NovelToon NovelToon
OM CEO Itu Suamiku

OM CEO Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Perjodohan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: jlianty

Aku tidak pernah menyangka pria yang kupanggil “Om” akan menjadi suamiku.

Pernikahan ini bukan karena cinta, tapi karena sebuah rahasia yang mengikat kami.
Dia dingin, kejam, dan penuh aturan. Tapi semakin aku mencoba menjauh… dia justru tidak pernah melepasku.

Di balik sikapnya yang kejam, ada sesuatu yang tidak bisa aku pahami. Apakah aku hanya permainan… atau benar-benar miliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertingkah aneh

Biasanya Rafandra sarapan sambil buka laptop atau HP, tak pernah buang waktu, makan dan kerja sekaligus. Tapi tiga hari lalu ia duduk di meja tanpa buka apapun. Hanya makan dan sesekali melirik ke arah Zahra yang sedang baca jurnal sambil makan dengan cara yang waktu ketahuan langsung dia alihkan ke jendela.

Zahra tidak berkomentar waktu itu. Tapi besoknya hal yang sama terjadi lagi dan besoknya lagi.

"Om lagi nggak ada kerjaan?" tanya Zahra pagi ini, tanpa mendongak dari jurnalnya.

"Ada."

"Kok nggak dibuka laptopnya?"

Hening sebentar.

"Bisa diselesaikan nanti."

Zahra mendongak. Rafandra menatap kopinya dengan ekspresi yang terlalu tenang untuk situasi yang menurutnya biasa.

"Dia bohong."

Rafandra Surya Wibowo, CEO yang bahkan di hari libur tidak bisa lepas dari layar laptopnya tiba-tiba bisa santai sarapan tanpa buka apapun.

Zahra menatapnya sebentar. Lalu kembali ke jurnalnya. Tapi bibirnya menahan senyum.

Itu baru satu hal.

Ke 2, Rafandra mulai pulang lebih awal.

Bukan setiap hari tapi cukup sering, Zahra perhatikan. Yang tadinya jam delapan atau sembilan, sekarang jam enam, kadang jam setengah enam dan waktu Zahra tanya meeting-nya kok bisa kelar cepat, jawabannya selalu singkat:

"Bisa diatur."

Ke 3, dan ini yang paling bikin Zahra bingung dia mulai muncul di tempat-tempat yang tak biasa.

Kemarin Zahra lagi di dapur nyoba resep baru eksperimen jujur meragukan karena Zahra bukan jago masak dan ia tahu itu. Rafandra muncul di ambang dapur, menatap kompor, menatap Zahra, menatap kompor lagi.

"Kamu masak?"

"Nyoba." Zahra mengaduk sesuatu yang teksturnya mulai mencurigakan. "Jangan dilihat dulu, gue belum yakin ini berhasil."

Rafandra masuk. Berdiri di sebelah Zahra, melihat ke dalam wajan.

"Apinya terlalu besar Zahra." Dia mengecilkan kompor tanpa minta izin. "Dan itu kurang minyak."

"Om bisa masak?"

"Lumayan untuk tidak merusak makanan." Dia mengambil spatula dari counter. "Geser."

Zahra bergeser dan selama dua puluh menit berikutnya mereka masak berdua di dapur yang tidak terlalu besar itu, lengan yang kadang hampir bersentuhan, Rafandra yang mengoreksi tanpa menggurui, Zahra yang mengikuti sambil sesekali protes kalau tidak setuju.

Hasilnya luar biasa, auh lebih baik dari yang Zahra bayangkan.

"Ini enak." Zahra makan sambil berdiri di counter. "Ini enak banget. Om curang."

"Aku hanya memperbaiki kesalahanmu."

"Berarti ini fifty-fifty."

"Enam puluh empat puluh."

"OMM—"

Rafandra mengangkat alis dan ada sesuatu di matanya yang Zahra jarang lihat di sana. Geli.

Pria itu sedang menahan geli. Zahra menunjuknya dengan sendok. "Om hampir ketawa barusan."

"Tidak." Mencoba mengelak.

"Iya. Gue lihat."

"Kamu salah lihat."

"Rafandra Surya Wibowo hampir ketawa gara-gara debat masak—"

"Zahra. Makan dengan benar." Ia mengambil piringnya sendiri, berbalik ke meja makan tapi tak cukup cepat untuk Zahra tak melihat bahwa sudut bibirnya sudah tidak bisa dikendalikan sepenuhnya.

Zahra makan dengan senyum yang ia sembunyikan di balik sendok.

Tapi yang paling aneh terjadi kemarin malam. Zahra dapat telepon dari nomor tidak dikenal seseorang yang mengaku sebagai rekan bisnis ayahnya, nada bicaranya terlalu ramah untuk terasa tulus, bertanya hal-hal tentang keluarga Hendra yang seharusnya tidak perlu dia tahu.

