NovelToon NovelToon
Transmigrasi Permaisuri Yang Tidak Dicintai

Transmigrasi Permaisuri Yang Tidak Dicintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Time Travel
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Afrasya Andila

Dahulu, dia hanyalah seorang wanita biasa yang hidup pas-pasan. Namun, takdir berkata lain. Dia terbangun dalam tubuh seorang permaisuri yang tak dicintai, diabaikan oleh suaminya dan tak dianggap oleh rakyat.

Tapi, bukannya bersedih, dia malah kegirangan! Siapa yang peduli dengan cinta jika dia memiliki kekayaan, kekuasaan, dan kehidupan mewah yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya? Menjadi permaisuri abal-abal yang kaya raya? Tentu saja dia mau!

Dia akan menikmati setiap momen dalam kemewahan ini, biarpun tanpa cinta. Karena baginya, yang penting adalah menjadi permaisuri kaya, bukan permaisuri yang dicintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afrasya Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Dekapan Tak Terduga dan Semangat Kartini

Melan melangkah masuk ke ruang kerja Raja dengan dagu yang masih terangkat tinggi. Penjaga di depan pintu sempat ragu untuk membukanya, mengingat "ledakan" Permaisuri di meja makan tadi, tapi tatapan tajam Melan membuat mereka segera menarik pintu besar itu.

Di dalam, suasana terasa berbeda. Tidak ada cahaya lilin yang berlebihan, hanya rembulan yang menembus jendela kaca raksasa yang membentang dari lantai hingga plafon.

Nolan berdiri di sana, memunggungi pintu, menatap kegelapan taman istana.

Kali ini, penampilannya benar-benar berubah. Tidak ada rumbai emas, tidak ada payet menor, dan tidak ada jubah berat yang menyerupai gorden.

Dia hanya mengenakan kemeja putih berbahan sutra ringan dengan kerah yang sedikit terbuka, serta celana kain putih yang pas di tubuhnya.

Nah, gitu dong! Kan kelihatan kayak manusia normal kalau begini. Gantengnya jadi naik delapan puluh persen, batin Melan. Namun, dia segera berdehem, menjaga wibawa.

"Yang Mulia Raja memanggil saya?" suara Melan memecah keheningan.

Nolan berbalik perlahan. Matanya yang tajam seperti elang itu menyapu penampilan Melan dari bawah ke atas. Ada jeda cukup lama sebelum dia akhirnya bersuara.

"Duduklah, Permaisuri," ujarnya datar, menunjuk kursi kayu berukir di depan mejanya.

Melan duduk, melipat tangannya di depan dada. "Jadi, apa yang ingin Anda bahas? Jika ini soal Nona Fek Fe, saya tidak akan menarik ucapan saya. Dia memang butuh cermin yang lebih besar agar sadar diri."

Nolan berjalan mendekat, tapi bukannya duduk di kursi kerjanya, dia malah bersandar di pinggiran meja, tepat di depan Melan. Jarak mereka cukup dekat.

"Mari kita bicara jujur, Permaisuri. Apa yang sedang Anda rencanakan?" tanya Nolan, suaranya rendah namun penuh selidik.

"Sejak kemarin pagi, sifat Anda berubah total. Anda tidak lagi mengejar saya, Anda tidak lagi berdandan berlebihan, dan sekarang Anda berani menghina saya serta calon selir saya di depan banyak orang. Apakah semua sandiwara ini hanya cara baru untuk menarik perhatian saya?"

Melan mendengus geli, tawa sinis keluar dari bibirnya. "Menarik perhatian Anda? Yang Mulia Raja, mohon maaf sebelumnya, tapi Anda sepertinya terlalu percaya diri. Memangnya Anda pikir Anda itu pusat semesta?"

Nolan mengernyitkan alis, tampak tidak menyukai jawaban itu.

"Dengar," lanjut Melan dengan nada santai namun menusuk.

