NovelToon NovelToon
SUAMI SEWAANKU SANG MAFIA PENGUASA

SUAMI SEWAANKU SANG MAFIA PENGUASA

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Perjodohan
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Orang_Cuman_Cerita

Demi menghindari perjodohan gila dengan rentenir tua pilihan ibu tirinya, Alana nekat menyewa seorang pria asing di pinggir jalan untuk menjadi suami pura-puranya dengan bayaran 5 juta sebulan. Pria itu tampak seperti pengangguran tampan yang sedang butuh tempat sembunyi.

​Alana bekerja keras siang malam untuk menghidupi "suami miskinnya" itu. Ia bahkan rela membelikan pria itu kemeja obralan agar terlihat rapi saat menemaninya.

​Namun, Alana tidak pernah tahu bahwa pria yang setiap malam tidur di sofa sempit apartemennya adalah Xander, pemimpin kartel mafia paling ditakuti sekaligus CEO triliuner yang kekayaannya tak berseri. Saat keluarga tiri Alana mencoba menginjak-injak hidup gadis itu, mereka tidak sadar bahwa mereka telah membangunkan iblis kejam yang sedang menyamar.

​"Siapa pun yang berani menyentuh milikku, bersiaplah kehilangan nyawa." — Xander.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Sabotase yang Mengundang Maut

Tiga jam berlalu sejak Xander meninggalkan gedung Viora Jewelry. Suasana di lantai divisi desain yang biasanya penuh dengan teriakan dan tekanan, kini berubah menjadi sangat damai. Tidak ada satu pun manajer yang berani membentak, dan Pak Hendra bahkan mengirimkan nampan berisi camilan premium ke meja setiap desainer, sebuah pemandangan langka yang membuat Sarah nyaris menangis terharu.

​Alana tenggelam dalam pekerjaannya. Ia tengah merancang mahkota utama untuk Spring Collection, sebuah karya rumit yang menggunakan berlian merah muda langka sebagai pusatnya. Sketsa fisiknya sudah hampir selesai, dan purwarupa cetakan lilinnya berdiri cantik di atas meja kerjanya.

​"Alana, kau mau ikut ke kafetaria?" bisik Sarah dari kubikel sebelah. "Ini sudah jam istirahat siang."

​Alana melihat jam di pergelangan tangannya. Pukul dua belas tepat. Xander berjanji akan menjemputnya untuk makan siang sebentar lagi.

​"Kau duluan saja, Sarah. Aku harus mencuci tangan dan merapikan mejaku dulu. Suamiku akan menjemputku di lobi," jawab Alana sambil tersenyum hangat.

​"Baiklah, Nyonya Besar! Aku titip salam untuk suamimu yang sangat tampan dan mengerikan itu ya!" goda Sarah sebelum berlari kecil menuju lift.

​Begitu sosok Sarah menghilang dan Alana melangkah menuju toilet di ujung lorong, bayangan gelap yang sejak tadi mengawasi dari sudut ruangan akhirnya bergerak. Siska keluar dari persembunyiannya. Sepasang matanya menatap tajam ke arah meja kerja Alana yang rapi.

​Rasa iri telah membutakan akal sehat desainer senior itu. Selama ini, Siska selalu mencuri ide-ide brilian Alana untuk mendapatkan promosi. Sekarang, dengan Alana menjadi pemilik perusahaan, karir Siska terancam hancur. Ia tahu ia tidak bisa melawan kekuasaan Xander secara langsung, tapi ia bisa menghancurkan Alana dari dalam. Ia akan membuat Alana kehilangan kepercayaan dari satu-satunya sahabatnya, Sarah.

​Dengan langkah cepat dan mengendap-endap, Siska menghampiri meja Alana. Ia meraih purwarupa lilin yang rapuh itu dan meremukkannya hingga hancur berkeping-keping. Tak berhenti di situ, Siska mengambil flash disk perak yang berisi seluruh salinan master digital desain Alana. Siska kemudian berjalan cepat menuju meja Sarah, membuka tas jinjing kanvas milik Sarah yang tertinggal, dan menjatuhkan flash disk itu ke dalamnya.

