di asosiasi pengusaha. Mereka juga punya masalah dengan Dr. Hendra. Monopoli, praktik curang, suap-menyuap."
"Ayah mau melawan Dr. Hendra?"
"Ayah tidak punya pilihan. Dr. Hendra sudah mengancam keluargaku. Ayah tidak akan tinggal diam."
Bunda yang dari tadi di dapur keluar. "Mas, ini berbahaya. Dr. Hendra orangnya—"
"Aku tahu, Bu. Tapi kalau kita terus diam, dia akan menginjak-injak kita. Sudah cukup." Ayah meraih tanganku. "Nayla sudah kehilangan ayah kandungnya karena orang seperti Dr. Hendra. Aku tidak akan biarkan dia kehilangan ayah lagi."
Aku menangis.
"Yah..."
"Ayah sayang kamu, Nak. Ayah tidak akan biarkan apa pun terjadi padamu."
---
Dua Hari Kemudian
Selasa, pukul 20.00. TV menyiarkan berita:
"Dr. Hendra Wijaya, komisaris utama PT Sumber Makmur, dilaporkan ke KPK oleh Asosiasi Pengusaha Muda Jakarta atas dugaan monopoli dan penyuapan. Selain itu, polisi juga memeriksa Dr. Hendra terkait kasus pencucian uang yang melibatkan mantan Jenderal Purnomo..."
Aku menatap Ayah. Ayah tersenyum tipis.
"Itu baru awal, Nak."
"Ayah hebat."
"Ayah hanya melakukan apa yang benar."
---
Kamis — Dr. Hendra Dipanggil KPK
Dr. Hendra datang ke gedung KPK dengan senyum percaya diri. Di hadapan wartawan, dia berkata:
"Saya tidak bersalah. Semua tuduhan ini adalah fitnah. Saya yakin hukum akan membuktikan kebersihan saya."
Tapi senyumnya goyah saat dia melihatku di antara kerumunan.
Mataku bertemu matanya.
Aku tidak tersenyum.
Aku hanya menatap.
Ayah kandungku mati karena kamu. Ayah angkatku sekarang berperang melawan kamu. Aku tidak akan berhenti sampai kamu dihukum.
Dr. Hendra membuang muka.
---
Malam Itu — Chat dengan Rasya
Rasya (21.00): "Lihat berita?"
Nayla (21.01): "Iya. Ayahku hebat."
Rasya (21.01): "Ayahmu berani."
Nayla (21.02): "Aku bangga."
Rasya (21.02): "Tapi jangan lengah. Dr. Hendra belum ditahan. Dia masih bisa bergerak."
Nayla (21.03): "Aku tahu."
Rasya (21.03): "Kita jaga-jaga."
Nayla (21.04): "Iya."