"Jika saya ingin perhatian, saya akan menyewa grup musik untuk mengiringi langkah saya setiap hari. Tapi untuk apa saya mengejar pria yang bahkan tidak bisa membedakan mana parfum asli dan mana bau bedak tembok? Saya hanya ingin hidup tenang dengan harta saya."

Nolan terdiam sejenak, matanya terus mencari kebohongan di wajah Melan, tapi dia tidak menemukannya.

"Lalu, apa yang Anda lakukan di lingkungan kumuh tadi siang? Ksatria Baron melapor bahwa Anda memberikan koin emas kepada gelandangan dan berbicara soal membangun... 'Mal'?"

"Benar," jawab Melan mantap. "Saya ingin membangun pusat perbelanjaan terbesar yang pernah ada di kerajaan ini. Tempat di mana semua orang bisa bekerja, berdagang, dan bersenang-senang. Saya ingin menggerakkan ekonomi rakyat Anda, Yang Mulia."

Tiba-tiba, Nolan tertawa. Bukan tawa bahagia, tapi tawa meremehkan yang membuat telinga Melan panas.

"Permaisuri, Anda sedang berhalusinasi?" Nolan mencondongkan tubuhnya ke arah Melan.

"Anda adalah seorang wanita. Seorang Permaisuri. Tugas Anda hanyalah duduk diam, berdandan, menghadiri pesta teh, dan menikmati harta yang saya berikan. Urusan membangun, ekonomi, dan rakyat adalah tugas saya. Anda tidak punya kapasitas untuk itu. Impian Anda itu... konyol."

Mendengar kata "konyol", jantung Melan seperti dipompa adrenalin. Dia teringat sejarah di dunianya dulu.

Dia teringat perjuangan Ibu Kartini yang melawan pingitan dan diskriminasi hanya agar perempuan bisa belajar dan bekerja. Semangat itu tiba-tiba merasuki jiwanya.

Melan berdiri, menatap Nolan tepat di matanya tanpa rasa takut sedikit pun.

"Hanya karena saya seorang wanita, Anda pikir otak saya tidak bisa bekerja lebih dari sekadar memilih warna lipstik?" suara Melan bergetar karena emosi.

"Dengar, Yang Mulia Raja yang terhormat. Kapasitas seseorang tidak ditentukan oleh apa yang ada di antara kaki mereka, tapi apa yang ada di dalam kepala mereka. Anda meremehkan saya karena saya wanita? Itu adalah pemikiran paling kuno dan memuakkan yang pernah saya dengar!"

Nolan tertegun, bungkam seribu bahasa. Dia belum pernah melihat Melan seberani ini—bukan berani karena gila, tapi berani karena memiliki prinsip.

"Di dunia... di tempat pemikiran saya berasal," Melan meralat bicaranya, "perempuan bisa menjadi apa saja. Kami bisa memimpin, kami bisa membangun, dan kami bisa mandiri. Saya mungkin bukan pahlawan besar, tapi saya tidak akan membiarkan Anda atau siapa pun mengurung saya di dalam sangkar emas ini hanya untuk menjadi pajangan! Jika Anda tidak mau membantu, minimal jangan menghalangi jalan saya!"

Ruangan itu mendadak sunyi. Nolan hanya menatap Melan dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kekaguman yang terselip di balik rasa bingungnya. Permaisuri di depannya ini benar-benar bukan Melan yang dia kenal.

"Anda... benar-benar berbeda," bisik Nolan.

Tiba-tiba, tanpa aba-aba, Nolan melangkah maju. Sebelum Melan sempat bereaksi, tangan kokoh Raja itu menarik pinggang Melan, membawa tubuh mungilnya masuk ke dalam dekapan hangat Nolan.

Deg!

Wajah Melan menabrak dada bidang Nolan yang hanya terhalang kemeja sutra tipis. Dia bisa mendengar detak jantung Nolan yang berdegup kencang, sama kencangnya dengan detak jantungnya sendiri.

APA-APAAN INI?! batin Melan menjerit.

