Nara mengira kehidupan barunya setelah transmigrasi akan berjalan indah. Nyatanya, dia malah terlempar ke masa kuno dan menjadi anak sulung dari keluarga miskin yang dibenci semua orang karena cacat fisik.
Pemilik tubuh yang asli mati tragis karena memotong jari keenamnya demi mencari keadilan. Kini, dengan jiwa modern yang mengisi tubuh tersebut, Nara bersumpah tidak akan membiarkan ibu dan adiknya diinjak-injak lagi.
bertahun-tahun kemudian "haaaaa mencapai puncak kekuasaan dengan enam jari emang berat"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 hukuman
Yan Ning berlari kencang kembali ke Kamar Barat dengan napas terengah-engah. Wajah kecilnya memerah padam menahan amarah yang meledak-ledak.
Begitu sampai di depan Nara dan Nyonya Mu, dia langsung menumpahkan semua yang didengarnya. "Ibu, apa pria itu beneran ayah kandung kita? Bahkan anjing di rumah sebelah aja tahu cara melindungi anaknya sendiri!" seru Yan Ning berapi-api.
"Mana ada seorang ayah yang tega bersekongkol untuk mencelakai putrinya sendiri? Dia beneran pria bajingan!" lanjut Yan Ning dengan tangan mengepal kuat.
Nyonya Mu yang mendengar hal itu langsung dilanda kepanikan luar biasa. Wajahnya pias, tatapannya beralih cemas ke arah putri sulungnya. "Ara, bagaimana ini...?"
Berbeda dengan ibunya, Nara justru menanggapi kabar itu dengan sangat tenang. Baginya, ancaman ini malah menjadi keuntungan tersendiri.
Nara tersenyum tipis untuk menenangkan mereka berdua. "Ibu dan Yan Ning tenang saja. Selama urusan pernikahan Paman Yan Ming dan Bibi Yan Ling belum selesai, mereka tidak akan berani menyentuh kita."
"Nenek Lou pasti akan pasang badan demi menjaga nama baik keluarga. Mana mungkin dia membiarkan reputasi anak-anak kesayangannya hancur karena skandal pembunuhan," lanjut Nara dengan nada penuh keyakinan.
Nara tahu betul betapa berharganya status sosial bagi orang-orang di Desa Wu. Jika Yan Shong nekat bertindak kejam, tetangga desa pasti akan memboikot keluarga mereka.
Semakin ketakutan Keluarga Yan, situasi justru akan semakin menguntungkan bagi Nara. Sekarang, fokus utamanya adalah memulihkan reputasi buruknya sebelum mencari cara untuk keluar sepenuhnya dari rumah terkutuk ini.
"Yan Ning! Keluar kamu dari kamar!"
Suara bentakan Yan Shong yang menggelegar mendadak terdengar dari arah luar pintu. Nyonya Mu seketika gemetar ketakutan, buru-buru mengunci selot pintu dan mengganjalnya menggunakan dua buah bangku kayu.
"Aku tidak takut sama dia!" seru Yan Ning sambil membusungkan dada kecilnya, menolak untuk tunduk.
Nara tersenyum bangga melihat keberanian adiknya, lalu mengusap lembut pucuk kepala Yan Ning. "Dia tidak akan berani mendobrak masuk, Nak."
Tebakan Nara terbukti tepat. Tampaknya Yan Shong masih trauma dengan bantingan judo Nara tadi, atau mungkin dia takut kalau putrinya itu beneran sedang kesurupan roh halus.
Pria itu tidak berani mendobrak pintu. Dia hanya berdiri di halaman, melontarkan sumpah serapah dan makian sekasar mungkin untuk meluapkan kekesalannya.
Meskipun Yan Shong tidak berani bermain fisik, pria itu menggunakan taktik licik lain. Atas perintahnya, Kamar Barat tidak diberikan jatah makan siang maupun makan malam.
"Ayah bilang, karena si Nara Jari Enam sudah merasa sakti, kalian cari makan sendiri saja sana!" cibir Yan Ran yang sengaja datang ke jendela Kamar Barat untuk pamer.
"Kami sekeluarga tidak sudi makan satu meja dengan anak kesurupan. Siapa tahu makanannya sengaja kamu racuni," lanjut Yan Ran dengan pandangan penuh ejekan.
Nara tidak membalas provokasi itu dengan kata-kata. Dia hanya menatap lurus ke arah adik tirinya dengan pandangan dingin, seolah-olah sedang menonton aksi badut sirkus yang menggelikan.
Yan Ran yang merasa risi dan kesal karena tatapan Nara langsung mendengus tajam, lalu berbalik pergi dengan langkah yang diangkuh-angkuhkan.
"Dih, siapa juga yang sudi makan makanan mereka!" sembur Yan Ning kesal setelah kepergian kakak tirinya.
Namun, tepat setelah kalimat itu lolos dari bibirnya, suara keroncongan yang cukup nyaring mendadak terdengar dari arah perutnya. Wajah Yan Ning seketika memerah karena malu saat melihat tatapan geli dari Nara.
"A-aku... aku sebenarnya tidak terlalu lapar kok, Kak," kilas Yan Ning sambil memalingkan wajahnya yang merona.
Nyonya Mu menghela napas berat, hatinya mendadak terasa teriris perih melihat kondisi kedua putrinya yang kurus kering. Dia tidak menyangka suaminya bisa bertindak sekejam ini hanya karena masalah sepele.
"Ibu akan pergi ke rumah utama untuk meminta maaf pada ayahmu," ucap Nyonya Mu sambil menggertakkan giginya, bersiap melangkah keluar demi mendapatkan makanan untuk anak-anaknya.
"Jangan, Ibu! Jangan pergi ke sana!" mencegah Yan Ning cepat sambil menahan lengan ibunya erat-erat. "Kita tidak boleh kelihatan lemah di depan mereka."
"Yan Ning, harga diri tidak akan bisa membuat perutmu yang kosong jadi kenyang," ujar Nyonya Mu dengan senyuman getir.
Nara tentu saja sepakat kalau harga diri tidak bisa mengenyangkan perut. Namun, dia sangat tahu kalaupun Nyonya Mu mengemis di sana, Yan Shong hanya akan memberikan hinaan, bukan makanan.
"Cuma tidak makan sekali saja tidak akan membuat kita mati kelaparan, iya kan, Kak?" tanya Yan Ning mantap, menolak menyerah pada rasa lapar.
"Gadis pintar," puji Nara sambil mengacak rambut adiknya dengan gemas.
Bagi Nara, hukuman kelaparan yang diterapkan oleh Keluarga Yan ini benar-benar kekanak-kanakan dan tidak ada apa-apanya.
Nara mengalihkan pandangannya ke arah perbukitan hijau yang membentang luas di kejauhan melalui celah jendela. Sudut bibirnya sedikit terangkat, menyembunyikan sebuah rencana.
Selama alam bebas dan hutan di gunung itu masih berdiri kokoh, Nara sangat yakin dia tidak akan pernah membiarkan ibu dan adiknya mati kelaparan di tempat ini.