"Singkirkan tatapan menantangmu itu, Mahasiswa Baru. Kau terlalu sombong hanya karena dari Harvard," desis Amieyara Walker, matanya menghujam sedingin es di koridor sepi.
Maximilian Valerio hanya menyunggingkan seringai tipis yang sarat akan provokasi. "Dan kau? Merasa bisa mengaturku karena memegang gelar Asisten profesor, Nyonya Janda Satu Malam?"
"Jaga mulutmu, Valerio! Jangan menguji batas kesabaranku jika kau tidak ingin hancur di kampus ini!"
"Oh, silakan coba, Yara. Aku tidak takut dengan ancaman kosong dari wanita yang bahkan tidak bisa mempertahankan suaminya sendiri."
Dua jiwa angkuh yang sama-sama terluka, terjebak dalam lingkaran makian dan harga diri yang tinggi.
Tidak ada ruang untuk romansa lembut di antara mereka; yang ada hanyalah benturan ego, dendam, dan obrolan penuh permusuhan yang justru mengikat mereka dalam ketertarikan yang berbahaya dan mematikan.
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#6
Kabut tipis sisa udara malam Los Angeles perlahan menguap di bawah sapuan pudar sang surya pagi.
Pelataran parkir Universitas Los Angeles, yang selalu menjadi panggung unjuk kekayaan bagi kaum borjuis muda, kini mulai dipadati oleh deretan kendaraan mewah.
Namun, perhatian beberapa mahasiswa yang baru tiba mendadak tersedot pada sebuah sudut di area parkir khusus Fakultas Bisnis.
Di sana, sebuah mahakarya otomotif tengah terparkir dengan keanggunan yang intimidatif. Mobil sport edisi terbatas berwarna hitam arang matte itu memantulkan cahaya pagi dengan sangat sempurna, menampilkan lekuk bodi yang dinamis dan garang di saat yang bersamaan.
Maximilian Valerio berdiri bersandar pada pembatas beton tidak jauh dari mobilnya, dengan sebelah tangan terbenam di saku celana jeans dan tangan lainnya memegang sebuah cangkir kopi hitam.
Di sampingnya, Carter dan Demon sedang mengitari kendaraan tersebut dengan mata yang berbinar penuh kekaguman, seolah sedang menatap sebuah artefak berharga tinggi.
"Sumpah, Max... lo bener-bener nggak pernah gagal kalau soal koleksi mobil sejak high school dulu," ujar Carter sembari berjongkok, mengagumi velg karbon berdesain kustom yang terpasang pada roda depan. "Dan demi Tuhan, yang ini bener-bener cantik banget. Siluet bodinya bener-bener mulus tanpa cela."
Max menyesap kopi hitamnya perlahan, lalu mengalihkan pandangan matanya pada bodi mobilnya.
Sebuah senyuman bangga yang samar terukir di wajah tampannya. Bagi Max, kendaraan bukan sekadar alat transportasi, melainkan sebuah pelampiasan atas kebebasan yang selalu dikekang oleh nama besar keluarganya.
"Kekasihku memang secantik itu," sahut Max dengan nada suara bariton yang santai, menyaru istilah 'kekasih' untuk mobil kesayangannya sendiri.
"Bodi dan lekukannya bener-bener proporsional. Dan yang paling gue suka, kalau dipakai setiap hari, performanya justru terasa semakin kencang dan bertenaga di jalanan."
Demon yang sedang bersandar di kap bagian depan langsung meledak dalam tawa renyah setelah mendengar ucapan Temannya itu.
Dia menggeleng-gelengkan kepala, menatap Max dengan pandangan jenaka. "Wah, gila... seorang Maximilian Valerio sekarang sudah bisa membual dan puitis soal mesin? Sejak kapan lo jadi sekocak ini, Bro?"
Demon kemudian menegakkan tubuhnya, melangkah mendekat dan menunjuk ke arah pergelangan tangan Max yang sedikit terekspos karena lengan kaos hitamnya yang digulung ke atas.
Di sana, gumpalan tinta hitam membentuk pola geometris abstrak yang rumit—sebuah tato baru yang dia dapatkan di pantai timur.
"Lo bener-bener berubah banyak setelah dari Boston, Max," sambung Demon dengan nada setengah tidak percaya namun tetap kagum. "Bukan cuma gaya bahasa lo, tapi penampilan lo sekarang... tato ini benar-benar membuat citra anak baik-baik lo hilang total."
Max melirik tato di lengannya sejenak, lalu terkekeh pelan tanpa ada rasa penyesalan sedikit pun. "Ini seni, Bro. Sebuah cara untuk menikmati hidup di antara tumpukan buku kuliah yang membosankan."
Namun, di balik kehangatan obrolan reuni pagi itu, tak satu pun dari ketiga pemuda tersebut menyadari bahwa sejak beberapa menit yang lalu, ada sosok lain yang berdiri tidak jauh di belakang mereka, tepat di balik pilar beton pembatas jalan.
