Ziva kembali ke keluarga kandungnya setelah dua puluh tahun terpisah, namun ia harus menyembunyikan identitas aslinya sebagai bos mafia yang kejam.
Di sana, ia bertemu Arsen—pria yang dikenal sebagai pengusaha sukses, tapi ada aura bahaya yang tak bisa dibohongi oleh naluri Ziva.
Mereka saling tertarik, tapi sama-sama memakai topeng.
Saat rahasia terbongkar, akankah cinta mereka bertahan... atau justru menjadi alasan untuk saling menghancurkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diyanathan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama Bros & Jantung yang Terjaga
Matahari pagi bersinar cerah menyinari kediaman keluarga Sterling. Di dalam kamarnya, Ziva berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya dengan senyum tipis yang jarang terlihat.
Hari ini adalah hari pertama ia masuk ke universitas. Orang tuanya sudah mendaftarkan ia di kampus paling bergengsi di kota tersebut.
Ziva menata rambutnya dengan rapi, mengenakan seragam kampus yang pas di badan. Terlihat sangat cantik, manis, namun tetap memancarkan karisma alaminya.
"Universitas..." gumam Ziva pelan, jari-jarinya menyentuh lengan bajunya sendiri. "Akhirnya aku bisa merasakan bagaimana menjadi mahasiswi normal seperti remaja lainnya."
Hati Ziva terasa hangat dan penuh harap. Dulu, kehidupannya sangat keras. Ia hanya sempat menyelesaikan sekolah menengah atas, namun setelah itu dunianya penuh dengan darah, pertarungan, dan strategi memimpin organisasi bawah tanah. Ia tidak pernah punya waktu untuk bersenang-senang, bergaul, atau merasakan indahnya masa muda.
Kini, kesempatan itu datang. Ia ingin menikmati setiap detiknya.
"Diawali dengan baik, Ziva. Semoga harimu menyenangkan," bisiknya pada cermin, lalu berjalan keluar kamar dengan semangat.
Namun, sayangnya... harapan indah itu hancur bahkan sebelum ia sempat melangkah keluar dari pintu utama rumah.
Saat semua anggota keluarga sudah berkumpul di ruang tengah, bersiap untuk berangkat masing-masing, suasana tiba-tiba memanas.
Zea berlari kecil masuk ke ruangan dengan wajah panik dan marah. Matanya menyapu seluruh ruangan hingga akhirnya berhenti tajam menatap Ziva.
"ZIVA!!" teriak Zea dengan suara melengking. "Kau mengambil Bros berlian kesayanganku kan?! Jawab jujur!!"
Ziva yang sedang minum kopi tersedak sedikit. Ia menaruh cangkirnya dan menatap Zea datar.
"Apa omonganmu? Aku tidak mengambil apa pun," jawab Ziva tenang.
"BOHONG!!" Zea semakin keras. "Tadi pagi masih ada di meja riasku! Habis kau lewat di depan kamarku, bros itu hilang! Siapa lagi kalau bukan kau? Kau iri kan padaku? Kau takut aku lebih cantik dan lebih disayang Papa Mama? Jadi kau mencurinya supaya aku tidak bisa memakainya?!"
Tuduhan itu meluncur deras dari mulut Zea. Ia benar-benar berulah kali ini, bahkan lebih parah dari sebelumnya. Ia sengaja membuat keributan besar agar semua orang tahu.
"Zea, jangan menuduh sembarangan!" tegur James, sang ayah, yang terlihat bingung.
"Tapi Papa benar! Ziva yang mengambilnya! Aku yakin sekali!" Zea menangis tiruannya, berpura-pura tersinggung.
"Dasar gadis manja dan berlebihan," celetuk Ziva tak mau kalah. "Bros murahan macam apa yang sampai harus membuat keributan besar pagi-pagi buta begini? Kalau hilang cari saja, jangan asal tunjuk!"
"APA?! Kau berani menghinaku?! Kau baru pulang beberapa hari sudah berani melawan?! Dasar gadis jalanan!!"
"ZEA!! Jaga mulutmu!!"
Perdebatan kian memanas. Ziva dan Zea saling adu mulut, kata-kata tajam saling lempar. Victoria dan James kebingungan ingin melerai, Zio hanya bisa geleng-geleng kepala, dan Daniel mencoba menenangkan tapi tidak didengar.
Suasana ricuh, tak ada yang mau mengalah. Zea terus menuduh, Ziva terus membela diri dengan logika dinginnya.
"CUKUP!!"
Suara berat, dingin, dan penuh wibawa meledak memecah keributan itu.
Semua orang terdiam seketika. Suhu ruangan seolah turun drastis.
Kevin.
Pria itu berdiri tegap di tangga, wajahnya datar namun matanya memancarkan aura mematikan. Tatapannya tajam mengarah tepat ke arah Zea.
"Berisik. Pagi-pagi sudah membuat onar. Masukkan otak itu ke kepala sedikit," ucap Kevin pelan tapi menusuk.
Tanpa basa-basi lagi, Kevin melangkah mendekat. Tangannya yang besar dan kuat mencengkeram pergelangan tangan Zea dengan cukup kuat namun tidak menyakiti.
