NovelToon NovelToon
Jalan Pedang Xiao Chen

Jalan Pedang Xiao Chen

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Di tengah kehidupan yang penuh hinaan dan kesulitan, Xiao Chen kecil hanya memiliki satu mimpi—menjadi pendekar pedang terhebat di dunia.

Tanpa bakat luar biasa maupun latar belakang kuat, ia menapaki jalan pedang dengan tekad yang tak pernah padam. Bagi Xiao Chen, pedang bukan sekadar senjata, melainkan guru yang mengajarkannya tentang rasa sakit, pengorbanan, dan arti kehidupan.

Namun di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, mampukah seorang anak dari keluarga buruk mengukir namanya hingga mengguncang langit dan bumi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Keteguhan Hati

Begitu kaki Xiao Chen mendarat di anak tangga pertama, realitas di sekitarnya seolah remuk.

Tekanan spiritual yang dilepaskan oleh Tetua Sekte bukan lagi sekadar beban di pundak; itu adalah lautan merkuri yang menenggelamkan paru-parunya.

Setiap molekul oksigen terasa tajam dan berat untuk dihirup. Jantungnya berdegup dengan ritme yang menyakitkan, dan setiap saraf di telapak kakinya menjerit, seolah-olah ia sedang mendaki tumpukan jarum yang membara.

​"Ugh! Terus... maju...!!!" geram Xiao Chen, keringat dingin membasahi pakaian lusuhnya hingga menempel ketat di kulit.

​Ia mulai menyadari kekejaman ujian ini. Tangga Langit bukan sekadar menguji kekuatan otot atau kepadatan tulang.

Tekanan ini merayap masuk ke celah-celah pikiran, menyerang mental, dan mencoba mematahkan jiwa.

Setiap langkah adalah peperangan melawan bisikan di kepala yang menyuruhnya untuk menyerah dan kembali ke lumpur kemiskinan Desa Bambu.

​Ujian ini adalah hal dari dunia yang ia kenal: tidak adil.

​Tangga itu terbagi menjadi tiga jalur paralel. Jalur Jenius berada di paling kiri, di sana, anak-anak dengan bakat alami yang luar biasa berjalan dengan langkah yang relatif ringan, aura mereka berpendar melindungi tubuh.

Di tengah adalah jalur Rekomendasi, tempat anak-anak seperti Feng Lin mendaki.

Mereka memang berbakat, tapi yang utama adalah jimat pelindung yang tergantung di leher mereka—benda mahal yang membiaskan tekanan spiritual sehingga mereka hanya merasakan beban ringan.

​Lalu ada jalur Umum di sebelah kanan. Tempat Xiao Chen berada. Di sini, tidak ada jimat, tidak ada proteksi. Hanya ada keringat, darah, dan air mata.

Peserta di jalur ini tumbang satu per satu seperti lalat yang terkena racun. Ada yang muntah darah, ada yang jatuh pingsan dan seketika tubuh mereka diselimuti cahaya lalu menghilang.

​Di anak tangga ke-20, Xiao Chen mendengar suara napas yang begitu berat hingga terdengar seperti gergaji yang memotong kayu. Ia menoleh dan menemukan Bao Hu.

Anak gendut yang tadinya ceria itu kini berwajah pucat pasi. Lemak di tubuhnya bergetar hebat, kakinya gemetar seperti ranting ditiup badai.

​"Bung... huff... huff... santai saja. Aku ini... tidak mudah menyerah... haha," Bao Hu mencoba tertawa, namun suaranya pecah. Tiba-tiba, keseimbangannya hilang. Tubuhnya yang besar oleng ke belakang menuju jurang tak berdasar di bawah tangga.

​Grep!

​Dengan sigap, Xiao Chen mencengkeram lengan Bao Hu. Otot lengan Xiao Chen menegang, urat-urat menonjol di lehernya. "Ayo! Jangan menyerah di sini!"

​Bao Hu tertegun. Di dunia di mana semua orang hanya peduli pada diri sendiri, ada seseorang yang mengulurkan tangan di tengah ujian hidup dan mati. Ia tersenyum lebar, meski matanya berkaca-kaca. "Ya! Ayo kita hadapi!"

