“Aku nggak mau nikah sama ustaz dingin kayak kulkas berjalan!”
Itulah teriakan Naura Aleesha saat orang tuanya menjatuhkan keputusan ia akan menikah dengan Gus Azzam Al-Farizi, pewaris pesantren ternama. Bagi Naura, gadis modern yang mencintai kebebasan, café, dan koleksi bunga, menikah dengan lelaki yang hidupnya diatur oleh aturan agama adalah akhir dari dunianya.
Di sisi lain, Gus Azzam menerima wasiat terakhir almarhum kakeknya dengan tenang. Meski calon istrinya jauh dari kesan islami, keras kepala, dan bahkan tidak berhijab syar’i, Azzam adalah lelaki yang tak pernah membantah takdir. Ia berjanji akan menjaga Naura, meski dengan caranya yang diam dan penuh batas.
Pernikahan yang diawali penolakan dan kesalahpahaman ini perlahan mempertemukan dua dunia yang bertolak belakang. Di balik tatapan dingin Azzam, ada taman bunga yang diam-diam ia tanamkan untuk istrinya. Di balik keras kepala Naura, ada kelembutan yang mampu melelehkan hati sang Gus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4 - Pertemuan Canggung
Tiga hari sudah berlalu sejak perjumpaan singkat di ruang tamu, dan Naura mulai berpikir ia sudah memenangkan perang.
Tak ada kabar dari keluarga pesantren. Ayahnya, meski masih menunjukkan wajah keras, tak lagi memaksa. Ibunya kembali mengurus acara sosialitanya. Dan Naura? Ia menghabiskan tiga hari terakhir dengan susah payah meyakinkan dirinya sendiri bahwa tatapan mata Gus Azzam yang tenang itu tidak mengganggu sama sekali.
"Tidak mengganggu," bisiknya berulang kali sambil menyiram pot lavender di halaman belakang. "Sama sekali tidak."
Sore itu lagi-lagi mendung. Aroma tanah basah mulai tercium, menjadi pertanda hujan akan segera turun. Naura memakai celana pendek kain dan kaus oblong oversize, rambutnya diikat asal-asalan menjadi messy bun. Ini adalah pakaian perangnya jika orang tuanya berpikir bisa mengubahnya menjadi istri pesantren yang sopan, mereka salah besar.
Suara langkah kaki di lantai parket terdengar mendekat.
"Naura." Suara Mahendra tegak di ambang pintu belakang. Wajah pria itu sungguh-sungguh, tapi kali ini tidak ada kemarahan. Ada semacam... keputusasaan yang sopan.
"Papa?" Naura tidak menoleh, fokus menyiram bunga.
"Ada tamu datang."
Naura menghentikan semangkuk airnya. "Kalau Rangga, suruh dia pergi. Aku nggak mau ketemu scumbag bisnis Papa."
"Bukan Rangga." Mahendra menelan ludah. "Gus Azzam."
Wadah penyiram air jatuh dari tangan Naura, menghantam lantai keramik dengan bunyi berisik. Air memercik ke kakinya. Ia membalikkan badan, mata melebarkan.
"Dia kemarii?! Kenapa?! Aku sudah bilang aku menolak!"
"Dia bilang dia tidak memaksamu," Mahendra menghela napas panjang. "Dia hanya ingin... berbicara. Berdua saja. Naura, tolong. Sekali ini, hargai tamu kita."
Sebelum Naura bisa membantah, sosok jangkung berpakaian putih sudah muncul di belakang ayahnya.
Gus Azzam kembali hadir dengan aura yang sama sorbannya sempurna, koko putihnya kusut, wajahnya tenang seperti danau tanpa riak. Bedanya, kali ini ia membawa sesuatu. Sebuah kotak kaca kecil yang di dalamnya terlihat sebuah tanaman kecil.
Mahendra mundur selangkah, memberi jalan. "Papa... tinggalin kalian berdua."
Dan seperti itu, ayahnya pergi, meninggalkan Naura sendirian dengan pria yang membuatnya tidak bisa tidur tiga hari terakhir.
