Serena Roe tahu satu hal tentang cinta:
semua orang yang mendekatinya selalu membawa kehancuran.
Julian datang menawarkan ketulusan.
Damien membuatnya kecanduan.
Dan Axel, perlahan menghancurkan hidupnya tanpa ia sadari.
Tapi di antara mereka, siapa yang benar-benar mencintainya dan siapa yang betulan ingin memilikinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarice Diane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Owned, Not Loved
“Damien…”
Namun sebelum Serena sempat melanjutkan, pria itu tiba-tiba menarik wajah Serena mendekat dan mencium keningnya lama.
Bukan ciuman penuh gairah. Justru sebaliknya. Terlalu lembut. Terlalu penuh rasa memiliki. Dan itu jauh lebih berbahaya. Serena langsung memejamkan mata.
Sial.
Ia membenci fakta bahwa tubuhnya masih otomatis tenang setiap disentuh pria ini.
Damien menunduk sedikit, bibirnya nyaris menyentuh pelipis Serena saat berbicara lagi.
“Aku tidak suka membayangkan pria lain membawamu pulang tengah malam.”
“Namun kau tetap memilih dia,” bisik Serena pelan.
Hening.
Panjang sekali.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, Damien tampak benar-benar kehilangan kendali atas ekspresinya.
Tatapannya berubah rumit.
Seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan tetapi tidak mampu keluar.
Lalu perlahan, pria itu menyentuhkan dahinya ke dahi Serena. Dekat sekali.
“Aku benci fakta bahwa aku masih ingin menarikmu kembali setiap kali kau mulai menjauh.”
Serena membenci bagaimana Damien masih berdiri sedekat ini dengannya. Seolah pria itu tidak baru saja menghancurkan hidupnya beberapa minggu lalu.
Tatapan Damien tetap tenang. Sulit dibaca. Jemarinya masih berada di tengkuk Serena, membelai rambut perempuan itu perlahan seperti kebiasaan lama yang tidak pernah benar-benar hilang. Dan justru itu yang paling berbahaya dari Damien Knox.
Pria itu tahu persis bagaimana membuat Serena luluh.
“Apa kau tahu kenapa aku tidak suka pria tadi?” tanya Damien rendah.
Serena tertawa kecil tanpa humor.
“Kau cemburu?”
“Tidak.”
Jawaban itu terlalu dan dingin.
Damien mendekat sedikit hingga Serena bisa melihat jelas matanya yang gelap.
“Aku hanya tidak suka ada orang lain menyentuh sesuatu yang sudah terlalu lama menjadi milikku.”
Jantung Serena langsung berdegup keras.
Dan Damien tahu itu.
Tentu saja tahu.
Pria itu selalu tahu bagian mana dari Serena yang paling mudah dihancurkan.
“Kau bicara seolah aku benda.”
Damien tersenyum tipis. Samar sekali. “Aku bicara seolah aku mengenalmu lebih baik daripada siapa pun.”
Kalimat itu terdengar hampir manis. Padahal Serena tahu itu ancaman.
Damien memang seperti itu. Ia tidak pernah meninggikan suara. Tidak pernah memaksa secara terang-terangan.
Namun pria itu selalu berhasil membuat Serena bergerak sesuai keinginannya. Sepuluh tahun bersama Damien Knox membuat Serena perlahan sadar bahwa dirinya tidak pernah benar-benar memegang kendali dalam hubungan mereka.
“Aku tidak suka kau pulang dengan pria asing,” lanjut Damien pelan sambil mengusap rahang Serena dengan ibu jarinya. “Kau terlalu emosional saat sedang terluka.”
Serena mengernyit.
“Kau pikir aku tidak bisa menjaga diriku sendiri?”
“Aku pikir kau sedang mencoba mencari distraksi.”
Tatapan Damien turun sebentar ke bibir Serena. Lalu pria itu tersenyum tipis lagi. Sialnya, senyum itu terlalu tampan untuk dipercaya.
“Dan aku tidak suka saat kau mulai mencari kenyamanan di tempat lain.”
Kalimat itu langsung membuat Serena diam. Karena ada sesuatu yang salah dari cara Damien mengatakannya.
Bukan seperti pria patah hati. Lebih seperti seseorang yang tidak suka kehilangan kendali atas sesuatu.
Damien menarik Serena sedikit lebih dekat lagi. “Tadi kau terlihat terlalu nyaman dengannya.”
“Kau tidak punya hak mengatur hidupku lagi.”
Damien tertawa kecil. Pendek dan dingin.
“Aku tidak sedang mengaturmu.”
Namun jemarinya justru mencengkeram pinggang Serena sedikit lebih erat.
“Kau masih marah padaku,” lanjut pria itu tenang. “Itu membuatmu ingin melakukan hal-hal bodoh.”
“Aku tidak tidur dengannya.”
“Aku tahu.”
Jawaban itu keluar tanpa ragu.
Dan Serena langsung menyadari sesuatu. Damien bahkan tidak pernah benar-benar khawatir soal Axel.
Pria itu hanya tidak suka melihat Serena mulai berpaling darinya.
“Kau percaya diri sekali.”
“Aku mengenalmu.” Tatapan Damien kembali jatuh ke mata Serena. “Kau masih terlalu mencintaiku untuk itu.”
Kalimat itu terasa seperti tamparan. Karena bagian terburuknya adalah, Damien mungkin benar.
Serena langsung memalingkan wajah, tetapi Damien menahannya pelan.
“Lihat aku.” Nada suara pria itu rendah.
Namun ada sesuatu di sana yang langsung membuat Serena menatapnya lagi tanpa sadar.
Dan Damien langsung menangkap itu.
Selalu seperti ini.
Damien tahu bagaimana cara membuat Serena menurut tanpa harus meminta dua kali.
“Aku tidak akan membiarkan siapa pun memanfaatkanmu saat kau sedang seperti ini,” gumamnya pelan.
Kalimat itu terdengar seperti perhatian.
Padahal Serena mulai sadar bahwa Damien sendiri mungkin orang yang paling lama memanfaatkan perasaannya.
...----------------...
...To be continue...