​Di anak tangga ke-40, Feng Lin berjalan dengan dagu terangkat. Jimat giok di lehernya berpendar hijau tenang, menangkal tekanan Qi yang mengerikan. Ia berhenti sejenak, memamerkan kemudahannya kepada para peserta jalur umum yang merangkak dengan kuku berdarah.

​"Sadar diri sajalah," ejek Feng Lin, suaranya diperkuat oleh Qi sehingga terdengar ke jalur umum. "Orang miskin memang tidak cocok mendaki jalan menuju langit. Kalian hanya akan menjadi pupuk bagi anak tangga ini."

​Para peserta jalur umum menatapnya dengan amarah yang membara, namun mereka terlalu lemah bahkan untuk sekadar berteriak balas.

​Namun, mata Feng Lin terpaku pada satu titik di bawahnya. Ia melihat Xiao Chen. Anak yang seharusnya sudah hancur itu kini justru sedang membahu Bao Hu.

Mereka bergerak lambat, tapi konsisten. Ada sebuah tekad yang tak terlihat, sebuah jaring persaudaraan yang membuat Feng Lin merasa terancam.

"​Kenapa? Kenapa dia masih bisa berdiri?" pikir Feng Lin sinis. Rasa takut yang tidak ia pahami mulai merayap di hatinya. Ia tidak ingin disusul oleh "anak pelacur" itu. Dengan geram, Feng Lin mempercepat langkahnya, mengabaikan peserta lain.

​Waktu seolah membeku. Ketika Xiao Chen dan Bao Hu mencapai anak tangga ke-90, suasana berubah drastis. Udara menjadi dingin yang menusuk tulang.

​"Lihat itu..." bisik Bao Hu.

​Di atas mereka, tepat di anak tangga ke-100, para peserta berhenti mendadak. Wajah mereka dipenuhi ketakutan.

Ada yang berteriak histeris, ada yang menangis memanggil ibunya, dan yang paling mengerikan, ada yang tiba-tiba melompat ke jurang dengan wajah tersenyum kosong.

​"Itu ujian hati," suara Roh Pedang bergema dingin. "Bersiaplah, Nak. Kegelapanmu akan memanggilmu."

​Xiao Chen menelan ludah. Ia memantapkan langkah, dan begitu kakinya menginjak anak tangga ke-100, dunia nyata lenyap.

​Ia berdiri di tengah Desa Bambu. Namun, desa itu sedang terbakar. Api membumbung tinggi, menjilat langit yang hitam.

Bau daging terbakar dan amis darah menyengat indra penciumannya.

Di depannya, seorang pria dewasa berdiri membelakanginya. Pria itu memakai jubah hitam legam, aura kematian memancar darinya.

​Pria itu berbalik. Xiao Chen tersentak. Itu adalah dirinya sendiri. Versi dewasa dari Xiao Chen, namun dengan mata merah darah yang kosong dari kemanusiaan.

Di tangan kanannya, ia memegang pedang hitam yang bersimbah darah. Di tangan kirinya, ia menyeret dua jasad yang hancur.

​Itu adalah ayahnya, Xiao Feng, dan ibunya, Lin Ya. Mereka mati dengan ekspresi ketakutan yang luar biasa.

​"Inilah masa depanmu jika kau membiarkan pedang itu memakan hatimu," suara Roh Pedang muncul sebagai narasi dalam visi tersebut. "Kau akan menjadi monster yang membantai satu-satunya orang yang memberimu bekal."

​Xiao Chen gemetar. Bayangan dirinya yang menjadi pembantai membuat jiwanya terguncang.

Namun, di tengah badai emosi itu, ia mengingat syair yang ia pelajari. Ia memejamkan mata, membiarkan api ilusi itu membakar kulitnya tanpa ia membalas.

​"Walau pedang bisa berkarat, hati yang lurus takkan tersesat... Menebas angkara, jiwa terawat, dalam tenang, kekuatan terpahat."

​"Pedangku bukan untuk kebencian ini," bisik Xiao Chen. "Jalan pedangku adalah untuk memastikan tidak ada lagi yang bisa merenggut paksa hidupku. Termasuk kegelapanku sendiri!"

​PRANG!

​Ilusi itu hancur berkeping-keping seperti kaca. Xiao Chen kembali ke tangga batu. Keringat bercampur darah menetes dari dahinya.