"Ayo ikut aku," perintahnya ketus.
"Ehh... Kak Kevin, mau dibawa kemana? Aku belum selesai bicara sama dia!" protes Zea mencoba meronta, tapi tenaganya tidak sebanding.
"Diam. Jangan banyak bicara," potong Kevin singkat.
Ia menarik tangan Zea melewati kerumunan keluarga yang masih terdiam kaget, menaiki tangga, dan berjalan menuju kamarnya sendiri.
Brak!
Pintu kamar Kevin ditutup rapat dan dikunci dari dalam dengan suara keras.
Suasana di dalam kamar menjadi sunyi senyap, hanya terdengar napas mereka berdua yang memburu.
Belum sempat Zea mengeluh atau berbalik, tubuhnya tiba-tiba didorong lembut namun kuat hingga punggungnya menghantam dinding kamar yang tebal.
Srett!
Dalam sekejap, Kevin menghimpit tubuh mungil Zea ke dinding. Kedua tangannya menahan dinding di sisi kiri dan kanan kepala Zea, membuat gadis itu terperangkap dalam pelukan lengannya, tidak bisa bergerak kemana-mana. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja.
Zea terkejut setengah mati. Wajahnya memerah padam. Ia bisa merasakan hangatnya tubuh Kevin, aroma maskulin wangi parfum pria itu menusuk hidung, dan detak jantung yang kencang.
"K-Kak Kevin... apa-apaan ini... lepasin..." bisik Zea gemetar, kepalanya spontan menunduk, tak berani menatap manik mata tajam sang kakak. Jantungnya berdegup kencang bukan main, campuran antara rasa takut dan rasa aneh yang menjalar di dada.
Kevin tidak menjawab segera. Ia hanya menatap wajah gadis di hadapannya itu lekat-lekat. Matanya mengamati setiap detail wajah Zea—hidung mancung, bibir merah muda, dan bulu mata yang panjang.
Di dalam hati Kevin, badai besar sedang bergemuruh.
Sebenarnya, perasaan ini sudah ada sejak lama. Sejak pertama kali Zea kecil dibawa masuk ke keluarga Sterling sebagai anak angkat, hati Kevin yang dingin dan keras sudah tergerus. Ia diam-diam menyukai gadis itu. Ia yang paling sering menjaganya, yang paling tegas padanya, bukan karena ia galak, tapi karena ia tidak ingin Zea terluka atau berbuat salah.
Perasaan itu tumbuh subur dalam diam. Dan kini, saat Zea tumbuh dewasa menjadi gadis yang cantik, manja, dan penuh energi, rasa itu semakin kuat, semakin meledak, dan semakin sulit ditahan.
"Lihat aku, Zea," perintah Kevin dengan suara berat dan serak yang membuat bulu kuduk Zea merinding.
Zea menggeleng pelan, masih menunduk. "Nggak mau... malu..."
Kevin tersenyum tipis, sebuah senyum yang sangat jarang dilihat orang lain. Ia menurunkan sedikit kepalanya, mendekatkan wajahnya ke telinga Zea.
"Kenapa harus berulah pagi-pagi? Kenapa harus cari masalah sama Ziva?" bisik Kevin pelan, napas hangatnya menyapu leher Zea. "Kau tahu kan kalau kau ribut, aku bisa marah? Dan kau tahu kan... aku paling benci melihat kau bertingkah konyol seperti itu?"
"A-Aku... aku cuma mau mengujinya..." jawab Zea terbata-bata.
"Uji atau tidak, itu bukan alasan untuk membuat keributan di depan semua orang," potong Kevin. Ia mengangkat tangan kanannya, jari-jarinya yang kasar namun hangat perlahan menyentuh dagu Zea, memaksa gadis itu mendongak dan menatap matanya.
"Dan soal bros itu..." mata Kevin menyipit, "Kau yang menyembunyikannya kan? Di balik vas bunga di kamarmu."
Zea terbelalak. "K-Kakak tahu dari mana?!"
"Aku tahu segalanya soal kau, Zea," ucap Kevin penuh penekanan. "Aku mengawasimu. Selalu."
Jantung Zea seakan berhenti berdetak. Ia bisa melihat sesuatu yang berbeda di mata Kevin hari ini. Bukan hanya tatapan tegas seorang kakak, tapi ada rasa posesif, perhatian, dan... cinta yang terpendam terlalu lama.
"Kak Kevin..."
"Jangan buat aku semakin kesal, atau aku tidak menjamin apa yang akan kulakukan padamu," ancam Kevin, namun suaranya terdengar begitu lembut dan menggoda. Himpitan tubuhnya semakin rapat, membuat Zea bisa merasakan betapa kuat dan kokohnya tubuh pria itu.
Zea hanya bisa terpaku, wajahnya panas seperti terbakar, mulutnya terkunci rapat, tidak berani mengeluarkan suara sepatah kata pun.
Di luar dugaan, drama pagi ini justru membuka tirai perasaan yang selama ini terpendam rapi di antara dinding dingin sang komandan disiplin dan gadis manja yang selalu ia jaga.