Amieyara Walker baru saja turun dari sedan sport miliknya sendiri ketika telinganya menangkap suara obrolan dari arah kelompok Max.
Niat awalnya untuk langsung melangkah menuju gedung fakultas hukum mendadak urung. Langkah kakinya tertahan, dan dengan saksama, setiap untaian kalimat yang keluar dari mulut Maximilian tertangkap dengan sangat jelas oleh indra pendengarannya.
"Kekasihku memang secantik itu... bodinya benar-benar proporsional... kalau dipakai setiap hari, performanya justru terasa semakin kencang..."
Darah Yara seketika berdesir hebat, dipenuhi oleh rasa muak dan amarah yang mendadak bangkit kembali.
Karena posisinya yang terhalang pilar, Yara sama sekali tidak bisa melihat bahwa objek yang sedang dipandangi dan dibicarakan oleh ketiga pemuda itu adalah sebuah mobil baru.
Otaknya yang sudah terlanjur dipenuhi oleh prasangka buruk terhadap Max langsung menerjemahkan kata 'kekasih' sebagai seorang wanita seutuhnya.
Baginya, kalimat "dipakai setiap hari makin kencang" adalah sebuah metafora seksual yang sangat vulgar, menjijikkan, dan merendahkan martabat wanita.
Yara mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di sisi tubuh, membenarkan seluruh rumor buruk yang beredar tentang keliaran pria-pria di kampus ini.
Dengan langkah kaki yang sengaja dihentakkan keras ke atas aspal, Yara keluar dari balik pilar dan berjalan menghampiri ketiga pemuda tersebut.
"Aku tidak salah dalam menilai dan mengatakan bahwa dirimu adalah seorang bocah birahi, Valerio," ucap Yara tiba-tiba, suaranya yang lantang dan dingin memotong atmosfer tawa di antara mereka seketika.
Max, Carter, dan Demon serentak menoleh ke arah sumber suara. Mereka mendapati Yara berdiri tegak di hadapan mereka dengan gaun formal berwarna biru dongker yang pas di tubuh, rambut hitamnya yang diikat tinggi bergoyang pelan ditiup angin pagi. Di wajah cantiknya, sebuah senyuman sinis yang sarat akan rasa jijik terukir jelas.
Max menurunkan Gelas kopinya, mengerutkan dahi dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa heran sekaligus jengkel.
Sementara Carter dan Demon saling berpandangan dengan wajah bingung, sama sekali tidak mengerti dari mana datangnya tuduhan baru ini. Ada apa lagi dengan wanita asisten profesor yang satu ini?
"Apa maksudmu, Nona Walker?" tanya Max dengan nada suara yang mulai memberat, menatap Yara dengan pandangan menuntut penjelasan. "Kami hanya sedang mengobrol pagi di sini. Mengapa kau tiba-tiba datang dan melempar hinaan?"
Yara melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Max dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan yang sangat kentara.
"Mengobrol? Kau menyebut pembicaraan menjijikkan tentang bagaimana kau 'memakai' kekasihmu setiap hari hingga semakin kencang sebagai obrolan biasa? Di tempat umum seperti ini? Benar-benar tidak Rendahan dan tidak tahu malu."
Mendengar hal itu, Max tertegun sejenak sebelum akhirnya menyadari arah kesalahpahaman gila yang sedang terjadi di dalam kepala wanita di depannya ini.
Sebelum Max sempat membuka mulut untuk meluruskan bahwa mereka sedang membahas sebuah mobil baru, Yara justru melangkah maju satu senti, memperkecil jarak di antara mereka dan menatap Max dengan binar mata penuh kemenangan.
Yara sedikit memiringkan kepalanya, lalu berbisik dengan nada suara yang cukup jelas untuk didengar oleh ketiga pria di sana. "Dan katakan padaku, Valerio... apakah setelah pembicaraan vulgar itu, kau juga memuaskan dirimu dengan melihat foto-fotoku di media sosial semalam? Hm? Berapa kali kau melakukannya? Dua kali? Tiga kali? Atau kau melakukan solo sampai puas?"
DEG.
Kata-kata itu menghantam udara pagi bagai sebuah bom waktu yang meledak tanpa peringatan.
Mulut Carter dan Demon seketika menganga lebar karena rasa syok yang luar biasa.
Mata mereka membelalak sempurna, menatap bergantian antara Yara dan Max dengan ekspresi tidak percaya yang teramat sangat. Pikiran mereka langsung melayang liar.
Apa Max diam-diam menyukai atau bahkan terlibat dalam sesuatu yang intim dengan sang janda satu malam?
Wajah Maximilian Valerio yang semula tenang seketika mengeras sempurna.
Darahnya berdesir hebat, bukan karena rasa bersalah, melainkan karena rasa gengsi dan harga dirinya yang luar biasa tinggi sebagai seorang Valerio kini baru saja diinjak-injak dengan tuduhan paling memalukan di hadapan teman-temannya.
Notifikasi tanda suka yang tidak sengaja dia berikan semalam ternyata telah menjadi senjata bagi Yara untuk menjatuhkannya pagi ini.