Kesunyian menyelimuti taman belakang. Hanya ada suara kicauan burung yang terdengar panik karena mendung, dan desahan napas Naura yang tertahan.
Azzam melangkah masuk ke area taman. Matanya menyapu sekeliling melihat deretan pot bunga yang tertata rapi, warna-warni kelopak yang bermekaran, lalu akhirnya jatuh pada Naura.
Naura cross arms di depan dada, dagu terangkat menantang. "Lo nggak paham bahasa Indonesia, Gus? Gue bilang gue menolak."
Azzam tak langsung menjawab. Ia berjalan mendekat, langkahnya pelan dan diukur. Ia berhenti tepat dua meter dari Naura jarak yang cukup jauh untuk tak menakutkan, tapi cukup dekat untuk membuat jantung Naura berdebar aneh.
"Assalamu'alaikum," ucapnya lembut, suaranya rendah menggetarkan udara.
Naura mendengus. "Wa'alaikumussalam. Sekarang jawab pertanyaanku."
Azzam menatap Naura dari atas ke bawah, bukan dengan niat menilai, tapi dengan rasa ingin tahu yang tenang. Matanya terhenti sejenak pada betis Naura yang terbuka, lalu dengan sangat sopan, ia mengalihkan pandangannya ke pot mawar di samping gadis itu.
"Aku tidak datang untuk memaksamu," ucap Azzam. "Aku datang untuk menepati janjiku."
"Janji apa? Janji pergi dari hidupku?"
"Janji untuk tidak memaksa, tapi juga tidak pergi." Azzam mengulurkan kotak kaca di tangannya. "Ini untukmu."
Naura mengerutkan dahi, curiga. Ia tidak bergerak. "Apa itu? Bom? Racun serangga?"
Sebuah senyum tipis, lagi-lagi senyum menyebalkan itu menghiasi bibir Azzam. "Aku tidak sekejam itu, Naura. Ini terrarium."
Naura berkedip. "Terrarium?"
Dengan ragu, ia mengambil kotak kaca itu. Di dalamnya, sebuah tanaman sukulen mini tumbuh di atas tanah berpasir hitam, dihiasi batu-batu kecil dan lumut hijau. Susunannya sangat artistik, terlihat seperti taman mini dalam sangkar kaca.
"Lo.. buat ini?" Naura tidak bisa menyembunyikan keheranan dalam suaranya. Seorang Gus, pewaris pesantren, membuat terrarium?
"Aku suka tanaman," jawab Azzam sederhana. "Kebanyakan orang tidak tahu. Mereka pikir aku hanya suka kitab dan sajadah."
Naura memutar terrarium itu di tangannya, mengamati detailnya. Ini cantik. Terlalu cantik untuk dibuat oleh tangan pria yang wajahnya setenang patung.
'Lalu kenapa dia memberiku ini?'
"Kenapa?" tanya Naura, suaranya lebih pelan dari yang ia inginkan.
"Kakekku menulis di wasiatnya bahwa kamu suka bunga," Azzam menempelkan kedua tangannya ke depan tubuhnya, sikap yang sangat sopan. "Aku pikir, jika kamu tidak suka padang pasir, mungkin kamu akan suka taman kecil yang bisa kamu bawa ke mana-mana."
Jantung Naura bergetar aneh. Ada sesuatu dalam kata-kata pria itu yang membuat pertahanannya sedikit goyah. Ia sedang mencoba membencinya, tapi pria itu malah memberinya hadiah yang sangat personal.
"Naura, jangan tertipu. Dia pasti punya agenda." batinya
"Lo pikir dengan memberiku tanaman, gue akan langsung setuju menikahimu?" Naura meletakkan terrarium itu di meja taman dengan kasar, meski dalam hati ia sebenarnya sangat tidak ingin merusaknya. "Gue bukan gadis yang bisa dibeli dengan hadiah, Gus Azzam."
Azzam mengangguk pelan. "Aku tahu. Aku tidak mencoba membelimu. Aku hanya ingin menunjukkan bahwa aku mendengarkan."