Di dalam jiwanya, pedang hitam itu bereaksi, bukan dengan amarah, tapi dengan energi murni yang membantu membelah tekanan atmosfer di sekitarnya.

​Di puncak gunung, di dalam istana terapung yang tersembunyi di balik awan, para Tetua Sekte duduk mengelilingi cermin air yang menampilkan seluruh peserta.

​"Tahun ini banyak bibit unggul," kata seorang Tetua dengan jenggot panjang. "Anak bernama Feng Lin itu memiliki akar spiritual yang stabil."

​"Hmph, dia hanya mengandalkan jimat keluarga," balas Tetua wanita dengan wajah dingin.

​Namun, perhatian mereka tiba-tiba tertuju pada satu titik di jalur umum. Seorang Tetua berpakaian hitam, yang sejak tadi diam, mencondongkan tubuhnya ke depan. "Lihat bocah itu. Dia melewati Ujian Hati tanpa sedikit pun keraguan setelah ilusi muncul."

​"Dia memiliki aura seperti pedang yang ditempa dari penderitaan selama ribuan tahun," gumam Tetua lainnya. Namun, ia menyipitkan mata. "Tapi... ada aura gelap yang sangat samar di dalam dirinya. Berbahaya."

​Matahari mulai menyentuh cakrawala, mengubah langit menjadi hamparan emas dan ungu. Bao Hu sudah tidak bisa lagi berjalan; ia merangkak dengan sisa-sisa kesadarannya.

​"Ayam... goreng... Ibu... lapar..." racaunya.

​Xiao Chen mencengkeram kerah baju Bao Hu, menyeret temannya itu melewati anak tangga terakhir menuju platform utama. Mereka berdua ambruk, terengah-engah seperti ikan yang ditarik dari air.

​"Kita... berhasil, Bao," bisik Xiao Chen, matanya menatap langit yang indah.

​"Ya... berhasil..." Bao Hu pingsan dengan senyum di wajahnya.

​Tiba-tiba, BOOM!

​Riak tekanan spiritual yang sepuluh kali lebih kuat dari sebelumnya meledak dari pusat sekte, memaksa semua orang yang baru saja sampai untuk berlutut kembali. Tetua Sekte yang terbang tadi mendarat di depan mereka.

​"Selamat. Kalian baru saja menyelesaikan pemanasan. Kalian akan dibagi menjadi murid inti, murid dalam, dan murid luar tergantung seberapa banyak anak tangga yang kalian lewati dan potensi kalian."

​DONGGGGG!

​Lonceng raksasa sekte berbunyi. Suaranya begitu murni hingga menggetarkan seluruh gunung. Namun, bagi Xiao Chen, suara itu adalah lonceng peringatan.

Pedang hitam di dalam tubuhnya tiba-tiba bergetar liar, seolah-olah ketakutan sekaligus haus darah.

​Roh Pedang, yang biasanya tenang, kini berbisik dengan nada yang membuat bulu kuduk Xiao Chen berdiri:

​"Sial... Sembunyikan auramu sedalam mungkin, Nak! Seseorang di puncak sekte ini... adalah orang yang pernah bertarung melawan pemilik pedang ini ribuan tahun lalu. Dia mengenali auraku!"

​Xiao Chen membeku di tengah kerumunan. Di depannya, gerbang megah Sekte Pedang Langit terbuka, menjanjikan kekuatan namun juga menyimpan rahasia yang bisa memusnahkannya dalam sekejap.

1
Maul
👍👍
Maul
latihan keras 😢
Maul
/Panic//Panic/
Maul
/Scare//Scare/
Maul
kenapa nih🤔
Maul
Benar-benar membingungkan Patriark itu🤭
Maul
/Smile/
Maul
Sepertinya Patriark baik🤔
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Iyeeeees 🌽🔥
Agen One
Bab 37 sabar guys/Sleep/
Agen One
Kakek roh/Whimper/
Agen One
jadi juga murid dalam/Frown/
Agen One
🤕🤔
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Iyeeeees boos 🌽🔥
Maul
keputusan apa ituh
Maul
takut itu wajar Qianer
Maul
/Frown/
Agen One
selamat Idul Adha ya semuanya/Smile//Pray/
Agen One
Bab 35 sabar ya/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!