NovelToon NovelToon
Perisai Sang Mafia

Perisai Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Reigan Douglas hanya bisa patuh saat Kakek memaksanya menikahi Hana—gadis "kampung" bermata bulat. Pernikahan itu terasa datar dan mati. Bagi Reigan, kehadiran wanita itu hanya akan membatasi geraknya sebagai penguasa Odelgard.

Namun, segalanya berubah ketika sebuah peluru melesat dan nyaris menembus pelipisnya. Reigan pun menyadari satu fakta yang menghantam egonya: peluru penyelamat itu berasal dari senjata milik Vesper—sniper legendaris yang ternyata adalah Hana, istrinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 6 Bau bubuk mesiu

"Dari mana?" tanya Reigan. Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan, namun memiliki ketajaman yang sanggup menguliti ketenangan siapa pun. Ada nada kesal juga karena sempat waspada.

Hana mengerjapkan matanya perlahan. "Hanya mencari udara segar. Maaf. Aku tidak tahu ada peraturan yang melarangku keluar dari gedung ini." Meski kata maaf meluncur mulus dari bibirnya, sorot mata Hana tampak tenang.

Reigan mendengus sinis, tawa hambar lolos dari bibirnya. "Tidak ada larangan." Setelah rasa tegang tadi hilang, Reigan menuangkan wiski ke dalam gelas kristal dengan gerakan yang sengaja diperlambat.

Denting es batu yang beradu dengan kaca menjadi satu-satunya suara yang mengisi kekosongan di antara mereka. Setelah meneguk cairannya hingga tandas, ia berbalik, menyandarkan pinggulnya pada meja bar sambil menatap Hana yang masih terpaku di dekat pintu.

"Kamu masih mau berdiri disana?" Reigan tidak suka.

"Tidak. Aku akan ke kamar kalau kamu mengijinkan." Kepala Hana menunduk sejenak.

Reigan tidak menjawab, dia hanya menggunakan tangannya untuk membiarkan Hana masuk. Tentu dengan sikap sesuai protokol. Tidak ramah, atau jahat.

"Terima kasih." Hana mengangguk dan berjalan menuju ke kamarnya.

Hana berjalan melewati Reigan dengan langkah yang sangat teratur. Namun, saat tubuh mereka berpapasan dalam jarak kurang dari satu meter, indra penciuman Reigan yang tajam menangkap sesuatu yang asing. Sesuatu yang memicu alarm di kepalanya lebih keras daripada suara pintu apartemen tadi.

Reigan mendadak menghentikan gerakan tangannya yang hendak menaruh gelas. Matanya menyipit, kepalanya sedikit miring, mencoba mengidentifikasi aroma yang tertinggal di udara saat Hana lewat.

Ada bau hangus yang menusuk. Tajam, kering, dan sangat spesifik. Mesiu.

"Hey," panggil Reigan. Suaranya kini bukan lagi sekadar kesal, tapi sarat akan ancaman yang gelap.

Hana menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar. Degup jantungnya naik. Aku akan ketahuan? Ia tidak berbalik sepenuhnya, hanya menoleh sedikit, memberikan profil wajahnya yang tampak pucat di bawah lampu temaram. "Ya?"

Reigan melangkah mendekat. Langkahnya tidak lagi malas, melainkan penuh perhitungan seperti predator yang sedang melacak jejak darah. Ia berhenti tepat di belakang Hana, membungkuk sedikit hingga hidungnya berada di dekat helai rambut wanita itu.

"Bau apa ini?" desis Reigan.

Sesuai dugaanku. Hana sudah memperkirakan ini.

Tangannya bergerak, mencengkeram bahu Hana dan memutar tubuh wanita itu secara paksa untuk menghadapnya.

Hana tetap tenang, meski ia bisa merasakan napas Reigan yang panas di kulit wajahnya. "Bau apa maksudmu?"

"Bau hangus. Bau belerang yang terbakar," mata Reigan mengintimidasi, seolah ingin menembus tempurung kepala Hana. "Kau bilang kau mencari udara segar, tapi tubuhmu berbau seperti seseorang yang baru saja meledakkan sesuatu."

Hana mengerjapkan mata, ekspresinya masih datar seolah ia hanya sedang menghadapi pertanyaan tentang cuaca. Ia perlahan mengangkat tangannya, menunjukkan kantong plastik minimarket yang tadi ia bawa.

"Aku dari minimarket." Hana menunjukkan isi kantong itu. Selain biskuit, terlihat beberapa kotak korek api kayu dan seikat kecil kembang api kawat yang biasanya dimainkan anak-anak.

"Di dekat minimarket tadi, ada anak-anak yang menyalakan petasan dan kembang api. Salah satunya meledak tepat di dekat kakiku sebelum mereka lari karena tawuran pecah," jelas Hana pelan. Ia menarik napas panjang, seolah merasa lelah harus menjelaskan hal sepele. "Aku tidak sengaja menginjak sisanya. Bau belerang dari korek api dan kembang api itu pasti menempel di rokku."

Reigan terdiam. Ia menatap kotak korek api itu, lalu beralih ke bagian bawah baju Hana yang memang tampak sedikit terkena abu abu-abu. Bau belerang dari kembang api murahan memang sangat mirip dengan residu mesiu—terutama bagi hidung yang sedang paranoid karena ancaman pembunuhan seperti dirinya.

Tangan Reigan melepaskan cengkeramannya pada bahu Hana dengan kasar. Ia merasa sedikit bodoh karena terlalu waspada, namun instingnya tetap menolak untuk tenang sepenuhnya.

"Buang sampah itu. Aku tidak ingin apartemenku berbau seperti pasar malam." Reigan mencoba menutupi rasa sangsinya.