​Siska tersenyum sinis. "Mari kita lihat, apakah Nyonya Besar kita masih bisa bersikap baik jika tahu sahabatnya sendiri yang mengkhianatinya."

​Siska segera kembali ke mejanya sendiri, berpura-pura sibuk membaca majalah mode tepat saat Alana kembali dari toilet.

​Alana bersenandung kecil sambil mengeringkan tangannya. Namun, begitu pandangannya jatuh ke atas meja kerjanya, langkahnya terhenti secara dramatis. Wajahnya memucat seketika.

​Purwarupa mahkota yang ia kerjakan dengan susah payah selama berhari-hari kini hancur menjadi serpihan lilin tak berbentuk. Dan yang lebih membuat jantungnya mencelos, flash disk masternya telah raib.

​"Tidak... tidak mungkin," gumam Alana panik. Ia mulai membongkar tumpukan kertas di mejanya, mencari benda kecil itu.

​Mendengar keributan tersebut, Siska bangkit dari kursinya dan berjalan mendekat dengan raut wajah pura-pura terkejut. "Ya ampun, Alana! Apa yang terjadi dengan karyamu? Kenapa hancur berantakan begini?!"

​Suara melengking Siska menarik perhatian beberapa karyawan yang baru saja kembali dari kafetaria, termasuk Sarah yang membawa segelas es kopi.

​"Alana? Ada apa?" tanya Sarah bingung melihat wajah pucat sahabatnya.

​"Seseorang menghancurkan purwarupaku... dan flash disk masternya hilang," suara Alana bergetar menahan tangis bercampur marah.

​"Apa?!" Siska memotong dengan nada dramatis. "Itu pencurian! Kita harus menggeledah semua orang di ruangan ini! Tunggu dulu... Sarah, bukankah kau tadi keluar paling terakhir sebelum Alana? Coba kulihat tasmu!"

​Tanpa menunggu persetujuan, Siska merampas tas kanvas Sarah dan menumpahkan seluruh isinya ke atas lantai. Terdengar bunyi dentingan logam saat sebuah flash disk perak menggelinding tepat di dekat sepatu Alana.

​Seluruh ruangan seketika menahan napas.

​"Astaga, Sarah!" seru Siska dengan nada kemenangan yang disamarkan sebagai rasa syok. "Kau yang mencurinya? Kau iri karena temanmu sekarang menjadi Nyonya Besar, jadi kau menghancurkan karyanya?!"

​Sarah menggeleng ribut, air mata mulai menggenang di pelupisnya. "Tidak! Alana, sumpah, itu bukan aku! Aku tidak tahu bagaimana benda itu bisa ada di tasku! Sumpah, Alana!"

​Alana menatap flash disk di lantai, lalu menatap wajah Sarah yang ketakutan, dan beralih pada Siska yang tersenyum penuh kemenangan. Insting Alana menolak keras tuduhan itu. Ia mengenal Sarah. Sarah tidak mungkin melakukan hal serendah ini.

​Namun, sebelum Alana sempat membuka mulutnya untuk membela Sarah, suhu di dalam ruangan itu mendadak turun drastis. Pintu ganda divisi desain didorong terbuka dengan kasar, menciptakan suara benturan keras yang menggema ke seluruh ruangan.

​Xander melangkah masuk. Aura gelap dan membunuh menguar begitu pekat dari tubuh tegapnya, membuat seluruh karyawan di ruangan itu secara refleks mundur selangkah karena ketakutan. Di belakangnya, Dante dan dua pengawal berjas hitam mengikuti dengan wajah tanpa ekspresi.

​Mata obsidian Xander langsung tertuju pada wajah istrinya yang pucat, lalu beralih pada meja kerja yang berantakan, dan terakhir pada barang bukti di lantai.

​"Siapa yang berani membuat istriku bersedih?" suara Xander terdengar sangat pelan, rendah, nyaris seperti bisikan, namun sarat akan ancaman maut yang membekukan darah.