Naura terdiam. Ia tidak terbiasa dengan orang yang tidak membalas amarahnya dengan amarah. Orang tuanya berteriak, Cipa melawannya dengan bercanda, mantannya dulu mengabaikannya. Tapi Gus Azzam ini... ia seperti tembok bantal. Semakin keras Naura memukul, semakin lembut pantulannya.
"Lalu lo mau apa di sini?" Naura menatapnya tajam. "Kalau nggak maksa, dan gue udah menolak, apa maksudmu datang ke rumahku berpakaian rapi seperti ini?"
Azzam mengambil satu tarikan napas dalam. Matanya menatap Naura dengan intensitas yang membuat gadis itu hampir mundur selangkah.
"Aku ingin mengenalmu," ucap Azzam. "Di luar penolakanmu. Di luar wasiat kakekku. Di luar bisnis ayahmu. Aku ingin tahu siapa Naura Aleesha yang sebenarnya."
Naura tertawa sinis, berusaha menutupi kenyataan bahwa lututnya sedang lemas. "Lo udah melihatku. Gadis keras kepala, nggak sopan, dan nggak pakai hijab syar'i. Apa lagi yang ingin lo yau?"
"Apakah kamu suka mawar merah atau putih?" tanya Azzam tiba-tiba, mengabaikan ejekannya.
Naura terkesima. "Apa?"
"Di tamanmu, kamu punya mawar merah dan putih. Tapi yang kau rawat lebih sering, yang potnya lebih dekat dengan posisimu tadi menyiram... adalah mawar putih. Jadi, apakah kamu lebih suka yang putih?"
Naura menelan ludah. Pria itu... memperhatikannya? Dari tadi?
"Putih," jawabnya pelan, hampir tidak sadar.
Azzam mengangguk, seolah mencatat informasi itu di kepalanya. "Aku juga suka putih. Karena putih adalah warna yang bersih, dan kesucian itu bukan berarti tidak bernoda, tapi bisa dibersihkan kembali."
Prang!
Batin Naura berdesir. Kalimat itu terdengar seperti sindiran, tapi nada suara Azzam begitu tulus sehingga terasa seperti pelukan.
"Aneh," bisik Naura, matanya turun menatap lantai.
"Itu hanya pendapat," koreksi Azzam lembut. "Dan aku rasa, kamu juga tidak seburuk yang kamu pikir tentang dirimu sendiri."
Hujan akhirnya turun. Tiba-tiba. Tanpa ampun. Hujan deras menyapu taman belakang, membuat keduanya terkejut.
Naura memburu-buru hendak melarikan diri ke dalam rumah, tapi Azzam lebih dulu bergerak. Dengan gerakan cepat yang mengejutkan, pria itu melepaskan jubah hitam luarnya, membiarkannya hanya mengenakan baju koko putih, lalu menyarungkan jubah itu di atas kepala Naura sebagai pelindung hujan.
Naura tertegun. Dalam sekejap, ia berada di bawah naungan jubah pria itu, sementara Azzam berdiri di luar, membiarkan rintik hujan membasahi sorban dan bahunya.
"Masuklah," ucap Azzam, suaranya sedikit membentak karena hujan, tapi matanya masih setenang dan sepenuh perhatian. "Kamu akan sakit jika terkena air hujan."
Naura tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya menatap pria itu pria yang berdiri di bawah hujan demi melindunginya, dengan rambutnya yang mulai basah dan menempel di dahi, tetes air mengalir di pipinya yang tirus.
Untuk pertama kalinya sejak wasiat itu diucapkan, Naura tidak merasa terancam. Ia merasa... aman.
"Terima kasih," bisik Naura, suaranya hampir tenggelam oleh suara hujan.
Azzam hanya tersenyum, senyum asli, bukan tip, yang menciptakan lesung pipi dangkal di pipi kanannya. Senyum yang membuat dada Naura berdenyut kencang.
"Sama-sama, Naura."
Hujan turun semakin deras, memisahkan mereka dari dunia luar. Dan di bawah naungan jubah hitam itu, Naura menyadari satu hal yang mengerikan. Gus Azzam Al-Farizi jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan. Bukan karena ia memaksa, tapi karena ia membuat Naura ingin mengenalnya kembali.
.
.
.