Zahra menutup telepon setelah dua menit. Jantungnya sedikit tidak karuan ingat nama Pak Irwan, ingat peringatan Rafandra, ingat map tebal yang sudah ia baca.

Ia turun ke studio. Mengetuk pintu.

"Om, gue barusan dapet telepon—."

Rafandra langsung berdiri dari kursinya bahkan sebelum Zahra menyelesaikan ucapannya.

"Berapa nomernya?"

Zahra menunjukkan HPnya. Rafandra melihat nomornya, mengambil HPnya sendiri, menelepon seseorang dengan singkat dan cepat dalam bahasa yang Zahra tidak sepenuhnya ikuti.

Dua menit kemudian dia sudah tutup telepon.

"Nomornya udahku selidiki." Matanya ke Zahra dan di sana ada sesuatu yang bukan ketenangan biasanya. Ada sesuatu yang lebih tajam. Lebih... personal. "Kamu baik-baik saja?"

"Baik. Cuma agak kaget doang."

Rafandra menatapnya dari atas ke bawah, cepat, seperti memastikan sendiri bahwa Zahra benar-benar baik-baik saja.

"Lain kali kalau ada nomor tidak dikenal yang bertanya soal keluarga jangan angkat." Suaranya lebih rendah dari biasanya. "Langsung hubungi aku."

"Oke."

"Langsung di matiin, Zahra."

"Iya, Om. Gue ngerti."

Rafandra masih menatapnya terlalu lama untuk sekadar memastikan Zahra mendengar instruksinya.

"Om," kata Zahra pelan. "Gue baik-baik aja."

Sesuatu di rahangnya mengendur sedikit.

"Aku tahu." Tapi dia tidak langsung kembali ke mejanya. "Duduk sebentar."

Zahra duduk di sofa sudut. Rafandra kembali ke mejanya tapi tidak buka laptopnya. Hanya duduk, dengan posisi yang menghadap ke arah Zahra, melakukan sesuatu di HPnya yang Zahra tidak yakin apa.

Mereka di sana hampir setengah jam. Tak ada yang memulai pembicaraan. Tapi Rafandra tak menyuruh Zahra keluar dan Zahra tidak bergerak juga.

.

.

.

"Gue mau nanya sesuatu," kata Zahra malam ini di meja makan.

Rafandra mendongak.

"Jujur ya."

"Aku selalu jujur."

"Om akhir-akhir ini..." Zahra memilih kata-katanya. "Beda. Pulang lebih awal, muncul di tempat-tempat yang nggak biasa, tadi pagi nggak buka laptop—"

"Kamu merhatiin?."

"Kita tinggal serumah, Om. Susah untuk nggak ngamatin."

Rafandra meletakkan sendoknya.

"Ada yang salah dengan itu?" tanyanya tapi nadanya bukan defensif. Lebih ke genuine ingin tahu jawaban Zahra.

"Nggak ada yang salah." Zahra menatapnya langsung. "Gue cuma mau tau ada apa?"

Hening.

Rafandra menatap Zahra dengan ekspresi yang malam ini, di cahaya lampu makan yang lebih hangat dari biasanya tak dijaga seketat biasanya.

"Tidak ada apa-apa," katanya akhirnya.

Zahra menunggu. Karena dengan Rafandra, kalimat pertama hampir tidak pernah kalimat terakhir.

"Aku hanya—" dia berhenti sebentar. "Menyadari bahwa ada hal-hal yang lebih penting dari jadwal yang biasa aku prioritaskan."

Zahra diam. "Hal-hal yang lebih penting."

"Hal-hal seperti apa?" tanya Zahra — lebih pelan.

Rafandra menatapnya dan kali ini ia tak langsung menjawab, tak mengalihkan, tak menutup percakapan dengan kalimat yang aman.

Hanya menatap dengan sesuatu di matanya yang membuat Zahra tiba-tiba merasa seperti satu-satunya orang di ruangan ini.

"Seperti memastikan kamu baik-baik saja," katanya pelan. Tapi jelas.

Ruangan itu sunyi. Zahra tak tahu mau bilang apa.

Karena kalimat itu sederhana tapi dari mulut Rafandra, dengan nada itu, dengan tatapan itu beratnya tidak sederhana sama sekali.

"Gue baik-baik aja, Om," kata Zahra akhirnya. Suaranya tidak sepenuhnya stabil.

"Aku tahu." Rafandra mengambil sendoknya kembali. "Tapi tidak ada salahnya memastikan."

Mereka kembali makan dalam diam. Tapi kali ini diam itu berbeda dari semua diam yang pernah ada di meja ini sebelumnya. Lebih hangat dan jauh lebih sulit untuk pura-pura tidak merasakan apa-apa di hatinya.

.

.

.

1
Liadjamileba 08
bagussss bangettt
plisss lanjut ceritanya kak🥰🙏🏼🙏🏼
jlianty: sabar ya, masih dalam peninjauan bab selanjutnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!