​Pak Hendra yang baru saja tiba di belakang kerumunan langsung berlutut di lantai dengan tubuh gemetar hebat.

​Siska menelan ludah. Ia mencoba memberanikan diri, berpikir bahwa kebohongannya sangat sempurna. Siska melangkah maju sambil menunjuk Sarah. "Tu-Tuan Besar... wanita ini! Sarah telah menyabotase meja Nyonya Alana dan mencuri data desainnya! Kami menemukan barang buktinya di dalam tasnya!"

​Xander menoleh perlahan ke arah Siska. Tatapannya menembus tepat ke dasar jiwa wanita itu, membedah setiap lapis kebohongan yang coba ia tutupi. Raja mafia itu sama sekali tidak melirik Sarah, apalagi barang bukti receh di lantai.

​Sebuah tawa dingin dan gelap keluar dari dada Xander, membuat bulu kuduk semua orang berdiri.

​"Kau pikir kau sedang berbicara dengan siapa, Nona?" desis Xander, melangkah perlahan mendekati Siska layaknya predator yang menyudutkan mangsanya. "Kau pikir sandiwara murahanmu ini bisa menipu penguasa Leonidas Group?"

​Siska mulai gemetar. Keringat dingin membasahi punggungnya. "Sa-saya mengatakan yang sebenarnya, Tuan! Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri—"

​"Dante," potong Xander tanpa mengalihkan pandangannya dari Siska yang kini memucat pucat pasi.

​Dante melangkah maju dengan sebuah tablet canggih di tangannya. "Siska Anindya, 28 tahun. Tiga menit yang lalu, kau meretas kamera pengawas lokal di lantai ini menggunakan perangkat perusak sinyal murahan, berpikir bahwa kau tidak akan terekam."

​Dante memutar layar tabletnya agar bisa dilihat oleh seluruh ruangan. "Namun sayangnya, satelit keamanan global yang memantau gedung ini adalah milik Leonidas Corporation. Kami memiliki lapisan rekaman infra merah yang tidak bisa kau sentuh."

​Di layar tersebut, terpampang dengan sangat jelas dan tajam rekaman infra merah Siska yang menghancurkan karya Alana dan menyelipkan flash disk itu ke dalam tas Sarah.

​Kaki Siska seketika kehilangan tenaganya. Ia jatuh terduduk di atas lantai, menatap layar itu dengan horor yang luar biasa. Ia tidak tahu bahwa Xander memiliki akses teknologi sekelas militer hanya untuk memantau sebuah kantor perhiasan!

​"Menyakiti istriku adalah dosa besar," bisik Xander dingin, berdiri menjulang di hadapan Siska. "Tapi menganggapku bodoh dengan mencoba memfitnah orang lain di depan mataku... itu adalah tiket langsung menuju neraka."

​Xander mengangkat satu tangannya, memberikan isyarat mematikan. "Bawa dia. Pastikan dia menyadari bahwa bermain api dengan keluarga Leonidas adalah kesalahan terakhir dalam hidupnya."

​Dua pengawal raksasa Xander langsung menyeret Siska yang menjerit dan menangis histeris memohon ampun, membelah kerumunan karyawan yang mematung saking syoknya. Dalam hitungan detik, parasit terbesar di kantor itu lenyap tanpa sisa.

​Xander kemudian memutar tubuhnya, raut wajahnya yang mematikan mendadak melembut saat ia menatap istrinya. Ia melangkah mendekat dan merengkuh Alana ke dalam pelukannya.

​"Ayo kita makan siang, Istriku," bisik Xander lembut, mengusap rambut Alana, seolah ia tidak baru saja menjatuhkan vonis kejam pada seseorang beberapa detik yang lalu.

​(Bersambung...)

1
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍
Orang_Cuman_Cerita: Lagi Proses Kak 👍
total 1 replies
Anonim
Lanjutkan 👍
Orang_Cuman_Cerita
Sukakan?💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!