"Baik." Hana mengangguk patuh. Dia keluar lagi untuk membuang kembang api tadi.

Di balik pintu yang tertutup, Hana membuang napas yang sejak tadi ia tahan. Ia melirik saku gaunnya. Di sana, di balik kotak korek api kayu yang ia gunakan sebagai alibi, tersimpan selongsong peluru yang ia ambil dari lokasi kejadian—bukti fisik yang sebenarnya menjadi sumber bau mesiu tersebut.

****

Sebelum tiba di apartemen.

Malam itu, Hana tidak benar-benar mencari udara segar. Dari balik jendela kaca besar di lantai atas, ia menangkap kilatan yang tidak wajar dari gedung seberang.

Sebuah pantulan lensa sniper yang mengarah tepat ke ruang kerja Reigan yang berada tepat didepan bar. Dekat dengan jendela besar kesukaan pria itu.

"Aku harus melihatnya."

Hana menyelinap keluar, melewati penjagaan yang menurutnya terlalu longgar untuk pria sekelas Reigan Douglas.

Dinginnya udara malam menusuk kulitnya saat ia sampai di gang sempit di samping gedung apartemen. Hana bergerak seperti bayangan, nyaris tanpa suara di atas aspal basah. Di sana, ia melihatnya. Seorang pria berpakaian serba hitam sedang melipat tripod senapan panjang ke dalam tas taktis.

"Itu dia," ujar Hana menyeringai.

Pria itu tersentak, mencoba menarik pistol dari balik pinggangnya dengan gerakan kilat. Namun, Hana lebih cepat. Ia menerjang, memutar pergelangan tangan pria itu.

Krak!

"Argh!" jerit pria itu tertahan.Terlihat menyakitkan. Pistol itu terjatuh, denting logamnya bergema di dinding bata.

Perkelahian singkat itu pun terjadi. Hana menghindari sebuah serangan pisau, memutar tubuhnya, dan menggunakan momentum untuk membanting pria itu ke arah tumpukan sampah besi.

Klang!

Saat pria itu terdesak dan mencoba meraih pemantik api. Mungkin berniat meledakkan sesuatu sebagai pengalihan. Hana memberikan satu tendangan telak di ulu hati yang membuatnya pingsan seketika.

Hana berdiri tegak, napasnya sedikit memburu. Ia tidak membunuh pria itu; mayat hanya akan mengundang polisi dan pertanyaan yang tidak diinginkan Reigan.

Ia hanya melucuti senjatanya. Di bawah lampu jalan yang remang, ia memungut selongsong peluru yang sempat terjatuh saat si pembunuh mengeluarkan seluruh peluru.

"Kaliber 308." Hana mengenali jenisnya. "Sial. Residu mesiu," umpat  Hana, mencium bau pahit yang melekat di ujung jarinya. "Bau ini akan menjadi masalah."

Dia tahu Reigan bukan pria bodoh. Hidungnya setajam anjing pelacak.

Hana segera melihat sekeliling. Matanya tertuju pada sebuah minimarket 24 jam di ujung jalan di mana sekelompok remaja tanggung sedang tertawa keras sambil menyalakan kembang api kawat dan petasan banting.

Wanita ini melangkah cepat menuju minimarket tersebut. Dengan tenang, ia membeli sekotak biskuit, beberapa kotak korek api, dan seikat kembang api kawat yang paling murah.

"Dek, boleh minta sisa abu kembang apinya?" tanya Hana pada salah satu remaja yang terheran-heran.

Tanpa menunggu jawaban, Hana sengaja berjalan melewati kepulan asap belerang yang menyesakkan dari petasan yang baru saja meledak. Ia membiarkan abunya hinggap di ujung bajunya. Ia bahkan sengaja menggosokkan sedikit belerang dari kepala korek api ke pergelangan tangannya untuk menyamarkan bau mesiu yang lebih murni dan tajam.

Setelah merasa "penyamaran aromanya" cukup meyakinkan, Hana membuang sisa kotak korek yang rusak dan berjalan kembali menuju gedung apartemen dengan langkah tenang.

1
Idah Faridah
dtunggu thor up nya
Idah Faridah
ternyata hana bukan perempuan biasa👍
Lady Ve: Terima kasih Sudah mampir untuk baca🙏
total 1 replies
Riri
reigan ketagihan dialog sama Hana...
Riri
aura gadis desa itu...
Riri
POV Marco: dikira jaman purba
Riri
😂😂😂
Riri
kayak horor punya suami kek Regan
Kusyanti Handayani
thorrr llamnnjuttt lah
E F
lanjuttttt thor dobleeeee🙏💪😍
E F
lanjuttt thor💪😍
Lady Ve: Terima kasih tetap baca.
total 1 replies
Anonim
❤️❤️❤️
Kusyanti Handayani
semangat ladyyyy lanjooootttt
E F
tq thor🙏😍
semangattttt
lanjutttt😄💪
Anonim
❤️❤️❤️
pawon ngebul
kakak othor pokoknya getar hrs update biar g getir nungguinya😩🥺🥺🥺🥺🙏🙏🙏🙏
Lady Ve: 🤣🤣🤣🤣. iya tenang ....
total 1 replies
Kusyanti Handayani
bikin bedebar hanaaaa
Kusyanti Handayani
lanjuttttt
Herlin
Hana..... Sangaaar
Lady Ve: 🔥🔥🔥🔥🔥
total 1 replies
E F
tq thor🙏😍
lanjuttt
smangattt💪😄
Lady Ve: Terima kasih😊
total 1 replies
E F
lanjuttt thor🙏😍dobleeee💪😄
Lady Ve: Siap. terima kasih sudah baca.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!