Kinan, jiwa di dalam tubuh itu benar-benar syok berat. Di dunianya dulu, dia adalah jomblo abadi yang jangankan dipeluk pria setampan raja, dipegang tangannya sama cowok saja jarang. Dan sekarang, dia didekap erat oleh pria yang baru saja dia maki-maki.

"Lepaskan!" teriak Melan panik.

"Diamlah sebentar, Permaisuri," bisik Nolan di telinganya, suaranya terdengar jauh lebih lembut dari biasanya.

"Aku hanya ingin memastikan... apakah detak jantungmu masih sama berisiknya seperti dulu saat kau mengejarku."

Rasa malu dan marah bercampur jadi satu. Melan merasa harga dirinya sebagai wanita mandiri sedang terancam oleh pesona "kulkas rusak" ini. Dengan segenap tenaga, Melan menaruh kedua tangannya di dada Nolan dan mendorongnya sekuat tenaga.

Brak!

Nolan terdorong ke belakang hingga menabrak mejanya. Dia tampak terkejut, tidak menyangka kekuatan dorongan Melan sekuat itu.

"Jangan pernah sentuh saya tanpa izin!" teriak Melan, wajahnya merah padam sampai ke telinga.

"Anda pikir saya ini apa? Setelah meremehkan impian saya, Anda tiba-tiba ingin bermain romantis? Rasanya saya ingin mati lagi saja kalau harus berurusan dengan pria plin-plan seperti Anda!"

Melan memutar tubuhnya, menyambar rok gaunnya, dan berlari keluar dari ruang kerja itu secepat kilat. Dia tidak peduli dengan para penjaga yang menatapnya heran. Dia hanya ingin menjauh dari Nolan secepat mungkin.

Begitu sampai di koridor yang sepi, Melan berhenti dan menyandarkan punggungnya ke dinding. Dia memegangi dadanya yang masih berdegup kencang.

"Gila... gila beneran!" gumamnya sambil mengatur napas.

"Gue hampir kena serangan jantung. Pelukan macam apa itu? Dingin-dingin empuk begitu... Hih! Enggak, Kinan! Jangan baper! Ingat, dia itu raja poligami! Ingat bedak tembok Fek Fe!"

Melan menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berusaha menghapus sensasi hangat yang sempat menjalar di tubuhnya tadi. Dia bersumpah, mulai besok dia harus lebih waspada.

Nolan ternyata bukan cuma kaku dan menor, tapi juga punya jurus "serangan jantung" yang berbahaya bagi kesehatan mentalnya.

Gue harus fokus ke Mall! tekadnya lagi. Cinta itu nggak kenyang, tapi koin emas itu masa depan!

Sementara di dalam ruangan, Nolan masih berdiri di posisi yang sama, menyentuh dadanya yang tadi didorong Melan. Sebuah senyum tipis sangat tipis hingga hampir tidak terlihat muncul di bibirnya.

"Menarik," gumam Nolan pada ruangan yang kosong. "Sepertinya permainan ini baru saja dimulai, Melan."

1
ilaa
lanjut up thorr, penasaran sama si fek fe
merpati: ga nyangka 🤭
total 1 replies
Ma Em
Melan emang unik sdh diculik tapi msh saja memikirkan bagaimana caranya bisnis untuk mengumpulkan pundi pundi uang masuk ke kantongnya .
merpati: soalnya di kehidupan sebelumnya melan jadi pekerja, di kehidupan kedua dia mau jadi bosnya
total 1 replies
Ma Em
Semoga apa yg akan Melan lakukan segera terlaksana dan benar2 sukses dgn yg Melan bangun agar Raja dan orang2 yg ada di kerajaan Nolan tdk meremehkan Melan lagi .
merpati: melan mah nggak peduli di remehin yg penting kaya dulu 🤭🙏
total 1 replies
Andini Cantik
lanjuttttt up
Firniawati
bagus tidak menye² tapi pemilihan katanya yg campur aduk
merpati: makasih kakaa, nanti aku revisi
total 1 replies
Firniawati
ayo kak kapan updatenya?
Sesarni Andiva
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!